
Hot Duda Bagian 58
Oleh Sept
Pesta yang digelar di hotel mewah tersebut banyak dihadiri kalangan penting, Lisa sempat tertegun ketika melihat dari jauh beberapa orang yang hanya bisa ia lihat di TV sebelumnya. Ada pejabat penting, artis terkenal ibu kota, model papan atas, dan beberapa pengusaha kaya yang ada di negeri ini. Sesekali Lisa melihat orang bule juga dengan tinggi yang hampir sama seperti suaminya. Padahal bule tersebut wanita.
Lisa langsung insecure, ia merasa kecil di sana. Berdiri di tengah-tengah orang hebat, membuatnya tidak percaya diri. Terlihat jelas dari caranya berjalan yang hanya menatap ke bawah seperti mencari uang jatuh.
"Lisa, jangan menundukkan wajahmu."
Lisa berhenti sejenak, mengantur napas untuk lebih rileks. 'Sekali-sekali, bolehlah aku lupa diri. Lupa dari mana asal usulku. Anggap saja aku sekarang menjadi Cinderella. Ya, aku akan menikmati pesta ini, sampai sihirnya hilang tengah malam nanti,' gumam Lisa dalam hati kemudian mendongak.
"Kau dengar aku, Lisa?" tanya Anggara sembari merapatkan lengannya.
"Ya, Pak ... Ups, Honey!"
Hidung Anggara kembang kempis, geli tapi ia menyukai sebutan itu.
"Mari ke sana, akan aku kenalkan pada pemilik pesta ini."
"Iya."
Keduanya berjalan bersama, Anggara yang terlihat gagah seperti biasanya, tampan dan menawan, kali ini menggandeng wanita muda nan cantik jelita, baru kali ini Lisa berdandan dengan glamour dan elegant, membuat yang menatapnya terkesima.
"Yang rileks ya, jangan tegang. Kalau mereka tanya macam-macam, cukup tersenyum saja."
"Iya."
"Nah, kamu lihat pria yang memakai tuxedo itu, dia adalah orang penting. Jadi aku harap, nanti jangan sampai melakukan kesalahan. Akting senatural mungkin, kamu cukup menatapku penuh cinta. Sudah itu saja," bisik Anggara dengan tenang.
'Menatap penuh cinta? Astaga, makin ke sini pak Anggara semakin aneh!' batin Lisa yang tidak habis pikir dengan perkataan Anggara.
"Ayo," Anggara menarik lembut lengan Lisa agar semakin merapat.
Dari jauh, ada hati yang terbakar cemburu.
"Brengsekkk!" gumamnya lirih.
"What's wrong with you?"
Jessica menepis tangan laki-laki yang hendak menawarkan minum padanya.
"Ken," panggil Jessica, tapi tatapan matanya tertuju ke arah yang berbeda. Ia menatap sebal, marah, benci pada Anggara dan juga Lisa.
Kendrick yang masih satu circle dengan orang-orang kaya tersebut, lantas menatap penasaran pada Jessica. Wanita yang selama ini menjadi TTMnya. Keduanya berteman, tapi kadang mesra. Meskipun tidak memiliki hubungan khusus.
"Apa yang terjadi?" Kendrick kemudian melihat arah tatapan Jessica.
"Jangan bilang kamu masih ada hati sama pria itu!" tambah Kendrick dengan senyum yang mencibir.
Kata-kata Ken hanya dibalas tatapa sinis dari Jessica. Bagaimana pun juga, Jessi masih menaruh harap. Selama obsesinya belum tercapai, maka ia akan terus mencari cara agar Anggara mau dengannya. Apalagi saingan Jessi hanya seorang Lisa. Kecil sekali membuang gadis rendahan itu. Adinda saja bisa ia singkirkan, apalagi cuma Lisa. Mengirim Samuel untuk minta tes DNA, merekayasa kecelakaan, bagi Jessica, itu tidak sulit.
Tinggal menunggu waktu, hingga sampai giliran Lisa. Sekarang pasangan baru itu bisa bersenang-senang. Tapi tidak dengan nanti. Jessica kemudian mendekati Kendrick. Wanita itu lalu berbisik, dan Kendrick mengangguk, tersenyum jahat.
"Okey! Cukup menarik. Wanita itu juga lumayan," ucap Kendrick tersenyum iblishhh.
"Tunggu intruksi dari I. You tinggal eksekusi."
"Oke, Baby ... apa yang enggak buat kamu."
Keduanya saling menatap dengan tatapan penuh kejahatan.
***
Masih di tempat yang sama, Anggara mulai memperkenalkan istri barunya pada sang pemilik acara.
"Congratulations. Selamat atas pernikahan putri Bapak."
Anggara kemudian menyalami pria yang rambutnya sudah putih merata tapi masih terlihat gagah.
"Terima kasih sudah hadir ... dan ini ...?"
Anggara menarik lembut istrinya.
"Elisa, istri saya."
Lisa lalu mengulurkan tangan, kemudian memperkenalkan dirinya. Lisa disambut dengan hangat, dan dipuji sangat cantik oleh beberapa orang.
"Masih muda, pintar sekali kamu mencari pasangan."
Anggara hanya tersenyum tipis, kemudian merangkul bahu Lisa. Jadilah Lisa merasa canggung di antara orang-orang yang tidak ia kenal sebelumnya.
"Mari ... silahkan, semoga menikmati pestanya."
"Terima kasih," Anggara mundur. Kemudian mengajak Lisa ke investor yang lain.
Lisa dikenalkan oleh banyak orang, seperti intruksi suaminya, Lisa tidak banyak bicara. Hanya melempar senyum dan sesakali menatap suaminya penuh cinta. Atau lebih tepatnya tatapan aneh, karena terlihat sekali kalau tatapan itu malah tatapan aneh dan terpaksa.
Lelah jalan ke sana ke mari mendengar suaminya terus saja bicara pada orang-orang penting itu, Lisa berbisik.
"Pak, boleh saya duduk sebentar? Sepatu ini tidak nyaman," bisiknya.
Dahi Anggara langsung mengkerut, Lisa kembalikan memanggil Bapak.
"Hemm ... duduk lah. Di sana, saya masih harus bicara dulu."
"Baik, Pak."
Anggara menatapnya sinis.
Lisa kemudian duduk sendiri, ia ingin melepaskan sepatunya, tapi tidak jadi. Padahal betisnyaa sudah pegal sekali. Sambil menatap sekeliling, ia memukul betisnyaa dengan kepalan tangan.
Lisa mendongak, menatap sepatu pria yang mengkilap, kemudian menatap wajah pemilik sepatu tersebut.
"Butuh bantuan?"
Lisa menggeleng pelan.
"Tidak, terima kasih."
"Kenapa dengan kakimu?"
"Tidak apa-apa, hanya tidak terbiasa."
Pria yang tak lain adalah Kendrick itu pun manggut-manggut.
"Minum ini dulu," Kendrick memberikan minuman yang ia pegang pada Lisa.
"Tidak terima kasih."
"Tidak apa-apa, ini belum aku minum."
Lisa yang haus, langsung saja meraih gelas yang sudah diletakan di atas meja di depannya itu. Tanpa curiga, ia meminum habis. Lisa yang tidak menaruh curiga, kemudian beranjak. Ia akan menyusul suaminya. Sedangkan Kendrick, ia mengamati Lisa kemudian melirik Jessica.
Anggara yang sudah selesai berbincang dengan orang-orang penting itu, kemudian mengajak Lisa untuk duduk kembali. Mereka menikmati makanan, sembari menikmati alunan musik.
Beberapa orang berdansa bersama sang pengantin, sampai akhirnya salah satu pengantin mendekati meja Anggara.
"Saya dengar dari papa ... kalian juga pengantin baru, mari dansa bersama kami," ajak sang pengantin wanita.
Lisa langsung menggeleng, kemudian berbisik pada Anggara.
"Saya gak bisa dansa, Pak!"
Anggara langsung masam, lagi-lagi dipanggil Bapak. Untuk menuangkan rasa sebalnya pada Lisa, ia langsung berdiri. Kemudian meminta Lisa berdiri.
"Pak," desis Lisa.
"Saya ajari!" bisik Anggara sambil setengah membungkuk. Ia kemudian membantu Lisa berdiri.
"Pak ... saya gak pernah dansa!" protes Lisa.
Anggara langsung saja merengkuh pinggang istrinya.
"Ikuti saya saja!" cetus Anggara galak, hanya karena tidak dipanggil Honey lagi oleh Lisa.
Tidak jauh dari mereka, Jessica berbisik. Meminta agar Kendrick juga turun ke lantai dansa dan ikut bergabung. Apalagi waktu semakin cepat berlalu, ia akan membuat perhatian Anggara teralihkan.
Mereka semua akhirnya manari mengikuti irama. Pelan tapi pasti, hingga mereka bertukar pasangan. Beberapa kali putaran music, Lisa merasa sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Wanita muda itu mulai gelisah.
Sedangkan Anggara, pria itu kini menari menikmati musik, hingga salah satu pelayan lewat dan menumpahkan minuman di pakaian mahal pria tersebut.
"Ish."
"Maaf, Tuan."
Anggara mendesis kesal, karena bajunya kotor.
"Maaf, Tuan."
Pelayan itu mengeluarkan sapu tangan, tapi Anggara langsung menepisnya.
"Lisa ... saya ke kamar kecil dulu."
Lisa yang kepalanya sudah mulai pusing, hanya mengangguk.
***
Beberapa saat kemudian. Kembali dari kamar kecil, Anggara menatap sekeliling. Ia tidak menemukan istrinya sama sekali. Ia bahkan bertanya pada orang-orang yang tadi ada di dekat Lisa, tapi tidak ada yang tahu.
"Ke mana kamu? Apa ke kamar kecil juga?"
Anggara bergegas ke kamar kecil wanita, di sana ternyata kosong. Mulai panik, ia menghubungi nomor Lisa, tapi tidak aktive. Tambah panik, pria itu berlari ke sana ke mari mencari istrinya dengan perasaan cemas. Takut hal buruk terjadi seperti apa yang menimpa Adinda seperti dulu.
"Di mana kamu Lisa?"
Drett ... dretttt
Anggara langsung mengangkat telpon.
"Tetap di sana! Saya turun sekarang!"
Anggara buru-buru naik lift, tidak sabar karena lift tidak terbuka, ia menekan tombol lift yang lain.
Tap tap tap
Ia berlari kencang menuju mobil.
"Mana Lisa?" tanya Anggara pada Rio sekretarisnya.
"Di dalam mobil, Pak."
Buru-buru Anggara membuka pintu, ia sangat terkejut setelah melihat isi di dalam mobil.
"RIOO!"
BERSAMBUNG
Fb Sept September
IG Sept_September2020