
Hot Duda Bagian 65
Oleh Sept
Mereka ini sedang di rumah sakit, tapi seperti sedang beribur di hotel bintang lima saja. Sikap mesra keduanya membuat suster dan dokter hanya geleng-geleng kepala.
Anggara merawat Lisa sepenuh hati, menyuapi meskipun Lisa bisa makan sendiri. Berbagi tempat tidur, dan tidak lupa, Anggara kini menjadi tukang pijit pribadi Elisa. Kang pijit exclusive.
***
Lisa yang sudah membaik, akhirnya boleh pulang besok harinya. Rio sudah mengurus semuanya. Anggara tinggal membawa pulang istrinya tersebut.
Sepanjang jalan, Lisa bersandar di pundak Anggara, keduanya tidak banyak mengumbar kalimat romantis, tapi cukup membuat Rio bergidik. Sikap bosnya itu berubah 180 derajat. Sangat manis dan lembut. Seperti orang yang memiliki kepribadian ganda.
'Pak Angga jadi gini amat?' batin Rio melirik di spion.
Hingga akhirnya mereka pun tiba di kediaman Anggara. Lisa tidak boleh melakukan apapun dulu, yang gendong Tiara juga biar babysitter dulu. Nanti kalau flunya sudah sembuh, barulah boleh dekat-dekat, peluk tium Tiara.
Kalau Anggara, baginya tidak ada larangan. Kalau mau tium-tium tinggal praktek. Gak peduli ketularan flu, pokoknya ia melakukan apa yang ingin ia lakukan. Sampai 2 hari tidak ke kantor.
Sekarang ia ada di ruang kerja di rumah pribadinya. Ada Rio juga yang ada di dalam sana. Keduanya terlihat obrolan.
***
Tempat berbeda, Singapore.
International Hotel EL'JEDAS
"Gara-gara kamu, aku harus di sini. Padahal aku masih ada kerjaan penting di Jakarta."
Kendrick ngomel-ngomel pada wanita yang duduk sambil menyilangkan kaki di depannya.
"Ish ... you yang salah. Gitu aja gak becus."
Ken terlihat semakin marah, tidak mau disalahkan. Ia juga tidak mau mendapat masalah dengan pimpinan Montana Group tersebut. Gara-gara rencana gilaa Jessica, ia harus bersembunyi dulu di Singapore.
"Kalau sampai mukaku terekam CCTV, aku gak akan diam."
"Jangan banyak omong. Udah, yo diam .. mungkin satu minggu lagi. I sudah bayar orang buat ngakuin kesalahan you. Gak sulit, tinggal bayar pakai duit. So ... you stay di sini. Jangan muncul, kalau you gak mau dapat masalah sama Angga."
"Nyeselll ikut rencan lo!" umpat Kendrick marah.
Kendrick yang mulai kasar, membuat Jessica jadi lembek.
'Gawat kalau Ken marah, bisa mati I.'
Buru-buru Jessica beranjak, merajuk dan bersikap manja di depan Kendrick. Ia yang tadi garang, seketika menjadi kelinci imut, duduk di sebelah Kendrick sambil mengelayut manja di lengannya yang kekar.
"Jangan marah, everything will be okay."
Kendrick diam saja, wajah masam. Membuat Jessica gemas dan langsung mencengkram bakso pria tersebut.
"Jess!"
Jessica menyeringai, kemudian langsung menyerang. Keduanya pun mengilaa bersama-sama. Benar-benar pasangan toxic.
***
Kediaman Anggara.
Hari menjelang siang, Lisa bosan karena harus makan banyak sekali. Melihat menunya saja ia sudah kenyang duluan.
"Bikk ... banyak sekali?"
"Tuan yang suruh, Non."
Tap tap tap
Anggara masuk kamar, kemudian bibi keluar.
"Makan yang banyak, biar staminanya kuat," seru Anggara kemudian duduk mendekati Lisa.
Lisa pun mengambil piring, tapi Anggara meraihnya terlebih dahulu.
"Aku makan sendiri aja, Mas."
"Gak apa-apa, aku suapin."
Karena Anggara maksa, kejadian di rumah sakit pun kembali terulang. Seperti anak kecil, Lisa disuapi oleh suaminya sendiri. Suasana sebelumnya cukup tenang, tapi setelah terdengar sebuah suara yang tidak asing, semua berubah seketika. Bahkan Lisa sempat membeku untuk sesaat karena terkejut.
"Apa dia sudah tidak punya tangan?" Suara lantang, empuk seperti telo itu mengalihkan perhatian semua orang.
Lisa dan Anggara menoleh ke pintu, ada sosok yang berdiri dengan wajah sinis di sana.
"Ma."
Anggara melanjutkan menyuapi Lisa, karena sudah mau disuapin eh mamanya datang. Lisa jelas langsung menggeleng, apalagi mertuanya itu menatap tak suka. Ia menepis tangan Anggara karena ditatap sinis oleh mertuanya.
"Drama apa lagi ini? ASTAGA!" sindir nyonya Claudia yang merasa muak dengan sikap lebay putranya. Mengapa pakai acara suap-suapan segala.
"Lisa sakit, Ma."
Anggara mencoba menjelaskan.
"Sibuk dengan istri barumu, kau sampai tidak ke perusahaan. Bagus sekali."
"Ma ... Kita bicara di luar."
Anggara menggandeng lengan nyonya Claudia, agar tidak membuat keributan di sana.
Nyonya Claudia lantas berjalan dengan wajah sini.
"Mengapa kamu selalu lemah kalau masalah wanita!" sindir nyonya Claudia.
"Dia istri Angga, Ma. Tolong hargai sedikit."
"Kamu tidak salah? Meminta Mama menghargai seorang pembantu?" ujar nyonya Claudia sombong. Kerasnya suara nyonya Claudia, nyatanya terdengar sampai telinga Lisa.
Wanita itu tiba-tiba mengusap pipinya.
'Jangan cenggeng!' ucap Lisa dalam hati. Begini rupanya mempunyai mertua yang membencinya. Padahal kemarin tidak apa-apa, mau dihina seperti apa juga tidak masalah. Paling sakit sedikit saja, tapi tidak sekarang, kenapa ia jadi mellow begini.
Tidak mau Anggara tahu kalau dia menangis, buru-buru Lisa mengambil kotak tisu. Ia usap wajahnya, menyembunyikan kesedihan yang ia rasa. Sementara itu, Anggara masih berdebat dengan ibunya yang merasa harkat dan martabatnya sangat tinggi tersebut, jadi tidak level kalau punya menantu seperti Lisa. hanya menurunkan derajat keluarga saja. Status sosial yang tidak sama, membuat nyonya Claudia tidak akan bisa menerima kehadiran Lisa di dalam keluarganya.
Nyonya Claudia yang tadi seperti orang jahat, seketika berubah menjadi ramah saat berbicara pada bayi yang belum bisa membalas ucapnya itu.
"Cucu Oma sudah besar ... cepat besar ya."
Ia usap lembut penuh sayang. Anggara yang melihat dari belakang, merasa cukup lega. Mungkin sang mama sangat marah padanya, tapi sepertinya tidak dengan cucu semata wayangnya itu.
Saking kesalnya sama Anggara serta Lisa, nyonya Claudia yang sudah puas temu kangen dengan cucunya, pergi begitu saja tanpa pamit. Hingga malam harinya, Anggara bicara dan membahas kedatangan sang mama tadi.
"Maafin sikap mama hari ini."
"Tidak apa-apa," jawab Lisa mencoba tersenyum.
"Ya sudah, kamu istirahat. Harus banyak-banyak istirahat." Anggara membetulkan bantal, kemudian menyelimuti Lisa. Malam ini ia akan absen. Karena Lisa kurang sehat. Apalagi ditambah kedatangan sang mama. Sudah pasti semuanya tidak baik-baik saja. Anggara paham, Lisa pura-pura tidak ada apa-apa, meskipun hatinya pasti terluka.
Lisa pun langsung terlelap setelah minum obat, sedangkan Anggara, setelah Lisa tidur, ia ke kamar Tiara dulu, kemudian pergi ke ruang kerjanya.
Anggara dan Rio masih mengejar dalang di acara pesta waktu itu. Meskipun sudah ada satu yang tertangkap, yaitu pelayan hotel, Anggara merasa itu aneh. Ia pun memeriksa sendiri rekaman yang diberikan Rio.
"Memang mirip dari belakang, tapi sepertinya bukan," gumam Anggara yang tidak yakin.
Entah sudah dibayar berapa oleh Jessica, yang pasti sudah ada pelaku yang tertangkap. Karena banyak masalah di perusahaan juga, fokus Rio dan Anggara pun mulai terpecah.
Nyonya Claudia sendiri yang mengajukan pencopotan Anggara dari kursinya, tapi sayang, Anggara dan Rio sudah memprediksi hal ini, tidak mudah membuat Anggara dipecat begitu saja.
***
Beberapa minggu kemudian.
Hari pertama Lisa masuk kuliah. Sempat mundur karena Lisa yang masih sakit, suaminya tidak mengijinkan dia langsung kuliah. Anggara pun mulai sibuk di perusahaan. Ia harus membuktikan pada semuanya, bahwa ia sangat competen di bidangnya. Anggara yang kemarin sangat bucin parah, kini mulai fokus kembali. Meskipun kalau pulang, sikap tegasnya berubah menjadi hangat kalau di dekat Lisa.
Pagi ini mereka berangkat bareng, dengan Rio sebagai sopir.
"Nanti kalau pulang, telpon rumah. Biar dijemput sopir."
Lisa mengangguk. Saat Lisa akan turun karena sudah sampai di depan kampus, Anggara mengeluarkan dompetnya. Ia mengeluarkan black card, kemudian memberikan pada Lisa.
"Bawa ini."
"Untuk apa? Gak usah, Mas." Lisa jelas menolak. Ia hanya melihat kartu sejenis itu di TV saja.
Saat Lisa menolak keras, Anggara malah mengeluarkan sebuah kartu lagi.
"Taruh dalam dompetmu. Buat jaga-jaga."
"Gak usah."
Di kursi depan, Rio senyum-senyum tak jelas melirik lewat kaca di depannya. Ia tersenyum kecut melihat pasangan di belakangnya.
"Aku masuk dulu, Mas," pamit Lisa.
Dilihatnya Anggara malah memegangi tas miliknya, Anggara mencari dompet Lisa, setelah dapat, ia masukkan Black card serta ATM platinum miliknya.
"Pinnya ku kirim ke WA."
"Iya."
"Sudah, masuklah." Anggara melambaikan tangan, kemudian mobil pun kembali melaju.
Lisa pun berjalan memasuki kampus, bertemu dengan orang baru, sebenarnya ini adalah yang impikan sejak lama. Lisa tidak mengira, ia akhirnya bisa kuliah. Meskipun bukan dengan hasil keringatnya sendiri, karena semuanya sudah di handle oleh suaminya.
Saat berjalan di lorong kampus yang panjang, ponselnya berdering. Ada WA dari suaminya. Lisa tersenyum melihat 6 digit di ponselnya. Itu adalah PIN kartu yang diberikan suaminya.
Lisa mendongak menatap langit, ia merasa masih mimpi. Bagaimana mungkin ia yang dulu dalam kekurangan kini mendadak bisa memiliki apa saja, tinggal tunjuk. Anggara yang dulu sangat kejam padanya, kini memperlakukan ia dengan baik. Lisa takut, ini benar-benar seperti mimpi.
***
Siang harinya, saat jam makan siang Anggara tiba-tiba vcall. Lisa yang masih di kelas, ia pun mengangkat telpon.
"Ya."
"Arahkan ke wajah, Lisa ... aku ingin melihatmu," titah Anggara dengan suara keras, hingga mahasiswi yang duduk di dekat Lisa melirik.
Malu-malu Lisa memajukan ponselnya, salah satu teman barunya pun kepo. Keduanya pun berbicara, dan beberapa orang memperhatikan Lisa. Lisa dikenal mahasiswi khusus, karena tiba-tiba saja muncul.
"Sudah makan?"
Lisa mengangguk.
"Nanti langsung pulang ya?"
"Iya."
"Oke, baiklah. Aku mau meeting lagi ini. Aku tutup telponnya."
Lisa mengangguk. Setelah Lisa menyimpan ponselnya, beberapa mahasiswi yang kepo langsung melingkar duduk menghadap Lisa.
"Siapa? Ganten."
Lisa hanya garuk-garuk kepala.
"Pacar kamu ya?"
Lisa nyengir seperti unta di Arab.
"Sepertinya agak tua, tapi ganteng sih. Berdasi lagi ... sepertinya berduit."
Lisa tidak menangapi teman-teman barunya yang pada sok tau tersebut.
"Elehh, paling juga itu ...!" semua menoleh.
"Elo bisnis itu, kan?"
Lisa tertegun, tidak paham apa yang mereka bicarakan, sehingga memilih diam, atau sekali-kali melempar senyum.
"Jangan sok, mahasiswa baru ... masuk jalur khusus. Loh pasti simpenan om-om!" celetuk wanita dengan rambut pendek, ia langsung mendorong bahu Lisa. Meski pelan, itu cukup tidak sopan. Membuat Lisa mendongak menatapnya.
"Apa lo? Anak baru jangan songong!"
BERSAMBUNG