Hot Duda

Hot Duda
Adinda



Hot Duda Bagian 11


Oleh Sept


Anggara kini menunggu di depan ruangan, ia mondar-mandir, saat ini Adinda sedang diperiksa oleh tim medis. Semuanya terlihat menegangkan, wajah-wajah dokter dan perawat terlihat sangat serius. Ketika Anggara dilanda panik dan rasa cemas, di dalam ruangan, sekarang juga terjadi kepanikan.


"Dok, tekanan darahnya menurun drastis!"


Pria yang memakai masker itu kemudian melihat monitor, tekanan darah benar-benar turun. Matanya memperhatikan angka yang mulai tidak stabil. Wajahnya terlihat gelisah, kemudian kembali fokus melakukan apa yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan sang pasien.


Dokter meminta beberapa timnya untuk melakukan ini dan itu. Beberapa tindakan medis sudah dilakukan, tapi keadaan Adinda malah semakin menurut. Ketegangan kembali terjadi ketika terdengar suara panjang yang keluar dari alat monitoring jantung.


Tit ... tit .... tittttttttt ....


Semua dokter saling menatap, sampai akhirnya bunyi yang panjang itu berakhir dan sesuatu yang tidak mereka harapkan harus terjadi. Hampir 1 tahun Adinda dinyatakan koma, selama ini dia bertahan. Bahkan sempat dinyatakan hamil dan dilakukan operasi mendesak. Semua masih baik-baik saja sebelumnya, sampai detik ini, dokter menyatakan waktu kematian sang pasien dengan berat hati.


Seperti ada batu yang menghujam jantungnya, Anggara merasa sesak luar biasa ketika tim medis melepaskan semua peralatan yang selama ini menompang tubuh Adinda, istrinya. Dunianya mendadak gelap gulita, runtuh tidak berbentuk. Pria itu kini sangat terpukul dan terpuruk.


Ia masih tidak percaya, istrinya itu akhirnya menyerah pada takdir buruk yang menimpa mereka. Ia masih belum menerima kalau istrinya kini sudah tidak ada lagi di dunia. Meksipun dia sudah melihat wajah pucat Adinda yang perlahan ditutup kain putih oleh perawat.


Dengan tubuh yang bergetar hebat, dia menyibak kain putih itu. Membuangnya dengan kasar, perawat yang melihat hanya merasa miris. Menatap iba pada pria yang baru saja kehilangan belahan jiwanya tersebut. Pria yang terlihat terpukul berat karena istrinya dinyatakan meninggal dunia.


Mungkin ada ikatan batin yang masih tersambung, hari itu Tiara bayi kecil mereka terus saja menangis. Hingga harus dibawa ke ruangan khusus. Sama seperti Adinda, kondisi bayi Tiara juga mengalami penurunan. Mendengar akan hal itu dari dokter, rasanya Anggara sudah putus asa.


Ia terduduk lemas, air matanya sudah kering. Dia tidak menangis, tapi orang-orang yang melihatnya pasti merasakan kesedihan yang sama. Matanya bisa bicara, bahwa ia sedang dirundung derita yang teramat besar. Sebuah ujian hidup yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, bahwa perpisahan dengan Adinda adalah satu-satunya hal yang tidak pernah ia bayangkan. Seperti sebuah mimpi, ya ... Anggara berharap ia segera bangun dari mimpi yang buruk ini.


***


San Diego Hills Memorial Park


Setelah dibawa ke rumah duka, di hari yang sama, akhirnya jasad Adinda pun dimakamkan. Ia dimakamkan di dekat makam suaminya nyonya Claudia, sang mertua.


Hanya keluarga Adinda dan Anggara yang terlihat sangat terpukul di pemakaman, sedangkan nyonya Claudia, raut wajahnya terlihat biasa. Orang-orang tidak bisa menebak kesedihan wanita tersebut, karena wajahnya terbingkai kacamata hitam yang besar. Bahkan ketika putranya masih bersimpuh di atas tanah makam yang basah, nyonya Claudia malah memutuskan untuk pergi. Meninggalkan Anggara seorang diri.


"Sebentar lagi mungkin akan hujan, lebih baik kita pulang ... sudah, ikhlaskan Dinda."


Anggara masih terdiam, membatu tanpa ekspresi. Meksipun kerabatnya mengajaknya pulang. Hari mulai gelap. Langit pun mendung gelap, sepertinya akan hujan lebat. Tapi Anggara bergeming. Ia masih mau di sana, ada banyak hal yang belum ia sampaikan pada bidadarinya yang dulu seperti matahari dalam hidupnya. Matahari yang kini hilang tanpa mengucap seutas kata.


'Bagaima bisa kamu tinggalkan aku sendiri seperti ini? Bagaimana dengan bayi Kita? Apa kamu sedang menghukumku? Aku bahkan tidak pernah menduakanmu ... aku selalu setia pada cinta Kita, aku selalu memperlakukanmu dengan hangat ... mengapa ini balasan yang aku dapat?' batin Anggara, matanya menatap kosong pada papan nisan yang bertuliskan nama almarhumah istrinya.


Pria itu seperti kehilangan jiwanya, pikirannya berkecamuk. Sorot matanya kosong, pikirannya melayang tidak tentu arah.


'Apa kamu juga akan membawa tiara bersamamu? Dokter bilang kondisinya kurang bagus ... apa lebih baik kita pergi bersama-sama?'


Suara petir menyambar salah satu pohon di pemakaman. Langit yang gelap itu, kini dihiasi kilat yang menyambar-nyambar. Angin kencang juga mulai bertiup, hingga salah satu pengurus makam datang terhuyung-huyung menghampiri Anggara.


"Tuan, di sini sangat bahaya. Bulan lalu ada yang meninggal tersambar petir. Lebih baik Tuan segera meninggalkan tempat ini, karena sangat berbahaya."


Anggara mendongak, kemudian menatap pohon yang dahannya patah akibat petir sesaat yang lalu.


"Mari, Tuan."


Anggara tersenyum miris dalam hati, ia tidak takut mati.


"Tolong tinggalkan saya sendiri!" usir Anggara.


"Tapi Tuan, si dini sangat bahaya."


"Saya tidak akan meminta berkali-kali!" ucapnya dingin. Membuat orang itu langsung mundur.


Tidak lama kemudian, hujan deras mulai turun disertai angin. Anggara masih bertahan di atas tanah makam Adinda. Ia mencengkram tanah yang masih basah itu, ada kemarahan, ia belum ikhlas melepaskan kepergian Adinda. Anggara yang kini hatinya sedang kalut, ia membiarkan tubuhnya basa oleh air hujan. Di bawah derasnya air yang turun dari langit, barulah ia bisa menangis. Tangisnya bercampur dengan air hujan yang semakin lama semakin deras.


***


Hari sudah sangat gelap, rembulan sudah menggantung di atas langit. Anggara bukannya pulang ke rumah atau ke rumah sakit untuk melihat kondisi Tiara, ia malah ke kantor. Pria yang bajunya masih basah itu tidak peduli apapun lagi. Tidak makan dan tidak minum, malam itu ia hanya ingin berbaring. Ya, ia ingin tidur agar bisa bangun dari kenyataan yang menyayatt hatinya.


Montana Group


Pagi itu, Lisa sudah siap dengan alat pel dan juga kain lap di tangan. Ia berangkat pagi sekali, karena harus membersihkan ruangan sebelum pemilik ruangan datang. Hati-hati ia masuk, kemudian mulai membersihkan meja. Lisa yang fokus bekerja, tidak tahu ada sosok yang menggigil di atas sofa.


Saat ia berbalik, matanya terbelalak. Ia tidak tahu pak Anggara tidur di kantor. Buru-buru ia menenteng pel-pelan. Karena pria itu paling marah kalau tempatnya dibersihkan saat dia ada dalam ruangan. Begitu ia sudah di luar pintu, Lisa sangat lega.


"Ya ampun! Kok lapnya aku tinggal di meja? Bisa kena SP!" rutuknya.


"Ambil nggak ya?" gumamnya.


Tidak ingin dapat teguran, Lisa akhirnya masuk lagi ke dalam. Dengan hati-hati ia berjalan jinjit agar tidak menimbulkan suara. Begitu masuk, bukannya meraih lap yang masih di atas meja dengan pembersih kaca, matanya malah tertuju pada Anggara yang sudah tergeletak di bawah sofa.


"PAKKK!"


BERSAMBUNG