
Hot Duda Bagian 59
Oleh Sept
Peringatan dini. Tidak aman, sebaiknya mundur yang tidak memiliki kartu identitas alias KTP. TERIMA KASIH ... bayaha!
***
"Apa yang kamu lakukan pada Lisa?"
Anggara menarik kerah kemeja Rio, sekretarisnya. Ia langsung emosi pada Rio setelah melihat kondisi Lisa di dalam mobil.
"Tunggu Pak Angga! Dengarkan saya dulu!"
Rio mencoba membela diri, ia memegangi tangan Anggara agar tidak memukulnya.
Anggara yang semula emosional, ia menoleh ke belakang. Kemudian mengatur napas. Melihat kondisi Lisa, ia jadi tiba-tiba emosi.
"Kenapa Lisa ada di dalam mobil? Dan apa yang terjadi?"
Rio kemudian mulai mengatakan kejadian yang sebenarnya.
Flashback On
Rio yang memang stand by menunggu Anggara dan Lisa, tiba-tiba merasa aneh ketika Lisa keluar sambil dirangkul pria lain. Sudah pasti dia curiga.
"Nona!"
Kendrick panik ketika ada yang menepuk punggung Lisa. Pria itu buru-buru pergi dan menghilang di kegelapan. Pria itu takut ketahuan, akhirnya melepaskan Lisa begitu saja. Padahal sebentar lagi, dia akan bisa melakukan hal yang tidak-tidak pada wanita cantik tersebut.
"Sialll!"
Kendrick masuk ke dalam mobil dan buru-buru meninggalkan lokasi. Tidak mau terlibat atau malah berujung kantor polisi. Sambil mengemudi ia mengumpat kesal. Kenapa ikut permainan Jessica, bikin masalah saja.
Sementara itu, Lisa yang lemas, tubuh dan wajahnya terasa panas. Ia kemudian dipapah oleh Rio.
"Lisa ... Nona ...!" Rio mendesis kesal. Ia merasa sesuatu tidak beres.
Ingin mengejar pria asing tadi, tapi ia tidak mungkin meninggalkan Lisa. Akhirnya ia pun membawa Lisa ke dalam mobil. Di sana ia mendudukkan Lisa, tapi Lisa justru menatapnya aneh.
Lisa mendesis seperti ular cobra, membuat Rio bergidik ngeri. Apalagi belahan gaun Lisa, haduh, kalau tidak buru-buru keluar dari mobil, bisa-bisa Rio ikut pusing.
"Pak ...!" panggil Lisa sambil menarik lengan Rio.
"Aduh!"
Rio buru-buru menepis Lisa, apalagi Lisa sudah seperti cacing kekurangan oksigen. Takut dituduh macam-macam juga sama sang atasan, akhirnya pria itu mengunci Lisa di dalam. Ia mencari ponselnya, langsung menghubungi Anggara.
Flashback END
***
"Periksa CCTV! Cari siapa pria brengsekkk itu!" ujar Anggara kemudian melirik mobil.
"Baik, Pak." Rio akan pergi, tapi sebelumnya ia memberikan kunci mobil.
"Ini Pak, kuncinya."
Keduanya saling menatap.
"Saya akan menunggu di dalam, sambil mengecek CCTV," ucap Rio sekali lagi dan penuh penegasan. Seolah dia memberikan waktu pada Anggara untuk mengerjakan PR yang tidak mungkin diwakilkan.
"Hemm!"
Rio bergegas pergi dan Anggara kembali ke dalam mobil. Ia menghela napas panjang, kemudian melepaskan jas yang ia kenakan. Ia gunakan itu untuk menutupi bagian pa ha Lisa yang terbuka sempurna. Memperlihatkan bagian mulus dan cukup kencang.
"Lisa ... sadar!"
Anggara menepuk pipi wanita tersebut. Berharap Lisa sadar. Namun, meskipun ditepuk berkali-kali juga tidak ngefek. Lisa melah kembali mendesis, membuat Anggara kembang kempis.
"Tahan ... di rumah saja!" bisik Anggara saat Lisa menatapnya dengan ingin dan langsung menyentuh misilllnya.
Lisa yang sedang di puncak, mengigit bibirnya. Membuat Anggara mengusapnya lembut.
"Minum dulu, kamu pasti bisa menahannya!" Anggara mengambil botol mineral, kemudian membukanya untuk Lisa.
'Ada apa denganku ... kenapa panas sekali!'
"Hati-hati!"
Anggara mengambil tisu, kemudian mengelap bagian basah itu. Disentuh seperti itu, Lisa semakin mendesis layaknya cobra yang sedang terancam bahaya.
"Tahan Lisa!" ucap Anggara ketika Lisa malah mencengkram misilllnya lagi.
"Panas sekali, nyalakan AC ya," pinta Lisa kemudian melepaskan gaun yang memang hampir lepas dari tadi. Ia juga membuang jas yang menyelimuti tubuhnya.
"Lisa, jangan aneh-aneh. Ini masih di dalam mobil!"
Lisa mengeliat, memperlihatkan seluruh tubuhnya yang membuat Anggara harus menahan napas.
"Tolongin Lisa, Pak!" bisik Lisa kemudian memeluk Anggara, tidak hanya memeluk, Lisa yang selalu stay cool saat keduanya di atas ranjang, kini begitu berbeda. Terlalu berani dan cukup menantang, cukup membuat Anggara gelisah tapi senang.
"Nanti, kita pulang dulu. Jangan lakuin di sini." Anggara mencoba melepaskan lengan Lisa, tapi dorongan wanita muda itu sudah terlalu kuat, tidak bisa menahan lagi hasratnyaa.
"Let's do it honeyyy!"
Lisa langsung saja menyesap leher Anggara seperti vampire, jelas saja hal itu menggangu konsentrasi Anggara. Pria itu membuang napas berat, kemudian mengunci semua pintu. Tidak lupa, mematikan lampu.
Mendapat banyak godaan dari Lisa, istrinya. Anggara akhirnya melepaskan sabuk yang melingkar di pinggangnya. Pria itu menurunkan sedikit celana yang ia kenakan.
'Ini hal gilaaa yang pernah kulakukan!' batin Anggara kemudian menangkup wajah istrinya.
"Mari keluar dari rasa yang menyiksamu ini!" ucap Anggara kemudian menempelkan bibirnya.
Biasanya ia yang memaksa masuk, kini yang terjadi lain lagi. Lisa dengan bergeloraa menerobos masuk. Menyesap dengan dalam, memberikan gigitan di bibirnya. Membuat Anggara sempat terkejut, betapa liarnyaa istri kecilnya itu.
Sebenarnya berapa dosis yang diberikan? Kenapa Lisa begitu mengebu, tapi dia tersenyum senang dalam hati, rejeki nomplok, ibarat durian runtuh. Kapan lagi Lisa menjadi aggressiveee seperti sekarang.
"Lisaaa ... !" Anggara memekik karena terkejut akan aksi istrinya yang kelewat berani.
Anggara yang kini mendesis keenakan, ia yang menahan diri agar tetap waras. Service Lisa malam ini benar-benar membuatnya kalang kabut. Sampai ia harus membuka dan menutup mata berkali-kali.
"Hentikan Lisa," bisik Anggara yang tidak tahan.
Anggara mencengkram kedua bahu Lisa, agar wanita itu berbaring di kursi tengah, sedangkan ia sendiri, kini gantian akan melepaskan Lisa dari beban berat yang sangat menyiksa. Baru sekali tindakan dari Anggara, tubuh Lisa mengeliat kuat.
Permainan mantan duda itu terlalu panas, membuat Lisa tidak tahan.
"Cepet masukin, P-ak!" titah Lisa dengan lirih.
Anggara menarik diri, dilihatnya dengan saksama, sudah basah, tapi ia masih ingin bermain-main dengan Lisa. Rasanya tidak seru, menancapp kemudian selasai.
"Tunggu Lisa, ini belum tegang-tegang banget!" ucap Anggara mencari alasan.
"Ish!" pekik Anggara kaget karena Lisa langsung mencengkram misilllnya.
'Nakallll!'
Anggara langsung menyerang, membuat Lisa glonjotannn karena sesapan yang membuat Lisa ingin pipisss di tempat.
"Pakkk!"
"Honey, Sayang!" ucap Anggara kemudian mengusap bibirnya.
Lisa menelan ludah dengan susah, matanya juga sudah tidak bisa terbuka sepenuhnya. Ia benar-benar hilang kendali. Sehingga menarik tubuh Anggara agar langsung melakukan intinya saja, supaya dia bisa terlepas dari hal yang menyiksa ini.
"Tolongin Lisa ..."
Anggara tersenyum licikk. Ia sepertinya sengaja mengulur Lisa. Mungkin sebuah kepuasan tersendiri menyaksikan Lisa seperti belut sawah yang mencari air. Semakin Lisa mendesis, semakin Anggara puas.
Lisa yang terus diulur, menjadi tidak tahan. Dengan berani dia mendorong tubuh bidang Anggara, kemudian langsung duduk di atas pria tersebut.
'Lisa!' Anggara spontan shock, tapi langsung memejamkan mata ketika Lisa langsung duduk dan mulai naik turun.
***
Rio yang sudah kembali, melihat dari kejauhan. Mobil bergerak-gerak, membuatnya merutuk.
"Kenapa tidak masuk hotel saja, astaga ...!"
Sementara itu, di dalam mobil, ada pasangan yang sedang main jungkat jungkit sambil bermain-main dengan bola-bola yang lembut. BERSAMBUNG
Malam jum'at. Cuss praktek. Jangan di dalam mobil. Di kasur ya. Hehhe kaboooorrrr.