
Hot Duda Bagian 17
Oleh Sept
Ruang kerja pribadi Anggara seketika berubah, tempat yang tadinya sunyi, sepi dan tenang itu tiba-tiba menyebarkan rasa dingin sedingin tatapan Anggara pada Lisa. Pria tersebut merasa jengkel pada Lisa karena terlalu bodohhh. Bagaimana bisa, Lisa keberatan tinggal di sana, sedangkan bayi kecilnya harus berada dalam penjagaan 24 jam?
Merawat bayi, tidak bisa seperti kerja di kantor. Berangkat pagi pulang lembur. Lisa benar-benar membuat kepala Anggara mau pecah. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Sepertinya Lisa cocok untuk menjadi tamengnya, sekaligus menjaga Tiara. Setidaknya, ia tidak akan diganggu sang mama dan juga ulat bulu yang senantiasa menempel padanya.
Tugas Lisa menjadi ganda, ketika gadis itu sudah masuk rumah ini. Rumah harus bersih dari yang namanya wanita, dan anaknya harus ada yang merawat. Dan lagi, Lisa tidak akan berani menggodanya, jika macam-macam, anak telmi tersebut mungkin akan langsung Anggara buang, alias dipecat, mungkin itu yang ada dalam benak duda baru tersebut. Duda yang masih anget, baru ditinggal mati istrinya.
***
"Ibu saya mungkin tidak akan memberikan ijin, jika anak gadisnya tinggal di rumah seorang pria," ucap Lisa sembari menundukkan wajah.
Anggara langsung tersenyum kecut. "Lalu bagaimana para babysitter di luar sana? Jangan kolot, Lisa!" cetus Anggara dengan nada sinis.
"Itu ... em ... saya harus mengatakan dulu dengan ibu saya."
Anggara menarik napas dalam-dalam, manik matanya menatap Lisa angkuh. Pria tersebut kemudian kembali memperingati Lisa dengan tegas.
"Pulanglah sebentar, aku beri wantu dua jam tidak lebih. Jika telat kembali, aku pastikan, kau dipecat, baik untuk tawaran ini, atau di perusahaan, dan kembalikan uang yang kemarin sudah aku transfer!" ancam Anggara tanpa ampun.
Lisa langsung mati kutu, dia tidak banyak bertanya lagi. Apalagi pria di depannya sudah menatapnya penuh emosi.
'Aku pasrah aja lah, terserah ibu nanti. Kalau memang rejekiku di sini, jagain bayi itu, aku akan terima. Jika ibu nanti gak setuju, apa boleh buat. Sepertinya aku harus cari pekerjaan lain. Ya, meskipun di sini, gajinya gak main-main,' batin Lisa yang kini sudah dalam perjalanan pulang di antar Rio.
"Langsung ke pasar jalan bojong kenyot, Pak Rio."
"Hemm."
"Kalau bisa cepat ya, Pak. Karena pak Anggara memberikan waktu cuma 2 jam."
"Hemm."
Tidak lama kemudian, mobil mewah itu berhenti di parkiran pasar.
"Saya masuk sebentar, Pak Rio. Saya panggil ibu saya dulu."
"Hemm."
Lisa jadi masam, sejak tadi pria itu hanya ham hem dan mengangguk saja.
***
Di salah satu stand pasar di mana ibu Siti, ibunnya Lisa sedang berjualan bersama sang ayah.
"Loh, kamu kok ke sini, Lis? Gak kerja?" tanya bu Siti yang melihat putrinya datang.
"Kamu gak enak badan, Lis?" Pertanyaan pertama belum dijawab, bu Siti kembali bertanya lagi.
Lisa menggeleng, kemudian menarik lengan ibunya lembut. Mereka menjauh sebentar dari pelangan yang ada di dekat sana.
Sesaat kemudian ibunya langsung terbelalak, Lisa habis cerita tentang tawaran menjadi babysitter dengan gaji fantastis.
"Kamu bisa kaya raya, Lis"
Lisa pikir ibunya melarangnya, karena harus tinggal di rumah seorang duda.
"Apa dudanya sudah tua? Tua juga gak apa-apa, kalau berani gaji mahal, dia artinya sangat kaya," celoteh bu Siti yang membuat Lisa tambah bengong.
"Ibu gak takut Lisa tidur di rumah orang?" tanya Lisa terheran-heran, karena mata ibunya malah kini berbinar.
"Takut apa? Kan banyak itu babysitter di luar sana. Selama niatnya kerja yang bener, kenapa takut? Pintar-pintar jaga diri, Lis. Mumpung masih muda, kamu kumpulin duit yang banyak, biar nanti tuanya enak. Gak kaya Ibu. Itu gajinya lebih banyak, dari pada kamu jadi TKW. Sebulan pasti ada liburnya kan? Udah terima saja, jarang-jarang ada tawaran pekerjaan seperti ini."
Lisa menghela napas panjang.
"Ibu gak khawatir sama Lisa?"
"Dudanya kaya, kan Lis? Kalau dia macan-macam, suruh tanggung jawab. Anak Ibu ini kan cantik, Ibu yakin, dia pasti suka sama kamu," ucap bu Siti penuh percaya diri sekali.
Lisa langsung lemas, 'Kalau saja ibu tahu. Wanita di sekitar pak Anggara sudah mirip artis di TV. Lisa bukan apa-apa, Bu. Ya ampun. Jangankan melirik Lisa, melihat Lisa saja bos Lisa selalu geram!' batin Lisa.
"Lisa! Kok malah melamun."
"Eh, iya Bu."
Bola mata Lisa berputar, masalah ia tidak percaya, ibunya begitu mudah melepaskan dirinya kerja di rumah seorang duda. Apalagi dia ini masih gadis.
"Ibu yakin, Lisa boleh kerja di sana?"
"Tidak apa-apa, Lis. Coba saja, satu dua bulan. Kalau kamu tidak nyaman, nanti biar ayah sama ibu yang pikirkan."
Lisa mengangguk.
"Mulai hari ini, Bu."
"Kok mendadak?"
"Iya, itu di depan pasar sudah ada mobil yang menunggu Lisa."
"Wah ... ketiban durian runtuh kamu, Lis. Ibu yakin, duda kaya itu sudah jatuh hati sama kamu."
Lisa hanya bisa menghela napas panjang, mengapa ibunya sangat PD sekali?
"Ya sudah, nanti biar Ibu yang jelasin sama ayahmu."
"Ibu beneran gak apa-apa?"
Bu Siti yang sudah kepincut sama gaji Lisa, begitu mudah melepaskan anak gadisnya.
"Kamu berangkat sana, ini Ibu masih banyak pelangan."
Akhirnya Lisa pamit pada ibunya, sebelum pergi ia melihat kios sang ibu yang ramai. Menatap dari jauh bagaimana ibunya berjuang mencari nafkah selama ini.
Lisa kemudian berbalik, kakinya melangkah meninggalkan kerumunan orang-orang yang lalu lalang di dalam pasar.
"Sudah?" tanya Rio ketika Lisa masuk ke dalam mobil.
"Sudah, Pak."
"Boleh?"
"Boleh, Pak."
"Kita langsung kembali?"
"Iya."
Jawab Lisa pasrah, toh ibunya sama sekali tidak keberatan. Pada akhirnya, mereka berdua kembali lagi ke kediaman Anggara.
***
Sampai di rumah Anggara, Lisa kemudian menuju kamar bayi. Saat ia masuk dalam kamar tersebut, ia sedikit terkejut. Baby Tiara menangis keras dalam gendongan Jessica. Entah kapan wanita itu datang, yang jelas saat ini tiara menangis dalam gendongan wanita cantik tersebut.
"Sini, Mbak ... biar saya gendong," pinta Lisa. Lisa langsung mengulurkan tangannya. Seolah meminta Tiara.
"Hey, You! Jangan perintah-perintah I!" sentaknya galak.
Tap tap tap
"Ada apa ini?" tanya nyonya Claudia yang mendengar cucunya menangis keras.
"Mungkin Tiara haus, Mbk?" sela Lisa.
Pandangan nyonya Claudia langsung terpusat pada sosok gadis yang barusan bicara.
"Kamu gadis kampung itu?" ujar nyonya Claudia dengan tatapan mengintimidasi.
BERSAMBUNG
Fb Sept September
IG Sept_September2020
Jangan lupa, Komen, like, lempar mawar melati ... hehehehh
Terima kasih banyak.