
Hot Duda Bagian 45
Oleh Sept
Sadar atas apa yang keduanya lakukan, Anggara melepaskan diri. Ia menarik tubuhnya agar tercipta jarak antara mereka berdua. Sedangkan Lisa, ia terlihat salah tingkah, sama-sama mundur dan terlihat sekali kalau mereka sangat canggung pasca pelukan yang spontan tersebut.
"Ehem!" Anggara berdehem, sengaja ingin mengalihkan perhatian dan juga mengusir ketegangan. Karena Marwah juga ternyata masih tertidur setelah minum obat. Kini mereka hanya berdua, padahal di luar ruangan ada pak Harun dan Rio, yang sengaja tidak masuk. Seolah memberikan ruang untuk Anggara serta Lisa.
"Nanti biar bibi yang antar baju ganti," ucap Anggara mengusir canggung antara mereka.
"Ya," jawab Lisa tanpa berani menatap suaminya. Sebenarnya dia malu karena pelukan barusan. Mana pernah Lisa menyangka, pria berwajah sedingin es itu ternyata memiliki pelukan yang hangat.
"Ada yang kamu butuhkan? Biar saya bantu urus."
"Tidak, Pak. Tidak usah!" jawab Lisa cepat. Dan mendapat tatapan aneh dari suaminya.
"Benarkah?"
Gadis itu mengangguk pelan. Dan Anggara pun tidak memaksa, suasana yang menegangkan itu mencair ketika dokter dan perawat masuk untuk mengecek kondisi Marwah.
Selama Marwah diperiksa, Anggara tetap berada di ruangan itu, bahkan ketika pak Harun masuk. Anggara baru menyapa mertuanya itu ketika dokter tadi pergi dengan perasaan yang membawa catatan dalam pelukannya.
Sebenarnya Anggara sangat merasa kikuk, aneh saja menyapa pria tua itu duluan. Tapi demi kesopanan, dan ikut simpati atas musibah yang menimpa keluarga Lisa, Anggara sedikit-sedikit mencoba belajar menyapa dengan manusiawi keluarga Lisa tersebut.
"Bagaimana kabarnya, Pak?" tanya Anggara kaku sambil mengulurkan tangan. Sikap Anggara sudah seperti calon mantu yang baru bertemu calon mertua.
"Alhamdulillah."
Keduanya pun duduk di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut.
"Terima kasih sudah menjenguk keluarga Bapak," ucap pak Harun.
Anggara hanya tersenyum tipis, ia bingung karena tidak pandai basa-basi. Sampai pak Harun yang harus memancing obrolan agar suasana tidak terkesan dingin.
Hingga akhirnya pak Harun malah membahas masa kecil Lisa, karena memang tidak punya baham obrolan. Tidak mungkin rasanya bila Anggara membahas harga saham, akhirnya Anggara hanya mengangguk saja ketika pak Harun mulai menggenang masa kecil putrinya dulu.
"Yah, Lisa ke luar dulu. Lisa mau lihat ibu." Lisa pamit karena ia sebenarnya masih khawatir dengan kondisi ibunya, meski ayahnya tadi sudah mengatakan Ibunya sudah melewati masa-masa sulit. Berkat doa mereka, ibu Siti perlahan mulai melawan rasa sakitnya.
Nah, saat Lisa ingin keluar. Anggara malah bangkit.
"Pak, saya permisi dulu," ucapnya sopan. Hingga pah Harun menatapnya sedikit aneh.
"Lisa ... tunggu."
"Aduh!" gumam Lisa saat Anggara malah menyusul di belakangnya.
"Untuk apa pak Angga ikut segala?" gumam Lisa gelisah.
Saat keduanya berjalan keluar sama-sama, ada Rio yang juga mengikuti dari belakang.
"Kamu balik saja ke kantor, saya akan di sini," ucap Anggara saat berbalik menatap anak buahnya itu.
"Baik, Pak." Rio jelas senang, dari pada jadi obat nyamuk di antara mereka. Ia pun tanpa diperintah dua kali langsung bergegas pergi.
Saat hanya jalan berdua menyusuri lorong, keduanya hanya diam saja. Sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya mereka berada di luar ruangan ICU. Lisa tidak boleh masuk, hanya bisa melihat dari luar.
Keduanya pun duduk di tempat duduk yang tersedia di sana, dan tiba-tiba Anggara nyeletuk.
"Saya belum makan," ucap pria kaku tersebut.
"Oh, iya. Bapak mau makan apa? Saya belikan," ucap Lisa langsung berdiri.
Lagi-lagi tangan Anggara bergerak dengan sendirinya. Pria itu menyentuh lengan Lisa kemudian ikut berdiri.
"Ayo makan," ucapnya.
'Hah?' Lisa tidak bisa menolak, ia pun seperti terhipnotis, ikut saja Anggara membawanya pergi ke sebuah kantin yang ada di rumah sakit itu.
Begitu pun saat duduk, Anggara sudah memesan sendiri, kemudian bertanya pada Lisa, gadis itu mau makan apa.
"Mau makan apa?"
"Apa saja ... em. Ayam goreng saja."
Anggara mengangguk paham, kemudian mengambil minuman kemasan.
"Minumlah!"
"Terima kasih," ucap Lisa. Tapi dalam hati ia bergidik, semakin Anggara baik, semakin Lisa gelisah. Pria kasar dan pemarah tiba-tiba berubah, ini sangat membuat Lisa bergidik.
Sampai saat makan pun, Lisa tidak konsen. Sesekali ia melirik Anggara yang tengah makan di depannya.
"Nasinya tidak akan habis jika kamu hanya menatapnya," celetuk Anggara.
Buru-buru Lisa memakan nasinya, sampai gadis itu tersedak.
"Uhuk uhuk!"
"Ish! Jangan buru-buru!"
Lisa pun minum, kemudian melanjutkan makan dengan pelan. Habis satu piring, mereka pun tidak langsung kembali ke ruangan, Anggara malah melangkah menuju taman. Mereka duduk, menatap pasien dan keluarga yang menjenguk yang lalu lalang.
"Lisa."
"Ya, Pak."
"Kamu mau kuliah?"
"Apa?"
"Akan saya urus, tapi ..."
Lisa sudah was-was, tidak ada yang gratis kalau di hadapan mantan duda yang suka marah-marah tersebut.
"Ada syaratnya."
Lisa langsung menghela napas panjang, sudah tahu. Pasti syarat lagi.
"Perpanjang kontraknya, sampai kamu lulus kuliah."
'Sebenarnya ... ini hanya alasan. Ya ... hanya alasanku saja. Gadis ini ... dia sudah mulai mengusik hidupku.'
"Bagaimana?" tanya Anggara.
"Itu ..." Lisa jelas bingung mau jawab apa.
"Kita sama-sama merasa diuntungkan. Jadi sepertinya tidak masalah. Bukankah ayahmu berkata, kamu memang ingin melanjutkan kuliah?" tanya Anggara.
"Kamu tidak akan kuliah 24 jam non stop!" sindir Anggara yang sudah mulai galak kembali.
Lisa langsung menundukkan wajah.
"Kalau iya, secepatnya cari kampus yang cocok. Dan akan lebih baik kalau dekat dengan rumah."
"Em ... apa saya tidak boleh berpikir dulu?"
"Mikir apa lagi?" cetus Anggara. Sudah kasar kembali.
Alhasil, Lisa pun tidak menolakknya. Percuma dia ditanyai, karena jawaban sudah ada di tangan Anggara. Dan Anggara tiba-tiba harus pergi, ada telpon penting.
"Kabari saya kalau ada sesuatu,"
"Baik, Pak."
"Ya sudah, masuklah. Saya akan langsung pergi."
Lisa mengangguk, 'Apa aku harus berkata hati-hati pada pak Anggara?' batin Lisa.
Tidak mau terkesan caper, Lisa pun diam saja menatap kepergian Anggara. Sedangkan Anggara, ia terlihat buru-buru sekali.
***
Beberapa hari kemudian.
Sudah lima hari Lisa tidak pulang, ini karena ia fokus merawat ibunya yang sudah pindah ruangan. Ibunya kembali bisa diajak komunikasi.
Sebenarnya Lisa tidak enak, tapi saat telpon Anggara katanya tidak apa-apa, ia pun mencoba tenang. Meskipun juga khawatir dengan Tiara.
"Lisa, ibumu sudah mendingan. Marwah juga. Kamu hari ini pulang saja, tidak enak suamimu sendiri di rumah."
"Tapi ..."
"Ayah dan ibu tidak apa-apa, sudah mendingan. Sudah ... lebih baik kamu pulang. Besok-besok bisa ke sini lagi."
Akhirnya Lisa pun memutuskan pulang naik taksi, tidak mau merepotkan Anggara dengan minta jemput pria tersebut. Pukul lima sore Lisa sampai di rumah Anggara, terlihat sepi. Anggara belum kembali dari kantor.
Kangen dengan Tiara, ia lama cuci kaki dan menggendong Tiara.
"Apa Tiara gak rewel, Mbk?"
"Nggak, Lis ... eh, Non."
Lisa hanya tersenyum, sepertinya babysitter Tiara sangat hati-hati sekali sekarang. Lisa sih cuek, mau dipanggil apa saja ia tidak begitu peduli. Puas bermain dengan Tiara, Lisa yang berhari-hari tidur di rumah sakit, akhirnya ketiduran di ranjang bersama Tiara.
Pukul tujuh malam Anggara baru pulang, dan saat melihat babysitter santai di ruang TV, Anggara jelas heran.
"Di mana Tiara?"
Anggara mungkin takut putrinya dibawa lagi olah sang mama.
"Eh, Tuan ... ada Tuan. Di kamar sama ibunya."
Manik mata hitam itu langsung menajam, entah mengapa Anggara bergitu bersemangat masuk kamar bayi.
Tap tap tap
KLEK
Anggara masuk, dan benar saja, ada Lisa di dalam sana.
'Di sini kau rupanya.'
Dilihatnya Lisa yang berbaring di sebelah putrinya.
Anggara kemudian mengamati wajah dua perempuan cantik beda usia tersebut. Kemudian pergi ke kamar mandi, cuci tangan dulu, dan mambasuh wajah biar segar.
Saat kembali, ia menatap Tiara dan Lisa yang sama-sama terlelap, padahal masih sore, belum malam-malam banget.
"Tidur yang nyenyak, sayang."
Anggara mengusap kaki Tiara yang tertutup selimut. Kemudian menempel bibirnya di kening Tiara. Dan saat akan berbalik, ia malah mendengar dengkuran halus dari Lisa yang tertidur. Pria itu langsung tersenyum tipis, kemudian menatap Lisa lekat-lekat.
"Wanita model apa, kenapa mendengkur jika tidur?"
Sadar jika ia selalu tersenyum saat melihat Lisa, Anggara kemudian tersadar. Ada sesuatu yang tidak beres yang sudah terjadi. Tidak mau semakin kacau, ia pun memutuskan berbalik. Lebih baik tidak lama-lama di dalam sana.
Akan tetapi, malah terdengar Tiara yang terbangun. Lisa yang kaget, langsung membuka mata, lalu menepuk lembut Tiara. Lisa belum sadar, ada sepasang mata yang berdiri tidak jauh darinya.
Melihat Tiara kembali tenang hanya dengan gerakan seperti itu, Anggara tertegun. Ya, putrinya memang butuh sosok ibu. Ibu seperti Lisa sepertinya sangat cocok.
"Apa yang kau pikirkan?"
Anggara memejamkan matanya rapat-rapat, kemudian pergi dari sana.
***
Sampai tengah malam, pria itu malah tidak bisa tidur. Berputar-putar di ranjangnya yang luas, akhirnya ia memutuskan pindah kamar.
Pukul 4 pagi.
Lisa terbangun karena ingin ke kamar mandi, gadis itu kaget karena Anggara tidur di sofa, di kamar tersebut sambil duduk. Merasa kasihan, Lisa lantas mengambil sebuah selimut, kemudian meletakkan tepat di pangkuan Anggara.
"Astaga!" Lisa langsung mundur saat melihat mata Anggara terbuka begitu ia meletakkan selimut. Ia pikir Anggara sudah tidur.
"Ba-pak belum tidur?" tanya Lisa gugup.
"Insomnia kambuh," celetuk Anggara pilih aman.
Lisa bingung, terus harus bagaimana.
"Mau sesuatu, Pak?"
Anggara menatap Lisa dalam-dalam. Membuat gadis itu ketakutan sendiri.
"Ya," jawab Anggara lirih dengan mata yang fokus pada sesuatu.
Lisa menelan ludah dengan susah payah, mata Anggara kali ini lebih menakutkan dari pada ketika sedang marah-marah. Ini seperti mata buaya gurun yang kelamaan di pasang pasir.
'Aduh!'
Lisa langsung mundur saja, soalnya dia takut dengan cara Anggara menatapnya malam ini. Apalagi ada sesuatu yang seharusnya tidak Lisa perhatikan.
'Mati aku, harusnya aku tidur saja tadi.' Lisa mulai panik.