
Hot Duda Bagian 29
Oleh Sept
Anggara jelas membatu, ia sangat terkejut karena Lisa berani mengatakan hal yang membuatnya terhenyak. Pria itu sampai shock mendengar pertanyaan Lisa barusan.
'Aku pikir dia berbeda, ternyata sama saja!' batin Anggara. Ia melirik sinis, seolah Lisa seperti perempuan di luar sana yang matre. Pria itu kemudian membuka laci, mengeluarkan sebuah kertas. Anggara meletakkan kertas itu di atas meja. Nerorehkan tintanya di sana, kemudian mendekati Lisa. Ia mengulurkan tangan yang telah memegang selembar cek tersebut.
"Apa cukup? Satu tahun. Kontrak pernikahan selama satu tahu," ujar Anggara sombong. Seolah ia sudah membeli harga diri gadis itu.
Lisa sendiri langsung membisu, bukan karena nominal fantastic yang ditulis Anggara di selembar cek. Akan tetapi karena Anggara kembali membuka kesempatan perjanjian pernikahan dengannya. Tadi katanya sudah terlambat, katanya tidak ada lagi kesempatan, tapi sekarang pria itu malah menjilatt ludahnya sendiri. Anggara secara terbuka memberikan penawaran harga atas dirinya.
Apa Lisa tersinggung? Jelas tidak. Rasa malu Lisa sudah digadaikan. Sudah tidak peduli, dalam benaknya hanya satu, hanya keluarganya, titik.
"Kenapa kau diam? Ingat Lisa, saya tidak suka main-main."
Lisa mendongak, menatap pemilik rahang tegas dengan alis tebal tersebut.
"Itu ... mana kontraknya," ucap Lisa cepat saat wajah sang ibu dan Marwa muncul dalam pelupuk mata. Ia sudah menepis harga dirinya. Demi uang, ia juga akan melangar prinsip hidupnya selama ini. Yaitu main-main dengan sebuah pernikahan.
Hanya pernikahan kontrak ini bagi Lisa yang bisa menghasilkan uang dengan instan. Hanya ini cara Lisa untuk mendapat uang yang banyak dalam waktu yang terhitung singkat. Ya, ini satu-satunya jalan yang dipikirkan oleh gadis itu.
***
Sementara itu, di luar sana, Jessica sedang marah-marah karena Rio menghalangi ia masuk menemui Anggara. Sekretaris Anggara tersebut sejak tadi membuat Jessica naik darah. Karena Rio tidak mengijinkan dia masuk.
Jessica yang sudah merasa seperti nyonya rumah, sangat sakit hati dan tersinggung oleh sikap dan perlakuan Rio. Sampai ia bersumpah dalam hati, hal pertama yang akan ia lakukan ketika berhasil jadi istri Anggara adalah mengompori Anggara agar memecat Rio, pria yang sangat menyebalkan di matanya saat ini.
"Stay away!" (Jangan mendekat!) teriak Jessica yang marah karena Rio terus saja menghalangi dia. Saat Rio akan meraih tubuh wanita itu untuk menjauh dari ruang kerja Anggara, Jessica sangat murka. Tidak henti-hentinya dia mengumpat Rio dengan kesal.
"It can't go on!" (Ini gak boleh dibiarin) tambah Jessica yang merasa ini tidak adil. Mengapa Anggara malah mengundang Lisa, padahal ia jauh lebih segalanya dibandingkan gadis tak berkelas tersebut. Pokoknya harga dirinya sangat terlukai. Merasa terhina harus bersaing dengan manusia rendahann.
"Let's talk about it, Nona Jessica tenang dulu!" (Mari kita bicarakan) ucap Rio mencoba membuat emosi Jessica reda. Sebab Anggara bisa marah jika ia tidak bisa mengatasi Jessica untuk saat ini.
Anggara masih di dalam, dan sepertinya harus bicara penting dengan Lisa. Sebagai sekretaris, Rio harus menghandle apapun yang bisa mengganggu atasannya. Tak kecuali dengan wanita yang merasa paling cantik dan oke se Indonesia raya, si Jessica.
Pada akhirnya Rio harus menerima makian dan teriakan dari Jessica akibat sikapnya yang melarang wanita tersebut masuk ruangan Anggara.
"Rio! You jangan sok ya! You bukan siapa-siapa. You hanya bawahan mas Anggara! So jangan ikut campur. Don't talk to much!" (Jangan banyak omong) cetus Jessica yang sudah naik pitam. Sepertinya tensi Jessica sudah tembus 180 ke atas. Terlihat dari wajahnya yang memerah karena menahan kemarahan.
"Just wait and see! Tante harus tahu ini!" (Lihat saja ntar) sambung Jessica lagi dengah mata berapi-api, kemudian menepis pundak Rio kasar, lalu pergi meninggalkan kediaman Anggara dengan gusar.
Jessica pergi dengan tangan kosong, berbeda sekali dengan Lisa.
***
"Kita akan menikah seminggu lagi," ucap Anggara ketika memasukkan kertas-kertas itu ke dalam amplop coklat besar.
"Tidak ada pesta, jangan pernah berharap akan hal itu," tambah Anggara.
"Satu lagi, tidak ada yang boleh tahu perjanjian pernikahan ini. Jika ini terbongkar, dan ini ulahmu. Akan saya pastikan, kamu akan membayar ganti rugi 2 kali lipat," ucap Anggara tegas.
Spontan Lisa menatap pria yang duduk di depannya, ia mengangkat wajahnya tinggi hingga mata keduanya sejajar, ingin protes tapi apa daya. Lisa sudah terdesak, ia ingin uang. Akhirnya ia menurut saja.
"Sekarang kau boleh pulang," titah Anggara.
"Baik, Pak."
Lisa keluar ruang kerja Anggara dengan lemas. Seminggu dari sekarang, ia akan jadi istri pria beku tersebut. Entah apa yang akan terjadi kedepannya, Lisa sudah pasrah. Tiba-tiba ia menatap cek yang diberikan Anggara, untuk sesaat ia merasa lega. Setidaknya, sang ibu dan adik perempuannya yang selamat, akan mendapat pengobatan yang terbaik. Tidak masalah jika harga dirinya yang akan ditukar dengan semua itu.
***
Di dalam mobil, Rio sedang mengantar Lisa pulang.
"Ke rumah sakit, Ibnu Sina, Pak Rio."
"Siapa yang sakit? Kenapa tidak pulang dulu?"
Lisa diam, enggan menjawab.
"Kata pak Anggara, saya harus mengantar sampai rumah, sekalian mengambil berkas penting."
Mendengar kata-kata Rio, mata Lisa malah langsung perih, ia kembali teringat rumahnya yang hancur terbakar. Dan Rio jelas kaget, karena tangis Lisa pecah.
"Lisa ... Lis?"
Bersambung
Fb Sept September
IG Sept_September2020
Vote, Komen, hadiah, Hehehe .... terima kasih