
Hot Duda Bagian 69
Oleh Sept
"Ee ... jangan pura-pura lo anak baru!" ujar pembully. Wajahnya ikut panik karena khawatir Lisa kenapa-kenapa. Namun, mulutnya masih saja tajam.
"Elo gak usah nakut-nakutin kita. Jangan bercanda!"
"Kayakanya dia sakit beneran," bisik temen yang lain.
Apalagi yang menjadi biang jatuhnya Lisa. Takut-takut dia mendekati Lisa, entah menyesal atau justru ketakutan.
"Kamu gak apa-apa? Sorry ... bercanda."
Lisa yang masih menahan sakit, tidak bisa fokus dan menjawab pertanyaan mereka. Ia hanya memejamkan mata, menahan nyeri yang lumayan sakit. Hingga sampai akhirnya ia tidak tahan dan pingsan.
"Sa ... Lisaaa!"
Semua yang panik tambah semakin panik. Mereka kemudian membawa Lisa keluar ruangan. Salah satu mahasiswa yang cukup kuat, membopong Lisa langsung menuju mobil yang ada.
Lisa langsung dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan teman-temannya sekarang langsung dikumpulkan di ruang khusus. Beberapa di antaranya ketakutan, apalagi ada laporan lain yang menyudutkan geng mereka. Bahwa geng sampah itu sering melakukan onar.
Beberapa mahasiswi yang pernah mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan, satu persatu membuat laporan pada pihak kampus. Meembuat mereka semakin terpojok.
"Kalian ini mahasiswa! Bukan preman!" sentak salah satu dosen yang sudah memeriksa CCTV. Dosen yang tahu betul siapa Lisa tersebut sangat marah karena aksi nakal anak didiknya.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada anak itu, siap-siap. Kalian akan dibawa ke pengadilan. Suaminya tidak akan diam, atas perbuatan kalian!" omel dosen itu. Dia juga ketar-ketir, pasti akan kena dampaknya.
'Suami?'
'Jadi bukan simpenan om-om, jadi suaminya. Pria yang pernah mengantar Lisa itu jadi suaminya.'
"Sekarang hubungi orang tua kalian masing-masing, siapakan pengacara. Saya angkat tangan. Karena perundungan yang kalian lakukan, sungguh tidak mencerminkan visi universitas ini. Kalian mencoreng nama baik kampus!" ujar Pak dosen galak.
"Elo, sih!"
"Elo juga Keterlaluan!"
"Elo kan yang mulai!"
"Gue cuma ikut-ikutan!"
"Lo mau cuci tangan?" sindir ketua geng sampah.
"Kan elo dalangnya!"
"STOP!" teriak dosen pria berusia 47 tahu tersebut.
Semua langsung diam.
***
Pihak kampus ketar-ketir saat menghubungi keluarga Lisa, mereka takut jika pemimpin Montana Group itu memperlihatkan kuasanya. Dan benar saja, ketika mendengar kabar istrinya masuk rumah sakit, Anggara langsung panik.
Padahal sedang meeting, saat itu juga ia meninggalkan meja. Bergegas keluar ruang rapat dengan diikuti oleh Rio di belakangnya.
"Ada apa, Pak."
Sambil jalan, dengan geram ia memerintah Rio untuk ke kampus.
"Baik, Pak." Rio ikut tegang, karena Anggara terlihat sangat marah.
Anggara naik mobil sendiri, sedangkan Rio pergi mengunakan mobil kantor. Mereka sama-sama meninggalkan kantor dengan tujuan yang berbeda. Satu ke rumah sakit, satunya ke kantor.
Dengan kecepatan penuh, Anggara memacu mobilnya menuju rumah sakit. Sambil mencengkram kemudi, menahan emosi.
'Tidak boleh terjadi sesuatu yang buruk. Ini tidak boleh!'
WUSHHH
Anggara melaju di atas kecepatan rata-rata. Ia tidak sabar menemui dan melihat kondisi Lisa.
***
Tap tap tap
Suara langkah kaki Anggara terdengar keras, pria itu setengah berlari menyusuri lorong rumah sakit.
"Tidak boleh! Kamu harus baik-baik saja!" Anggara terus bergumam, berharap hal menyakitkan tidak kembali terulang.
Di depan ruang UGD, pria itu terdiam. Kakinya membeku, seolah djavu. Ia merasakan tubuhnya seketika menjadi dingin. Ada perasaan yang tiba-tiba menyeruak, sebuah ketakutan akan kehilangan seseorang yang berarti.
Anggara kesulitan menelan ludah, ada rasa sesak. Ia masih trauma terhadap rumah sakit. Ya, dia kembali teringat kematian Adinda.
Ketika pintu dibuka perlahan, jantung Anggara seperti akan berhenti berdetak. Ia takut mendengar kabar buruk, kabar duka, kabar yang akan menghancurkan segalanya.
KLEK
Perlahan dokter keluar, lalu melepaskan masker yang menutupi separuh wajahnya.
"Suami pasien?"
Bahkan kepalanya sulit mengangguk, otot lehernya terasa mendadak kaku.
"Ya ... saya suaminya, Dok," jawab Anggara dengan wajah tegang.
Apalagi saat tangan dokter menepuk pundak Anggara. Sudah pasti napas Anggara memburu cepat. Tidak mau mendengar dokter itu biacara apa, Anggara langsung berjalan masuk ke dalam ruangan.
"Lisa."
Lisa menatap lemah ke arah Anggara, ia sudah siuman. Tidak menjawab panggilan sang suami, Lisa hanya menatap sambil mengedipkan mata.
Dokter yang di luar, kembali masuk. Dan Anggara masih mengabaikan dokter tersebut. Ia masih fokus pada Lisa.
"Apa yang terjadi?"
Lisa memejamkan mata, bulir bening menetes menyeberangi pipinya dan bersambung.
Fb Sept September
IG Sept_September2020