Hot Duda

Hot Duda
Tidak Aman



Hot Duda Bagian 53


Oleh Sept


Sekip, wajib setor KTP.


"Saya mau tidur di kamar sebelah," ucap Lisa penuh penekanan. Istri Anggara tersebut kini mulai berani menatap mata suaminya. Lama-lama ada keberanian yang keluar, mungkin ia tidak mau menjadi pemuas naf suh pria tersebut.


Lisa masih ingat, bagaimana sikap Anggara. Pria itu langsung mencabut dan mengeluarkan di luar. Sebenarnya bagus, karena Lisa masih muda, dan pernikahan ini bukan bertujuan membuatnya hamil. Hanya saja, jauh di lubuk hati kecil Lisa, ia merasa kecewa. Seolah-olah ia hanya jadi alat pemuas pria tersebut. Sebegitu rendahkan dirinya di mata Anggara?


Makanya malam ini Lisa mau pindah kamar, ia tidak mau tidur satu atap dengan Anggara. Lisa takut, hal yang sama akan kembali terulang. Selagi ia hanya istri kontrak, lebih baik ia menghindar. Karena yang dirugikan pastilah dia. Siapa yang akan mau dengannya nanti?


Lisa hanyut dalam pikirannya sendiri. Ia sampai tidak memperhatikan Anggara yang menatapnya.


"Kenapa tidur di sebelah? Ini kamarmu mulai sekarang!" ucap Anggara tidak mau kalah.


"Bapak ... tolong jangan melanggar perjanjian."


Anggara langsung terdiam. Dalam diamnya ia mulai berpikir. Ya, dia yang salah. Sudah melanggar janjinya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, dia tetap pria normal. Jelas butuh penyaluran. Kalau tidak dikeluarkan, bisa-bisa kepalanya pusing sepanjang hari.


'Lisa! Kamu sudah mulai berani membantah!' batin Anggara yang jengkel. Gengsi mau mengakui kalau ia butuh gadis yang sudah tidak gadis tersebut.


"Oke! Saya akan tanggung jawab." Akhirnya kata itu lepas saja dari bibir pria beku tersebut. Kepalang tanggung, Lisa sudah berani membantah, berani kabur, kalau tidak ia turunkan egonya sendiri. Ia pasti yang akan pusing.


Mencari gadis seperti Lisa tidaklah mudah. Sejauh ini dia sangat penurut, dan yang paling penting, wanita muda ini gampang diatur. Sepertinya menurunkan sedikit ego, akan lebih baik. Meskipun wajahnya masih terkesan dingin di depan Lisa.


'Tanggung jawab bagaimana?' batin Lisa yang tercenggang malam-malam. Ia tidak mengerti maksud suaminya itu.


"Maksud, Bapak?" Lisa menatap menunggu jawaban.


"Kamu gadis pintar, harusnya paham dengan ucapan saya barusan!" terang Anggara dengan nada gengsi. Harga dirinya terlalu tinggi, tidak mau merendah dan halus sedikit di depan Lisa.


Pria itu kemudian merapikan mejanya dengan sekedarnya. Lalu pergi ke kamar mandi.


Lisa yang bingung sendiri, pernyataan Anggara sangat ambigu. Sulit untuk ia artikan. Tanggung jawab yang seperti apa? Ketika ia masih berjibaku dengan pikirannya sendiri. Terdengar langkah Anggara yang mendekat, pria itu habis membasuh wajahnya. Terlihat segar, padahal mau tidur.


Anggara melepaskan sendal yang ia kenakan, kemudian naik ke ranjang. Matanya menatap Tiara yang tidur di tengah-tengah, diusapnya lembut pipi Tiara.


"Kamu tidak tidur?" tanya Anggara dengan masih fokus pada bayinya itu.


"Boleh saya tidur di luar malam ini?" Lisa masih kekeh tidur di kamar lain. Anggara jadi sebal sendiri, ia menghela napas panjang kemudian menoleh pada Lisa.


"Apa saya harus menjabarkan dengan jelas? Ketika saya bilang akan tanggung jawab, harusnya kamu paham!" ujar Anggara marah. Marah karena harus mengakui secara tidak langsung bahwa ia butuh gadis tersebut.


"Bapak memang harus menjelaskan dengan jelas agar saya paham. Tanggung jawab bagaimana yang Bapak maksud?" Lisa mendongak, menatap suaminya. Biasanya ia hanya menundukkan wajahnya dalam-dalam ketika Anggara sedang marah atau terlihat emosional.


Anggara pun terhenyak, tumben Lisa bicara dengan nada tinggi. Apa karena mereka sudah melakukan itu, Lisa jadi mulai berani? Anggara pun mendesis kesal.


"Kenapa kamu marah sama saya?" Anggara yang sudah di atas ranjang langsung turun. Ia menghampiri Lisa yang sudah berdiri dan siap ingin keluar kamar.


"Hanya karena saya miskin, bukan berarti saya gak bisa marah seperti Bapak selama ini!" ujar Lisa tegas.


Anggara mengusap wajahnya dengan kasar. Ia heran, Lisa kenapa berubah.


"Oke! Saya salah! Saya melanggar kontrak kita. Dan ... perlu kamu tahu, saya tidak akan minta maaf. Jadi percuma kalau kamu menunggu saya minta maaf, saya hanya akan tanggung jawab. Dan untuk yang itu, tidak ada kata maaf ... karena saya tidak menyesal!"


Sudah merenggut mahkotanya, tapi tidak menyesal, Lisa mulai terpancing, ia yang selama ini menahan diri, sungguh ingin marah dan teriak pada pria di depannya itu. Tidak peduli pria itu memiliki kuasa.


'Pria egois!' rutuk Lisa menatap kecewa. Setidaknya Anggara harus minta maaf, itu yang ada dalam benaknya.


Lisa membuang muka, tangannya mengepal, sepertinya mau memukul pria yang sombong di depannya itu. Sudah salah, tapi tidak mau minta maaf.


"Saya pikir ... kamu juga menikmatinya," sambung Anggara.


"Jadi jangan pura-pura sebagai korban. Sebenarnya Kita sama-sama menikmati permainan waktu itu," tambah Anggara dengan tatapan remeh.


Lisa yang jengkel langsung menepis tangan Anggara, ia langsung berbalik. Begitu sudah di dekat pintu, ia memutar knop pintu tersebut, tapi malah sudah dikunci. Dasar duda licik, Lisa yang jarang mengumpat langsung berkata-kata kasar dalam hati.


'Sialll!' desis Anggara kesal. Kenapa jatuhnya seperti pemaksaan. Toh Lisa adalah istrinya yang sah.


"Berani keluar dari kamar ini, awas kamu!"


Tap tap tap


Lisa panik dong, Anggara sudah mengancam secara terbuka. Ditambah gelagat mencurigakan pria tersebut. Duda yang satu ini benar-benar membuat Lisa resah.


Baru juga tangannya terulur akan menyentuh Lisa, eh putrinya menangis keras. Kesempatan, Lisa langsung merunduk dan bergegas melihat Tiara.


"Ish!"


Anggara berbalik, dilihatnya Lisa menggendong Tiara.


'Malam ini yang rewel, Tiara!' gumam Lisa dalam hati karena takut pada ayah Tiara. Luka yang sebelumnya saja masih terasa perih. Dan malam ini sepertinya Anggara mau macam-macam lagi.


Anggara yang jengkel, kemudian keluar kamar. Lebih tepatnya menuju balkon di depan kamarnya, sembari menunggu Tiara tidur kembali.


Pria itu memilih bermain dengan asap, entah sudah berapa batang yang dia habiskan. Tidak terasa asbak di sebelahnya sudah hampir penuh. Anggara kemudian menatap arlogi yang masih ia kenakan, sudah larut, Tiara juga sudah tidak terdengar menangis.


Anggara pun beranjak, ia akan masuk lagi ke kamar. Dilihatnya Lisa sudah tidur sambil tangannya di atas kaki Tiara.


'Dia tidur beneran apa pura-pura?' batin Anggara.


Anggara yang mulai hilang wibawanya ketika satu kamar dengan wanita muda seperti Lisa, ia langsung saja membaringkan diri di sebelah Lisa.


'Astaga, tempatnya masih luas, kenapa pak Angga mepet-mepet segala?' batin Lisa yang ternyata belum tidur.


Iseng, atau memang sedang menguji Lisa. Tangan Anggara langsung saja di atas tubuh Lisa. Seolah tidur sambil memeluk istrinya tersebut.


"Saya tahu kamu belum tidur!" celetuk Anggara saat merasakan napas Lisa yang memburu. Pria itu kemudian membalik tubuh Lisa, hingga wanita muda itu kini menghadap padanya.


"Buka matamu," pinta Anggara.


Lisa masih bertahan, masih pura-pura tidur.


'Anak ini!' ucap Anggara dalam hati ketika melihat Lisa yang pura-pura tidur.


'Saya buat basah, baru tahu rasa!' Anggara menatap dengan seringai jahat.


'Pria mesyumm!' batin Lisa ketika Anggara langsung menyentuh dan memainkan sesuatu yang bukan mainan tersebut. Sesuatu yang biasanya untuk ASI.


Reflek, Lisa menggeliat. Ia kemudian memegang tangan Anggara untuk berhenti. Melihat Lisa yang memang pura-pura, Anggara tersenyum remeh.


"Bahkan punyamu sudah tegang," cetus Anggara tersenyum mengejek.


Muka Lisa sudah merah, marah campur malu. Memang sih, Anggara paling bisa membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Sentuhan pria itu cukup membuat Lisa resah dan gelisah. Apalagi Anggara adalah pria pertama yang melihatnya polos, dan pria pertama yang berani menyentuh semua bagian tubuhnya.


Karena sangat malu, Lisa mau pindah saja, tapi tangan Anggara malah langsung melingkar kuat di pinggangnya.


"Mau ke mana? Tidurlah!" bisik Anggara kemudian menutup matanya.


Lisa terus saja bergerak-gerak, mungkin tidak nyaman. Tidur dalam pelukan suami kontraknya itu.


"Lisa ... kamu tidak bisa diam? Jangan sampai membuat bangun yang ada di bawah sana. Jika tidak, kamu akan kesakitan sepertinya sebelumnya."


GLEK


Lisa langsung diam, tidak berani bergetar. Tapi itu membuat Anggara merasa aneh.


"Bagus ... jadilah gadis penurut. Saya lebih suka."


Sesaat kemudian


"Bapak, enggap ... saya mau pindah ke sebelah sana!" pinta Lisa.


"Buka baju saja kalau enggap!" jawab Anggara. Meskipun sudah memejamkan mata, nyatanya dia tidak bisa tidur juga.


Lisa menghela napas panjang, kemudian mencoba melonggarkan pelukan pria tersebut. Syukurlah, Anggara melepaskan tangannya. Lisa bisa menghirup udara lebih banyak. Namun, itu hanya sebentar. Lisa kembali panik ketika Anggara kembali merapat. Tanpa memeluk, karena tangan pria itu malah sibuk merayap.


'Astaga, apa dia tidak mengantuk?'


Bagaimana bisa tidur atau merasa kantuk, ketika tidur bersebelahan dengan wanita muda yang masih ranum.


"Pak!" sentak Lisa.


Lisa panik karena Anggara malah menyibak pakaiannya. Lama-lama Anggara gerah sendiri. Pria itu lantas melepaskan jam tangan, dan melempar pakaian yang ia kenakan.


Lisa beringsut, tapi Anggara semakin merapat. Jari-jari pria itu lepas kendali. Mencengkram dengan gemas, kemudian melepas paksa baju Lisa, hingga kancingnya terlepas. Lisa menahan napasnya, ketika Anggara mendesak dan menyesap dengan buas dan penuh tenaga. Hingga terasa perih dan kebas. Ia ingin mendorong kepala itu, tapi Anggara mencengkram pundaknya kuat. Tidak membiarkan Lisa lolos.


"Pak ... nanti Tiara bangun," ucap Lisa lirih.


Lisa yang tidak bisa menolak pesona mantan duda yang memulai pemanasan dengan ganas itu, hanya bisa pasrah.


Anggara menarik diri, kemudian langsung membopong tubuh Lisa. Meletakkan tubuh Lisa di sofa. Anggara yang masih mengenakan celana pendek, kemudian melepaskan celana tersebut, membuat Lisa bergidik. Karena ada sesuatu yang menyembul seolah menantang. Napas keduanya semakin memburu, ketika Anggara juga melepaskan semua yang ada pada diri Lisa.


Jakun Anggara naik turun ketika melihat milik istrinya. Apalagi saat jarinya mulai merayap kembali, Anggara bisa merasakan istrinya sudah basah.


'Anak nakal! Dia menolak dengan keras, tapi tubuhnya tidak bisa menipu.'


Anggara langsung menyerang pada titik paling sensitive tersebut. Berhasil, Lisa langsung menggeliat kuat tatkala Anggara menyesapp dengan bibirnya.


"Pak ... Lisa ga tahan! Cukup!"


Lisa mencengkram kepala suaminya, pria itu terus saja mengeksplore Lisa sampai tubuh Lisa lemas. Entah apa yang merasuki Anggara, mungkin lama tidak melakukan ini, ia begitu antusias, terlalu bergeloraa. Sampai membuat Lisa tidak berdaya.


"Bagaimana bisa aku minta maaf, jika kita sama-sama menikmati permainan ini?" gumam Anggara kemudian kembali menyesap.


"Pak ... Lisa mau pipisss," ujar Lisa lirih.


Anggara langsung mundur, ia kemudian melepaskan perisai terakhirnya. Sudah terlihat sangat keras, otot-ototnya pun terlihat jelas. Karena sudah di ubun-ubun, Anggara langsung saja mengarahkan benda itu ke tempat yang seharusnya.


Jrush ...


Sekali tembakk langsung masuk. Ya, mungkin karena sudah tidak gadis lagi. Ditambah Anggara tadi sudah membuat Lisa kehujanan, sampai basah kuyup.


Anggara memperhatikan wajah Lisa yang menahan sakit. Ingin ia tahan untuk memperlambat gerakan, tapi karena rasanya seperti terjepit, Angga pun mempercepat gerakan. Naik turun lebih cepat.


Ia bahkan membiarkan saja Lisa mencengkram lenganku. Apalagi semakin lama, semakin ia ingin meledak.


'Sepertinya aku bukan pria yang setia, maafkan aku.'


Anggara menegang, matanya memejam. Ia seperti menahan sesuatu yang akan keluar.


'Lisa ... aku tidak bisa menjamin kamu tidak hamil!' batin Anggara sambil menahan sesuatu.


Detik berikutnya, Lisa mengigit bibirnya, ketika Anggara menghujam dengan kuat.


....


....


....


BERSAMBUNG