
Hot Duda Bagian 55
Oleh Sept
Kediaman Anggara
Rio yang baru sampai, membuka bagasi mobil, kemudian dibantu oleh pelayan membawa barang-barang belanjaan milik Lisa. Dan istri Anggara itu merasa heran, mengapa barang-barangnya jadi banyak sekali, perasaan ia tidak membeli barang-barang tersebut. Lisa tidak tahu saja, bahwa itu semua ulah suaminya sendiri.
Baru juga masuk, mereka kedatangan tamu. Nyonya Claudia juga masuk halaman, mobilnya langsung parkir di samping mobil Anggara. Nyonya Claudia melirik sinis pada barang-barang yang diangkat pelayan.
"Punya siapa?" tanya nyonya Claudia yang penasaran siapa yang membeli barang-barang itu. Setahu nyonya Claudia, Anggara tidak hobby shopping.
Pelayan yang saat itu sedang mengangkat barang, sedangkan Rio telah masuk duluan, ia pun menjawab ala kadarnya, seperti apa yang ia ketahui.
"Punya tuan muda dan nona Lisa, Nyonya."
"Cih!"
Nyonya Claudia mencebik, ia mengipas tangan ke wajahnya. Tiba-tiba merasa gerah.
'Dia mulai berani morotin Angga, dasar!' gerutu nyonya Claudia kemudian melangkah masuk ke dalam.
'Mata Angga itu melihat apa dari pembantu itu? Apa yang dia lihat? Apa matanya sudah buta? Sampai tidak bisa realistis? Ya ampun, benar-benar menyedihkan!'
Nyonya Claudia terus mengerutu, ia baru berhenti ketika melihat Lisa yang sedang memangku cucunya.
"Sudah dibelikan apa saja sama Angga?" celetuk nyonya Claudia yang langsung duduk.
"Mama ... tumben Mama ke sini?" tanya Anggara yang baru keluar dari kamarnya. Ia menenteng tas, sepertinya akan keluar.
Nyonya Claudia tersenyum palsu. 'Kebetulan, Anggga sepertinya mau pergi. Ini bagus!'
"Mama cuma kangen Tiara," jawab nyonya Claudia bohong.
Anggara sedikit curiga, tapi ia juga harus segera ke perusahaan. Pria itu kemudian mendekati Lisa dan berbisik.
"Tetap di rumah," bisik Anggara yang sudah mengenakan setelan rapi.
Lisa hanya balas menatap, kemudian fokus pada Tiara.
'Astaga, apa yang angga lihat dari wanita ini? Apa hanya karena dia masih muda. Pakai acara bisik-bisik pula. Ini tidak beres!' batin nyonya Claudia yang merasa sangat heran dengan perubahan sikap putranya.
"Ma, Angga pergi dulu." Meksipun sedikit khawatir, Anggara harus pergi saat itu juga.
Tap tap tap
Anggara buru-buru keluar dan masuk ke mobil. Matanya menatap pergelangan tangannya, kemudian meminta Rio mempercepat mobil mereka.
"Nanti tolong sedikit cepat," pinta Anggara.
Wushhh ...
Mobil mahal yang hanya ada beberapa di Indonesia itu pun melaju masuk ke jalan utama. Dengan gesit menyalip mobil di depannya.
Suasana berbeda terasa di rumah Anggara saat pemiliknya telah pergi.
Tiara sudah di dalam kamar bersama babysitter. Sedangkan Lisa, wanita muda itu sedang disidang oleh mertuanya, nyonya Claudia.
"Hanya karena Anggara menikahi kamu, bukan berarti saya sudah menerima kamu di rumah ini," cetus nyonya Claudia sambil menatap sinis.
"Bagi saya, kamu tetaplah seorang pembantu!" tambah nyonya Claudia dengan nada penuh penegasan.
Lisa dimarahi seperti itu, untuk saat ini hanya memilih diam.
"Dan lagi, sepertinya kamu hanya mengincar uang anak saya. Berapa yang kamu mau? Tinggalkan Anggara, dan saya akan berikan berapa pun yang kamu minta."
"Itu tidak benar," potong Lisa.
Nyonya Claudia tersenyum remeh.
"Kamu pikir saya tidak tahu? Berapa kali Anggara transfer ke rekening pribadimu? Kamu itu hanya mengandalkan tubuhmu pada anak saya. Saya yakin, Anggara tidak pernah cinta sama kamu. Kamu hanya alat pemuasnya. Kamu paham?" tutur nyonya Claudia panjang lebar, sebab ia sudah menyuruh orang untuk mematai-matai Anggara. Ada pergerakan dana yang tidak wajar. Dari situlah ia semakin yakin, Lisa hanya mengincar uang anaknya.
"Katakan, berapa? 500? Atau 1 M?" tanya nyonya Claudia dengan nada menghina, seakan Lisa benar-benar wanita yang murahan.
"Jangan khawatir, saya bisa memberikan lebih dari pada yang anak saya miliki, jadi ... tolong menjauh dari Anggara!" perintah nyonya Claudia penuh ketegasan.
Lisa yang sejak tadi dihina dina, perlahan menarik napas. Wanita muda itu kemudian berdiri dan mendekati nyonya Claudia yang merupakan mertua yang tidak menganggap dirinya.
"Saya yakin, uang yang Nyonya tawarkan, tidak sebanding dengan apa yang saya dapat. Simpan uang Nyonya yang banyak itu, sebab saya tidak butuh. Uang itu akan cepat habis. Tapi tidak dengan saya terus bertahan di sisi putra Nyonya." Lisa tersenyum tipis.
"Kamu!" Mata nyonya langsung melotot seperti mau keluar.
'Wanita ini sangat mengerikan!' rutuk nyonya Claudia.
"Kalau tidak ada yang Nyonya katakan lagi, saya akan masuk ke dalam." Lisa malas berdebat, ia ingin menghindar saja.
"Wanita murahannnn!" Nyonya Claudia sudah mengepal kedua tangannya.
"Permisi!" Lisa berbalik meninggalkan wanita paruh baya.
Mungkin sudah jengkel sampai ubun-ubun, nyonya Claudia yang selalu elegant tersebut langsung maju dan reflek menarik rambut Lisa dengan kasar.
BERSAMBUNG
Fb Sept September
IG Sept_September2020