
Hot Duda Bagian 66
Oleh Sept
"Tolong jaga sikap kamu, aku lebih tua darimu," ucap Lisa kemudian duduk santai pura-pura tidak terjadi apa-apa. Membuat gadis pembully itu panas dan sakit hati.
"Oh My God! Berasa paling tua, elo minta gue hargai? Cuih!"
"Ada dosen!" teriak mahasiswi yang lain. Seketika kelas menjadi senyap. Semua orang duduk di tempat masing-masing.
Mahasiswi yang dikenal trouble maker sejak remaja itu, melirik sinis ke arah Lisa. Memberikan tatapan yang mengancam. Dia semakin menatap tak suka pada Lisa saat dosen mereka menghampiri Lisa. Ia berbisik pada Lisa. Membuat semuanya heran.
Kedekatan Lisa pada sang dosen, membuat semuanya terlihat iri juga. Baru masuk kok sudah diperhatikan secara khusus. Pasti Lisa punya bakingan yang kuat.
***
Sepanjang kuliah berlangsung, Lisa fokus pada mata kuliahnya. Sedangkan yang lain, sibuk gibah di belakangnya. Sampai akhirnya Lisa pulang dijemput oleh sopir. Saat Lisa masuk mobil mewah, semua teman Lisa yang julid pada membicarakan Lisa.
"Pasti simpenan pejabat."
"Bener, paling juga istri siri mentri."
"Kalian sok tau, tapi sepertinya emang bener sih."
Semua komentar julid menemani kepergian Lisa. Sedangkan yang dibicarakan, malah sedang vcall, meskipun sedang di dalam mobil.
"Sudah pulang?" tanya Anggara di layar.
"Ini masih di jalan."
"Bagaimana hari ini?"
Lisa tersenyum hambar, tapi mencoba pura-pura baik-baik saja. "Lumayan."
"Oh, ya sudah. Aku tutup telponnya, ini ada tamu."
"Iya."
Mika menggenggam posnelnya, ponsel baru yang diberikan Anggara beberapa hari lalu. Padahal ponselnya masih bagus, tapi Anggara malah membelikan model terbaru.
Tidak terasa, setelah melewati gedung-gedung tinggi, akhirnya Lisa sampai juga di rumah. Hal yang ia lakukan adalah cuci tangan, cuci kaki kemudian langsung mencari Tiara. Belum makan, Lisa langsung mengajak anak sambungnya itu.
"Tiaraaa."
Ia uyel-uyel pipi Tiara yang sudah gemuk tersebut, apalagi Tiara kalau diajak ngomong kadang merespon dengan senyum. Membuat Lisa senang.
Sementara itu, sang babysitter memperhatikan dengan pandangan tidak suka.
'Kalau pak Anggara miskin, dia pasti gak sayang sama anaknya. Pasti juga ngincar duit pang Anggara,' batin babysitter yang sewot karena melihat Tiara anteng digendong Lisa. padahal hari ini Tiara cukup rewel karena habis imunisasi.
Lisa yang lelah habis pulang sekolah, ia malah ketiduran di kamar Tiara, sampai sore tiba ia baru bangun, dan terkejut karena sudah berbaring di kamar Anggara. Ia menoleh, ada jas Anggara yang tergeletak di atas kursi.
"Kok aku di sini?"
Lisa kemudian turun dari ranjang, tapi tiba-tiba pintu terbuka.
KLEK
"Sudah bangun? Pules banget tidurnya."
"Mas. Sudah pulang?" tanya Lisa gugup. Ia masih merasa canggung kalau dekat Anggara.
"Sudah, satu jam yang lalu. Kamu kelihatan capek banget, memangnya ngapain aja di kampus?" Anggara sudah seperti wartawan yang sedang mengorek info dari narasumbernya.
Lisa menggeleng keras. "Cuma belajar."
"Tapi kok kelihatan capek banget, aku angkat dari kamar Tiara sampai ke sini, kamu malah gak bangun sama sekali."
"Mungkin terlalu ngantuk," jawab Lisa.
"Perasaan semalam kamu sudah tidur cukup. Kita bahkan absen kan, kok masih ngantuk?"
"Mungkin Lisa kurang olah raga, Mas. Bawaanya ngantuk."
"Oh, ya sudah. Mulai besok kita jogging ya?"
Lisa mengangguk. Kemudian akan mandi, karena tubuhnya gerah, meskipun AC selalu menyala.
"Mandi air hangat saja, Lisa. Biar tubuhnya seger."
"Iya."
Lisa pun berendam air hangat di dalam bathtub. Tidak lupa ia nyalakan lilin aroma therapy. Biar tambah rileks. Namun, lama-lama kok ia merasa ngantuk. Wah, gak beres ini, sepertinya ia harus konsumsi penambah darah. Mungkin dia mulai diserang anemia.
Hoammm ...
Lisa menguap, lagi dan lagi.
"Apa bikin kopi aja, ya?" gumam Lisa kemudian mulai mandi.
Beberapa saat kemudian.
"Lisa ... Lisa!" panggil Anggara yang tidak mendapati istrinya di dalam kamar.
Tap tap tap
Bibi mendekat, "Nona Lisa ada di dapur, Tuan."
"Oh, ya."
Anggara langsung menyusul, dilihatnya Lisa sedang membuka kulkas dan menyolek kue di dalam kulkas. Membuat senyum Anggara menggembang. Pria itu kemudian mendekat. Dilihatnya Lisa mengambil potongan buah dari Tupperwareee, beberapa kali Lisa makan buah tersebut, dengan ekspresi wajah senang.
'Kenapa dia seperti gak pernah makan?' gumam Anggara dalam hati, kemudian memeluk Lisa dari belakang.
"Aduh ...!" Lisa jelas kaget dan melonjak.
Sedangkan Anggara, tidak kenal tempat, merangsek saja tidak malu sama sekali.
"Mas nanti dilihat orang."
"Ya sudah. Ayo ke kamar kalau begitu." Anggara pun membopong tubuh Lisa. Kemudian masuk kamar, dan menutup daun pintu dengan sekali tendangan.
Anggara yang sudah ketagihan, sudah bucin parah, langsung melepaskan piyama yang ia kenakan. Kini tinggal melepaskan segitiga terakhir.
"Mas ..."
"Ya," jawab Anggara yang kini fokus melepaskan kancing piyama lawan.
"Kenapa?" tanya Anggara yang melihat Lisa diam saja.
"Gak apa-apa, gak jadi."
Blakkk ...
Semua sudah berserakan di lantai, mereka berdua hanya memakai pelindung terakhir.
"Kok kelihatan lebih besar, ya?" ucap Anggara tanpa basa-basi saat memegang bola-bola salju.
Lisa hanya diam, sambil mengigit bibirnya. Selain geli, enak, sebenarnya dia kepikiran sesuatu.
"Kamu kasih apa, Lisa?"
"Kasih apa, Mas?" tanpa Lisa polos. Membuat Anggara gemas dan langsung mengigit ujungnya. Seketika Lisa menjelma jadi belut sawah.
"Mas!"
"Gemas, Sayang!" bisik Anggara penuh hawa nafsug.
"Geli, jangan digit. Sakit."
"Kalau begini sakit, gak?"
Lisa langsung merem. Ia memejamkan mata menahan sesuatu.
"Mas."
"Ya."
"Emmm."
"Kenapa lagi."
"Itu ...."
"Itu apa?" Anggara langsung duduk, melepaskan Lisa sesaat. Ingin mendengar kata-kata istrinya itu.
Ditatap serius, Lisa malah grogi. "Gak jadi. Ayo ... lanjut Mas."
Anggara hanya bisa geleng-geleng kepala. "Apa sih kamu ini, Lisa?"
Anggara langsung mencubit hidung Lisa, kemudian memeluknya hangat.
"Beneran loh, tambah gede!" goda Anggara yang mulai jahil. Malu, Lisa langsung mendorong tubuh suaminya.
"Lihat pipimu, sudah seperti tomat."
Lisa membuang muka, tanpa sengaja matanya malah menatap pigura pernikahan Anggara dan Adinda.
Lisa yang tadi baik-baik saja, tiba-tiba wajahnya menjadi berbeda. Ronanya berubah menjadi pucat dan lemas.
Anggara yang menyadari itu, ikut menatap apa yang dilihat Lisa, istrinya.
"Lihat apa?"
Lisa menggeleng.
"Apa kamu terganggu dengan poto itu?"
Lisa langsung menggeleng keras, "Nggak, Mas!" jawabnya penuh kebohongan.
"Maaf ya, aku sibuk sampai tidak memikirkan hal itu. Apa perlu kita menggantinya dengan poto kita? Itu biar di letakkan di kamar Tiara," ucap Anggara. Selain tambah bucin, rupanya Anggara juga tambah peka.
"Tidak, tidak apa-apa. Fotonya bagus."
"Benarkah? Kamu tidak cemburu?"
Lisa mencoba tersenyum meski pahit. "Kenapa harus cemburu pada mereka yang sudah tidak ada di dunia ini? Dan lagi, beliau adalah ibu kandung Tiara."
"Tidak salah kamu kuliah lagi, jadi tambah bijak," ledek Anggara.
Lisa yang tadi tegang, langsung mencair karena candaan suaminya.
"Kenapa jadi malah ngobrol? Ini isinya sudah penuh, harus dikeluarkan."
Mata Lisa melotot, dan Anggara terkekeh. Pria itu langsung saja membuka kaki Lisa lebar.
Emmm ...
Lisa mencengkram rambut suaminya, ia tidak tahan ketika lidah Anggara masuk, rasanya ingin ke kamar mandi untuk pipisss.
"Mas ... cukup. Gak tahan, geli."
"Sudah basah gini, kamu mikir apa Lisa ... apa kangen sama ini?"
Mika langsung terkekeh, ia tersenyum lepas saat Anggara seperti anak kecil yang tidak punya malu.
"Kenapa tertawa, oh ... tunggu ya. Sampai kamu tidak bisa berkata-kata."
Lisa menggeleng keras ketika Anggara kembali mengerjai area rawannya.
"Masss!"
***
Pagi hari, setelah malam penuh keringat dan basah-basahan. Anggara terbangun kemudian tangannya merayap di sebelahnya, kosong. Tidak ada orang di sampingnya.
"Lisa ... Lisa."
Terdengar suara gemricik air.
"Apa sedang mandi? Rajin sekali, masih pagi sekali," gumam Anggara kemudian mengetuk pintu.
"Buka pintunya, Lisa!"
Tok tok tok
"Lisa."
Tidak ada sahutan, Anggara pun memutar knop pintu.
KLEK
Ia berjalan ke bathtub, dilihatnya Lisa sudah tergeletak di tepi bathtub yang penuh dengan air sampai tumpah.
Panik, ia langsung mengangkat tubuh Lisa lalu bersambung.
IG Sept_September2020
Fb Sept September