Hot Duda

Hot Duda
Ikhlas



Hot Duda Bagian 70


Oleh Sept


'Asal dia baik-baik saja, maka aku pun tidak apa-apa.'


Ada rasa sesak tiba-tiba masuk dan menghujam, hingga ulu hatinya terasa sesak. Melihat Lisa baik-baik saja, itu membuatnya merasa cukup. Meskipun tidak bisa dipungkiri, ada sakit yang tak berdarah. Sakit karena kembali merasa kehilangan.


Lisa masih menangis, tidak mengatakan apapun. Namun, Anggara paham. Istrinya sedang meluapkan segala rasa yang tidak bisa lagi ditahan. Anggara hanya bisa memeluk, berharap Lisa merasa nyaman saat ia sedang terpuruk.


***


Kini Lisa sudah tertidur karena pengaruh obat, dan Anggara sedang di luar berbicara dengan sekretarisnya.


"Sudah kau urus semuanya?" tanya Anggara dengan wajah dingin yang tidak bersahabat.


"Sudah, Pak." Rio sampai tidak berani menatap sorot mata yang tidak seperti biasanya itu.


"Tuntut mereka semua."


"Baik, Pak ... tapi." Rio ragu ingin melanjutkan kata-katanya.


"Katakan!"


"Keluarga anak-anak ini ingin menemui Bapak, mereka ingin berdamai."


"Tidak ada!" ujar Anggara kemudian masuk ke dalam ruang rawat inap VIP sang istri. Entah mengapa, ia sangat sakit hati. Melihat CCTV di mana istrinya di bullying selama ini, membuatnya emosi.


Kalau Lisa tidak ada di rumah sakit, sudah pasti ia datangi anak-anak itu. Ia adili dengan caranya sendiri. Namun, sekarang fokusnya hanya pada Lisa. Ia menyerahkan semua pada Rio dan pengacaranya. Entah mau di apakan anak-anak badungg tersebut.


Baru juga Rio mengatakan bahwa keluarga pelaku perundungan ingin bertemu, ternyata salah satu dari mereka datang ke rumah sakit, memaksa pihak kampus mengatakan di mana Lisa dirawat.


Di depan ruangan.


"Buk, sebaiknya jangan sekarang. Suaminya masih belum terima, dan masih emosional." Rio membujuk, tapi ibu-ibu itu tidak peduli.


"Saya mau ketemu sebentar saja, harus saya coba. Ini demi anak saya, saya gak mau anak saya di skors dan dikeluarkan dari kampus," kata si ibu yang ternyata ibunya si penjegal. Yang membuat Lisa jatuh dan membentur pojokan meja.


"Bu ... dengarkan kata-kata saya. Mungkin ibu bisa datang lain Kali."


"Lain kali bagaimana? Anak saya terancam mandek kuliahnya. Masnya bisa ngomong karena itu bukan keluarga Masnya!" cecar si ibu yang mulai brutalll.


Ibu yang bernama Dahlia itu memaksa masuk, dan tetap dicegah oleh Rio.


"Ibu jangan keterlaluan, saya panggilkan satpam kalau ibu nekat!" ancam Rio. Namun, ancaman itu hanya mendapat tatapan sinis.


Keributan yang terjadi di luar kamar, mmebuat Anggara akhirnya keluar juga. Sejak tadi ia menguping, lama-lama telinganya gatal juga.


KLEK


"Suaminya Lisa? Maaf karena mengganggu, saya ibu Dahlia, salah satu yang diduga merundung istri Bapak. Mewakili putri saya, saya sangat menyesali tindakan ceroboh anak saya. Sekali lagi, saya mohon maaf ... dan mohon kebesaran hati Bapak untuk mencabut segala laporan, serta ijinkan anak saya bisa melanjutkan kuliahnya lagi. Mereka pasti tidak sengaja, putri saya juga sangat menyesal, mohon agar Bapak berbesar hati," tutur bu Dahlia panjang lebar.


"Sudah? Kalau sudah tidak ada yang dikatakan, silahkan tinggalkan tempat ini." Anggara mengusir.


Bu Dahlia tertegun.


"Anak-anak ini masih muda, berilah mereka kesempatan. Saya yakin mereka tidak sengaja, hanya bercanda," ucap bu Dahlia membela para pelaku.


Perlahan tangan Anggara mengepal, kebetulan, sejak kejadian itu ingin marah sekali. Tapi ia tahan dalam-dalam karena fokus pada kondisi Lisa. Apesss bagi bu Dahlia, sepertinya ia yang akan kena amukan Anggara.


"Lalu bagaimana dengan janin dalam perut istri saya? Istri saya keguguran karena anak-anak kalian yang tidak diajari etika! Mereka seperti preman. Jangan salahkan saya jika mereka mendapat hukuman atas apa yang mereka lakukan! Jangan coba-coba melindungi pelaku perundungan. Sekarang istri saya jadi korban, besok siapa lagi?" tanya Anggara sambil melotot.


Si ibu langsung diam.


"Istri saya bahkan masih belum mau bicara sampai saat ini, jadi ... tolong tinggalkan tempat ini, sebelum saya panggilkan keamanan!" ancam Anggara.


Akhirnya bu Dahlia pergi, takut juga karena Anggara sangat garang. Sementara itu, Lisa yang ternyata sudah bangun, hanya memejamkan mata, dengan air mata yang terus menetes dari sudut matanya.


Anggara yang menyadari akan hal itu, langsung naik ke ranjang. Ia peluk Lisa dalam-dalam.


"It's okey, semuanya akan baik-baik saja. Kamu kuat ... Lisa ... kami masih punya aku dan Tiara, jangan seperti ini, ini membuatku sakit."


Meskipun baru awal kehamilan, tapi ternyata kehilangan itu cukup menyesakkan. Lisa sampai tidak bisa mengatakan bagaimana sakitnya kehilangan calon bayinya. Hanya menangis, hanya itu yang bisa ia lakukan.


Lisa menjadi sangat pendiam, murung, dan tiba-tiba akan diam-diam menangis. Hal itu juga yang membuat Anggara geram pada penyebab kesedihan istrinya itu.


***


Tiga hari kemudian


Lisa sudah pulang, selama di rumah, ia hanya berbaring. Tidak makan, bagaimana mau makan, melihat makana sudah tidak selera.


Hingga Anggara menggendong Tiara, ia letakkan bayi yang sudah gembul itu. Bayi yang dulu Lisa gendong pertama kali dari rumah sakit menuju rumah. Dengan hati-hati Tiara di letakkan di pangkuan Lisa.


Lisa mendongak, menatap suaminya.


"Kamu kehilangan anak, dia kehilangan ibu ... kamu belum pernah melihat anak kita lahir ke dunia, begitu juga dengannya, dia belum pernah melihat ibunya. Tiara butuh kamu ... dan juga aku."


TES ...


Air jatuh melintasi pipi Lisa, ia dekap tubuh Tiara sambil terisak.


"Anak ibu ... maafin ibu. Maafin ibu," isak Lisa sambil terus mendekap Tiara penuh kasih.


Anggara memalingkan muka, menghela napas panjang, matanya ikut perih. BERSAMBUNG