Hot Duda

Hot Duda
Salah Paham



Hot Duda Bagian 30


Oleh Sept


Rumah Sakit Ibnu Sina.


Lisa masih duduk di dalam mobil yang terparkir di parkiran rumah sakit. Sedangkan Rio, pria itu memilih keluar. Membiarkan Lisa mengeluarkan perasaannya. Ia memberikan ruang bagi Lisa untuk menenangkan diri sekaligus mengeluarkan semua rasa sesaknya.


Kini pria itu hanya bersandar di belakang mobil, sembari mengapit benda kecil yang mengeluarkan asap di ujungnya. Ia sesap sesekali, kemudian melihat ke belakang, memastikan Lisa masih di dalam mobil.


"Siapa yang akan mengira ceritanya akan jadi seperti ini?" gumam Rio yang kemudian membuang puntung yang sudah habis.


Pria itu kemudian masuk, kembali berbicara pada Lisa atas apa yang sudah terjadi sampai gadis itu kehilangan tempat tinggal. Apa ini alasan Lisa sampai datang pada bosnya? Pikiran Rio berkecamuk.


"Minum ini!" Rio memberikan sebotol air mineral pada Lisa.


"Tisu?" pinta Lisa sambil mengusap wajahnya.


Rio pun meraih kotak tisu kemudian meletakkan di pangkuan Lisa.


"Terima kasih Pak Rio," ucap Lisa lirih.


"Hem ... jadi apa yang harus saya katakan pada pak Anggara? Apa harus saya katakan yang sekujurnya?"


"Jangan! Tidak usah!" ucap Lisa sembari menatap Rio, sekretaris Anggara.


"Mengapa?"


"Tidak perlu," kata Lisa penuh keyakinan.


Rio lalu mengangguk paham. Lisa tadi sepanjang perjalanan sudah menceritakan apa yang terjadi pada keluarganya, dan mungkin hal itu sekarang membuat Rio menjadi sedikit respect, atau entahlah, yang jelas cara Rio menatap tidak sedingin dan sesinis seperti yang sudah-sudah.


"Kalau begitu, saya permisi. Karena ada banyak hal yang perlu saya urus."


"Baik, dan terima kasih sebelumnya," ucap Lisa kemudian membuka pintu tengah. Ia keluar tanpa menoleh ke belakang. Padahal, Rio saat ini menatapnya dalam-dalam di balik kaca mobil yang masih terparkir di tempat parkir rumah sakit tersebut.


***


Beberapa hari kemudian.


Lisa sedang bicara pada orang tuannya, ia baru sempat mengatakan ini karena menunggu waktu yang tepat. Rasanya tidak etis ijin menikah saat keluarganya ditimpa musibah. Dua hari sebelum kesepakatan menikah dengan Anggara, akhirnya Lisa punya waktu untuk mengatakan maksudnya.


Terlalu mepet, ini karena Anggara juga mendesak. Beruntung ada Rio yang membereskan semua berkas-berkas Lisa yang terbakar. Dengan kekuatan uang, kuasa yang besar, masalah yang rumit bagi si miskin pun terasa sangat mudah saat diselesaikan oleh duit.


"Yah," panggil Lisa yang mulai merasa gelisah. Mau ijin menikah sudah mirip pengakuan dosa. Hatinya ketar-ketir menanti tanggapan ayahnya nanti.


"Iya, ada apa? Kenapa wajahmu terlihat gelisah. Ibumu dan Marwah sudah lebih baik. Lalu apa yang membuatmu berkecil hati?"


"Em ... ini, Yah ... tapi Ayah jangan kaget dulu."


Dahi pria paruh baya itu langsung mengkerut.


"Ada apa? Apa kamu melakukan kesalahan?" tanya ayah Lisa menatap penuh selidik.


Lisa menggeleng, tapi sepertinya dia memang melakukan kesalahan fatal, karena berani tanda tangan kontrak pernikahan bersama Anggara diam-diam.


"Lisa mau menikah."


"Menikah?" Ayah Lisa spontan kaget. Ia pikri Lisa banyak pikiran sampai bicaranya ngelantur ke mana-mana. Anaknya itu masih di bawah 20 tahun, kok bisa-bisanya mengatakan ingin menikah. Apalagi keluarganya sedang terkenal musibah. Fix, ayah pikir Lisa sedang halu. Ia pun menepuk punggung Lisa lembut. Merasa kasihan, pasti putrinya mengalami beban mental yang berat.


"Maafkan Ayah, harusnya Ayah yang mencari jalan keluar untuk semua ini. Kamu tidak usah khawatir, biar tanahnya Ayah jual saja. Untuk sementara kita ngontrak dulu."


Lisa mendongak, menatap ayahnya. Ia rasa sang ayah menganggap dia sedang bergurau atas pembicaraan pernikahan tadi. Padahal ia benar-benar serius.


"Yah, Lisa mau menikah, dan beberapa hari lagi dia akan menemui Ayah," ucap Lisa asal. Padahal Anggara tidak pernah mengatakan hal yang demikian.


Ayahnya semakin sedih, ia merasa Lisa sudah mulai terganggu, karena bicaranya semakin ngelantur.


"Ini pasti sangat berat untukmu ... Lisa, maafkan Ayah, karena tidak berdaya seperti ini. Maafkan kekurangan Ayah selama ini, yang belum bisa membuat kalian bahagia."


Lisa langsung berdiri, menepis lengan ayahnya.


"Ayah tidak perlu minta maaf, cukup restui Lisa menikah. Lisa akan menikah dengan duda kaya raya!" cetus Lisa yang tidak suka melihat ayahnya terus meminta maaf atas keadaan ini semua.


Ayah Lisa sendiri langsung menundukkan wajah, mengusap wajahnya dengan berat. Seakan kasian pada kondisi Lisa saat ini yang sepertinya sangat tertekan.


'Sepertinya Lisa mengalami tekanan yang berat, sampai dia memikirkan yang bukan-bukan,' batin ayah Lisa yang sedih melihat anaknya bicara aneh-aneh.


Bersambung


Fb Sept September


IG Sept_September2020