
Dirga datang ke kafe yang sudah di beritahukan oleh Galang, putranya juga meminta untuk di bawakan baju. Entah karena alasan apa, Dirga pun tetap membawanya.
Netranya melihat putrinya Amelia yang sedang tertawa bersama wanita paruh baya yang sangat tak asing di matanya.
Tanpa berlama-lama akhirnya Dirga pun berjalan menghampiri meja mereka, sesaat. Tatapannya bertemu dengan manik mata milik Agler. Sungguh, dia hampir saja berpikir jika itu adalah Galang sebelum dirinya menyadari keberadaan Galang yang duduk di sebelah Agler.
"Dia ... Gilang?" Tanya Dirga dengan siara bergetar.
"Belum pasti, tes DNA nya belum aku buka. Mana sini bajuku." Pinta Galang.
Dirga menyerahkan paper bag yang ia bawa, Galang segera pamit ke kamar mandi untuk menggantinya. Sementara Dirga, dia duduk di sebelah Agler dan memperhatikan wajah pria itu.
"Benar-benar mirip, tidak salah lagi kamu pasti Gilang. Putraku!" Yakin Dirga.
"Saya harap, semuanya akan berakhir baik tuan," ujar Agler.
"Kamu sepupu Gilbert?" Tanya Dirga.
"Ya,"
Dirga benar-benar tak menyangka, rasanya sangat mustahil jika putranya kembali. Dia berusaha menahan dirinya dan wibawanya saat ini, ingin sekali dia memeluk Agler yang dia yakin sekali jika dia adalah putranya.
"Kenapa saya tak pernah mendengar tentangmu? bahkan informasi tentangmu hanya nama dan umur saja, kenapa? bukankah kamu juga pewaris Greyson? kenapa awak media tidak meliputimu?" Tanya Dirga penasaran.
Agler tersenyum tipis, dia menatap Dirga yang juga tengah menatapnya.
"Eyang tahu kalau aku bukan keturunan asli keluarga Greyson, tentu saja bukan hakku menjadi pewaris. Tapi opa, suami dari eyang semasa hidupnya selalu memperlakukan ku sama seperti Gilbert. Dia bilang, jika aku adalah pewaris pengganti. Pewaris pengganti harus di sembunyikan agar posisi pewaris Greyson tetap aman." Jelas Agler.
Tania yang mendengar jawaban putranya pun tak sanggup menahan air matanya, setelah suaminya meninggal tak ada lagi yang membelanya. DIa lebih memilih untuk menjawab dari Nyonya Samantha, untuk melindungi mental Agler. Dirinya khawatir jika Nyonya Samantha akan mengatainya anak pungut seperti saat Agler ketika kecil.
Tak lama Galang kembali dengan pakaian yang baru, dia duduk di antara mereka berhadapan dengan kursi Reynan.
"Ayo, buka pah!" Seru Galang.
Dirga menatap amplop di atas meja, tangannya bergetar ketika menyentuh amplop itu. Dirga masih memperhatikan amplop tersebut membuat Galang pun greget.
"Sini pah! lama banget kayak putri solo!" Kesal Galang dan menarik paksa amplop itu dari tangan Dirga.
"PAMAN NDA COPAN!!!" Seru Reynan tak terima.
"Syuutt diem lo bocil, lo gak bakal ngerti rasanya gimana!" Sahut Galang sambil membuka amplop itu.
"Ley nda ngelti, tapi Ley cekolah. Paman nda cekolah yah? kok nda ngelti copan cantun!!" Sewot Reynan.
Seketika tangan Galang yang akan membuka kertas itu terhenti, dia menatap Reynan sambil menatapnya kesal.
"Emang gak sekolah, paman kan dari kecil mainnya senjata. Mau kamu paman tembak!" Ancam Galang.
"Pantecan, katlo!"
"EH!!"
Amelia kesal, dia menarik kertas itu dari tangan adiknya tak peduli Galang yang kini mencak-mencak kesal karena Reynan.
"Disini di nyatakan jika Dirga 99% adalah ayah biologis dari Agler ...,"
Air mata Dirga menetes, dia menoleh menatap Agler yang juga tengah menatapnya dengan mata memerah. Keduanya saling berpelukan erat, Tania dan Amelia pun turut menangis haru. Sementara Galang, hanya diam tanpa suara.
"Kau benar putraku! kau putraku! putra bungsuku!!" Isak Dirga.
Dirga menangkup wajah Agler, wajahnya sangat mirip dengan Galang. Keduanya sama-sama di sembunyikan dari publik dan kini di satukan oleh tes DNA.
"Namamu bukan Agler lagi, Tapi Gilang Very Evans. Bungsu keluarga Evans." Seru Dirga.
"Terima kasih tuan, tapi namaku tetap Agler Greyson. Papah ku yang memberikannya, itulah kenangan terakhir nya." Lirih Agler.
Dirga mengangguk, tak masalah. Yang penting putranya kembali, keluarganya kembali berkumpul. Hingga dirinya melupakan jika masih ada satu orang lagi yang harus mereka cari keberadaan nya.
"Oh ya, maafkan saya. Saya lupa kehadiran anda." Ujar Dirga saat menatap Tania yang juga menatapnya.
"Tidak apa-apa, maafkan saya. Saat kecelakaan itu terjadi, saya sudah berusaha mencari i formasi tentang Agler. Tapi tetap tidak di temukan, akhirnya saya dan sang suami memutuskan untuk mengadopsinya." Jujur Tania.
Dirga tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, Amelia dan Galang yang melihat ayahnya tersenyum pun heboh.
"Astagaaa ... es kutub sudah mencair!!" Seru Galang.
Raut wajah Dirga kembali seperti semua akibat ulah putranya itu, momennya rusak akibat ulah putranya.
Galang mengambil sebuah kotak cincin dari dalam sakunya, dia memberikan kotak itu pada Dirga. Tentu saja pria paruh baya itu bingung dengan maksud putranya.
"Kamu mau lamar perempuan?" Tanya Dirga dengan polosnya
"Bukan aku, tapi papah!" Seru Galang.
Dirga nampak mengerutkan keningnya, dia benar-benar tak mengerti maksud putranya. Dia tak pernah dekat dengan wanita, dan tiba-tiba putranya menyuruhnya unyuk melamar.
"Papah? papah tidak berniat menikah lagi, lagi pula siapa yang akan papah nikahi?"
"Tentu saja tante Tania!" Seru Galang.
Seketika Tania di buat salah tingkah karena Dirga menatapnya dengan tatapan terkejut, ingin sekali Tania meminta pulang saat itu juga karena tatapan Dirga yang begitu menusuk.
"Galang, jangan seperti ini. Ibuku tidak nyaman," ujar Agler dengan sopan.
"Kenapa? dengan papah menikahi ibuku, kita bisa menjadi keluarga bukan? kecuali ...." Tatapan Galang menyorot sinis pada Reynan yang tengah menatapnya tajam.
"Kok citu ngatul-ngatul! telselah papah Ley mau ikut citu apa nda!" Sewot Reynan.
Perdebatan mereka terhenti saat Dirga bangkit dari duduknya, dia berjalan dengan gagah ke arah Tania yang bingung dengan sikap Dirga.
"Tu-tuan anda ...."
Semua orang menutup mulutnya, benar-benar tak percaya saat melihat Dirga yang berlutut sambil menyodorkan cincin di hadapan Tania.
"Saya memang belum mengenalmu, tidak tahu siapa kamu. Tapi hati saya mengatakan, jika kamu adalah ibu yang baik untuk anak saya. Jadi, mau kah kau menikah denganku ... siapa tadi namanya?" Bisik Dirga pada Amelia.
Suasana yang tadinya romantis pun menjadi kacau sebab pertanyaan Dirga yang aneh.
"Tania pah!" Seru Galang dengan kesal.
"Yah Tania, mau kah kamu menikah denganku? jadi ibu untuk anak-anakku? menua bersama ku? dan ...,"
"Udah tua apa yang di tunggu lagi?" Celetuk Galang.
Amelia segera mendekati adiknya itu, dia membekap mulut Galang lantaran kesal dengannya.
"Jadi ...,"
"Ya aku mau."
***
Gilbert benar-benar tak habis pikir, saat ini ia tengah duduk di ruang kerjanya yang berada di rumah sambil menatap dua undang di tangannya.
"Kan aku yang niat buat acara, kenapa tua bangka ini yang duluin acaraku? mana nikah lagi!" Gerutu Gilbert.
Niatnya lusa nanti Gilbert akan mengadakan acara syukuran, tetapi dirinya di kejutkan dengan undangan mendadak dari keluarga Evans.
"Bukan hanya dapet anaknya, emaknya juga dapet. Beli satu gratis satu, memang keren!" Seru Gilbert.
BRAK!!!
Gilbert terlonjak kaget, netranya menatap istrinya yang masuk ke ruang kerjanya sambil memasang raut wajah panik.
"Kenapa?!" Gilbert juga ikutan panik.
Emily tak menjawab, dia menarik tangan Gilbert keluar ruang kerjanya menuju kamar mereka. Emily melepaskan tangan suaminya saat mereka sampai di kamar, kini keduanya sangat jelas mendengar suara tangisan dari Revin.
"Revin!" Panik Gilbert.
Keduanya berlari ke kamar mandi, dan melihat Revin menangis sambil berjongkok.
"Revin tidak bisa buang air kecil, katanya burungnya sakit. Badannya juga panas. Aku sudah berusaha mengurut perutnya, katanya tetap tidak bisa. Aku panik, tidak pernah Revin seperti ini." Ujar Emily dengan suara bergetar.
Gilbert pun ikut panik, tapi dia bisa mengontrol rasa paniknya. Segera dia mengambil celana Revin dan memasangkannya pada sang putra.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
______
Satu dulu yah kawan, nanti malam author ada acara๐ ๐