Hot Duda

Hot Duda
Pelakunya



Hot Duda Bagian 37


Oleh Sept


Lisa yang kaget langsung merunduk, gadis itu panik ketika melihat Anggara akan bangun. Cepat-cepat Lisa merosot, dan bersembunyi di balik ranjang. Sudah seperti maling yang takut ketahuan. Lisa takut jika Anggara berpikir yang bukan-bukan terhadapnya. Ini gara-gara Rio, kini Lisa harus senam jantung tengah malam.


"Kenapa pak Angga pakai bangun segala?" rutuk Lisa lirih.


'Kalau dia sampai bangun, bisa gawat!' batin Lisa sembari menahan napas, benar-benar takut ketahuan Anggara yang super jutek tersebut. Akan tetapi, setelah ditunggu beberapa detik kemudian, tidak terdengar apapun. Malah yang terdengar justru dengkuran halus di atas ranjang.


'Syukurlah!'


Lisa merasa beruntung karena Anggara kembali tertidur. Ia membuang napas lega, dan setelah memastikan Anggara tidur dengan nyenyak, ia pun memakaikan celana piyama yang sangat mudah untuk dikenakan.


"Beres!" gumamnya.


Gadis itu lantas mengambil baju kotor Anggara, kemudian meninggalkan kamar pria tersebut, kamar yang seperti tempat uji nyali, membuat jantungnya meletup-letup, berdebar karena was-was.


KLEK


Ia tutup pintu itu pelan-pelan agar tidak membangunkan pria yang masih tertidur di dalamnnya itu.


"Sudah?"


Hampir saja Lisa melempar pakaian kotor Anggara yang ia pegang. Ini karena suara Rio yang tiba-tiba muncul, membuatnya terhenyak dan sangat kaget.


"Astaga Pak Rio!" ucap Lisa memegangi jantungnya yang berdegup dengan kencang.


"Kenapa terkejut seperti itu? Oh ya. Sudah malam. Mobilnya sudah beres. Saya mau pulang. Kamu kuncil pintunya."


Lisa reflek mengangguk, kemudian mengikuti Rio yang berjalan keluar.


"Em ... Pak Rio!" panggil Lisa yang penasaran.


Rio yang sudah akan masuk mobil yang satunya, terpaksa menoleh. Pria itu berbalik menatap Lisa yang sepertinya hendak mengatakan sesuatu.


"Apa? Katakan!" ucap Rio yang menunggu Lisa.


"Itu ... kenapa pak Anggara pulang mabukk? Apa ada masalah?"


Dahi Rio langsung mengkerut, ia lalu berjalan mendekati Lisa.


"Untuk kedepannya, sebaiknya kamu harus hati-hati," ucap Rio penuh arti kemudian memilih meninggalkan Lisa lagi.


Lisa jelas tertegun, sampai mobil yang ditumpangi Rio hilang dari pandangan.


"Apa maksud pak Rio aku harus hati-hati?"


Lisa menggeleng keras, tidak mau pusing memikirkan kata-kata Rio yang membuatnya semakin pusing. Gadis itu pun masuk ke rumah lagi, memilih kembali tidur di kamar bayi.


Masuk ke dalam kamar, ia kaget karena babysitter sedang mengganti popok Tiara.


"Dari mana, Lis?" tanya babysitter Tiara. Jika sebelumnya ia terlihat baik dan ramah, kini ia tampak jutek. Ia belum tahu kalau Lisa sudah menikah dengan Anggara, babysitter itu menganggap Lisa sama kerjanya dengan dirinya.


"Itu ... cari udara segar."


Beberapa saat kemudian, Lisa masuk ke kamar bayi sambil membawa termos berisi air panas. Dilihatnya Tiara masih terjaga, sedangkan sang babysitter malah sudah ngorok. Alhasil, Lisa membawa Tiara ke sisi yang lain, kemudian berbaring di samping baby yang munggil tersebut.


"Kenapa gak bobo? Bobo yuk ... cantik," bisik Lisa kemudian mengusap lembut kepala Tiara. Sambil tangan Lisa menepuk pelan punggung bayi tersebut, sampai akhirnya keduanya sama-sama terlelap.


***


Pagi hari.


Suasana rumah masih tampak sepi, yang terdengar hanya suara bibi di dapur. Sedangkan Lisa, gadis itu sedang mandi. Tiara masih tidur, sempat bangun sebentar karena haus. Kemudian kembali tidur.


"Seger banget!" ucap Lisa sambil mengusap wajahnya dengan handuk.


Ia baru selesai mandi, sekarang gantian mandiin Tiara, baby kecilnya yang mengemaskan. Dalam tidurnya, bayi kecil itu tersenyum. Entah mimpi apa, yang jelas Lisa ikut tersenyum ketika menatap bibir Tiara yang bergerak-gerak karena tersenyum.


"Kenapa kamu manis sekali, cantik ... tidak sama seperti ...," gumam Lisa lirih kemudian terpotong karena babysitter datang.


"Sudah mandi, Lis?"


"Eh, iya."


"Beresin kamar, ya? Aku mau gantian mandi."


"Iya."


Lisa menurut, dia tidak pernah membantah. Selagi babysitter Tiara membersihkan diri, Lisa membereskan ruangan. Semua beres, bahkan Lisa sendiri yang menyiapkan mandi dan mendadani Tiara, sampai wangi dan bersih.


"Siapa yang nyuruh mandiin Tiara? Dia mau caper sepertinya!" gumam babysitter yang mulai terlihat tidak suka.


"Apa dia mau menarik hati tuan Anggara, idih ... apa dia gak sadar, mau saingan sama nona Jessica yang jauh lebih menawan. Kok aku ngerasa dia sok dekat, sok akrab, sok-sokan ... nyaman banget dia di sini, merasa Tiara sepertinya bayinya ... idih! Pasti mau merayu pak Anggara!" gerutu babysitter baru yang belum tahu kalau Lisa ini istrinya bos.


Sementara itu, di ruang tamu.


Anggara sudah duduk memangku tablett sambil minum kopi, dan ketika Rio datang, Anggara langsung bertanya. Ia bicara to the point, sebab saat bangun tadi ia memikirkan sesuatu yang mengganjal.


"Semalam kita pulang jam berapa?"


"Cukup larut, Pak."


Anggara manggut-manggut.


"Terakhir yang aku ingat, aku masih memakai kemeja. Apa kamu yang ...?"


Belum selesai bertanya, Rio langsung menggeleng kepala. Membuat kening Anggara menggerut.


'Tidak mungkin Lisa! Awas jika kau menyuruh Lisa melakukannya!' ancam Anggara dalam hati.


BERSAMBUNG


Fb Sept September


IG Sept_September2020


Agak selowww ya, banyak acara tujuh belas agustus. Hehehehe ... Merdeka!