
Hot Duda Bagian 27
Oleh Sept
Rumah Sakit Ibnu Sina, UGD.
Tubuh Lisa masih gemetar, hatinya tidak kuasa menatap kain putih yang menutupi tubuh kecil adik laki-lakinya. Anak SD itu tidak bisa bertahan karena mengalami luka bakar serius. Hampir 80 persen lebih mengalami luka bakar parah. Sedangkan Marwah, gadis belia yang masih duduk di bangku SMP itu juga mengalami hal yang sama. Marwah mengalami luka bakar lumayan serius. Gadis belia itu masih dalam penanganan dokter. Lisa masih menunggu kabar baik dari adik perempuannya.
Sementara itu, ibu Siti masih kritis. Luka bakar yang ia dapat, membuatnya dalam masalah serius. Tinggal Lisa dan ayahnya, keduanya mencoba kuat. Meskipun musibah ini cukup membuat keduanya goyah. Mencoba kuat, meksipun hati keduanya teriris. Kehilangan keluarga, harta benda, dan dua anggota keluarga lain yang nasibnya masih belum tentu.
"Lisa ... kamu di sini. Ayah akan pulang mengurus pemakaman," ucap ayah Lisa dengan suara serak. Pria paruh baya itu terlihat lesu, tatapan matanya kosong, tergambar jelas duka dalam raut wajahnya. Sebuah kesedihan yang tidak bisa ia katakan.
Lisa mengangguk, kemudian memeluk ayahnya. Ia terisak lama, sebelum membiarkan ayahnya pulang. Sedangkan sang ayah, hanya bisa mengusap kepala Lisa dengan berat.
"Ayah pergi dulu," pamitnya kemudian melepaskan Lisa.
Lisa mengusap pipinya, air matanya masih deras mengalir. Apalagi saat ayahnya harus memakamkan sang adik sendirian. Ia harus tetap di rumah sakit, menunggu kondisi Marwah dan juga ibunya. Berat, rasanya ia ingin menjerit. Mengapa Tuhan memberikan ujian yang sangat berat ini padanya?
Beberapa jam kemudian.
Ayah Lisa tak kunjung kembali, gadis itu dilanda kegelisahan. Ibu Siti harus operasi saat itu juga, ingin menghubungi ayahnya, ponsel ayahnya mati. Lisa benar-benar tidak tahu harus bagaimana, hingga ia memutuskan untuk tanda tangan sendiri.
Belum selesai di situ, ia dicari perawat karena kondisi Marwah yang turun drastis. Lisa berada di fase paling terburuk, semuanya memburuk hingga ia hanya menangis tanpa suara. Hingga sesaat kemudian, ayahnya tiba. Lisa tidak berani mengadu. Melihat sorot mata sendu sang ayah, Lisa hanya memeluk. Sejak tadi ia merasa sesak, begitu ayahnya datang, ia tumpahkan semua perasaanya pada sang ayah.
***
Beberapa hari kemudian.
Lisa dan ayahnya masih di rumah sakit. Sudah 3 hari mereka di sana. Kondisi Marwah jauh lebih baik, tapi tidak dengan bu Siti. Ibunda Lisa tersebut masih belum stabil. Masih harus menjalani beberapa kali operasi lagi untuk pemulihan.
Kini, Lisa terduduk lesu menatap ponselnya. Saldo dalam rekening Lisa sudah menipis. Sedangkan ibunya dan Marwah, harus menjalani banyak perawatan. Mereka butuh banyak biaya lagi. Apalagi rumah mereka sudah terbakar, yang jelas Lisa butuh banyak uang. Gadis itu menghela napas panjang, memijit pelipisnya. Harus cari yang ke mana? Sedangkan biaya operasi tidak murah.
"Makan dulu, Lis," titah ayah Lisa yang membawa nasi bungkus. Sudah dari kemarin, Lisa makannya tidak teratur.
"Nanti, Yah. Lisa belum lapar."
"Nanti kamu sakit, sudah ... makan dulu."
Ayah Lisa memaksa Lisa makan karena putrinya itu terlihat pucat. Hingga Lisa dengan lesu membuka bungkus makanan itu, meskipun tidak lapar, ia akhirnya makan juga. Rasanya hambar, karena Lisa sedang banyak pikiran.
Saat Lisa makan, seorang perawat datang menghampiri.
"Mbk Lisa, ini resep obat yang harus ditebus."
Ayah Lisa ingin meraih kertas itu, karena Lisa sedang makan, tapi dengan cepat Lisa langsung mengambil kertas resep itu.
"Ditunggu ya, Mbak Lisa."
"Baik, Sus."
Setelah suster pergi, ayah Lisa pun ingin bicara pada Lisa.
"Lis ... sepertinya biaya rumah sakit sangat banyak. Kamu dapat uang dari mana?"
Lisa membereskan makannya, kemudian minum.
"Ayah tidak usah khawatir. Lisa ada."
"Kamu punya uang dari mana?"
"Tabungan Lisa, ya. Ayah tenang saja," ucap Lisa sambil mencoba tersenyum, meskipun hatinya kacau, sebab tabungan sudah menipis. Uang pemberian Anggara sudah hampir habis. Tiba-tiba ia memikirkan tawaran Anggara. Tawaran dari Anggara kembali muncul dalam benaknya.
***
Ruang ICU
Lisa menatap sedih ibunya, hampir seluruh tubuh bu Siti dibalut perban. Ada gurat kesedihan karena melihat ibunya terbaring tak berdaya. Hingga muncul keputusan, ya ... Lisa sudah mengambil keputusan.
Setelah melihat sang ibu, ia pamit pada ayahnya. Lisa ijin akan menemui temannya, untuk minta bantuan dicarikan rumah kos sementara. Karena rumah mereka belum bisa ditinggali. Rumah mereka masih rata oleh puing-puing sisa kebakaran. Sang ayah percaya saja, padahal Lisa sedang berbohong.
***
Kediaman Anggara.
Lisa baru saja turun dari taksi, ia melihat sekeliling yang terlihat sangat sepi. Saat berdiri menunggu di depan pagar, sore itu sebuah mobil juga ingin masuk.
Di dalam mobil yang semula terdengar musik yang menghentak. Sosok wanita yang duduk di balik kemudi langsung mematikan audio di dalam mobilnya. Melihat ada gadis yang berdiri di depan pagar, sang pengendara langsung kesal. Sambil memakai kacamata hitam yang lebar, ia membuka kaca.
"Hey! Kenapa you di sini?"
Bersambung
IG Sept_September2020
Fb Sept September
Janglup ... alias jangan lupa, Vote, like, Komen, hehehhe ... makasi