Hot Duda

Hot Duda
Suamiku Tergoda PELAKOR



Suamiku Tergoda PELAKOR Bagian 1


Oleh Sept


Namaku Dela, Adelia Kusuma Wardani lengkapnya, aku berusia 33 tahun di tahun ini. Aku seorang IRT dan sudah memiliki dua anak yang lucu-lucu. Yang pertama kelas 1 SD, laki-laki yang ganteng seperti papanya, yang nomor dua masih 3 tahun, cantik, putih, bersih, dan mengemaskan.


Setelah menikah beberapa tahun silam, aku memang langsung resign dari tempatku bekerja. Karena ingin fokus mengurus suami dan anak-anakku nanti. Tahun pertama pernikahan tidak mudah, karena beberapa bulan setelah menikah, aku mengalami pendarahan sampai harus dilarikan ke rumah sakit.


Ya, aku kehilangan calon anakku. Jangan tanya bagaimana hatiku saat itu. Hancur tidak berbentuk, duniaku terasa gelap. Aku tidak punya semangat lagi. Janin itu membuatku terpuruk sampai aku drop dan larut dalam kesedihan.


Beruntung aku memiliki suami yang sangat pengertian. Namanya Irwansyah, usianya sama sepertiku. Dan kami memang teman sekolah saat SMA. Bahkan sejak SD, dan SMP, kami satu sekolah, hanya saja tidak pernah satu kelas. Dia sosok laki-laki pendiam, sosok laki-laki yang membuat aku jatuh cinta tanpa berbicara. Lewat tatapan malu-malu saat kami remaja dulu, akhirnya kami memutuskan pacaran.


Kembali ke masa sekarang, cinta pertamaku itu, cinta monyetku, akhirnya berakhir ke pelaminan. Dan kini kami punya dua anak, sebenarnya anak kami 3. Yang pertama harus kembali pada sang pencipta sebelum dilahirkan.


Tapi tidak lama setelah aku mengalami keguguran, hanya beberapa bulan aku hamil lagi. Tuhan masih mempercayai aku untuk hamil anak dari suamiku.


Sampai kelahiran anak pertamaku, semuanya terlihat indah, bahkan kami sering jalan-jalan saat suamiku senggang. Maklum, dia seorang manager yang pasti sangat sibuk sekali.


Dulu waktunya sangat banyak untuk keluarga, setelah naik jabatan, aku mulai merasakan keanehan. Hanya saja, aku tidak mau negatif thinking. Aku tetap percaya pada pria ini, pria yang sudah memintaku dari kedua orang tuaku.


***


Pagi ini suamiku mau dinas ke luar kota, aku menyiapkan pakaiannya. Biasanya dia memang sering meeting ke Bali atau ke kota besar lainnya.


"Mas, kali ini berapa hari?" tanyaku, sebab akan aku perkirakan bawa baju apa saja dan berapa.


"Lima," jawaban sambil berdiri di depan lemari.


"Kok lama, Mas? Biasanya hanya 2 atau 3 hari."


"Banyak pertemuan penting, dan gak dengan satu orang saja," jawabnya.


Aku lantas mengangguk. Kemudian memasukkan baju yang aku setrika ke dalam tas milik suamiku. Beberapa kemeja panjang serta lendek, lalu celana kain dan jeans.


Sesaat kemudian, putriku bangun. Baru bangun langsung menangis, mungkin karena melihat papanya sudah rapi, biasanya merajuk kalau papanya mau ngantor.


Karena aku sedang beres-beres untuk barang yang akan dia bawa, maka mas Irwan pun meraih putriku. Ia gendong putrinya yang memiliki rambut bergelombang dan lucu tersebut.


Sementara sang kakak, dia sedang asik makan karena persiapan mau berangkat sekolah.


"Sini, Mas."


Aku kemudian mengulurkan tangan, aku ambil anakku dari gendongan suamiku, biar dia juga sarapan dulu.


"Ya sudah, aku berangkat," katanya.


"Loh, gak sarapan?" tanyaku.


"Gak usah, nanti terlambat. Kan berangkat bareng tim," ucapnya sambil meraih kunci mobil.


Mobil kecil-kecilan, yang penting tidak kepanasan dan kehujanan.


"Hati-hati, Mas," kataku.


Mas Irwan lantas mengangguk, setelah mengusap kepala anak-anaknya, dia kemudian meninggalkan rumah.


Karena mau mengantarkan anak ke sekolah, aku buru-buru merapikan kamar yang masih berantakan.


Drett ... Drett ...


Ponselku tidak aku silent, lalu HP siapa yang bergetar? Aku mencari sumber suara getaran. Kudapatkan ponsel mas Irwan di bawah bantal.


Ada pesan WA, aku pikir penting. Aku pun membuka kata sandi. Karena itu adalah hari pernikahan kami. Bibirku kemudian membaca tanpa suara.


"Jadi ke Bali? Nanti mampir ke rumah dulu kan? Baby udah nyari dari semalam. Nendang terus dari tadi, kangen ayahnya."


Ada apa ini? Kakiku tiba-tiba lemas.


IG Sept_September2020


Fb Sept September


Selamat datang di ceritaku yang ke 25, semoga terhibur ya.