
Hot Duda Bagian 61
Oleh Sept
Di sebuah kamar, terdapat gaun yang tergeletak di bawah lantai. Tidak hanya itu, ada barang-barang lain yang berserakan. Belum lagi di atas sofa, kamar yang selalu rapi dan wangi itu seketika berubah. Entah pertempuran apa yang terjadi sepanjang malam, yang jelas aroma wangi perfume menyatu dengan harumnya pandan.
Tidak ada yang berani mengganggu kamar itu, meski sudah jam 9 pagi. Tidak ada berani yang mengetuk, sesuai perintah Rio yang datang pagi-pagi ke kediaman Anggara. Rio hanya ingin melapor atas kasus yang terjadi semalam. Pagi tadi ia hendak melapor, tapi kata bibi sang majikan malah belum keluar sejak semalam. Alhasil, Rio meminta semuanya untuk tidak mengusik. Biar, terserah nanti Anggara mau bangun jam berapa.
Rio yang selama ini menjadi kaki tangan bosnya itu, ia pun ke ruang kerja Anggara. Kemudian menelpon seseorang. Rio harus mengurus dalang kejadian semalam, sampai Lisa hampir celaka. Dan ketika ia sibuk mengurusi masalah tersebut, yang bersangkutan malah masih tertidur pulas.
Kamar utama, kamar Anggara. Kedua insan itu masih terbang di alam mimpi, tidak peduli matahari sudah meninggi. Sebenarnya babysitter akan membangunkan keduanya, tapi langsung dilarang art.
"Jangan masuk ke sana! Kata pak Rio, kita tidak boleh mengganggu."
"Tapi ini kan Tiara, mana mungkin pak Angga marah." Babysitter masih ngeyel. Entah dapat bonus apa dia dari Jessica dan nyonya Claudia.
"Jangan buat masalah, itu Tiara anteng begitu. Nyonya sama tuan pasti lembur."
Mata babysitter langsung julid, ia menatap pintu dengan pandangan tak suka. Ketika mereka bisik-bisik di depan pintu, membuat Lisa yang tidur mulai terbangun. Ia mengerjap, dilihatnya langit-langit kamar.
'Kamar pak Angga?'
Lisa menoleh ke samping.
'Astaghfirullahaladzim.'
Lisa terperajat, kaget karena wajah Anggara yang dekat, hanya berjarak beberapa senti saja. Matanya kemudian berkedip-kedip. Lisa lalu mulai mengingat kejadian semalam. Ia yang masih menggantuk seketika matanya langsung membulat sempurna. Reflek ia membekap mulutnya sendiri.
Lisa kemudian menatap sekeliling, betapa berantakan kamar tersebut. Jantungnya mulai berdegup kencang, saat mengingat apa saja yang terjadi tadi malam.
"Ishh!"
Wajah Lisa langsung pucat, ia ingat bagaimana dengan beraninya ia semalam saat di dalam mobil. Dan ... Lisa memejamkan mata rapat-rapat. Ia mendesis, menahan malu. Karena semalam mereka melakukan sampai hampir pagi. Lisa kemudian menatap sofa, nakas, dan tempat lain di mana semalam mereka melakukan dengan banyak variasi.
'Ya ampun, memalukan!'
Perlahan Lisa turun dari ranjang, ia kemudian mengambil sesuatu untuk menutupi tubuhnya. Tidak mungkin mengenakan gaun itu, ia meraih jas Anggara, memakainya kemudian langsung lari ke kamar mandi.
KLEK
Lisa bersandar di tembok, mengatur napas sesaat.
"Jam berapa ini? Ya ampun ... kenapa bisa begini? Mau ditaruh mana mukaku?"
Lisa kemudian mondar-mandir di dalam kamar mandi yang luas itu. Sedangkan di atas ranjang, seorang pria yang terlihat menawan meskipun baru bangun, terlihat menahan senyum. Rupanya dia sudah bangun sejak tadi, sengaja tidak membuka mata, ia tahu istrinya saat ini pasti sangat malu, karena semalam Lisa memang kelewat berani dan sangat menantang. Kini sudah 15 menit berlalu, Lisa belum keluar. Anggara jadi penasaran, sedang apa istri manisnya itu. Sampai akhirnya ia turun dari ranjang dan menyusul Lisa.
"Lisa."
Tiba-tiba dipanggil, Lisa langsung panik. Buru-buru ia memakai bathrobe kemudian dengan canggung membuka pintu. Lisa yang kelewat malu, kemudian keluar tanpa menatap wajah suaminya. Ia nyelonong seperti tidak melihat sesuatu.
"Eh!"
Anggara tidak marah, ketika melihat Lisa cuek. Ia tahu, pasti saat ini Lisa sangat malu. Pria itu hanya menahan senyum kemudian ganti ia yang mandi. Ia menyalakan shower kemudian menyanyi sambil bersiul. Hari ini dia bangun dengan perasaan yang senang. Wajahnya berbinar karena dapat service full sepanjang malam.
***
Lisa keluar kamar Anggara, sebelumnya mengintip terlebih dahulu. Apes, di dekat sana malah ada Rio. Ia mencoba berjalan amat pelan, tapi malah Rio melempar sebuah pertanyaan.
"Apak pak Anggara sudah bangun?"
Lisa menoleh, kemudian mengangguk. Tidak mau dilihat lama-lama oleh Rio, Lisa buru-buru menuju kamar bayi. Di sana sudah ada Tiara dan babysitter.
Sementara itu, Rio hanya geleng-geleng kepala. 'Kuat banget mereka berdua.'
Rio yang sudah saatnya menikah, hanya mencebik. Kemudian kembali duduk. Melihat pengantin baru tersebut, sepertinya ia juga harus menikah. Iseng, Rio melihat laman sosial media miliknya, banyak DM masuk. Ya, mungkin sekarang sedang kurang kerjaan, Rio satu persatu melihat siapa yang sudah mengirim pesan pribadi padanya. Kalau akunnya cantik, langsung dia balas. Dasar pria.
Tap tap tap
"Kamu sudah datang rupanya?" tanya Anggara yang keluar dari kamar kemudian menemui Rio. Wajahnya terlihat segar, sepertinya sehat jasmani dan rohani.
"Iya, Pak. Sejak tadi."
"Oh. Sudah sarapan? Saya lapar sekali. Mari makan dulu."
"Tidak, Pak. Terima kasih, ini sudah hampir siang, saya sudah makan."
Anggara manggut-manggut, pura-pura biasa saja.
"Ya sudah, saya sarapan dulu."
"Baik, Pak. Saya tunggu di sini."
"Hemm."
***
Meja makan.
Bibi sudah menyiapkan makan untuk Anggara dan Lisa, tapi yang muncul hanya Anggara.
"Bi, panggilkan Lisa."
Bibi kemudian ke kamar Tiara, di sana Lisa sedang duduk sambil melamun.
"Nona ... Non dicari tuan. Diajak makan bareng."
Lisa mengangguk.
'Masih malu banget!' batin Lisa kemudian beranjak.
Tap tap tap
Kakinya terasa berat saat akan melangkah ke meja makan. Padahal di sana suaminya sudah menunggu.
"Ayo makan."
Anggara menatap Lisa terus menerus, membuat Lisa merasa tidak nyaman.
"Jangan duduk di sana, kemarilah!" titah Anggara yang mau Lisa duduk dekat di sebelahnya.
Lisa masih malu, akhirnya duduk dan makan dengan pelan. Saat makan, Anggara terus saja memperhatikan istrinya itu, membuat Lisa akhirnya tidak tahan.
"Pak, jangan menatap saya seperti itu!" ucap Lisa lirih.
"Tidak usah malu karena yang semalam. Makan seperti biasa, jangan terus menunduk, saya gak bisa lihat wajah kamu."
'Ihs.'
Makin bertambalah rasa malu yang memenuhi wajahnya. Apalagi tangan Anggara terulur untuk menyibak anak rambut yang menutupi dahi wanita tersebut.
"Makan yang banyak," ucap Anggara setengah berbisik.
Lisa pun makan dengan hati yang berdebar, sedangkan Anggara, pria itu terlihat sumringah. Dicas sampai batre full, membuat hatinya menjadi hangat. Bicaranya pun tidak ngegass seperti biasanya. Selesai sarapan, Anggara melihat Tiara beberapa saat, kemudian mencari Lisa lagi. Lisa yang sejak tadi menghindar dari suaminya itu, terus saja dicari-cari.
"Lisa mana, Bik?"
"Ada Tuan." Bibi menoleh ke belakang.
"Mana?"
Yang dicari muncul dengan apron, rupanya Lisa sedang membantu bibi masak.
"Jangan capek-capek," ucap Anggara yang sok perhatian. Membuat Lisa bergidik.
Kebetulan Anggara belum berangkat kerja, Lisa pun mengatakan sesuatu sekalian ijin.
"Boleh ... saya antar makanan ke rumah sakit?" tanya Lisa ragu.
Anggara diam sebentar.
"Jangan lama-lama, minta antar sopir. Sakalian jemput juga."
Lisa mengangguk.
'Eh, tumben gak marah-marah. Jadi baik begini?' batin Lisa.
Lisa juga tertegun saat Anggara menarik lengannya lembut ke balik kulkas besar. Biar gak kelihatan sama ART yang lain.
"Aku berangkat dulu," ucap Anggara.
Lisa kaget, Anggara sudah mulai berbicara tidak formal padanya. Biasanya juga soya saya, sekarang ganti aku.
"Titip Tiara," lanjut pria tersebut.
Lisa mengangguk kaku. Ia masih shock sikap Anggara yang berubah.
"Jangan lama-lama di rumah sakit, aku nanti pulang lebih awal."
Lisa semakin menelan ludah. Ia juga kembali mengangguk canggung.
"Kalau malu begini, kamu semakin manis. Aku berangkat," pamit Anggara sambil mengusap pipi Lisa.
'Apa ini?' Jantung Lisa berdesir, sikap manis Anggara membuatnya gagal fokus.
"Hati-hati," ucap Lisa ketika Anggara sudah berbalik.
Pria itu menoleh, langsung putar badan.
CUP
BERSAMBUNG
Fb Sept September
IG Sept_September2020
Kisah romantis lainnya
Rahim Bayaran, Kekasih Bayaran