Hot Duda

Hot Duda
Manusia Es



Hot Duda Bagian 51


Oleh Sept


Lisa masih saja terisak, membuat Anggara menjadi kebingungan. Namun, perlahan pria tersebut tersadar. Dia sudah mengambil mahkota gadis itu. Dia yang pertama, dia yang sudah berhasil merobek selaput darah perawann sang istri. Lalu mengapa menangis? Apa Lisa menyesal sudah hilang mahkotanya di tangan Anggara?


"Apa kamu menyesal?"


Anggara bertanya dengan suara pelan, tapi terdengar jelas di telinga Lisa.


"Ya ... saya menyesal. Mengapa saya tidak menolak permintaan Bapak tadi. Ini hanya pernikahan sementara, tidak seharusnya hal seperti ini terjadi pada kita. Saya bukan budakk naf suh Bapak," jawab Lisa lirih dengan suaranya yang mulai serak.


Anggara malah tersenyum kecut. Dilihatnya Lisa yang masih tidak menegangkan apapun. Dan itu cukup membuatnya terusik.


"Lalu kamu mau bagaimana? Mau jadi ibu Tiara? Mau tinggal di sini selamanya?" tanya Anggara dengan nada tidak enak didengar.


Pertanyaan itu sebenarnya wajar, tapi terasa sakit ketika didengar dan dirasakan oleh Lisa. Seolah ia rela menyerahkan semua miliknya asal Anggara menjadikan dia istri yang sesungguhnya.


"Saya memang butuh uang, tapi saja tidak menjual diri," bantah Lisa.


"Lalu apa bedanya kamu datang padaku lalu meminta uang?" Tidak mau kalah, meski nadanya rendah tapi kata-kata Anggara terkesan menusukk jantung Lisa secara perlahan tapi pasti terasa menyakitkan.


Terlalu lama sendiri, membuatnya jadi sosok pria yang tidak perhatian dan peka. Atau mungkin takut kehilangan kembali, ia tidak mau terlalu jauh main perasaan. Karena sakit akibat kehilangan cukup membuatnya hampir gilaa. Biarlah hubungan dengan Lisa mengalir apa adanya, atau sebuah hubungan sebatas pelampiasan semata.


Sakit hati, selalu dituduh melakukan apapun demi uang, meskipun itu benar adanya, Lisa pun turun dari ranjang. Dengan perasaan yang hancur serta kalut, ia meraih sisa-sisa pakaiannya yang tercacar. Memakainya kembali, kemudian meminta Anggara membuka pintunya tanpa menatap wajah pria tersebut.


"Tolong buka pintunya."


Anggara menghela napas panjang, permainan yang panas barusan berakhir dingin dan hambar. Ia kemudian ikut turun, lalu meraih handuk. Melilitkan lagi handuk untuk menutupi tubuhnya.


KLEK


Anggara pun membuka pintu dengan kunci yang tadi ia sembunyikan. Dia pun membiarkan Lisa keluar kamarnya dengan kondisi tidak baik-baik saja. Ya, rambut gadis itu bahkan masih berantakan, belum lagi pakaian yang lusuh serta jalannya yang aneh.


"Siallll!"


Setelah Lisa keluar dari kamarnya, Anggara pergi ke kamar mandi. Membasahi tubuhnya kemudian mengumpat diri sendiri.


"Apa yang sudah kau lakukan!"


Ia meninju tembok yang keras di depannya. Kemudian membiarkan air membasahi seluruh tubuhnya. Ada kegalauan yang tergambar jelas, pria itu dilema. Ingin memulai hubungan yang baru tapi takut pada bayangan. Takut jika ia akan menderita kembali setelah benar-benar mencintai. Sebenarnya Lisa gadis yang baik, dia bahkan terlihat tulus pada putrinya. Entahlah, apa yang membuat Anggara sangat ragu dan tidak bisa mengambil sikap tegas di depan sang istri tersebut. Mungkin butuh waktu, butuh waktu agar batu es di dalam hatinya mencair.


***


Selesai mandi, ia kemudian memakai baju rapi sepertinya akan ke kantor. Namun, saat akan meninggalkan kamar, matanya menatap ranjang. Matanya tertegun menatap bercak darah di anas kain seprai. Kakinya kemudian mendekat, kemudian mengambil seprai itu. Memasukkan sendiri ke dalam keranjang kotor. Setelah melakukan hal itu, ia pergi memeriksa Tiara. Atau lebih tepatnya ingin melihat kondisi gadis pemilik bercak tersebut.


Kamar bayi, hanya ada Tiara dan babysitter.


"Loh ... Non Lisa tidak bilang? Tadi pergi membawa tas, Tuan."


Jelas Anggara panik. "Apa sudah lama?"


"Baru beberapa menit yang lalu tuan."


Anggara langsung berbalik, ia berlari cepat menuju halaman. Di halaman rumah tidak ada siapa-siapa, yakin Lisa masih bisa dikejar, Anggara langsung masuk mobil yang masih dibersihkan oleh sopir.


Buru-buru ia keluar dari gerbang rumahnya, dan setelah mengendara sebentar, ada sosok wanita muda yang berjalan sambil membawa tas di ujung jalan. Anggara menghela napas lega kemudian menghentikan mobilnya. Ia menginjak pedal rem kemudian bergegas turun dari mobilnya yang ia parkir sembarangan tersebut.


"Kau mau ke mana?" sentak Anggara sembari menyambar tas milik Lisa.


"Berikan tas saya, Pak!" Lisa meminta tasnya kembali.


"Kenapa kamu kabur dari rumah saya?"


"Saya tidak mau melanjutkan perjanjian pernikahan itu lagi, Pak."


Anggara kembali menghela napas panjang, kemudian mencari cara agar Lisa kembali.


"Kamu yakin akan pergi sekarang? Tidak kah kamu membaca perjanjian dengan jelas?"


Lisa kemudian mendongak, ia ingat, jika pihak ke dua membatalkan perjanjian maka Lisa harus mengembalikan uang 2 kali lipat. Belum lagi tuntutan penipuan. Tubuhnya yang memang masih lemah tambah jadi lemas.


Melihat hal itu, Anggara kemudian menarik lengan Lisa. Ia yakin sudah membuat Lisa tidak berkutik karena perjanjian itu.


"Masuk mobil!" titah Anggara.


Lisa yang tidak bisa melakukan apapun, mau cari ganti rugi dari mana? Perawatan rumah sakit sangat mahal. Mau cari uang dari mana lagi, sepertinya ia benar-benar menemui jalan buntu sekarang. Hingga membuat ia ikut masuk mobil bersama Anggara.


***


Keduanya kembali ke kediaman Anggara. Kini Lisa dibawa masuk ke dalam kamar pria tersebut. Lisa sudah ngeri, takut akan di apa-apakan lagi oleh suaminya.


"Jangan pernah kabur lagi."


Lisa menatap dengan pasrah.


"Dan ... pindah barang-barangmu ke kamar ini. Mulai nanti malam kamu tidur di sini."


DEG


BERSAMBUNG


Hemm ... bilang saja mau lagi, pakai ancam-ancam. Eh, ngapain pindah kamar. Awas Lis. Buaya gurun kalau kehausan bisa membuatmu basah kuyup. EH!!!!