
Hot Duda Bagian 63
Oleh Sept
Sepertinya cerita ini cocok untuk ibu/bapak rumah tangga, biar rumahnya tambah anget. Jadi, tolong sekip untuk mereka yang belum berumah tangan. Mungkin ini sedikit tidak aman. Heheh ...
Setor KTP yaaa.
***
Hajhingg ...
Lisa sudah berkali-kali bersin, ia kini berbaring sambil dipeluk suaminya. Lisa akhirnya demam setelah basah-basahan di kolam dan di kamar mandi. Gara-gara Anggara, kini Lisa tidak enak badan.
"Apa masih terasa dingin?" tanya Anggara yang merasakan tubuh Lisa menggigil. Ia dekap Lisa dengan rapat.
"Sedikit," jawab Lisa kemudian bersembunyi dalam ketiak suaminya.
"Maaf ya, Lisa ... ini semua gara-gara aku," kata Anggara yang sadar kalau ia adalah sebab utamanya.
"Nggak, mungkin kecapekan juga," sela Lisa.
"Hemm ... cepet sembuh ya. Jangan sakit." Anggara kemudian mengusap rambut Lisa dengan lembut. Memainkan anak rambut Lisa yang masih sedikit basah karena habis keramas.
Haching ...
Lisa bersin lagi.
Anggara kemudian mengambil tisu untuk istrinya itu, dan untuk sementara Tiara tidur di kamar bayi, takut kalau flunya nular. Sedangkan dirinya, tidak masalah. Malah semakin merapatkan diri. Malah cari-cari kesempatan.
Sambil mengingat kejadian tadi sore yang terus terbayang-bayang.
Flashback On
Kamar mandi
Lisa hampir menjerit karena ulah suaminya, ia juga menambah lagi cakaran baru di tubuh Anggara, salah sendiri, pria itu terus saja membuatnya menahan sakit dan perih.
Setelah menusukk dari belakang berkali-kali, kini Anggara mengajak Lisa bermain di bawah derasnya air dari shower. Membersihkan diri sekaligus curi-curi kesempatan bagi Anggara. Ternyata sambil berdiri pun bisa, dasar Anggara, ada saja kelakuan pria tersebut. Membuat Lisa malu, tapi juga meringis sakit campur enak.
Tidak cukup sampai di situ, Anggara keluar sebentar. Mengambil sebuah kursi kemudian mulai beraksi kembali.
"Buat apa?" tanya Lisa ketika Anggara membawa masuk kuris ke dalam kamar mandi yang luas itu.
Anggara hanya menjawab dengan senyum sejuta arti. Pria itu kemudian duduk, dan menarik lembut Lisa dalam pangkuannya.
Lisa jelas geli sendiri, karena sesuatu yang mengganjal di bawah sana. Tidak mau duduk, tapi tangan Anggara malah menahan pinggangnya.
"Gak usah malu," ucap Anggara terus terang. Membuat pipi Lisa menghangat.
Bagaimana tidak malu, posisi mereka yang saling berhadapan, duduk di satu kursi, cukup membuat jantung Lisa ketar-ketir. Ditambah Anggara perlahan mulai memainkan bola-bola salju yang seperti jeli tersebut.
Lisa kembali berubah seperti belut sawah tatkala Anggara menyesapp bergantian. Geli, mendadak ia kembali merasakan sensasi yang membuat tidak tahan.
Kuku-kukunya kembali menancapp di punggung sang pria, sembari mendesis seperti ular cobra, yang membuat Anggara merasakan panas seperti terbakar meskipun tubuhnya basah.
"Pegang, Honey ... kamu yang masukin." Anggara meraih tangan Lisa, menuntun istrinya untuk melakukan apa yang ia suruh.
Mungkin sudah di ubun-ubun, Lisa yang kemarin polos kini malah menyentuh tanpa ragu. Ya meskipun ia geli karena ini bukan seperti dirinya. Tapi bagaimana lagi, akhir-akhir ini Anggara selalu saja mengajaknya konser dengan microphone ajain tersebut. Microphone asli mungkin akan mengeluarkan suara nyaring, tapi tidak dengan mic yang ia pegang. Mic yang sangat special, karena bisa mengeluarkan sumber kehidupan. Mic yang bisa menambah populasi umat manusia.
"Ssstt ...!"
Giliran Anggara yang mendesis seperti ular derik.
'Sempit sekali ... dan juga hangat. Tapi jangan keluar dulu. Aku masih mau main-main dengannya,' batin Anggara sambil mengangkat pinggang Lisa.
"Tahan, sayang ... tahan sebentar. Ini mau keluar."
Sesuai titah sang komadan bucin, Lisa berhenti sejenak. Memberikan jeda Anggara untuk bernapas sebentar.
Sesaat kemudian, Lisa kembali bergerak, tangan Anggara masih ada di pinggangnya. Menahan Lisa agar tidak terlalu cepat, jika cepat, ia takut segera keluar.
Tapi Lisa juga capek, agar cepat selesai ia hajar saja suaminya yang selalu minta nambah tersebut. Ia percepat gerakannya, hingga wajah suaminya berubah tegang.
"Sayang ....!"
Anggara mendesis, kedua tangannya mencengkram pinggang Lisa, menahan agar istrinya tidak bergerak kembali. Dan surrr ... Microphone pun muntah di dalam.
Terdengar suara napas Anggara yang memburu, jantungnya berdegup tak beraturan. Lisa dapat merasakan degup jantung Anggara karena kini ia didekap erat oleh suaminya itu. Masih berpelukan di atas kusri yang sama, masih menancapp pula, belum dilepas. Hadeh!
Flashback END
Main lama di kamar mandi, sekarang Lisa jadi flu. Sedangkan Anggara malah terlihat sehat bugar, stamina pria tersebut terlihat sangat oke. Ya, mungkin karena dicas sampai 100% atau malah sampai cadangan full.
Hajhingg...
Anggara tersadar dari lamunan, sempat senyum-senyum karena ingat olah raga panas mereka tadi, kini ia merasa iba pada istri kecilnya itu.
"Apa besok kita ke dokter?" Anggara jadi kasihan.
Lisa menggeleng, kemudian merapat, mencari kehangatan. Jelas Anggara menang banyak.
"Coba aku periksa lagi pakai thermometer. Berapa suhunya?"
Wajah Lisa pucat, bibirnya juga. Sepertinya Lisa harus istirahat total. Ia kelihatan lemas sekali.
'Apa aku terlalu banyak menuntutnya?' batin Anggara kemudian melihat angka pada thermometer.
"38, besok kita ke rumah sakit ya. Apa sekarang?"
"Nggak usah, Pak."
"Lisaaaa," panggil Anggara lembut dan panjang.
Lisa pun mendongak, meski matanya terasa panas karena demam.
"Lisa baik-baik aja. Nanti kalau tidur pasti mendingan."
"Ya sudah, tidur aja."
Anggara kembali naik ranjang, kemudian mengusap pundak Lisa sepertinya menidurkan anak kecil.
"Jangan begitu, Pak. Gak bisa tidur kalau tangan Bapak seperti itu," protes Lisa lirih.
"Lisa ... apa susahnya memanggil panggilan lain ... jangan panggil bopak-balak."
Lisa yang demam spontan menahan senyum.
"Lidah Lisa terlalu aneh jika memanggil Honey, Pak."
Anggara pun menggeleng kepalanya, kemudian mencebik.
"Ya sudah. Panggil apa saja, tapi jangan Pak."
Lisa mengangguk paham. Kemudian mencoba memejamkan mata.
***
Matahari pagi bersinar terang. Anggara bangun terlebih dulu, Lisa sepertinya masih sakit, karena dahinya masih terasa hangat.
"Lisa ... bangun. Kita ke rumah sakit, ya?" ajak Anggara sambil berbisik di telinga Lisa.
Ia mengusap wajah Lisa dengan lembut. Membuat Lisa mengerjap.
"Jangan menolak, badanmu masih demam."
Lisa pun mengangguk, karena ia merasa tubuhnya sakit semua, seperti digebuki satu RT. Padahal cuma dikerjai satu orang, si buaya gurun yang kepanasan.
***
Di luar Rio sudah tiba sejak tadi, niatnya mau menjemput Anggara, tapi malah diminta ngantar ke rumah sakit.
"Nona Lisa sakit apa, Pak?"
"Demam," jawab Anggara singkat.
"Apa harus dilakukan general check up, sepertinya nona Lisa sering sakit akhir-akhir ini."
Anggara langsung melotot tajam.
"Lisa tidak sakit parah, dia hanya demam karena kemarin main air di kolam, ditambah berendam lama di bathtub!" ujar Anggara ketus.
Jawaban Anggara sukses membuat Rio jadi melonggo.
'Siallll! Tidak perlu sedetail itu bos!' gerutu Rio dalam hati.
***
Rumah Sakit
Anggara membawa Lisa di rumah sakit khusus, bukan rumah sakit yang sama seperti bu Siti dirawat.
Sampai di sana Lisa kemudian diperiksa, hanya demam biasa.
"Tuh kan, Lisa gak apa-apa."
Lisa menghela napas panjang menatap suaminya.
"Tapi tetap saja aku khawatir, aku tidak mau hal buruk terjadi padamu."
Anggara kemudian ingat almarhumah istrinya yang pergi dengan begitu saja. Lisa melihat wajah sendu suaminya, ia pun mencoba menghibur.
"Lisa gak apa-apa, tuh ... masih kuat!" ucap Lisa mengerakkan tubuhnya.
"Kalau capek banget, bilang ya ... kamu boleh nolak."
Hah? Lisa sampai tertegun.
BERSAMBUNG
Jangan percaya lisaaa, mulut buaya gurun mana bisa dipegang. Kalau sudah ON pasti langsung terjang. Apalagi katanya dosa kalau nolak, ya udah. Nikmati saja ... toh itu adalah ibadah. Ibadah yang enak. Emak2 ... jangan nolak ya, meski capek. Minum jamu kalau capek. Hihihi
Fb Sept September
IG Sept_September2020