
Hot Duda Bagian 56
Oleh Sept
"Nyonya!" teriak bibi yang kebetulan melihat kejadian brutal tersebut. Bibi buru-buru berlari dan memisah keduanya.
Entah apa yang sudah nyonya Claudia lakukan pada Lisa. Yang jelas menantunya itu rambutnya sudah berantakan. Sepertinya Lisa tidak membalas perlakuan kasar dari ibunda Anggara tersebut. Lisa sengaja membiarkan nyonya Claudia menyakiti fisiknya tanpa membalas sedikit pun.
"Nyonya ... sabar Nyonya!" Bibi terus saja mencoba memegangi tubuh nyonya Claudia yang terus saja merangsek Lisa.
Babysitter yang mendengar keributan, langsung meletakkan Tiara dalam box bayi, ia sangat terkejut dengan aksi nyonya besar itu.
'Astaga, kalau tuan muda tahu, bisa gawat!' gumamnya kemudian ikut melerai.
"Wanita murahannnn! Keluar dari rumah ini!" teriak nyonya Claudia yang terlihat sangat marah. Diamnya Lisa membuat ia tambah emosional. Lisa yang ia anggap tidak tahu diri, seolah menantang, dengan memilih bertahan di sisi putranya.
"Berkacalah! Kamu siapa? Kamu tidak layak bersanding dengan Anggara!" omelnya tanpa henti.
"Sabar, Nyonya ... tahan Nyonya, jangan seperti ini," ucap babysitter dengan lirih takut Lisa mendengar.
"Jangan pegang-pegang saya!" sentak nyonya Claudia yang marah karena dipegangi bibi dan babysitter.
Detik berikutnya, penjaga yang ada di luar masuk. Paham apa yang terjadi setelah melihat penampilan Lisa, penjaga itu kembali keluar dan menghubungi seseorang.
***
Di dalam mobil
Anggara yang sedang melihat grafik dalam ponselnya, tiba-tiba perhatian pria tersebut teralihkan karena panggilan dari salah satu penjaga di rumahnya.
"Ya."
Anggara menghela napas panjang, kemudian memasukkan ponselnya lagi.
"Rio, putar balik!" titah Anggara pada Rio.
"Tapi Pak, pak Charles sudah menunggu. Kita tidak mungkin membuat beliau menunggu lebih lama."
"Saya bilang putar balik."
"Baik," jawab Rio. Pria itu hanya bisa menghela napas dalam-dalam, karena keluarga nyatanya lebih penting dari pada pekerjaan. Rio sudah menduga, pasti ada kaitannya dengan nyonya Claudia serta Lisa. Keduanya seperti tikus dan kucing, tidak akan pernah akur.
CHITTTT ...
Wushhh ...
Setelah menekan pedal rem, mobil hitam tersebut kemudian putar balik. Mereka akan kembali ke kediaman Anggara seperti kemauan pria tersebut.
***
Kediaman Anggara
Setelah menjambak, memukul wajah Lisa, sekarang nyonya Claudia sudah di dalam mobil. Wanita itu dengan napas yang masih memburu karena sakit hati pada Lisa, akhirnya memilih pergi. Muakk sekali melihat wajah polos Lisa yang baginya sangat mengerikan. Dengan kesal, ia meminta sopir untuk segera meninggalkan keduanya putranya itu.
Sementara itu, Lisa sudah kembali ke kamarnya. Bukan kamar Anggara, ia kini berada di kamar bayi. Lebih tepatnya ia berada di dalam kamar mandi. Menatap wajahnya dengan tatapan kosong. Lisa melihat pantulan rambut serta wajahnya di depan cermin besar di kamar mandi.
Perlahan sudut bibirnya tertarik, ia tersenyum kecil. Sebuah senyum yang bukan mengisyaratkan sebuah rasa bahagia, tapi perasaan yang telah terluka. Dihina serendah rendahnya. Bahkan mertuanya itu dengan tanpa perasaan menyakiti fisiknya.
Sekali lagi Lisa hanya tersenyum menatap cermin. Dia sudah merasa terhina oleh suaminya, sekarang ganti ibunya. Jelas sekali kemarahan di mata Lisa, ia hanya memejamkan mata, kemudian menyalakan kran.
Ia basuh wajahnya dengan air yang mengalir tersebut, terasa sedikit perih. Apalagi rahangnya juga terasa sakit. Lisa kemudian merapikan rambutnya dengan jari. Kemudian kembali menatap wajahnya yang sedikit lumayan, hanya saja, sakit hatinya kembali membuat bulir bening menetes dan melewati pipi.
Tok tok tok
"LISA!"
Lisa menoleh saat dipanggil, ia menatap ke pintu, tapi tidak mau membukanya.
"Lisa buka pintunya!" titah Anggara yang terus saja mengetuk. Bahkan terdengar seperti gedoran.
"Lisa, Buka!"
Lisa mengigit bibirnya, terasa sakit. Ia kemudian melangkah, dan sebelumnya merapikan rambutnya dahulu. Sambil menarik napas panjang, ia memutar knop pintu.
KLEK
Baru dibuka sedikit, Anggara langsung masuk. Bukannya Lisa yang keluar, keduanya malah di dalam kamar mandi.
"Kamu tidak apa-apa?"
Anggara yang selama ini dingin, dan hanya panas di atas ranjang, kali ini terlihat khawatir. Pria itu menyentuh wajah Lisa, memindai istrinya tersebut.
Lisa menepis lengan Anggara, kemudian hendak berjalan melewati suaminya.
"Kita ke rumah sakit!" ucap Anggara kemudian menarik tangan Lisa yang jalan duluan.
"Saya tidak apa-apa!"
Settt
Lisa menghempaskan tangan pria tersebut sampai lepas. Dan cukup membuat Anggara tertegun.
"Lisa! Kamu mau ke mana?" Anggara panik saat Lisa mengambil tas serta dompet.
"Bapak jangan khawatir! Saya pasti pulang. Biarkan saya sendiri kali ini!"
Lisa pun mempercepat langkah, dan Anggara buru-buru memegangi istrinya.
"Kamu tidak boleh pergi dari rumah ini. Siapa yang mengijinkanmu pergi!" Anggara mengambil paksa tas milik Lisa, membuat istrinya menahan kesal.
Lisa yang sejak tadi menahan kemarahan, akhirnya memilih keluar rumah tanpa membawa apapun.
"Lisaaaa!"
Anggara mendesis kesal, kemudian meminta kunci dari Rio.
Anggara menarik paksa Lisa dan meminta istrinya itu duduk di depan bersamanya. Setelah menutup pintu untuk Lisa, Anggara kemudian mengitari mobil dan duduk di balik kemudi.
'Dia pasti kacau saat ini, oke ... Kita cari tempat yang mungkin bisa membuatnya lebih tenang,' pikir Anggara kemudian langsung tancap gas.
Sepanjang jalan Lisa hanya menatap ke luar jendela, melihat gedung-gedung tinggi yang mereka lewati.
"Kenapa kamu tidak menghindar? Saya rasa tenaga kamu jauh lebih kuat dari pada mama," ucap Anggara tiba-tiba yang memecah kesunyian antara mereka. Tapi Lisa sama sekali tidak merespon.
"Saya tanya sama kamu, jangan diam saja? Kamu bukan patung!" cetus Anggara yang sejak tadi dicuekin Lisa.
"BERHENTI!" seru Lisa kemudian.
Mereka ada di jalan tol. Bagaimana mungkin berhenti?
"Bapak, saya bilang berhenti. Turunkan saya di sini!"
"Astaga anak ini!" Anggara mendesis kesal, kemudian malah mengunci semua pintunya.
KLEK KLEK KLEK
Lisa ingin membuka pintunya, tapi terkunci.
CHITTTT
Kesal, akhirnya Anggara menepi di salah satu rest area. Mereka berdua kemudian duduk di salah satu bangku yang ada di rest area tersebut.
"Oke, mama saya salah. Saya minta maaf akan hal itu," ucap Anggara kemudian ketika menyadari wajah Lisa yang tidak baik-baik saja. Anggara kemudian menarik kursinya agar lebih dekat, tapi Lisa langsung membuang muka.
Hampir setengah jam mereka berdua duduk tanpa membahas apapun. Sudah dua gelas lebih minuman yang mereka habiskan. Sampai akhirnya Lisa meminta mereka pergi.
"Saya sudah tidak apa-apa, mari pulang," ucap Lisa.
Anggara mengangguk, meskipun ponselnya sejak tadi berdering. Harusnya ia menemui orang penting, tapi karena Lisa ada masalah, ia memilih menemani Lisa untuk saat ini. Dan saat mereka melanjutkan perjalanan, tiba-tiba Anggara berhenti di salah satu swalayan.
"Kamu tetap di dalam. Saya sebentar."
Tap tap tap
Anggara berjalan cepat, tidak lama kemauan pria itu muncul dengan membawa kantung kresek kecil. Masih di area parkir swalayan, Anggara kemudian membuka bungkusan yang ia bawa. Sebuah salep kecil.
"Lihat ke sini," serunya pada Lisa.
Lisa pun menatap salep yang dipegang suaminya.
"Saya bisa sendiri." Lisa mau merebut, tapi Anggara langsung menjauhkan tangannya.
"Kamu dulu sangat penurut, mengapa sekarang sering melawan?" bisik Anggara kemudian mengoles salep tipis-tipis ke pipi, pelipis dan bibir bagian bawah.
"Sudah!" ucap Anggara setelah selesai. Tangannya kemudian mengusap lembut rambut Lisa.
'Jangan bersikap seperti ini!' batin Lisa yang tidak nyaman dengan perhatian Anggara. Lisa ingin menepis tangan pria tersebut, tapi Anggara malah menangkup wajahnya. Yakin akan ditium, Lisa langsung berpaling.
Anggara berubah masam, tapi pria itu kemudian mengusap pipi Lisa.
"Bapak, ayo jalan!" titah Lisa yang seperti menyuruh sopir. Membuat Anggara tersenyum kecut.
'Astaga anak ini!'
***
Kediaman Anggara
Sampai rumah kembali, Lisa langsung masuk ke dalam rumah. Diikuti dengan Anggara di belakangnya.
"Ambilkan saya minum, bawa ke kamar!"
Tap tap tap
Anggara langsung masuk ke kamarnya. Sedangkan Lisa, wanita itu menatap heran kepergian Anggara dengan santainya menuju kamar.
Sesaat kemudian
Tok tok tok
"Masuk!"
Anggara sudah segar, sepertinya habis cuci muka dan ganti pakaian.
"Mana Lisa? Kenapa Bibi?" protes Anggara.
"Non Lisa sedang menggendong Tiara, Tuan."
Anggara mengangguk, kemudian meminta bibi meletakkan saja minuman di atas meja.
"Letakkan di sana."
"Baik, Tuan."
***
Dretttt ... drettt
Lisa menoleh, melihat ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan masuk.
[Bawa Tiara ke kamarku]
BERSAMBUNG
Fb Sept September
IG Sept_September2020