Hot Duda

Hot Duda
Tidak Ingin Menikah



Hot Duda Bagian 8


Oleh Sept


Adinda yang masih koma, keadaannya kini mengalami penurunan drastis. Janin dalam perutnya harus segera dikeluarkan, meskipun janin itu masih berusia enam bulan lebih beberapa hari. Anggara pada mulanya menolak, tapi tindakan medis harus segera dilakukan, keputusan harus secepatnya diambil. Pria itu pun menandatangani persetujuan untuk operasi Adinda, istrinya.


CEO Montana Group itu terlihat sangat dilema dan dirundung rasa gelisah, ia bersandar pada tembok depan ruang operasi. Sedangkan nyonya Claudia, sang mama, beliau duduk di depan ruang operasi, meski tidak banyak berharap. Wanita paruh baya itu hanya memiliki kecemasan atas cucunya. Takut tidak sempurna, tidak seperti bayi di luar sana.


Cukup lama operasi berlangsung, karena mereka harus sangat hati-hati. Anggara sampai bolak-balik, berjalan mondar-mandir hingga membuat nyonya Claudia sempat menegurnya.


"Duduklah!" seru nyonya Claudia yang jenggah melihat putranya berjalan kesana-kemari seperti setrikaan.


Anggara hanya mengusap wajahnya, kemudian menatap pintu ruang operasi yang tidak kunjung terbuka.


"Jangan membuat Mama pusing, duduklah!"


Barulah Anggara duduk dan meraup wajahnya, terlihat gelisah, cemas dan penuh harap.


KLEK


Spontan pria berposture tinggi dan tegap itu langsung berdiri, Anggara bergegas menghampiri dokter yang baru keluar dari ruang operasi.


"Bagaimana istri saya, Dok."


Dokter menepuk pundak Anggara. "Operasi berjalan lancar, keduanya selamat."


Pria yang masih mengenakan pakaian seragam operasi itu kemudian tersenyum menatap Anggara. Dan seketika itu juga Anggara langsung merasakan perih di matanya. Apalagi saat melihat suster membawa bayinya yang baru lahir keluar. Bayi itu langsung dipindahkan ke ruangan khusus. Dan Anggara hanya bisa melihatnya tanpa bisa menggendong.


Tiba-tiba nyonya Claudia mendekat, dia langsung bertanya pada dokter tanpa basa-basi, tanpa peduli perasaan putranya.


"Bagaimana kondisi cucu saya? Apa semuanya sempurna?" tanya nyonya Claudia terus terang.


Wajah dokter sampai berubah aneh, ada raut keheranan karena mendapatkan pertanyaan tersebut.


"Normal ... semuanya lengkap."


Nyonya Claudia langsung mengucapkan syukur. Ia menghela napas lega, berbeda dengan Anggara, ia masih tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh nyonya Claudia, sang mama.


"Lalu sekarang apa saya bisa melihat istri saya?"


Dokter menggeleng pelan. "Nyona Adinda masih harus menjalani perawatan ekslusif. Pak Anggara masih belum bisa menemuinya."


Anggara mengangguk mengerti, sedangkan sang mama, wanita paruh baya itu memilih ingin melihat cucunya. Seolah tidak prihatin dengan kondisi sang menantu yang kini masih koma. Nyonya Claudia sudah pesimis, bahwa istri Anggara itu bisa bangun. Bisa melahirkan cucu saja ini sudah mukjizat, dia tidak banyak berharap bahwa Dinda akan segera bangun. Ya, karena nyonya Claudia sudah memiliki rencana lain. Sebuah rencana yang mungkin akan membuat Anggara marah dan murka.


***


Beberapa saat kemudian


Adinda sudah dipindahkan ke ruang khusus, begitu juga dengan bayinya. Nyonya Claudia tadi sempat melihat dari luar kaca, dia terlihat sangat senang.


"Syukurlah dia normal!" ucap nyonya Claudia.


Anggara hanya duduk tertegun, pria itu memikirkan nasib mereka selanjutnya. Bagaimana nasib buah cintanya dengan Dinda tersebut? Bayi mereka pasti membutuhkan kasih sayang seorang ibu? Sedangkan istrinya malah terbaring koma di rumah sakit.


Seolah mengerti kecemasan sang putra, nyonya Claudia langsung memberikan solusi. "Nanti kalau bayinya bisa pulang, Mama akan carikan pengasuh. Kamu bisa bekerja dan fokus pada perusahaan."


Anggara mengusap wajahnya berat. Sang mama selalu mementingkan perusahaan, tidak mengerti bahwa Anggara sedang memikirkan Adinda yang tidak kunjung siuman.


***


Hari demi hari berlalu, bayi yang semula lahir premature itu kini mulai membaik. Setelah 3 minggu lahir ke dunia, bayi yang diberi nama Tiara Adira Anggara itu sudah mulai menunjukkan kemajuan yang significant. Tubuhnya mulai berisi, Tiara yang semula sangat rentan, kini perlahan mulai membaik. Anggara merasa lega, meskipun satu sisi dia merasa menderita. Ini semua karena Dinda tidak kunjung membuka mata.


"Jika semua sudah semakin membaik, Pak. Sambil menunggu perkembangan. Untuk saat ini, belum bisa."


Anggara mengangguk mengerti. "Lalu bagaimana dengan istri saya?"


Dokter langsung merasa prihatin, beliau hanya menepuk pundak Anggara karena merasa iba.


***


Sore hari, Anggara hendak pulang ingin mandi dan membersihkan diri. Sudah dua hari dia tidak pulang. Karena kondisi Adinda yang sempat ngedrop. Dan ketika dia pulang, Anggara sangat terkejut, di rumah sudah ada sosok wanita yang selama ini ia jauhi.


Dia adalah saudara jauh dari tantenya, Jessica. Sebelum Anggara menikah dengan Adinda, Jessica sering mendekatinya. Namun, Anggara sama sekali tidak tertarik. Meksipun pakaian Jessica terbilang berani, Anggara malah tidak tergoda. Anggara lebih tertarik dengan wanita yang menjaga dirinya di depan orang. Bukannya murah dan terkesan diobral. Pakaian Jessica selama ini kebarat-baratan. Mungkin karena Jessica kuliah di luar negeri.


Seperti sore ini, Jessica sudah ada di rumahnya bersama sang mama. Jangan tanya pakaian apa yang dikenakan wanita itu, sudah mirip model yang mau fashion show musim panas. Bahan tipis, menerawang dan minimalist. Lekuk tubuhnya pun tergambar jelas. Sepertinya Jessica sengaja.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Anggara to the point. Terkesan dingin dan acuh.


"Eh Mas Angga, sudah pulang?" sapa wanita itu dengan senyum merekah, bibirnya menyala merah cabai menggoda.


"Sudah pulang ... ayo makan. Jessi sudah menyiapkan makan untukmu," ucap nyonya Claudia.


Anggara mencebik dan langsung masuk ke kamarnya. Ia marah karena sang mama lancang membawa wanita masuk ke dalam rumahnya.


Sesaat kemudian, mungkin nyonya Claudia heran kenapa Anggara tidak muncul. Dari tadi belum keluar dari kamar.


"Tante, Mas Angga kok belum keluar ya?" tanya Jessica.


"Sebentar, biar Tante panggil dulu."


Nyonya Claudia pun menuju kamar Anggara, wanita itu kemudian mengetuk pintu kamar putranya.


Tok tok tok


"Ngga! Anggara!" panggil nyonya Claudia sambil mengetuk pintu berkali-kali.


Tok tok tok


"Buka pintunya!"


Anggara yang di dalam kamar, memilih memejamkan mata. Hari ini ia sangat lelah, tidak mau berdebat dengan sang mama.


"Mama tahu kamu belum tidur, buka pintunya. Di luar ada Jessica. Ayolah ... jangan seperti anak kecil yang menghindar! Mau sampai kapan kamu seperti ini?" Nyonya Claudia kembali mengomel.


Tok tok tok


"Anggara! Jangan membuat Mama kesal! Mau sampai kapan kamu seperti ini? Kamu berhak hidup normal seperti orang lain. Sebentar lagi Tiara juga pasti akan dibawa pulang. Kamu harusnya bersyukur, Jessica mau menerima semuanya."


Mendengar kata-kata sang mama, membuat Anggara tidak tahan. Akhirnya ia pun membuka pintu.


KLEK


Begitu pintu terbuka, Anggara langsung memasang muka kesal.


"Ma, cukup! Anggara tidak akan menikah lagi!" seru Anggara penuh ketegasan.


BERSAMBUNG


Fb Sept September


IG Sept_September2020