
Hot Duda Bagian 23
Oleh Sept
Rumah sakit Ibu Dan Anak.
Di salah satu UGD di sebuah rumah sakit yang terdekat dengan rumahnya, Anggara duduk sambil menundukkan wajahnya dengan dalam. Ia mengusap wajahnya berat. Seperti menahan beban yang tidak tertahankan.
"Lain kali tidak usah diajak keluar!" ucap Anggara kemudian mendongak. Menatap dingin pada Lisa yang masih kelihatan gelisah.
Lisa hanya diam, sama seperti apa yang Anggara lakukan tadi. Ia menengelamkan wajahnya dalam-dalam karena merasa teledor menjaga Tiara.
"Maaf, Pak."
"Putri saya itu lahir premature! Jadi kamu jangan sembarangan! Kalau sampai terjadi sesuatu pada anak saya, kamu akan lihat akibatnya!" ancam Anggara yang emosional.
Lisa menyembunyikan rasa hatinya, matanya mulai perih. Meskipun Tiara bukan siapa-siapa Lisa, sakitnya bayi itu ternyata cukup membuatnya cemas. Bukan karena pekerjaan, bukan. Apalagi karena uang, tentu bukan. Lisa tulus khawatir akan kondisi Tiara yang tiba-tiba drop.
Bayi yang lahir premature itu tiba-tiba wajahnya pucat, tubuhnya terasa dingin. Jelas Anggara panik, kemudian langsung membawa bayi kecilnya ke rumah sakit bersama Lisa. Gadis itu tadi yang menggendong Tiara. Sekarang, gadis itu pula yang terkena sasaran kemarahan Anggara.
***
Ruang dokter.
"Putri saya kenapa, Dok?"
"Pak Angga tidak perlu cemas, kami sudah menangani Tiara dengan baik. Dan untuk beberapa minggu ke depan, sebaiknya bayi Bapak tetap di rumah sakit."
"Maksud Dokter? Katanya putri saya baik-baik saja?" Anggara mulai ngegass. Sejak kehilangan separuh jiwanya, ia menjadi pribadi yang sangat emosional sekali. Tidak bisa bicara tenang dan santai seperti sebelumnya.
"Harap tenang, Pak Angga. Kami harus mengobservasi perkembangan pasien terlebih dahulu. Takut, bila nantinya terulang hal yang tidak diinginkan. Karena putri Pak Angga ini sepertinya belum stabil kondisi kesehatannya. Mengingat bahwa Tiara lahir secara premature, itu salah satu faktor yang dapat membuat bayi lebih rentan sakit," ucap dokter kemudian menghela napas panjang. Lalu kembali berbicara.
"Tapi Pak Angga tidak usah khawatir, sejauh ini kondisi sudah tidak mengkhawatirkan. Hanya saja, tim dokter ingin terus memantau, semuanya ingin yang terbaik bagi bayi Bapak," tambah dokter yang masih mengenakan stethoscope di lehernya.
Akhirnya Anggara mengerti, mungkin kemarin ia terlalu cepat membawa putrinya pulang. Seperti apa kata dokter. Ia pun merelakan baby Tiara kembali dirawat di rumah sakit. Meskipun, rumah sakit baginya menyimpan sejuta rasa sakit yang tidak bisa ia gambarkan.
Kini Tiara sudah berada di ruang khusus, di mana Lisa dan Anggara tidak boleh masuk sembarangan. Keduanya bahkan hanya bisa melihat Tiara dari kejauhan di depan kaca.
"Kamu boleh pulang sekarang, ketika Tiara keluar dari rumah sakit. Aku akan menghubungimu!" ucap Anggara dingin seperti biasanya.
'Pulang ke rumah sendiri? Atau bagaimana? Cepet sembuh ya Tiara ... tapi ini aku harus pulang ke mana? Rumah ibu atau rumah pak Anggara?' batin Lisa yang bingung.
Tap tap tap
"Pak!" panggil Lisa.
Ia mempercepat langkah agar bisa menyusul Anggara yang sudah jalan duluan.
Anggara hanya menoleh, dengan wajah enggan.
"Em ... saya pulang? Cuti?" tanya Lisa memberanikan diri.
"Apa perlu saya jabarkan dengan jelas?" cetus Anggara dengan sorot mata tajam.
Lisa langsung menelan ludah, "Baik, Pak. Saya tunggu kabar baik dari Bapak. Semoga Tiara cepat sembuh!" ucap Lisa tulus, tetapi terdengar tidak berarti di benak Anggara. Pria tersebut berlalu begitu saja, hatinya yang rapuh terbungkus cangkang keras. Ia terlihat sombong, arrogant dan pemarah. Padahal, Anggara hanya sedang menikmati hatinya yang masih terluka.
***
Rumah bu Siti.
"Lis, kok liburnya banyak sekali?" tanya bu Siti yang sedang dibantu Lisa menyiapkan jualan untuk di pasar.
"Gak dipecat kan, Lis?" tanya bu Siti lagi.
"Bayi yang Lisa jaga belum keluar dari rumah sakit, Bu."
Lisa terlihat sedih, sebab semalam ia telpon bibi di rumah Anggara, katanya masih belum pulang. Baby Tiara masih dirawat di rumah sakit.
"Semoga cepat sembuh ya, Lis. Kasian ... masih bayi sudah tidak punya ibu."
Lisa diam, sebenarnya ia ingin ke rumah sakit, tapi takut Anggara marah.
"Bu, Lisa nanti keluar sebentar ya."
"Mau ke mana?"
"Ada urusan bentar."
"Hemm ... hati-hati."
"Iya, Bu."
***
Siang hari, matahari bersinar sangat cerah. Lisa turun dari sebuah taksi. Ia naik taksi karena diburu waktu. Dan karena memang tabungan Lisa kini cukup ada isinya. Ia tidak harus berhemat ketika naik kendaraan.
"Terima kasih, Pak!" ucap Lisa ketika habis membayar taksi.
Gadis itu kemudian buru-buru keluar, lalu masuk ke dalam halaman rumah sakit. Langkah kakinya terlihat sangat ringan saat masuk semakin dalam. Ia mencoba mengingat di mana ruang baby Tiara. Setelah melewati lorong panjang, akhirnya ia sampai juga. Tapi langkah kakinya seketika terhenti, tatkala menatap sosok yang berdiri sendu menatap ke dalam jendela.
Lisa kemudian berbalik, ketika melihat Anggara mengusap wajah. Terlihat kesedihan yang kentara, apalagi tangan Anggara kemudian mengusap mata. Lisa semakin bersembunyi. Ia duduk jauh dari sana.
"Mengapa mataku ikut perih?" gumam Lisa kemudian mengusap pipinya yang ikut basah.
'Dia terlihat sangat kasar, dan selalu bersikap dingin. Tapi sebenarnya memiliki kasih yang tulus pada putri kecilnya itu,' gumam Lisa sambil menyusut hidung.
SROTTTT ...
"Kenapa kamu di sini?"
Lisa yang kaget tiba-tiba, langsung mendongak.
Bersambung
IG Sept_September2020
Fb Sept September