Hot Duda

Hot Duda
Shock



Hot Duda Bagian 40


Oleh Sept


Lisa yang sudah di depan mobil, ia lantas berjalan memutar dan akan membuka pintu belakang. Melihat Lisa duduk di jok belakang, Anggara kembali mengeluarkan kata-kata sindiran.


"Apa kamu pikir saya supir kamu?" celetuk Anggara.


Lisa jelas tertegun. 'Kok salah lagi, lalu harus duduk mana?' batin Lisa.


"Saya pindah ke depan, Pak?" tanya Lisa hati-hati.


"Kenapa susah sekali berkomunikasi denganmu? Apa saya harus menggulangnya lagi?" cetus Anggara dengan wajah jengkel. Pria itu mencengkram kemudi dengan geram.


Buru-buru Lisa turun dari mobil, gadis itu kemudian pindah di kursi depan. Hanya gara-gara Anggara tidak mau dianggap sopir pribadinya.


Saat Lisa masih memakai sabuk pengaman lagi, Anggara langsung menyalakan mesin mobil. Kemudian langsung tancap gas. Suasana tegang begitu terasa, hawa di mobil itu begitu dingin. Bukan karena AC di dalam mobil, tapi karena sikap Anggara yang membuat orang-orang di sekitarnya seakan ikut membeku.


Sampai pada saat mobil mewah yang dikendarai Anggara sendiri itu berhenti di sebuah rumah yang cukup mencolok dari pada bangunan di sekitarnya. Sebuah rumah berlantai 3, dengan pagar warna coklat yang menjulang tinggi.


Begitu berada di depan pagar, perlahan pagar otomatis itu terbuka dengan sendirinya. Sedangkan Lisa, ia terlihat bengong campur takjub dengan rumah yang biasanya hanya ia lihat di TV dan di sosial media.


Anggara pun turun, sudah ada yang membuka pintu untuknya. Pria itu kemudian memberikan kunci untuk diparkir dengan benar. Sebab di sana terdapat banyak mobil, sudah seperti sebuah showroom mobil saja. Wajar lah, karena nyonya Claudia salah satu pengusaha kaya raya di negeri ini. Darah conglomerate sudah mengalir deras dalam keluarga Anggara, mungkin tidak akan habis sampai 8 turunan.


"Cepatlah!" bisik Anggara dengan muka masam.


Lisa mempercepat langkah, hingga langkah keduanya sama. Kini, sambil berjalan masuk, mata Anggara melirik beberapa sudut CCTV yang terpasang, dengan cepat, ia meraih tangan Lisa. Menggenang tangan tersebut.


'Eh!'


Lisa jelas terkejut, tidak ada angin tidak ada hujan, tangannya langsung dipegang oleh bosnya tersebut, bos sekaligus suaminya. Terasa begitu hangat. Ya, genggaman tangan Anggara tidak sendingin sikap pria tersebut.


Di dalam rumah.


"Tante, kok mas Angga belum datang. Katanya mau ke sini?" tanya Jessica yang sudah tidak sabar bertemu sang pujaan hati.


"Tunggu saja, Jes. Mungkin masih di perjalanan."


"Iya, Tante."


Baru juga di omongin, eh yang dibicarakan sudah muncul. Anggara yang selalu terlihat modis dan tampan membuat Jessica langsung berbinar, bibirnya merekah. Ia melempar senyum pada pria yang membuatnya begitu terobsesi. Akan tetapi, binar-binar di matanya seketika memudar, ketika melihat sesuatu yang sangat mengusik hidupnya.


"Eh ... sudah datang." Nyonya Claudia juga senang melihat Anggara sudah tiba, tapi ia sangat marah saat Anggara menggandeng wanita yang baginya tidak pantas untuk bersanding dengan putranya.


"Apa-apaan ini?" tanya nyonya Claudia sambil memegangi kepalanya. Tiba-tiba kepalanya terasa berat. Sikap Anggara yang berani menyentuh lawan jenis, apa lagi secara terang-terangan di depannya, membuat nyonya Claudia langsung diserang vertigo mendadak.


Anggara langsung melepaskan tangannya, kemudian berbisik lirih. Kalau dilihat malah seperti bisikan mesra.


"Gendong Tiara sekarang, bawa masuk mobil," bisiknya.


Lisa lantas menurut, meskipun ia merasa gelisah karena dua wanita menatap sinis padanya.


"Jangan sentuh cucu saya!" sentak nyonya Claudia yang merasa pusingnya hilang karena Lisa mendekat dan mau mengambil cucunya.


Lisa panik, ia kemudian menoleh ke arah Anggara. Sorot mata yang super tajam itu, langsung membuat Lisa berani. Dari pada dimarahi Anggara, lebih baik mendengarkan nyonya Claudia yang ngomel-ngomel.


"Maaf," ucapnya kemudian mengambil Tiara. Lisa langsung menggendong baby Tiara dan berjalan kembali mendekati Anggara.


"Angga! Apa ini? Jelaskan sama Mama!" sentak nyonya Claudia yang tidak terima.


Sedangkan Jessica, ia masih shock. Ia tidak percaya, harus bersaing dengan pembantu yang menurutnya rendahan, beda kelas dengannya. Bagai bumi dan langit, walau Lisa pakai baju bagu, tetap saja di orang rendahan.


"Bawa Tiara masuk mobil," ucap Anggara yang melihat suasana tidak kondusif.


"Heiii ... jangan pergi! Saya juga mau bicara dengan kamu!" teriak nyonya Claudia.


"Jessi! Bawa Tiara kembali!" titah nyonya Claudia.


Jessica langsung setengah berlari, kemudian merebut paksa Tiara yang semula digendong Lisa.


"You jangan kurang ajar!" cetus Jessica.


"Jess!!! Berikan Tiara pada ibunya!" sentak Anggara kasar.


Mata Jessica langsung melotot menatap Lisa. Sedangkan nyonya Claudia, ia menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Tidak percaya apa yang ia dengan barusan. Sejak kapan Lisa jadi ibunya Tiara? Jangan-jangan ...


BERSAMBUNG


Fb Sept September


IG Sept_September2020