Hot Duda

Hot Duda
Tanggung



Hot Duda Bagian 49


Oleh Sept


Boleh skip ... hehehehe


Sudah ya! Yang gak ada KTP, minggir yuk ...


Terima kasih.


***


Sudah jelas Anggara malu berat, apalagi pria tersebut habis dari kamar mandi. Hanya handuk yang sejak tadi menjadi pelindung tubuh bagian bawah Anggara. Dan sekarang, Lisa malah membuat alat pelindung itu hilang. Malu, sudah pasti. Rasanya ingin marah sekali. Matanya bahkan sudah melotot, siap menerkam Lisa hidup-hidup akibat ketidaksengajaan gadis tersebut yang membuatnya handuknya melorot.


"Astaghfirullahaladzim!" gumam Lisa lirih sambil menutup matanya menggunakan kedua tangan. Sungguh ini pemandangan yang memalukan. Rasanya Lisa ingin hilang dari sana.


'Lisaaaa!' Anggara mendesis kesal kemudian meraih handuk dan memakainya kembali.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Anggara marah campur malu.


Gadis itu masih memejamkan mata, kemudian menggeleng keras.


"Kamu tadi lihat apa?" sentak Anggara yang merasa harga dirinya terlukai.


"Saya ... sa-ya gak lihat!" jawab Lisa gugup dan masih memejamkan mata.


Anggara tersenyum kecut, kemudian memperhatikan Lisa lekat-lekat.


'Sudah pandai berbohong! Dia pikir aku bodohhh?' batin Anggara.


'Sialll!' Anggara terus merutuk dan mengumpat. Benar-benar kejadian yang memalukan.


"Pak ... boleh saya pergi?" tanya Lisa tapi masih menutup mata.


KLEK


Lisa ingin mengintip tapi takut, terdengar suara kaki Anggara yang menjauh kemudian menutup pintu.


"Pak ...?" panggil Lisa.


Merasa mungkin aman, Lisa akhirnya membuka mata. Dia terbelalak karena Anggara ternyata masih ada di depannya. Spontan matanya melihat ke bawah dengan cepat, Lisa menunduk lalu mendongak. Syukurlah, Anggara sudah memakai handuknya.


"Kamu tadi melihatnya?" sindir Anggara yang jengkel karena Lisa berbohong.


Gadis itu pun hanya bisa menelan ludah, kemudian mengangguk canggung.


"Lisaaa!" desis Anggara.


"Itu ... itu gak sengaja ... dan sekarang boleh saya pergi, Pak?"


Anggara mengusap wajahnya dengan kasar, perasaan pria itu seketika menjadi nano-nano campur aduk tidak karuan. Antara kesal, jengkel, malu, dan ingin marah.


"Bapak ... boleh saya keluar?" pinta Lisa dengan tatapan memohon. Anggara yang sedang gusar, melirik sinis.


"Pak saya mau keluar," ucap Lisa lagi. Jujur, lama-lama ngeri. Apalagi setelah Lisa melihat pusaka Anggara untuk pertama kali.


Bukkkk ....


Anggara melempar segebok uang di atas meja.


Lisa beringsut, ia mundur ketika Anggara berjalan ke arahnya.


'Pak Angga tidak mabukk, tidak ada aroma seperti minuman. Tapi megapa ... astaga, mau apa pria ini?' batin Lisa panik.


"Simpan uang itu nanti," ucap Anggara.


Lisa menggeleng pelan. Jangan-jangan ia dibayar untuk melayani pria tersebut.


"Pak ... saya tidak menjual diri," ucap Lisa gugup. Karena Anggara tambah dekat.


"Apa kurang? Baiklah ... Kita lihat setelah nanti."


"Pak Angga, Bapak salah sangka."


Anggara sepertinya mulai gelap mata. Ya, mungkin terlalu lama tidak tersentuh, mungkin sudah mulai karatan. Dan ketika ada istri sah yang membuatnya uring-uringan, apalagi Lisa sudah melihat miliknya, sebaiknya menyelam sekalian. Sudah terlanjur basah.


"Rumah? Mobil? Apa?"


Anggara terus saja mencecar Lisa dengan materi, seolah Lisa mau melakukan apa saja demi uang. Ia mungkin merasa benar, karena Lisa diajak nikah kontrak juga mau.


"Jawab ... apa yang kamu mau?"


"Saya ingin keluar," jawab Lisa kemudian mendongak. Gadis itu lalu menatap pintu yang sudah dikunci oleh suaminya tadi. Anggara jelas geram, dia sudah merendah tapi Lisa seolah menolak. Tambah terluka lah harga diri pria tersebut.


'Cih!'


"Bapak, apa yang Bapak lakukan?"


Lisa panik, karena Anggara mencengkram kedua bahunya.


"Pak ...!"


Suara Lisa perlahan menghilang, jantungnya berdegup kencang. Lisa tidak mengira, Anggara akan melakukan hal ini. Hembusan napas yang hangat begitu terasa di wajah gadis tersebut, karena wajah mereka yang kini sangat dekat. Apalagi saat Anggara mencoba menyesappnya. Mulutnya yang semula tertutup, perlahan terbuka karena Anggara terus memaksa masuk.


Anggara tetaplah seorang pria yang normal, ia punya has rat, punya naluri, kebutuhan semacam ini tidak bisa ia hindari terus menerus. Dan saat ini, gadis polos itu cukup membuatnya goyah.


Sesapan demi sesapan ia layangkan, hingga membuat kaki Lisa lemas. Pagi-pagi Anggara sudah membuat Lisa keringat dingin, bagaimana tidak, setelah berhasil bertukar saliva, kini Anggara membopong tubuh Lisa.


Lisa menolak, dengan gerakan memeluk tubuhnya sendiri. Akan tetapi pria itu menyingkirkan tangan Lisa.


"Bapak ... jangan lakuin ini. Ini tidak benar," ucap Lisa yang tersadar setelah sempat hanyut karena dibuai mantan duda kesepian tersenyum. Duda tampan yang suka marah-marah.


Sudah di ubun-ubun, mana peduli Anggara dengan logika. Apalagi Lisa sudah sah menjadi istrinya.


"Pak ...!"


Lisa memejamkan mata ketika Anggara mulai naik dan membuang kain putih tebal yang bernama handuk tersebut. Bersambung.