Hot Duda

Hot Duda
PRIA MODUS



Hot Duda Bagian 52


Oleh Sept


Setelah mengatakan kalimat ancaman dan perintah, Anggara lantas keluar dari kamarnya. Membiarkan Lisa masih di dalam sana. Tidak lama kemudian Rio tiba. Pria itu membawa beberapa map yang akan ia laporkan pada Anggara.


"Pak, ini berkas-berkas yang sudah siap."


KLEK


Rio melirik ke belakang tubuh Anggara, dia heran kenapa Lisa keluar dari kamar Anggara. Dalam hati kemudian tersenyum tipis.


'Oh ... sepertinya perjanjian pernikahan itu hanya omong kosong," batin Rio dengan sudut bibir yang baik ke atas.


"Masukkan semuanya ke dalam mobil," titah Anggara yang melihat sekilas.


"Baik, Pak. Oh ya, apa sekalian pergi dengan Nona Lisa?" Rio sengaja mengubah panggilannya pada Lisa selama ini, karena ia yakin, sebentar lagi Lisa akan menjadi nyonya rumah di sini.


Anggara kemudian menoleh, ia melihat Lisa yang berjalan.


"Tidak, itu bisa dijadwal ulang. Lisa sakit!" ucap Anggara.


'Sakit?' Rio memindai Lisa, gadis itu tidak kelihatan sakit. Tapi ketika Lisa mengangguk seolah menyapa kemudian berbalik dan jalan masuk ke dalam, Rio seketika paham.


"Oh, baik Pak. Semuanya bisa saya handle."


"Hemm."


Keduanya pun keluar, menuju mobil yang sejak tadi sudah siap. Sambil memegang kunci, Rio tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Pantas wajah Anggara terlihat jauh lebih segar, ya meskipun masih terkesan dingin.


Ia tidak menyangka, akhirnya bosnya itu tergoda pada gadis lugu seperti Lisa. Tapi wajar sih, Lisa cantik, manis, kalem, lembut, kalau bukan istri bosnya, Rio juga pasti akan jatuh hati dan tertarik pada anak pak Harun tersebut.


***


Sementara itu, Lisa kini memilih berbaring sambil menemani Tiara. Biasanya ia akan menggendong Tiara kalau rewel, sambil digoyang-goyang pakai jarik. Ini saja Tiara rewel, Lisa hanya menepuk lembut dan mengajak bicara.


"Kenapa sayang?" Lisa mulai mengajak bicara Tiara yang mau menangis.


Alhasil ia pun beranjak, kemudian menggendong baby Tiara. Meskipun masih terasa perih di bawah sana, ulah siapa lagi kalau bukan ulah ayahnya Tiara.


Beberapa saat kemudian, Tiara sudah tidak rewel lagi. Sudah bisa diletakan di box bayi sambil diputarkan mainan di atasnya.


"Mbak ... jagain Tiara sebentar."


Babysitter langsung meninggalkan kegiatannya tadi, yang merapikan pernak-pernik bayi di dalam kamar.


"Baik, Non."


'Astaga ... aneh banget ini lidah manggil si Lisa Non. Beruntung banget nih orang!' batin babysitter yang memiliki jiwa iri.


'Eh, lah ... itu jalannya kenapa si Lisa? Kok mekeh-mekeh gitu. Idih!'


Sang babysitter Tiara itu terus saja memperhatikan cara jalan Lisa yang memang terlihat aneh dan tidak seperti biasanya.


"Non, Non Lisa sakit? Iritasi?" tanya babysitter yang memang julid.


Lisa tersenyum kecut, kemudian menggeleng pelan. Buru-buru ia berjalan meski terasa perih. Mencoba berjalan biasa tapi kok malah terasa perih dan ngilu. Apa inikah yang semua wanita alami saat pertama kali berhasil dibobol gawangnya?


***


Pukul 3 sore. Tumben sekali Anggara sudah pulang, biasanya juga di atas jam lima sore. Ini sekarang kok sudah pulang. Seperti biasanya, yang membuka pintu adalah bibi. Bibi lantas membawa tas serta jas yang sudah Anggara lepas.


"Lisa mana?" tanya Anggara. Baru pulang yang dicari bukan Tiara tapi istrinya. Atau mungkin dia khawatir Lisa minggat lagi.


"Ada, Tuan. Non Lisa sekarang di taman belakang."


"Dengan Tiara?"


"Iya, Tuan."


Anggara mengangguk, kemudian menyusul ke taman belakang. Tidak langsung mendekat, Anggara hanya mengintip dari balik kaca buram yang besar. Ia melihat bagaimana Lisa berbicara pada anaknya. Padahal Tiara masih kecil, mana paham anak itu diajak biacara. Anggara kemudian menghela napas panjang, kemudian berbalik. Ia akan mandi dulu.


Setengah jam kemudian, bibi datang ke taman belakang memanggil Lisa.


"Non, Tuan mau makan. Dia minta saya panggil Non Lisa. Biar Tiara sama babysitternya dulu."


"Bapak ... eh. Mas Angga sudah pulang?"


"Sudah, sudah dari tadi, Non."


Lisa kemudian menatap Tiara sekilas, habis menemani Tiara main, sepertinya sekarang ganti menemani bapaknya. Entahlah, Lisa masih dilema akan posisinya di rumah itu. Ibu sambung kontak, istri kontrak, tapi malah melayani kebutuhan jasmani dan rohani suami kontraknya tersebut, dia galau segalau galaunya. Bagaimana pun juga Lisa memiliki hati. Jelas ia merasa sakit kalau hanya dibutuhkan saat waktu-waktu tertentu saja.


Lisa menghela napas panjang kemudian menghampiri Anggara yang sudah duduk di meja makan. Dilihatnya meja sudah tertata rapi. Makanan pun sudah tersedia. Lalu kenapa Anggara memanggilnya?


"Duduk!" titah Anggara saat melihat Lisa hanya menatapnya.


Anggara kemudian mulai menyentuh makanannya. Sepertinya sejak tadi dia menunggu Lisa.


"Kenapa tidak makan?" tanya Anggara yang tersadar Lisa hanya duduk tanpa menyentuh sendok dan garpunya.


"Saya sudah makan."


'Dari caranya menatap, sepertinya dia kesal padaku,' batin Anggara kemudian memilih melanjutkan makannya.


Anggara kemudian meninggalkan meja makan, meskipun makanannya hanya ia makan sedikit.


"Sudah, Tuan? Kenapa tidak dihabiskan? Apa tidak enak?" tanya Lisa.


"Sudah kenyang," jawab Anggara ketus.


Pria itu kemudian meminta Lisa membawa Tiara ke kamarnya.


"Bawa Tiara ke kamarku, sekarang! Bawa sendiri, jangan pakai suster."


Lisa menahan napas kesal, ia harus menahan diri untuk tidak marah dan tidak menangis di depan pria sombong tersebut.


Beberapa menit kemudian, Lisa mendorong stroller menuju kamar Anggara.


Tok tok tok


Lisa mengetuk pintu kamar terlebih dahulu sebelum membuka pintunya.


"Masuk!"


Sebenarnya kamar yang menakutkan, di kamar itu mahkotanya telah hilang. Dengan membulatkan tekat, lagian kalau pergi juga dia tidak punya uang untuk ganti rugi, alhasil Lisa pun maju terus, meskipun resikonya bakalan sakit hati.


KLEK


Ia buka pintu itu secara perlahan, kemudian masuk sambil mendorong stroller bayi yang ada baby Tiarannya.


Saat Anggara datang mendekat dan melihat ke dalam stroller, Tiara tersenyum padanya. Membuat Anggara langsung meraih dan menggendong bayi tersebut.


'Dia anakku ... pasti!' gumam Anggara kemudian menatap wajah Tiara lekat-lekat.


Apa Anggara dilema tentang status Tiara? Hanya gara-gara kedatangan seorang pria yang mengaku sebagai ayah biologis Tiara? Entahlah, yang jelas tersirat keraguan meskipun bibirnya percaya.


Sedangkan Lisa, ia mau pergi tapi tangan Anggara ternyata langsung memegang pergelangan tangannya. Lisa kaget, kemudian menatap Anggara yang sedang menimang buah hatinya bersana wanita yang potonya masih terpasang rapi di dalam kamar tersebut.


"Saya mau ambil perlak, Pak."


Lisa berkelit, sebenarnya ia hanya ingin kabur. Di kamar itu Lisa merasa tidak nyaman. Kejadian itu seperti terputar lagi di depannya secara langsung.


"Panggil suster, biar dia ambilkan. Kamu tetap duduk di situ."


Lisa tidak bisa berkata-kata. Dan seperti titah Anggara, babysitter datang sambil membawa kasur bayi mini dan peralatan lainnya. Diletakan di tengah ranjang.


Ketika Lisa membantu, babysitter pun mulai kepo.


"Nanti Tiara tidur di sini, Non?"


"Gak tahu, Mbak."


"Kok gak tahu?" tanya babysitter setengah berbisik. Lisa sampai aneh, susternya kok semakin kepo saja.


"Kalau gak rewel ya tidur di sini!" jawab Lisa asal. Ia yang pikirannya sedang berkecamuk, mulai bicara blak-blakan.


"Oh."


'Gawat, harus laporan sama nyonya Claudia. Sepertinya mereka akan tidur satu kamar. Wah, bisa gagal rencana Nona Jess sama Nyona Claudia misahin mereka. Apalagi tadi kuperhatikan sepertinya Lisa sudah diapa-apain sama pak Anggara. Susah ini kalau ceritanya begini!' batin suster sambil terus merapikan tempat tidur buat Tiara.


"Kalau sudah selesai kamu boleh keluar!" titah Anggara yang melihat Lisa sama suster malah bisik-bisik.


"Baik, Tuan."


Buru-buru babysitter Tiara itu keluar, kemudian ke kamarnya sendiri. Ia langsung menghubungi nyonya Claudia. Tapi malah tidak diangkat, ia pun mencoba menghubungi Jessica. Dan langsung direspon dengan cepat.


Di kediaman orang tua Jessika yang penuh sentuhan Eropa. Wanita itu tersenyum licikk, kemudian mulai menyusun rencana.


"Mau saingan sama I? Gak level!" gumam Jessica sambil tersenyum devil.


***


Rumah Anggara


Malam semakin gelap, hening, tenang dan canggung, sudah pukul 8 dan Tiara sudah tidur sejak tadi. Sedangkan Anggara, pria itu duduk di depan laptop.


"Pak, saya tidur di kamar sebelah saja."


KLIK


Spontan Anggara melipat laptopnya. Membuat Lisa gelisah.


"Kamu mau tidur sekarang?" tanya Anggara yang mengartikan sendiri kalimat Lisa. Padahal Lisa mau tidur di kamar sebelah bukannya ngajak tidur.


BERSAMBUNG


Ketika buaya gurun turun gunung dan akan berubah jadi cicak yang sama-sama suka merayap. Dasar Duda oleng. Sekali dicas, mau isi lagi.


Fb Sept September


IG Sept_September2020