Hot Duda

Hot Duda
Perasaan



Hot Duda Bagian 67


Oleh Sept


Lisa sudah terbaring di atas ranjang empuk dengan kain sutra lembut yang menyelimuti tubuhnya. Anggara menatapnya dalam, kemudian menggenggam tangan Lisa yang terasa dingin.


Sudah beberapa saat Lisa pingsan di kamar mandi, sampai membuat Anggara panik dan membuat seisi rumah geger. Pria itu kelewat panik lantaran takut Lisa tiba-tiba pergi seperti Adinda.


Kini, ia bisa bernapas lega, bahkan sampai tidak bisa berkata-kata. Ia benar-benar tidak mengira, miliknya selalu ampuh untuk menghasilkan benih kecebong pilihan. Tidak butuh waktu lama, ia bisa membuat istri-istrinya hamil setelah menikah. Seperti Adinda, dan juga Lisa, keduanya tidak lama setelah menikah lalu dinyatakan hamil.


Flashback On


Dokter memeriksa Lisa, dokter tersebut merasa ada yang keras di perut Lisa. Ia pikir mungkin pasiennya itu hamil.


Anggara tertegun, memang setelah menikah, Lisa belum datang bulan sama sekali. Ia pikir mungkin masa-masa awal pernikahan Lisa tertekan, ia tidak tahu, alasan Lisa belum mendapat tamu bulanannya itu adalah karena alasan yang lain.


Belum senang sepenuhnya, menunggu Lisa bangun. Kini Anggara menemani Lisa sampai tidak ke kantor.


***


Lisa mengerjap, ia mulai terbangun ketika mendengar suara lirih orang di telpon. Anggara sedang berdiri sambil berbicara pelan di telpon. Sayup-sayup Lisa dapat mendengar ucapan suaminya.


"Kamu tangani semuanya, Lisa masih sakit. Aku tidak bisa meninggalkan dia sendirian. Lobby saja, kirim hadiah mahal."


Anggara yang sedang bicara di telpon, kemudian berbalik saat mendengar pergerakan orang di belakangnya.


"Nanti aku hubungi, kamu handle sendiri selama aku tidak ada!" ucap Anggara lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Mau ke mana?" tanya Anggara kemudian menyentuh dahi Lisa. Tidak hangat, jadi ia tidak perlu khawatir berlebihan.


"Ke kamar mandi," jawab Lisa. Seketika Anggara langsung membopong tubuh Lisa.


"Mas. Aku bisa jalan."


"Kamu kan gak enak badan," kata Anggara kemudian mengantar Lisa ke kamar mandi. Setelah itu ia berbalik ingin mengambil sesuatu.


Saat Lisa sudah di dalam, Anggara mengetuk pintu.


"Lisa."


"Ya," jawab Lisa sambil membuka pintu.


Anggara menyodorkan paper bag kecil, meminta Lisa memakainya.


"Apa ini, Mas?" Lisa lantas membuka itu di depan pintu.


Kemudian Anggara mengangguk, "Coba periksa. Tadi dokter sudah curiga."


Lisa mengigit bibirnya, "Tapi kalau gak?"


"Gak apa-apa, coba test aja."


Lisa kemudian menurut, meskipun ragu akan hasilnya. Ia memang sering tidak teratur datang bulannya, jadi tidak begitu curiga.


KLEK


Lisa tutup pintunya, Anggara menunggu di depan pintu, seperti penasaran akan apa hasilnya.


"Bismillah," gumam Lisa kemudian kelopak matanya terbuka perlahan dan melebar.


Mika seperti ling lung, mendadak tidak bisa berpikir dan bicara. Hanya menutup mulutnya dengan tangan.


'Aku hamil? Anak Mas Angga?' batinnya tidak percaya.


Tok tok tok


"Apa sudah, Lisa? Bagaimana hasilnya?"


Lisa menoleh ke pintu, ia mondar-mandir, kemudian mengantur napas panjang.


KLEK


"Bagaimana?"


Baru membuka pintu, Anggara sudah langsung bertanya padanya. Lisa hanya menelan ludah, kemudian tangannya menunjukkan alat yang ia pakai tadi.


Dengan kepo, Anggara melihat alat tersebut. Ia sampai bengong.


"Itu ada dua garis merah artinya apa? Kembar dua?" tanya Anggara dengan muka serius.


Lisa yang tadi tegang, seketika tersenyum.


"Kembar dua?"


Lisa menggeleng. "Garis satu negative, Mas. Kalau garis dua ... artinya positive. Aku hamil, Mas."


Wajah Anggara yang semula tampak serius, perlahan mengulas senyum. Kedua tangannya kemudian meraih pinggang Lisa, ia angkat tubuh yang baginya sangat ringan, ia putar dan berakhir dengan menengelamkan wajah Lisa dalam pelukannya.


Keduanya cukup larut dalam acara celebration. Sampai akhirnya Anggara melepaskan dekapannya. Ia kemudian membungkuk sambil mengusap perut Lisa. Ia usap berkali-kali sampai Lisa geli.


"Geli, Mas."


Pria itu kemudian kembali berdiri tegap. Kembali memeluk Lisa. Mengusap kepala istrinya dengan sayang.


"Terima kasih karena sudah membuatku sangat bahagia ... terima kasih, Sayang."


Lisa kelihatan kesulitan menelan ludah, dipanggil sayang dan terdengar begitu tulus, membuat hatinya dipenuhi bunga sakura.


"Terima kasih sudah melengkapi hidupku, tetap sehat ya kalian ... tetap bersama sampai kita menua."


Lisa mengangguk, kemudian Anggara menangkup wajahnya. Menatapnya penuh cinta.


"Tetap di sisiku ... selamanya," ucap Anggara sembari menatap Lisa intens.


Lisa kembali mengangguk, tapi matanya malah berkaca-kaca. Mungkin terenyuh oleh sikap lembut suaminya. Tidak ada kata cinta, tapi Anggara mengatakan dia adalah kebahagian pria tersebut. Meminta mereka untuk bersama selamanya, itu adalah pernyataan cinta tanpa kata cinta itu sendiri.


"Jangan nangis, aku ingin kamu bahagia di sisiku. Be happy ... seperti aku yang bahagia karena punya kamu sekarang," bisik Anggara sembari menarik Lisa dalam pelukannya. Dan Bersambung.


Gaess, jangan sedih kalau suami atau pasangan pelit bilang I love you, ada beberapa spesies jaim, enggan bilang cinta, padahal bener-bener sayang. Banyak contohnya, bagi mereka ini ... cinta itu tidak harus diucapkan, tapi cukup dibuktikan lewat tindakan. Jadi jangan panik hehehhe.


Fb Sept September


IG Sept_September2020