
Hot Duda Bagian 39
Oleh Sept
Hawa panas begitu terasa, meskipun AC sudah menyala. Ini karena hati Anggara yang sedang dilanda kesal akibat ulah Rio dan juga Lisa. Anggara tidak menyangka, Rio sudah pandai berbohong padanya. Hingga sore harinya, Anggara pulang dan sepanjang perjalanan dia sama sekali tidak bertegur sapa dengan sekretarisnya itu.
Di dalam mobil, Rio merasa merinding karena aura Anggara yang terlihat tak biasa. Sampai bosnya itu sampai di rumah, Anggara tidak mengatakan apapun.
'Kenapa pak Anggara aneh? Apa Lisa mengatakan sesuatu?' batin Rio.
'Sudah lah, mungkin pak Anggara lelah,' pikir Rio dalam hati, kemudian meninggalkan kediaman Anggara setelah mengantar bosnya itu.
Sementara itu, Anggara yang perasaanya sedang tidak bagus, ia masuk rumah dan langsung ke kamar Tiara. Pria itu menjadi sangat marah ketika kamar terlihat sangat rapi dan kosong.
"Lisaaa! Lisaaa!" teriak Anggara memanggil istrinya tersebut.
Tap tap tap
Lisa datang dengan terburu-buru, gadis itu bahkan masih memegang kemoceng, alat pembersih dari bulu ayam. Dan hal itu membuat mata Anggara melotot ingin keluar.
"Apa yang kamu lakukan? Dan mana Tiara?" sentak Anggara dengan kasar. Matanya terpusat pada kemoceng yang membuatnya tambah gusar.
Bibi yang ada di belakang sampai keluar, tapi bersembunyi di balik gorden, ini karena suara Anggara yang menggema. Terdengar kencang dan pasti sedang marah besar. Bibi yang takut, hanya bisa mengintip. Sedangkan Lisa, ia harus gelisah seorang diri karena menghadapi Anggara tukang marah-marah tersebut.
"Itu ... Tiara ikut nyonya Claudia."
Tambah melotot lah mata Anggara.
"Kenapa kamu ijinkan dia membawa Tiara?" ujar Anggara kasar.
"Saya ... saya gak berani Pak. Tiara kan dibawa neneknya," jawab Lisa sambil menundukkan wajah untuk menghindar dari sorot mata yang menyalak marah padanya itu.
"Kamu istri saya sekarang! Kamu juga sekarang ibunya Tiara! Harusnya kamu jangan diam saja. Lembek seperti ini, percuma saya nikahin kamu! Gak ada gunanya!" teriak Anggara kencang, sampai bibi dan penjaga rumah mendengar keributan di sore hari tersebut.
Semua terkejut, karena kaget. Mereka tidak menyangka bahwa Lisa sudah dinikahi tuan besar mereka.
'Apa aku tidak salah dengar?' batin bibi.
Bila bibi tidak percaya dengan apa yang ia dengar, lain cerita dengan perasaan Lisa sekarang. Gadis itu diam membisu sambil mengigit bibirnya, menahan rasa sakit karena ucapan Anggara. Kalau tidak butuh banyak uang untuk biaya rumah sakit dan operasi kulit adik serta ibunya, Lisa enggan menikah dengan pria bermulut kasar tersebut.
"Sudah! Kamu pergi sana!" usir Anggara kasar kemudian langsung masuk kamarnya sendiri. Anggara mencoba menghubungi sang mama, nyonya Claudia.
"Hallo, Ma. Mama sekarang di mana?"
Mendengar suara Anggara yang sepertinya sangat marah karena Tiara yang dibawa tanpa ijin, nyonya Claudia berdehem, kemudian basa-basi.
"Sudah pulang kerja, ya? Ini ... Mama sama Tiara, sama Jessi juga."
Nyonya Claudia menatap Jessica yang sedang memangku cucunya, dilihatnya Jessica sedang bicara dengan babysitter Tiara. Nyonya Claudia tersenyum, karena Jessi sangat ramah pada babysitter Tiara. Bener-bener menantu idaman, ramah, dan penyayang. Padahal Tiara bukan putrinya sendiri. Rasanya nyonya Claudia tidak sabar ingin melihat Anggara menikahi Jessica, si menantu perfect tersebut.
"Mama di rumah?" tebak Anggara.
"Angga ke sana sekarang!" ucap pria tersebut kemudian menutup telponnya.
Anggara bergegas keluar, kemudian memanggil Lisa kencang lagi.
"LISA!"
Tap tap tap
"Ganti baju, ikut saya sekarang!"
Lisa menatap Anggara bingung.
"Cepat ganti baju!" titah Anggara tegas.
Lisa lantas berbalik dan buru-buru ganti pakaian. Hingga lima menit kemudian, gadis itu muncul dengan pakaian sederhana. Membuat Anggara mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kau tidak punya baju lain? Ke mana uang yang saya berikan?" omel Anggara.
Lisa menelan ludah, dan sangat kaget saat Anggara menarik tangannya kasar. Ia membawa Lisa menuju walk in closet.
Pria itu membuka koleksi baju Adinda, mengambil dengan asal baju yang masih ada labelnya. Artinya masih baru, dan belum sempat dikenakan oleh almarhumah istrinya itu.
"Ganti dengan ini!"
Anggara mengambil dengan kasar kemudian melempar kasar pula ke atas sofa kecil yang ada di tengah-tengah. Setelah memerintah Lisa untuk ganti, dia langsung keluar, meninggalkan Lisa yang malah tertegun.
Beberapa saat kemudian.
Tok tok tok
"Kenapa lama sekali?"
Baru akan menggetuk lagi, tapi pintunya sudah terbuka. Lisa keluar dengan balutan pakaian yang berkelas. Meskipun sederhana, tapi itu adalah pakaian bermerek. Di mana harganya bisa setara dengan beberapa motor.
Sempat tertegun, tapi Anggara cepat-cepat mengusir rasa tersebut.
"Lama sekali!" ujarnya gusar.
Anggara lalu berjalan lebih cepat. Ia masuk mobil dulu, di dalam mobil matanya terus saja memperhatikan Lisa yang berjalan masuk ke dalam mobil.
"Jangan bodohhh Anggara! Dia hanya istri sementara. Bukan siapa-siapa!" desisnya kesal sendiri.
Bersambung
Fb Sept September
IG Sept_September2020
Ramaikan kolom komentar, ada pulsa untuk pembaca terpilih heheheh