Hot Duda

Hot Duda
CEMAS



Hot Duda Bagian 43


Oleh Sept


Suasana di kediaman nyonya Claudia pagi-pagi sudah menegangkan. Saat sarapan, nyonya Claudia kembali marah-marah. Bagaimana tidak, Anggara meminta Lisa duduk di sebelahnya saat makan pagi tersebut.


"Kamu pikir Mama sudi makan satu meja dengan pembantu?" terang nyonya Claudia tanpa basa-basi. Sakit di kepalanya sudah hilang, kini ia kembali emosi lagi.


"Mama tidak usah khawatir, setelah makan kami akan pergi."


"Angga! Mama gak percaya, kamu keracunan apa hingga sudi menikahi wanita rendahan ini!"


JLEB


Suasana hening sesaat. Lisa yang sejak awal cuek, tidak begitu peduli dengan makian ibu dari bosnya itu, lama-lama batinnya mulai terusik. Wajahnya pias, seperti menahan rasa tidak nyaman yang besar, dan Anggara yang melirik pada gadis itu, mengerti jika ucapan sang mama makin lama mungkin makin keterlaluan.


"Cukup, Ma. Mama tolong hargai pilihan Angga."


"Pilihan katamu? Apa kamu tidak salah lihat? Lihat baik-baik siapa gadis ini? Buka mata kamu lebar-lebar." Nyonya Claudia masih saja emosional. Ditambah saat melihat Lisa, emosinya tambah pecah.


"Kamu juga, dasar tidak tahu diri. Kamu pasti sudah guna-guna anak saya!" tuduh nyonya Claudia yang tidak habis pikir. Bagaimana bisa putranya yang hebat itu mendapat istri pengganti seorang seperti Lisa. Ini tidak masuk akal.


"Mama kalau tidak suka Lisa, jangan menghina seperti itu!" sela Anggara membela istrinya yang terus mendapat intimidasi dari nyonya Claudia.


"Bagus! Sekarang belain dia di depan Mama. Biar makin besar kepala babuu ini!" sindir nyonya Claudia dengan emosi yang berapi-api.


Anggara mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian bangkit.


"Ayo kita pulang!" ajaknya sambil memegang tangan Lisa.


"ANGGA!" sentak nyonya Claudia.


"Semakin Mama membenci Lisa, semakin Anggara akan mencintai wanita ini. Jadi Mama lebih baik menyerah!" ujar Anggara yang kesal karena mamanya begitu pedas dalam berkata-kata. Anggara tidak sadar, bahwa selama ini dia juga demikian. Rupanya darah sang mama mengalir deras di tubuhnya. Menjadikan karakter keduanya 11 12, mirip sempurna, pedas dalam berbicara.


Nyonya Claudia memegang kepalanya, tapi Anggara tidak peduli lagi. Kata dokter semalam tidak apa-apa. Sepertinya sang mama hanya bersandiwara. Hingga sekarang ia tidak peduli, padahal nyonya Claudia pusing betulan karena melihat Anggara pegang-pegang Lisa. Tidak mau percaya, tapi itu nyata di depan mata. Membuat kepala nyonya kaya raya itu pusing seketika.


***


Kini Anggara sudah berada di dalam mobil, bersama Lisa yang menggendong Tiara dan duduk di sampingnya, dan babysitter yang duduk di belakang. Sejak tadi babysitter itu sebenarnya ketar-ketir. Takut Lisa melapor perlakunnya selama ini pada Anggara, melihat betapa tegasnya sang bos, babysitter itu takut kalau tiba-tiba dipecat.


Sepanjang jalan suasana begitu hening, tidak ada yang mengeluarkan suara. Aroma ketegangan masih terbawa sampai mereka semua tiba di hunian megah milik Anggara. Anggara ketik sudah tiba di rumahnya, kembali bersikap sangat dingin. Dia langsung pergi ke ruang kerjanya kemudian menelpon seseorang. Tidak lama kemudian, Rio tiba di rumah tersebut.


Keduanya berangkat ke perusahaan bersama-sama. Dan sepanjang perjalanan, Anggara meminta Rio untuk melakukan banyak hal untuknya.


"Setelah meeting, cari sebuah universitas."


"Untuk Lisa, Pak?" tanya Rio yang sepertinya paham betul dengan isi kepala bosnya.


"Hemm."


"Baik."


"Baik, Pak," jawab Rio cepat. Dan hal itu membuat Anggara mengerutkan dahi.


"Tidak! Aku sendiri yang akan mengantarnya!" ucap Anggara tiba-tiba. Seumur umur baru kali ini ia begitu plin-plan.


"Baik, Pak." Meskipun aneh, sejak kapan bosnya ikut terjun ke hal seperti ini, tapi Rio hanya mengangguk. Tidak banyak bertanya, apalagi wajah Anggara pagi ini terlihat tidak bersahabat. Sepertinya mood pria itu sedang buruk.


"Oh ya, bagaimana kasus hukum dengan Samuel?"


"Sudah, Pak. Sudah beres. Dia sudah menulis pernyataan maaf secara terbuka. Hanya karena perintah Bapak, agar kasus ini tidak terendus media, maka semua dilakukan sesuai perintah Bapak. Dan apa perlu kita tuntut lagi?"


"Tidak usah, cukup buat dia jera. Dan satu lagi, selidiki siapa orang di baliknya."


"Baik, Pak."


Akhirnya mereka tiba juga di Montana Group, Anggara pun kembali beraktifitas seperti biasanya. Sedangkan di rumah, Lisa terlihat gelisah. Sesaat yang lalu ia mendapat telpon. Pak Harun menghubungi Lisa karena kondisi ibunya yang tidak baik-baik saja.


"Iya ... Iya, Ya. Lisa ke sana," ucap Lisa di telpon. Lisa kemudian menatap Tiara yang masih tertidur di dalam box.


Bingung akhirnya ia memberanikan diri menghubungi Anggara, akan tetapi ponsel suaminya itu sekarang mode senyap karena sedang di ruang meeting. Lisa pun mencoba menghubungi sekretaris Rio. Dan hasilnya sama.


Ini karena ponsel Rio rupanya tertinggal di dalam ruang kerjanya karena buru-buru mengambil berkas. Lisa yang bingung karena terdesak, akhirnya meminta babysitter untuk menjaga Tiara.


Dengan senang hati babysitter itu menjaga Tiara untuknya. Hingga akhirnya Lisa pergi meninggalkan rumah itu naik taksi.


Satu jam kemudian.


Rapat sudah selesai, Anggara yang melihat ponsel, merasa aneh. Untuk apa Lisa menelpon. Ia pun menghubungi nomor Lisa. Takut mungkin sang mama berulah di rumahnya.


Telpon Lisa malah tidak tersambung, ia pun telpon rumah. Begitu tahu Lisa keluar rumah, Anggara kembali kesal.


"Ke mana anak itu?"


Tanpa sadar ia malah memainkan ponselnya di atas meja. Kemudian layarnya menyala. Ya, Lisa kembali menghubungi.


"Di mana?" tanya Anggara ketus.


"Mengapa meninggalkan Tiara begitu saja?" tambah Anggara padahal pertanyaan satu belum terjawab.


"Maaf, Pak. Saya harus keluar sebentar," ucap Lisa dengan suaranya yang serak.


'Kenapa dia sepertinya habis menangis? Biarlah! Apa peduliku. Apa ini ulah mama?' batin Anggara.


"Kamu di mana?" tanya Anggara tegas yang mulai terusik hanya karena mendengar suara serak Lisa.


BERSAMBUNG


IG Sept_September2020


Fb Sept September