
Hot Duda Bagian 9
Oleh Sept
Semenjak Adinda jatuh koma, hubungan ibu dan anak ini tidak pernah akur. Nyaris selalu berdebat saat bertemu. Anggara dan nyonya Claudia selalu memiliki pandangan berbeda. Mereka sudah tidak lagi sejalan. Terhitung sejak Anggra mengalami sebuah tragedy yang sangat naas bersama sang istri.
Seperti sekarang ini. Anggara yang marah akan sikap nyonya Claudia, kembali menutup pintu, membuat wanita itu mendengus kesal. Nyonya Claudia tahu, kalau sudah begini, Anggara akan sulit dibujuk. Daripada makan hati, dan menimbulkan pertengkaran yang tidak ada ujungnya, nyonya Claudia pun mengalah.
"Mana mas Angga, Tante?" tanya Jessica yang melirik ke belakang tubuh nyonya Claudia.
"Angga sedang capek, mungkin kelelahan karena kurang istirahat," jawab nyonya Claudia mencari alasan.
"Sayang sekali, padahal sudah Jessi siapakan semuanya," ucap Jessica pura-pura kecewa. Ia berakting sangat bagus, membuat nyonya Claudia merasa tidak enak.
"Mungkin waktunya kurang pas, kapan-kapan kita atur lagi. Dan sepertinya Angga sedang banyak pikiran."
Wanita itu mencoba menghibur hati Jessica, besar harapan nyonya Claudia untuk menjadikan Jessica sebagai menantunya. Meskipun Anggara masih memiliki istri yang sah. Bagi nyonya Claudia, Adinda yang berbulan-bulan koma, sama sekali tidak memiliki harapkan.
"Ya sudah, Tante. Jessi pulang dulu sekarang. Lagian mas Angga juga masih istirahat."
"Kok buru-buru? Tapi kapan-kapan kita keluar ya. Kebetulan ada pameran khusus, Tante mau kamu ikut sama Tante."
Jessica mengangguk ramah, bibirnya menggembang, melempar senyum pada nyonya Claudia. "Baik, Tante."
Sedangkan dalam hatinya, Jessica mengumpat kesal. 'Untuk apa juga datang ke pameran yang membosankan. Buang-buang waktu, kalau bukan karena mas Angga, lebih baik aku dateng ke party sama temen-temenku!'
Jessica masih pura-pura ramah, kemudian begitu berbalik, saat nyonya Claudia tidak melihat wajahnya, bibirnya langsung mengerucut sebal.
"Jangan bosan main ke sini, ya?"
Jessica mengangguk sembari merutuk dalam hati, 'Mana mungkin bosan tante, kan rumah ini nanti akan jadi rumahku bersama mas Angga!'
"Permis ya, Tante. Aku pulang dulu."
"Hemm, hati-hati ya Sayang."
Keduanya cipika cipiki, kemudian Jessica meninggalkan rumah Anggara.
***
Di dalam kamarnya, Anggara yang masih terjaga mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sangat marah, masih marah atas sikap nyonya Claudia. Bagaimana bisa, sang mama memaksa menikah lagi padahal dia sudah memiliki istri. Ini sangatlah keterlaluan, lalu bagaimana ia menaruh mukanya di depan keluarga Adinda?
Anggara pikir, sang mama akan menyerah. Ternyata ia sangat salah, beberapa hari kemudian, Jessica dibawa ke rumah. Beruntung Anggara hapal mobil Jessica, sehingga sebelum dia masuk ke rumah, Anggara langsung putar balik. Ia memiliki tidur di rumah sakit, dan hal itu membuat sang mama murka.
***
Rumah sakit
Anggara yang sedang membasuh lengan Adinda dengan lap hangat, mendesis kesal saat sang mama menelpon.
"Ya," sapa Anggara malas di balik telpon.
"Kamu di mana?" suara nyonya Claudia membuat Anggara menjauhkan telponnya.
"Ada apa, Ma?"
"Kamu di mana sekarang?"
"Rumah sakit!" jawab Anggara datar.
"Mama sudah menunggu sejak tadi di rumah, lagian di rumah sakit sudah ada dokter dan perawat. Pulang sekarang, Mama mau bicara."
Mana mau Anggara pulang, sudah jelas di rumah ada Jessica.
"Ma ... batre ponsel Angga lowbat. Nanti sambung lagi." Anggara sengaja menghindar. Pria itu kemudian mematikan ponselnya.
"Angga! Ngaaa!" teriak nyonya Claudia tapi tidak terdengar karena ponsel Anggara langsung dimatikan.
Anggara yang suntuk, banyak pikiran, langsung saja melempar ponselnya ke sofa yang ada di belakangnya. Seolah tidak peduli ponselnya akan rusak.
Sesaat kemudian, setelah menatap wajah istrinya dalam-dalam, ia berniat melihat Tiara, putri kecilnya. Anggara terlihat gundah, apalagi sebentar lagi Tiara bisa dibawa pulang. Ia harus bisa membagi waktu, antara ke rumah sakit, kerja dan menjaga bayi mereka.
Sampai akhirnya, Anggara hanya duduk merenung di depan ruang bayi. Mengusap wajahnya dengan berat, seberat ujian hidupnya yang ia pikir akan indah setelah ia menikahi Adinda.
***
Anggara sedang duduk di meja kerjanya, pagi ini ada meeting mendesak. Perusahaan sedang mengalami sedikit krisis. Ini karena Anggara yang hampir satu tahun ini kurang fokus pada perusahaan. Anggara banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, membuat perusahaan sedikit terbengkalai.
Ruang rapat.
Ketika rapat pun, Anggara terlihat kurang fokus. Karena pikirannya masih ada di rumah sakit.
"Pak ... Pak Angga," panggil sekretaris Anggara. Hampir semua peserta rapat melirik ke arah pria tersebut.
Anggara langsung mengangguk, kemudian fokus pada pria berjas navi yang sedang berdiri di samping proyektor sambil melakukan presentasi. Setelah beberapa saat kemudian, rapat pun usai. Banyak kasak-kusuk yang terdengar kurang enak setelah Anggara keluar dari ruang meeting. Banyak dewan direksi yang ternyata kurang puas dengan kinerja Anggara satu tahun ini.
Ketika Anggara tidak ada, mereka malah membahas ingin menurunkan Anggara dari jabatannya karena dirasa kurang kompeten dalam mengolah Montana Group selama satu tahun terakhir. Gosip itu pun akhirnya terdengar oleh sekretaris Anggara.
Ruang Kerja Anggara
"Pak, sepertinya ada beberapa pihak yang ingin mengeser kursi Pak Angga."
Anggara malah cuek, ia seolah tidak peduli. Setelah istrinya dinyatakan koma, memang Anggara seperti tidak punya semangat dalam menjalani hidup. Seolah separuh nyawanya sudah pergi.
"Pak!"
Anggara hanya mengangguk lalu meminta sekretarisnya keluar meninggalkan dirinya sendirian. Dia hanya ingin sendiri. Anggara tahu saat ini, sang mama masih di rumahnya. Ia pun memutuskan untuk di kantor sampai para karyawan pulang satu persatu. Dari pada ke rumah sakit, mungkin sang mama malah mencari di sana. Sampai akhirnya ada seseorang masuk ke dalam ruangan Anggara.
"Saya bilang tinggalkan saya sendiri!" seru Anggara tanpa menatap siapa yang datang.
"Maaf, Pak!"
Anggara cukup terkejut karena yang ia dengar adalah suara wanita. Pria itu kemudian melipat laptop miliknya dan menepis berkas yang ada di meja.
"Tidak usah dibersihkan, silahkan keluar!" usir Anggara dingin pada office girls.
"Tapi Pak, atasan saya bisa marah jika saya tidak membersihkan semuanya sebelum pulang."
"Kamu tidak mendengar apa kata saya? Keluar!"
Anggara yang memang sedang suntuk berat, menjadikan office girls itu sebagai sasaran. Ia bersikap sangat kasar pada pegawai yang tidak mengerti apa-apa tersebut.
"Tutup pintunya lagi!" ujar Anggara galak.
Dengan langkah seribu, wanita muda itu pun bergegas pergi. Ia merasa ngeri melihat sorot mata yang mengintimidasi dan terlihat sangat galak itu. Rupanya benar gosip yang beredar, bahwa CEO mereka sangat tidak kompeten dan galak, arrogant, seenaknya sendiri, sangat tidak ramah. Buru-buru wanita itu melangkah pergi kemudian menutup pintu kembali. Sampai di luar ruangan, ia menghela napas panjang.
"Kenapa dia marah sekali? Apa aku melakukan kesalahan? Aku hanya ingin membersihkan ruangan, ish ... orang kaya memang aneh. Gampang setress padahal duitnya banyak!" celetuk Lisa.
Lisa kemudian kembali ke loker, dia memilih ganti baju dan pulang. Meksipun pekerjaan dia belum selesai. Masalahnya, pekerjaan dia yang terakhir adalah membersihkan ruang CEO, tapi karena bapak CEO malah megusir Lisa dengan galak, akhirnya Lisa pun mangkir dari tugasnya. Yang penting dia sudah berusaha. Saat berganti pakaian, ada atasannya yang tiba-tiba muncul.
"Ruang pak Anggara apa sudah? Kenapa cepat sekali?" Atasan Lisa mengamati dengan penuh selidik.
"Itu ... em. Pak Anggara tidak mau ruangannya dibersihkan," ucap Lisa gugup. Pasti dia akan kena marah.
"Yang benar saja! Cepat kembali, pakai seragammu lagi! Jangan pulang sebelum pekerjaanmu selesai!"
Lisa dilema, dua atasannya sama-sama galak, ia tidak boleh pulang sebelum pekerjaannya selesai, sedangkan pekerjaan tidak mungkin selesai karena tidak boleh dikerjakan. Karena takut tatapan bosnya, akhirnya Lisa berganti pakaian seragam serba biru lagi. Kemudian naik lift menuju lantai paling atas, ruang CEO. Dari tadi Lisa mondar-mandir tidak berani mengetuk, kemudian memutuskan agar pak Anggara pulang dulu, sampai Lisa yang memang kelelahan akhirnya tertidur.
Sesaat kemudian
Anggara keluar dari ruang kerjanya sambil menenteng tas, pria itu mengumpat kaget saat melihat seorang wanita terduduk sambil tidur tidak jauh dari pintu ruangan. Apalagi sebagian lampu sudah mati, jelas Anggara sangat kaget.
"Hei ...! Heiii ... ini bukan hotel! Mengapa kau tidur di sini?" Anggara menyentuh pundak Lisa yang tidur. Tapi malah tidak terbangun.
"Jangan-jangan dia pingsan!" gumamnya lalu menyentuh kaki Lisa dengan kakinya. Ia gerak-gerakan tapi wanita itu tidak kunjung bangun.
"Bangun!"
Lisa yang memang kelelahan bekerja, malah mendengkur. Seketika Anggara tertegun.
BERSAMBUNG
IG Sept_September2020
Fb Sept September
Terima kasih bestie