Hot Duda

Hot Duda
Kenangan Pahit



Hot Duda Bagian 22


Oleh Sept


"Pak, saya mau lihat Tiara."


Lisa yang gelisah satu kamar dengan Anggara, ia pun mencari alasan untuk keluar segera dari sana. Meskipun Anggara langsung menatapnya galak.


"Tetap diam! Atau gaji kamu aku potong!" ancam pria yang baru pulang kerja tersebut. Ingin menghilangkan penat selama kerja seharian, pulang ke rumah malah ada wanita yang terus mengejar tanpa malu. Ini gara-gara nyonya Claudia, wanita itu sangat mendukung penuh Jessica. Membuat Anggara merasa kesal.


"Em ... nanti Tiara bangun, Pak."


Lisa yang tidak nyaman, mencoba kembali mencari cela agar bisa keluar. Dan Anggara yang tengah gusar, berjalan ke meja. Ia mengambil telpon. Menelpon rumahnya sendiri, kemudian suara bibi terdengar di ujung telpon.


"Periksa Tiara, dan lihat ... apa Jessica sudah pergi?" tanya Anggara di balik telpon.


"Sudah, Tuan. Baru saja non Jessi pergi. Sepertinya marah sekali, karena sempat menendang vas bungga di teras."


Sebuah senyum mencuat di wajah Anggara, ia terlihat sangat puas. Sepertinya ia berhasil membuat Jessica menjauh karena Lisa. Dalam hati ia tersenyum punuh kepuasan. Setidaknya ia tidak salah memilih Lisa untuk menjadi tamengnya.


"Kau boleh keluar sekarang!" ujarnya dingin seperti biasanya.


Tidak butuh perintah kedua, gadis itu buru-buru pergi ke arah pintu. Satu kamar dengan seorang duda, cukup membuatnya khawatir.


KLEK


Setelah memutar knop pintu, Lisa buru-buru ke kamar bayi.


"Ya ampun, hampir saja jantungku copot!" gumam Lisa yang kini masuk ke kamar Tiara.


Saat masuk, di dalam sudah ada bibi. Wanita paruh baya itu langsung bicara pada Lisa.


"Lis, tadi nona Jessica marah sekali. Ngeri!" ucap bibi art di rumah Anggara.


"Oh, iya ... dia suka marah-marah, Bik. Sama seperti pak Angga."


"Husst! Jangan begitu. Nanti orangnya dengar. Eh ... tapi pak Angga dulu orangnya tidak begitu."


Lisa penasaran, sembari mengeryitkan dahi ia pun mulai bertanya, sudah mulai kepo.


"Memangnya pak Anggara bagaimana Bik saat dulu?"


"Baik, sangat baik. Tidak pernah marah-marah seperti sekarang. Pak Angga dulu tidak seperti saat ini. Sejak non Dinda sakit dan koma, lalu meninggal, pak Angga banyak berubah."


Lisa hanya manggut-manggut mengerti, karena dari gosip yang beredar di kantor dulu memang kurang lebih sama seperti apa yang dikatakan oleh bibi. Anggara menjadi dinging, arrogant, kasar, suka marah-marah semenjak ditimpa masalah keluarganya yang berat. Duda satu anak itu kini seperti kulkas 2 pintu, dingin dan tidak tersentuh.


***


Malam harinya.


Lisa langsung mengunci pintu meskipun baru jam 8 malam. Ia tidak mau kecolongan lagi. Pokoknya habis makan malam, ia langsung ke kamar dan mengunci pintunya.


Dilihatnya Tiara sudah terlelap, ada guling besar yang mengapit bayi munggil itu. Sedangkan Tiara, ia duduk di tepi ranjang, sembari memperhatikan Tiara dalam-dalam.


"Nyenyak sekali ... tidur yang nyenyak ya."


Dengan lembut, ia puk-puk kaki Tiara yang amat kecil tersebut.


Tidak berapa lama kemudian, ada yang mengetuk pintu. Lisa langsung panik, ia pikir yang mengetuk adalah Anggara, si tuan rumah.


"Aduh!"


"Lis ... Lisa!"


Lisa merasa lega, karena itu adalah suara bibi.


"Iya, Bi!" sahut Lisa. Ia menutup mulutnya dengan tangan karena suaranya terlalu keras. Takut baby Tiara terbangun. Perlahan ia membuka pintu dan menemui bibi.


"Ada apa, Bi?"


"Tuan belum makan malam, Bibi magnya kambuh. Nanti kalau tuan minta makan, kamu siapin ya? Bibi mau minum obat terus tidur."


Lisa menelan ludah. "Em ... iya, Bik."


"Ya sudah, makasih loh, Lis."


Lisa mengangguk pelan, dalam hati tapi ketar-ketir. Jujur, setelah kejadian tidur satu ranjang, Lisa kok khawatir sendiri. Dia takut dengan pria berstatus duda baru tersebut.


***


Jam 9 malam, Lisa melirik terus jam di dinding. Dan akhirnya ia mendengar suara Anggara yang mencari bibi.


"Bi ... Bibi."


Tap tap tap


"Iya, Pak. Bibi lagi sakit, gak enak badan. Pak Angga mau makan malam? Saya siapkan," tawar Lisa. Anggara melirik Lisa sekilas dari atas sampai bawah.


"Siapkan makan," ucapnya lalu kembali ke kamar.


"Baik, Pak."


Lisa buru-buru ke dapur, memanaskan dan menyiapkan makanan apa saja yang harus dimakan oleh tuannya. Tapi ia bingung, belum tahu selera Anggara. Ia pun memanaskan semuanya yang ada di kulkas.


***


"Pak, makan malamnya sudah siap."


Sesaat kemudian, Anggara keluar. Pria itu mengenakan pakaian santai dengan celana kain pendek di bawah lutut. Duda tampan itu masih terlihat menawan seperti biasanya meskipun tidak memakai setelan jas rapi. Pakai apa saja, Anggara tetap terlihat tampan.


Begitu duduk di meja makan, mata Anggara langsung memindai seluruh hidangan di atas meja. Wajah Anggara langsung tidak berselera.


Bukannya duduk untuk makan, Anggara malah memilih berbalik pergi.


'Loh?'


"Pak Angga tidak jadi makan?"


"Saya gak lapar!" celetuknya pergi.


'Lah? Tadi minta makan?' batin Lisa.


"Mau saya bikinkan sesuatu?"


Anggara mengacungkan tangannya, melambaikan tangan ke arah Lisa.


"Tidak usah!"


"Mau mie? Telor ceplok? Mata sapi?" tawar Lisa.


Anggara berhenti sejenak, kemudian kembali berjalan tanpa bicara apapun. Pria itu lapar, tapi melihat menu makanan, mendadak jadi kenyang. Ia sudah kehilangan napsuuu makannya.


***


Pagi hari, Tiara sedang berjemur di halaman rumah. Anggara yang baru bangun, ia melihat lewat jendela kamarnya. Dilihatnya Lisa dan artnya sedang berdiri di depan stroller Tiara.


Ia menghela napas panjang, kemudian duduk sambil mengusap wajahnya.


"Kenapa semakin hari semakin berat?" gumamnya yang menatap foto besar yang ada di tembok kamarnya. Wajah Dinda membuatnya sakit. Luka akibat kehilangan semakin dalam ketika ia melihat Tiara.


Ini adalah weekend, seharian ia akan di rumah saja. Itu artinya ia akan melihat Tiara sepanjang hari. Entah mengapa, ada rasa sesak ketika ia menatap putri kecilnya itu. Ada rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


***


Di dapur.


Lisa menghampiri bibi sambil menggendong Tiara.


"Bik, tadi malam pak Angga belum makan. Lisa gak tahu dia suka apa, sepertinya dia tidak suka menu semalam."


"Bukan gak suka!" potong bibi cepat.


"Lalu? Kenapa tidak dimakan?"


"Sejak non Dinda sakit, tuan memang jarang makan."


Lisa tambah bengong.


"Apalagi sekarang? Bibi malah khawatir, tuan nanti jatuh sakit," ucap bibi khawatir.


Lisa ikut prihatin, kemudian mengusap pipi tiara yang anteng dalam gendongannya. Mungki Lisa kasihan pada bapak dan anak tersebut.


"Eh, itu tuan keluar dari kamar. Sebentar, bibi siapkan sarapan buat tuan."


"Iya, Bik," Lisa pun minggir. Kemudian keluar rumah lagi. Ia akan jalan-jalan ke taman, mencari udara segar karena bosan di dalam rumah.


"Tiara ... Kita jalan-jalan lagi, ya?" ucap Lisa pada bayi kecil tersebut.


"Mau ke mana? Jangan terlalu kena angin! Dia masih bayi!" celetuk Anggara yang tiba-tiba muncul. Meksipun terlihat cuek, sepertinya Anggara ini perhatian pada baby kecil Tiara.


"Cuma di halaman, Pak."


"Tadi sudah!"


'Kok tahu? Apa pak Anggara diam-diam memperhatikan kami?' batin Lisa.


"Iya, Pak." Lisa tidak jadi keluar, karena bapak si bayi melarangnya.


Ketika Anggara sedang sarapan, Tiara mulai menangis keras. Sebenarnya ia mau cuek, tapi lama-lama tidak tahan karena tangis Tiara semakin kencang. Anggara lantas meninggalkan meja makan dan ke kamar bayi.


"Kenapa dia menangis!"


Lisa menoleh, Anggara sudah berdiri di belakangnya.


"Tidak tahu, Pak. Tadi baik-baik saja. Ini kok menangis keras."


Anggara mencoba mendekat, ia amati anaknya tersebut. Detik berikutnya dua orang itu dibuat panik seketika. Terutama Anggara, ia sangat panik. Seperti takut kehilangan lagi orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


BERSAMBUNG


Fb Sept September


IG Sept_September2020


Untuk pemenang GA, tunggu ya. Hadiah meluncur besok. Hari ini repot banget. Terima kasih.