
Hot Duda Bagian 36
Oleh Sept
Sudah malam, rumah Anggara tampak sepi. Hanya suara jarum jam yang terdengar. Di luar sana ada Rio, sekretaris Anggara yang sibuk membersihkan muntahan sang atasan, sedangkan di dalam rumah, ada Lisa yang ketar-ketir dan gelisah masuk kamar Anggara. Malam ini ia mendapat tugas dari Rio, pria itu minta bantuan pada Lisa untuk mengganti pakaian kotor Anggara yang terkena muntahan minuman tadi.
Lisa melangkah pelan, matanya memindai seluruh ruangan. Bagaimana pun juga ia merasa ragu masuk ke dalam kamar pria tersebut. Apalagi setelah masuk, ia sudah disuguhi pemandangan yang cukup membuatnya tertegun.
Foto pernikahan Anggara dan Adinda masih terpasang rapi di tembok kamar. Berukuran besar, keduanya sangat terlihat bahagia. Tanpa sadar, Lisa berjalan mendekati sebuah meja hias. Di sana ada foto kecil di mana Anggara tersenyum menatap kamera. Ganteng, sayang sekali karena sekarang Anggara tidak punya senyuman seperti itu lagi.
Dia menjadi sosok yang dingin, jutek, acuh, bahkan terkesan arrogant. Anggara sepertinya berubah total setelah apa yang terjadi pada keluarganya. Dan kini, Lisa begitu asik, hingga ia lupa tugas utama di masuk ke dalam kamar itu, saat kaki Anggara bergerak-gerak, barulah ia tersadar dan langsung menoleh ke sumber suara.
'Ya ampun!' batin Lisa kemudian pelan-pelan mendekat.
Dengan hati-hati gadis itu melepas sepatu Anggara, Lisa melepaskan sepatu sembari sedikit memalingkan muka, kemudian pelan-pelan juga melepaskan kaos kaki hitam yang dipakai oleh pria tersebut. Lisa lantas menaruh sepatu itu ke dalam rak khusus yang ada tidak jauh dari sana.
Istri kontrak Anggara itu kemudian berbalik, ia ragu saat akan mengganti kemeja Anggara yang basah karena muntahan.
'Mengapa tidak pak Rio saja?' gumam Lisa dalam hati.
Lisa menatap pintu, Rio sang sekretaris suaminya belum muncul juga. Lisa berharap Rio datang dan mengganti tugasnya. Bagaimana pun juga, hal seperti ini sangat membuat Lisa canggung, dia seorang gadis, masa disuruh ganti pakaian laki-laki dewasa. Mungkin Lisa lupa, bahwa pria dewasa itu kini adalah suaminya.
Dengan menghela napas panjang, Lisa pun duduk di tepi ranjang. Ia seperti menahan napas ketika mulai meraih kancing pertama.
'Jangan bangun ... jangan bangun!' batin Lisa, berharap Anggara tidak bangun dan membuatnya kesusahan. Satu persatu kancing kemeja pun terlepas, sampai di titik ini Lisa tidak mengalami kesusahan.
Anggara sudah tidak memakai baju atasan, Lisa sudah melepasnya dengan sukses. Selanjutnya, ia mengganti kemeja kotor itu dengan piyama yang ia ambil dari dalam lemari. Nah, giliran melepaskan celana panjang pria tersebut yang membuat Lisa kembali gelisah.
"Aduh!"
"Apa aku panggil pak Rio sebentar saja?" gumam Lisa.
Lisa pun memilih keluar kamar. Ia berjalan ke luar rumah, dilihatnya Rio masih membersihkan jok mobil, merasa tidak enak, sebelum bicara pada sekretaris Anggara tersebut, Lisa kembali masuk ke dalam.
"Apa harus aku melepasnya sendiri?"
Lisa mondar-mandir, karena terdesak akhirnya ia pun nekat. Kini dia sudah berdiri tepat di antara kaki Anggara, dengan mata tertutup tapi sedikit mengintip, ia menundukkan badan, kemudian meraih sabuk bermerek milik Anggara. Hati-hati sekali Lisa melepaskan pengait yang berwarna emas dengan logo terkenal tersebut.
Klik
Pengait pun terlepas, dengan pelan gadis itu menarik sabuk yang melingkar di pinggang Anggara. Lisa membuang napas lewat mulutnya pelan-pelan, kemudian meraih resleting. Untuk sejenak ia menahan napas, melepaskan resleting celana tersebut membuat irama jantung Lisa berdegup dengan kencang.
Sreeeekkk ...
Lisa sungguh malu, ini hal paling memalukan yang pernah ia lakukan. Lebih baik berurusan dengan bayi betulan, dari pada bayi besar seperti ini. Benar-benar membuat Lisa sport jantung.
"Fokus Lisa ... jangan lihat yang aneh-aneh!" gumam Lisa saat melihat sesuatu yang membuatnya semakin merona.
Settt ...
Karena diliputi rasa grogi yang besar, Lisa reflek menarik celana itu cukup keras. Hingga membuat si pemilik celana mengerjap.
BERSAMBUNG
Fb Sept September
IG Sept_September2020