
Hot Duda Bagian 68
Oleh Sept
Rumah Sakit Husada
Di halaman rumah sakit, Anggara merangkul bahu istrinya. Mereka habis memeriksakan kandungan Lisa yang sudah 5 minggu. Kali ini Anggara extra perhatian. Tas Lisa saja ia bawakan, dia bukakkan pintu untuk Lisa, memperlakukan Lisa seperti putri.
"Mau makan sesuatu?" tanya Anggara saat keduanya sudah duduk di dalam mobil yang sama. Mereka hanya pergi berdua, meskipun biasanya ada Rio yang menemani, siap jadi sopir mereka. Kali ini Anggara mau berdua saja dengan istrinya tersebut.
"Tadi sudah makan, masih kenyang."
"Makan yang banyak, ya. Biar anak kita cepet besar," ucap Anggara sembari tangannya terulur untuk mengusap perut Lisa yang memang masih rata.
Baru lima minggu, kehamilan Lisa belum terlihat. Apalagi Lisa ini kurus, jadi mungkin gak akan terlihat sampai memasuki trimester kedua.
"Oh ya, Lisa ... bagaimana dengan kuliahmu? Apa ajukan cuti saja?"
Lisa spontan menggeleng pelan. "Lisa sehat kok, Mas. Lanjut saja."
"Benarkah? Nanti kamu kecapekan, belum lagi mikir mata kuliah dan tugas-tugasnya."
Wajah Lisa berubah sendu, ia sejak dulu menabung untuk bisa kuliah. Dan sekarang saat bisa masuk perguruan tinggi tersebut, ia malah hamil. Namun, kan banyak juga yang hamil masuk kuliah.
"Boleh ya, Mas?" tatap Lisa penuh harap. Membuat Anggara yang dulu super kaku seketika jadi lembek. Ia mengangguk kemudian mengusap rambut Elisa.
***
Karena masih awal kehamilan, Lisa dan Anggara tidak koar-koar. Sengaja mereka tidak mengatakan pada siapa-siapa dulu. Menunggu kehamilan Lisa kelihatan karena untuk saat ini, perut Lisa masih sangat rata. Saat ke kampus pun, tidak ada temannya yang curiga, ini karena body Lisa yang masih langsing sekali.
Suatu hari, di depan kampus. Anggara seolah enggan melepas istrinya masuk gerbang kampus. Ia sejak tadi membelai kepala Lisa saat di dalam mobil, sampai Rio bergidik. Kenapa bosnya jadi super bucin? Rio pun belum tahu, kalau bosnya akan punya anak lagi.
"Kalau ada apa-apa, langsung telpon, ya?"
Lisa mengangguk, kemudian pamit untuk pergi. Namun, tangannya terus saja dipegangi. Membuat Rio yang melirik di kaca mobil, hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecut. Melihat sikap Anggara yang seperti ABG baru pacaran.
"Lisa masuk dulu, Mas."
"Hemm ... ya sudah. Kalau jalan, lihat jalannya."
Lisa mengerutkan dahi, ia kemudian menatap ke sekeliling. Kemudian tersenyum. Mungkin kalau bisa di aspal mulus, halaman serta taman kampus akan di aspal oleh suami Lisa tersebut.
"Dah ...."
Anggara menatap Lisa yang berjalan menjauh darinya.
"Harusnya aku gak usah daftarin dia kuliah!" sesal Anggara.
"Ada apa, Pak?" sahut Rio.
Anggara pun mendongak, "Bukan apa-apa. Ya sudah, langsung ke kantor."
Wushhh ...
***
Lisa duduk di bangkunya, ia sedang sibuk membaca buku, sembari menulis catatan penting. Menyalinnya ke dalam buku tulis miliknya. Ia terlihat serius dan sungguh-sungguh dalam melakukan apapun. Ia ingin lulus lebih cepat, dengan nilai terbaik. Ingin terlihat hebat juga di depan suaminya dan juga ayah ibunya.
Saat dia fokus, tiba-tiba bukunya ditarik dengan sengaja, ditambah suara tawa yang mengejek.
"Anak baru, sok rajin!"
Lisa menahan napasnya, ia tahan agar tidak marah.
"Gak usah usik masalah orang, toh aku gak ngusik kamu," ucap Lisa kemudian fokus kembali.
"Elehhh! Dasar ... simpenan om-om aja sok-sokan rajin segala. Tinggal kasih duit, nilai lo pasti A semua!" ledek gadis yang terlihat iri pada Lisa.
Lisa mendongak, sorot matanya menajam. Hamil membuatnya sangat sensitive kali ini.
"Tolong jaga mulutnya!"
"Eyaaa ... bisa marah juga elu ya? Kirain bisa morotin om-om saja!"
Beberapa orang terkekeh, ada 5 orang yang ikut tertawa dengan pembullyyy yang sok asik tersebut.
Lisa yang kesel, langsung saja memasukkan semua buku ke dalam tas. Sepertinya ia akan belajar ke perpus saja.
"Mau ke mana lo? Main slonong saja ... huuuu, anak baru saja belagu lo!"
Lisa mengepalkan tangan, menahan marah. Tapi saat melihat ke bawah, melihat perutnya, ia menghela napas panjang.
'Sabar Lisa ... sabar!'
Saat jalan, salah satu teman si pembullyyy sengaja meluruskan kakinya tepat saat Lisa mau jalan mendekat ke arahnya. Lisa yang kaget, ia hampir jatuh. Untung saja ia berpegang pada kuris. Namun, Lisa merasakan perutnya sakit ketika membentur sudut meja.
Semuanya masih tertawa meledak, tidak ada yang peduli meskipun Lisa memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Terus saja drama ...!" celetuk anak-anak remaja nakal tersebut. Saat melihat Lisa meringis.
Akan tetapi semua terlihat panik, saat Lisa terduduk dan sesuatu mengerutkan semua orang yang ada di dalam sana.
"ASTAGA!"
Semua panik, apalagi yang menjeggal kaki Lisa tadi, ia terlihat cemas.
Lisa memejamkan mata rapat-rapat, selain menahan sakit, ia juga menahan sesuatu. Matanya mulai badah, ia terus saja memegangi perutnya yang terbentur cukup keras tadi. Merasakan sesuatu yang salah.
BERSAMBUNG
IG Sept_September2020