
Hot Duda Bagian 44
Oleh Sept
Di sebuah rumah sakit, Lisa meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Ia merasa menyesal, karena belum sempat menemui ibunya lagi. Ia pikir dengan banyak uang, akan bisa memberikan perawatan yang terbaik untuk ibunya. Lisa mengira asalkan punya biaya untuk perawat paling mahal, ibunya bisa langsung sembuh.
Ternyata ia salah, semua tidak seperti harapan Lisa. Faktor usia membuat bu Siti harus susah paya bertahan melewati serangkain pengobatan yang tidak singkat. Beberapa operasi di tubuhnya akibat luka bakar yang serius, membuat bu Siti sempat mengalami penurunan.
Usia bu Siti yang tidak muda lagi, ditambah sakit bawaan, membuat bu Siti sulit pulih. Sempat membaik, tapi kemudian drop lagi. Sekarang, bu Siti kembali berjuang antara hidup dan mati.
Pak Harun sendiri seperti mayat hidup. Lingkar di matanya semakin kentara, entah sudah berapa hari ia habiskan hidupnya di rumah sakit. Menunggu dua pasien yang sedang sakit, membuat kondisi pak Harun juga tidak baik-baik saja. Pria itu terlihat lelah di tengah kesedihannya.
Melihat hal itu, Jika bisa Lisa ingin membagi tubuhnya menjadi dua. Menemani keluarganya dan memenuhi perjanjian pernikahan dengan Anggara yang mana harus tinggal bersama pria itu.
***
Perjalanan menuju rumah sakit.
"Mengapa kamu tidak katakan kalau orang tuanya di rumah sakit selama ini?" ujar Anggara pada Rio. Ia terlihat marah pada pria yang kini mengemudi itu. Anggara meminta Rio membawanya ke sebuah rumah sakit yang tadi disebutkan oleh Lisa. Rio hanya diam, sebab dari awal Lisa memang memintanya tidak mengatakan apapun tentang Lisa pada bosnya tersebut.
"Apapun itu, kamu harus laporkan pada saya!" tambah Anggara yang tampak kesal sendiri.
"Iya, Pak."
Anggara yang jengkel kemudian memilih diam seribu bahasa, hingga akhirnya mobil hitam yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah sakit. Dua pria tampan itu keluar dari mobil kemudian memasuki lorong yang panjang.
Bagi Rio tidak usah bertanya lagi, ia sudah tahu ke mana harus pergi. Dan itu membuat Anggara semakin jengkel. Ia merasa Rio sudah menyembunyikan banyak hal padanya.
"Kamu sudah pernah ke sini sebelumnya?" pancing Anggara. Meskipun nadanya biasa, tapi Rio merasa bosnya itu sedang marah.
"Sudah, Pak." Rio hanya bicara jujur, tapi kejujuran pria itu kini malah membuat Anggara snewem sendiri.
Pria itu menghela napas panjang, mencoba tidak marah.
"Sepertinya kita harus membahas ini nanti!" ucap Anggara lirih tapi terdengar jelas di telinga Rio.
"Ya, Pak." Rio sendiri tidak kaget, ia sangat tenang. Meskipun tahu, bahwa nanti akan mendapat amuk kemarahan dari bosnya itu.
Setelah mereka berjalan menyusuri banyak lorong, akhirnya tiba di mana ibunya Lisa dirawat. Akan tetapi tidak ada Lisa di sana. Dalam kamar itu ada 2 ranjan rumah sakit, satunya kosong, satunya lagi seorang dengan banyak perban tengah berbaring. Sepertinya sedang tidur. Itu adalah Marwah, tapi baik Anggara dan Rio tidak tahu.
"Kamu yakin ini kamarnya?" tanya Anggara tidak percaya.
"Benar, Pak. Ini memang kamarnya."
Rio kemudian masuk, dan melihat papan nama di ranjang. Di sana tertulis nama bu Siti.
Keduanya kemudian saling menatap, merasa sesuatu yang tidak beres. Apalagi Anggara, ia jadi berpikir macam-macam, karena tadi Lisa sempat seperti habis menangis. Pria itu pun langsung menelpon Lisa lagi.
"Di mana? Saya ada di rumah sakit," ucap Anggara saat Lisa mengangkat telpon.
Lisa yang tadi hanya meratapi kesedihan, ia langsung membetulkan posisi. Ia lantas duduk di sebelah ayahnya.
"Iya Pak Angga."
Di sebelahnya pak Harun tertegun, ia merasa aneh, siapa yang dipanggil pak Angga oleh putrinya. Angga itu kan nama menantunya. Masa Lisa memanggil suaminya dengan sebutan Bapak? Ingin bertanya, tapi pak Harun lebih memilih mendengarkan saja.
"Saya ada di ruangan ibu kamu, tapi mengapa kosong?"
"Bapak ada di sana? Iya ... Lisa ke sana." Lisa buru-buru pamit pada ayahnya.
"Yah, Lisa ke ruangan ibu dulu. Ayah tunggu di sini."
"Siapa, Lis?"
"Pak Anggara, Yah."
"Suamimu?" tanya pak Harun yang menegaskan rasa curiganya.
"Iya, mas Angga Pak."
Lisa terlihat gugup, kemudian kembali bicara.
"Lisa kadang suka terbawa kebiasaan waktu kerja di perusahaan, jadi masih belum terbiasa, Yah. Sering keceplosan manggil Pak," kelit Lisa yang memahami arti tatapan sang ayah.
"Oh," Pak Harun mengangguk. Kemudian Lisa pun bergegas setengah berlari menuju kamar ibunya.
Tap tap tap
KLIK
Lisa membuka pintu kamar ibunya, di sana Anggara sedang duduk di sebelah ranjang Marwah, pria itu sepertinya sedang bicara dengan adiknya.
"Pa-a ... Mas," panggil Lisa. Dan membuat Anggara menatapnya aneh. Oh, ia tersadar. Di sana ada Marwah, mungkin Lisa sedang mengajaknya bersandiwara. Seperti apa yang ia lakukan kemarin di depan nyonya Claudia.
Anggara kemudian beranjak, ia berjalan menghampiri Lisa.
"Bagaimana kondisi ibumu?" tanya Anggara.
Lisa tertegun, mungkin merasa aneh karena pertanyaan Anggara yang terkesan perhatian. Dan Rio yang semula duduk di sofa di dalam ruang itu, memilih keluar. Seolah memberikan tempat untuk Anggara dan Lisa untuk duduk.
Benar saja, setelah Rio pergi, Anggara duduk di sofa itu kemudian disusul Lisa.
"Apa semua baik-baik saja?"
Itu adalah kalimat biasa, tapi ketika diucapkan oleh pria dingin seperti Anggara, cukup membuat Lisa tersentuh. Apalagi nada bicara pria itu sedikit rendah, tidak setinggi seperti biasanya.
Sementara itu, Anggara mulai bingung sendiri. Karena reaksi Lisa yang menundukkan wajah dalam-dalam. Ia tidak tahu harus menghibur yang bagaimana. Apalagi saat mendengar Lisa yang mulai terisak.
"Pak ... bolehkah saya di rumah sakit untuk sementara ini?" pinta Lisa kemudian.
Anggara tertegun. Meminta ijin saja kenapa gadis itu sampai menangis?
"Semua akan baik-baik, saja." Anggara ingin menenangkan Lisa, tangannya sudah hampir menyentuh pundak gadis itu, tapi hanya menggambang di udara, belum sampai menyentuh sudah ia tarik dengan cepat.
"Saya ingin menemani ibu saya, saya harap Bapak tidak keberatan," ucap Lisa lagi.
Anggara diam cukup lama, kemudian baru mengatakan ya.
"Baiklah."
Lisa spontan mengangkat dagunya, membuat mata dan pipinya yang basa terlihat oleh Anggara.
"Terima kasih," ucap Lisa lirih.
"Saya akan kembali ke rumah begitu ibu sudah baik-baik saja. Saya janji!" tambah Lisa dengan sungguh-sungguh.
Anggara mengangguk, kemudian tanpa sadar jempolnya malah mengusap air yang melintasi pipi Lisa. Pria itu jarinya tergerak sendiri, menghapus air mata istrinya.
Keduanya tidak sadar, pak Harun menatap di balik cela pintu yang terbuka. Melihat sikap hangat Anggara, yang menenangkan Lisa, membuat pak Harun menepis rasa curiganya. Apalagi setelah ia melihat pemandangan berikutnya, pak Harun pun berbalik, kemudian duduk di sebelah Rio yang duduk di luar ruangan.
Di dalam ruang, Lisa yang hatinya masih kalut, ia benar-benar terkejut karena kini berakhir dalam pelukan pria yang suka marah-marah tersebut.
Setelah Anggara menghapus air mata Lisa yang menetes di pipi, keduanya saling menatap. Cukup intense, hingga reflek Anggara memberikan pelukan untuk gadis itu.
'Apa yang sudah kau lakukan?' batin Anggara, tapi tangannya malah mengusap kepala Lisa dengan lembut.
'Aku rasa ... aku mulai menghiantimu ...' Anggara memejamkan mata, seolah ia melihat wajah Dinda yang justru tersenyum padanya.
Bersambung