
Hot Duda Bagian 57
Oleh Sept
Tok tok tok
"Masuk!"
Anggara berdehem, kemudian menanti sosok yang muncul dari balik pintu. Semoga itu Lisa, jika pembantu lagi, pasti tuan besar itu akan marah-marah seperti biasanya.
Lisa masuk sambil menggendong Tiara, diikuti babysitter yang membawa selimut dan perlengkapan yang lain.
"Taruh sana, kamu boleh pergi."
Babysitter mendongak, ia menatap sang majikan ketika akan merapikan barang-barang itu malah langsung disuruh pergi.
"Ini tidak dirapikan dulu, Tuan?"
"Biarkan saja, Lisa bisa melakukan itu. Kamu sekarang tinggalkan ruangan ini!"
Meski enggan, babysitter pun akhirnya angkat kaki dari sana.
'Mereka seperti tidak tahu waktu!' gerutu sang babysitter yang mendadak iri dan cemburu pada Lisa. Mengapa dapat durian runtuh, disukai oleh bosnya sendiri. Jauh di lubuk hati babysitter, ia pun berharap mendapat nasib yang sama. Setidaknya untuk mengangkat harkat dan martabat keluarganya di kampung. Kan keren, punya suami majikan. Bibirnya mengulas senyum, tersenyum tak jelas berandai-andai menjadi Lisa.
"Astaga, apa yang aku pikirkan?" Malu sendiri, babysitter kemudian bergegas, mempercepat langkah kakinya.
***
Di dalam kamar, Lisa kemudian membaringkan Tiara. Bayi kecil itu sekarang sudah pintar, tidak rewel, anteng sekali. Setelah memastikan Tiara berbaring dengan nyaman, Lisa kemudian menatap bos sekaligus suaminya itu.
"Ada yang bisa saya bantu? Kalau tidak, saya akan keluar."
"Duduk lah!" titah Anggara.
Pria itu kemudian memindai wajah Lisa. Anggara memeriksa, apakah wajah istrinya itu masih lebam atau sudah mendingan.
"Kau dikasih salep lagi?"
Lisa menggeleng kepala, "Sudah, barusan sudah dikasih."
"Oh."
Anggara sampai bingung mau membahas apa, ia kesulitan mencari alasan agar gadis itu tetap ada di sisinya.
Sementara itu, Lisa yang merasa tidak nyaman, ia pun permisi keluar. Lagian Tiara juga sepertinya malah tidur nyenyak.
"Kalau tidak ada sesuatu yang dibahas, saya permisi."
"Kalau kamu pergi, nanti Tiara nangis bagaimana?"
Lisa menoleh, dilihatnya Tiara anteng.
"Panggil saja, saya ada di luar."
"Lisa!"
"Ya."
"Kamu menghindar dari saya?"
"Ya," jawab Lisa pendek. Membuat Anggara masam.
Anggara yang jengkel sendiri, karena pikirannya berkecamuk. Antara gengsi tapi ia ingin melihat Lisa akhirnya sedikit turun harga. Pria itu duduk kemudian menarik lengan Lisa. Hingga istrinya jatuh terduduk di sebelahnya.
Bukkkk
Dengan tanpa malu, Anggara langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Lisa. Ini bukan pertama kali bagi Anggara bersikap seperti ini, dan hal ini membuat Lisa menahan kesal.
'Ada apa dengannya, seperti salah minum obat!' gerutu Lisa.
Drett dretttt dretttt
Lisa melihat Anggara mengacuhkan panggilan telpon yang masuk. Pria itu malah sengaja menutup mata.
"Ada yang telepon," kata Lisa.
"Biarkan saja, pekerjaan tidak akan ada habisnya. Saya lelah, hari ini ingin istirahat."
"Istirahat di ranjang bersama Tiara lebih nyaman, punggung Bapak juga tidak akan sakit."
"Saya lebih suka begini. Ini gunanya istri!"
Entah mengapa, kata istri yang diucapkan Anggara, cukup membuat Lisa merasakan sesuatu yang berbeda. Apa ia terlalu GR? Entahlah, hanya saja ada sesuatu yang menyeruak masuk dalam hatinya.
Mata Lisa kemudian tertuju pada pigura besar, sebuah foto pernikahan Anggara dan Adinda, ibu dari Tiara. Mendadak ia tersenyum miris, Lisa mulai sadar posisinya di mana.
"Pak ... kaki saya kesemutan. Bisa pindah?"
Itu hanya alasan Lisa karena mulai merasa tidak nyaman lagi saat dekat-dekat dengan Anggara.
"Mana? Biar aku pijit."
'Sejak kapan pak Anggara jadi tukang pijit?' Lisa bergidik ngeri dalam hati.
"Tidak usah," Lisa langsung berdiri ketika Anggara mengangkat kepalanya.
Ponsel Anggara pun kembali berdering, akhirnya ia angkat saja telpon dari Rio tersebut.
"Ya."
"Hemm!"
"Kenapa tidak kau katakan dari tadi?"
Lisa tidak bisa mendengar suara di telpon, ia hanya mendengar suaminya yang kembali marah-marah.
"Jemput kami jam 7 malam ini." Anggara langsung menutup telephon.
Pria itu kemudian berkacak pinggang, kemudian menatap Lisa dari atas sampai bawah.
"Lisa! Mandilah, kita siap-siap sekarang."
"Mandi? Saya sudah mandi, Pak."
"Oh, ya sudah."
Setengah jam kemudian, seorang wanita dan pria sedikit lunak datang. Mereka membawa banyak barang, seperti alat make up dan juga kantong panjang yang isinya dress elegant.
Lisa jelas heran, karena ia langsung disuruh duduk dan wajahnya langsung dioret-oret oleh make up artis professional.
"Pak, kita mau ke mana?" tanya Lisa yang melihat ke arah Anggara. Pria itu malah sibuk dengan posnelnya. Anggara masih menghubungi seseorang. Hingga tidak menjawab pertanyaan Lisa.
"Jangan gerak-gerak, Nona," protes wanita yang sedang memoles wajah Lisa.
"Dasarnya udah oke, tinggal posel dikit!" ucap wanita itu pada rekannya.
"Kamu siapin rambutnya," titahnya pada sang rekan.
"Oke saiiii," jawab pria ganteng tapi terlihat cantik tersebut.
Malam ini keduanya akan membuat Lisa mempesona, berkelas dan menjadi ratu di sebuah pesta.
Lisa berkali-kali disuruh diam jangan bergerak, tapi dasar Lisa yang merasa tidak nyaman, karena didandani terlalu lama. Apalagi suaminya sibuk telpon, sebenarnya ia akan dibawa ke mana?
***
Satu jam kemudian
Rio sudah datang sejak tadi, ia menunggu di depan bersama Anggara. Keduanya bicara sangat serius, ini tentang acara yang akan mereka hadiri. Salah satu investor sedang menikahkan putrinya, ditambah lagi, pasti banyak tamu undangan penting. Anggara sepertinya punya rencana khusus, ia akan meloby beberapa orang, karena sang mama sudah beraksi.
Karena pernikahannya dengan Lisa, Anggara yakin, nyonya Claudia itu tidak lama lagi akan menendangnya dari perusahaan. Sebelum itu terjadi, ia harus menguatkan pondasi dan rencana cadangan. Bersama Lisa, ia akan mendekati satu persatu investors yang penting itu.
Mereka yang selama ini ragu akan integritasnya setelah istrinya koma dan meninggal, kini akan mengatakan pada dunia, bahwa ia baik-baik saja. Masih bisa menghandle perusahaan dengan baik dan kini sudah memiliki pendamping. Dia bukan pria yang terpuruk seperti kabar yang beredar.
Mungkin juga saatnya mengenalkan Lisa pada public. Sempat disembunyikan karena hanya istri sementara, mungkin kali ini Anggara sudah beda pemikiran. Sepertinya ia akan mengikat Lisa selamanya, meskipun dia belum mengatakan secara langsung perasaanya yang sebenarnya pada istrinya itu. Bagi Anggara mungkin karena sudah tidur bersama, maka Lisa sudah jadi miliknya.
Apalagi sekarang, ketika Lisa keluar dari pintu dengan gaun panjang warna merah, serta sepatu hak tinggi yang membuatnya sedikit berbeda. Lisa yang sederhana ternyata bisa disulap jadi super elegant.
'Sudah kuduga, dia memang cantik,' Anggara sekilas terkesima.
"Cantik sekali Nona Lisa!" puji Rio dengan melempar senyum ramah.
'Tidak tahu malu, menuju istri orang di depan suaminya?' gerutu Anggara.
Lisa berjalan pelan, dia tidak suka memakai high heels. Selain tidak nyaman, juga membuatnya takut jatuh.
Benar saja, baru beberapa langkah, Lisa hampir saja oleng. Beruntung dua tangan terulur padanya. Rio yang lebih dekat membuat Lisa berpegangan pada lengan pria tersebut, membuat Anggara langsung keluar taringnya.
'Kau sudah keterlaluan!'
"Cepat masuk!" seru Anggara masuk mobil duluan.
Lisa dibatu Rio masuk ke dalam mobil.
"Kita mau ke mana?"
"Sudah, diam saja!" jawab Anggara emosi.
Lisa sampai heran, salah makan apa lagi suaminya itu. Sedikit manis, sedikit pahit.
***
Hotel Hilton
Rio membuka pintu Anggara terlebih dahulu, kemudian membuka pintu untuk Lisa, mempersilahkan tuan putri dadakan itu untuk turun.
Setelah turun, Anggara kemudian melirik sinis pada Rio, sekretarisnya.
"Lisa!"
"Ya." Lisa membetulkan gaunnya yang sedikit nyangkut di hell.
Anggara sedikit berjongkok, kemudian membetulkan dressnya yang nyangkut, tanpa mereka sadari, beberapa kamera menangkap gambar mereka.
Gosip hangat, pimpinan Montana Group telah menggandeng wanita muda dan cantik, siapa dia? Wartawan yang ada di dekat sana, beberapa kali mengambil moment itu. Dan Anggara sadar, bahwa ada yang mengambil gambarnya. Bukannya marah, ia kemudian berdiri lalu berbisik pada Lisa.
"Wartawan sedang memotret kita, kamu pinter akting, kali ini akting yang natural dan bagus. Bahwa kita pengantin baru yang saling mencintai," bisiknya.
Lisa jelas menoleh.
"Jangan bergerak, aku bilang apa tadi."
"Iya, Pak."
"Jangan panggil, Pak."
Lisa diam, sampai Anggga mengandeng lengannya kemudian masuk bersama.
"Manggil apa, Pak?"
"Honey!"
Reflek Lisa menutup mulutnya, ia menahan tawa.
"Kau tertawa? Ini tidak lucu."
"Lidah Lisa sepertinya tidak mampu menyebut kata itu, Pak."
Lisa terkekeh, baru kali ini ia melihat suaminya yang dingin itu menjadi konyol.
"Tertawa lagi, akan aku ci um di depan umum."
Lisa langsung menelan ludah, "Baik, Pak."
"Katakan sekali lagi!" titah Anggara pelan.
"Oke, Ho-ney!" Lisa terbata. Sedangkan Anggara langsung memalingkan wajah.
'Sialll!' gerutunya ketika panggilan itu begitu menggelikan, tapi ia suka mendengarkannya.
'Aku pikir, otakku mulai tidak beres!'
BERSAMBUNG
Fb Sept September
IG Sept_September2020