Hot Duda

Hot Duda
Tak Sengaja



Hot Duda Bagian 46


Oleh Sept


"Lisa periksa Tiara dulu, Pak."


Untuk menghindari tatapan Anggara, Lisa mengalihkan perhatian. Ia pamit akan melihat Tiara, padahal anak itu anteng tidak ada suaranya. Tiara masih tidur nyenyak.


"Kamu sedang menghindari saya?" tebak Anggara. Pria itu merasakan gelagat Lisa yang terlihat berbeda. Gadis itu seperti sengaja menghin dari tatapannya.


Lisa tambah gelisah. Bagaimana pun juga ini hanya pernikahan kontrak. Dia hanya dinikahi untuk membuat wanita-wanita di luar sana agar tidak mendekati suaminya.


'Ada apa dengan pak Angga?' batin Lisa yang bingung harus menjawab bagaimana. Karena ia memang ingin menghindar dari situasi yang serba canggung ini.


"Tiara masih nyenyak," sela Anggara kemudian.


"Saya akan periksa popoknya," kelit Lisa yang bersikukuh untuk pergi dari hadapan Anggara.


"Apa kamu takut dengan saya?" cetus Anggara.


Lisa tersenyum tapi terlihat sangat kaku, "Kenapa saya takut sama Bapak?" tanya Lisa pura-pura biasa saja. Padahal jantungnya hampir copot.


"Bagus, tetap seperti biasanya. Jangan khawatir ... saya tidak akan macam-macam meskipun kita satu ruangan, saya hanya ingin lihat Tiara tadi," ucap Anggara mencari alasan.


Pria itu kemudian memutuskan pergi saja dari sana. Sebab ia merasa tidak tenang lama-lama satu ruangan dengan Lisa. Mulutnya bicara tidak akan macam-macam, tapi berbeda dengan hatinya yang mulai bimbang.


Lisa sendiri sangat merasa lega, setelah Anggara pergi. Dekat-dekat dengan Anggara lama-lama juga merasa aneh. Untuk mengusir segala pikiran buruk, ia memilih membereskan tempat tidur. Kemudian memulai hari dengan semangat baru. Sebenarnya ia cukup senang, karena Anggara tidak sendingin biasanya.


***


Begitulah hari-hari Lisa dan Anggara, keduanya menjaga jarak, karena takut sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Karena ini hanya sebuah pernikahan kontrak. Hingga Anggara malah sering pulang malam akhir-akhir ini. Sebenarnya bukan karena lembur, pria itu asik merenung di ruang kerjanya. Waktunya dihabiskan dengan menggenang masa lalu saat bersama Dinda. Karena sampai detik ini, foto Adinda masih terpasang di pigura kecil di meja kerjanya.


Saat ini sudah pukul tujuh malam, tapi Anggara belum beranjak dari duduknya. Mungkin punggungnya lama-lama lelah, sehingga ia bangun dan berjalan menuju kaca besar yang ada di belakangnya. Anggara kini dapat menatap pemandangan malam dari gedung yang tinggi tersebut. Matanya menatap kosong, malam yang gelap, sunyi, sepi, sesepi hatinya saat ini. Ya, karena ia menghindar dari Lisa. Menghindar dari masalah yang mungkin tidak berjalan sesuai kemauannya.


Tok tok tok


"Pak ...!"


"Masuk!" Anggara menjawab suara panggilan dari Rio tersebut. Sepertinya ia harus pulang, kasihan Rio juga, ia juga butuh istirahat.


"Pulang sekarang, Pak?"


Anggara mengangguk, kemudian mengambil ponselnya yang ada di meja.


Anggara jalan duluan, kemudian disusul Rio sang sekretaris yang menutup pintunya.


"Oh ya, Pak. Pendaftaran segala macam administration sudah siap. Nona Lisa sudah bisa masuk kuliah."


"Ya," jawab Anggara dengan enggan. Entah mengapa ia malah menyesal membiarkan Lisa kuliah.


"Besok jadwal Pak Angga dikosongkan atau bagaimana?"


"Tidak usah, biar Lisa diantar sopir."


Dahi Rio mengkerut, kok tumben. Apa sesuatu telah terjadi? Kenapa bosnya itu terlihat cuek? Padahal kemarin dia sendiri yang menyuruh. Apa ada masalah? Pikir sekretaris Anggara tersebut.


***


Kediaman Anggara


Pulang telat, Anggara langsung masuk kamarnya. Setelah mandi, ia pun menyempatkan sebentar mengintip Tiara. Tapi kebetulan, saat ia akan kembali, malah berpapasan dengan Lisa yang sedang memegang botol dot.


"Sudah makan, Pak?" tanya Lisa basa-basi.


Anggara hanya melirik, kemudian menggacungkan tangan dan berbalik pergi. Lisa sempat memperhatikan wajah Anggara yang sepertinya lelah, dan sedikit pucat.


'Ada apa dengan pak Angga, apa dia sedang sakit?'


Lisa kemudian masuk ke kamar Tiara, tapi pikirannya malah terganggu.


"Apa aku buatkan minuman hangat?" gumam Lisa kemudian memilih keluar kamar lagi. Lisa perhatian bukan karena sudah jatuh hati, hanya saja ingin mengucapkan terima kasih, sebab karena Anggara, pengobatan keluarganya lancar. Bahkan kini rumah lama mereka sudah mulai dibangun lagi. Duit dari mana? Ya duit dari perpanjang kontraknya dengan Anggara.


***


Sesaat kemudian, Lisa sudah membawa segelas minuman hangat. Ia berdiri dengan ragu-ragu di depan kamar Anggara.


Tok tok tok


"Siapa?"


"Lisa, Pak!"


Di dalam kamar, Anggara bergumam. "Untuk apa dia ke sini?"


KLEK


Anggara membuka pintu sedikit saja.


"Ini."


"Siapa yang minta?"


Lisa jelas kaget, karena Anggara kembali galak seperti sebelumnya. Anggara bagai bunglon, membuat Lisa bingung saja. Kadang dingin, kadang hangat, entahlah, membuat Lisa malah serba salah.


"Bapak sepertinya kurang enak badan, mungkin minum ini lebih mendingan."


"Jangan sok tahu!" cetus Anggara kasar. Dan Lisa sampai tertegun.


"Maaf, menganggu waktu istirahat Bapak," ucap Lisa menundukkan wajah.


Anggara kemudian menutup pintunya, ia bersandar pada pintu, sedangkan Lisa, gadis itu juga masih membatu di depan sana. Keduanya sama-sama masih berdiri, sangat dekat, hanya terpisah papan kayu yang tebal.


Cukup lama Lisa berdiri, entah mengapa ia merasakan sesak. Anggara yang kembali kasar dan cuek, jujur membuatnya kecewa.


"Lisa ... sadar, bangun ... bangun dari mimpimu," ucap Lisa lirih.


Sedangkan di dalam sana, Anggara mengusap wajahnya yang terasa hangat. Ya, pria itu sedang demam. Anggara kemudian berjalan dan menyentuh potret Adinda yang memakai gaun pengantin yang menjuntai indah.


"Dinda ..."


Kenangan bersama kembali muncul, sampai akhirnya Anggara harus merasakan perih di matanya ketika ingat kejadian tragis yang akhirnya merenggut nyawa istrinya. Mungkin terlalu larut dalam kesedihan, sampai akhirnya Anggara tertidur.


Ia melewatkan beberapa jam makan. Tidur dengan perut kosong, tapi banyak pikiran. Kemarahan sang mama yang sampai saat ini tidak mau bicara dengannya. Dan banyak hal lain yang membuat Anggara merasa berat menjalani hari-harinya.


***


Esok harinya, matahari pagi bersinar cerah. Langit bersih tanpa awan, burung-burung terbang dengan leluasa. Kicauannya menambah syahdu suasana pagi di kediaman Anggara.


"Tuan ... Tuan."


Tok tok tok


Sudah pukul 7 pagi lebih, tapi Anggara belum bangun. Hingga bibi meminta Lisa membangunkan suaminya. Sebenarnya para art merasa aneh, jika sudah menikah, kenapa mereka tidur terpisah?


Pintu dikunci dari dalam, merasa curiga Lisa akhirnya minta kunci cadangan.


"Nanti tuan marah, Non."


"Saya yang tanggung, Bik."


Akhirnya Lisa membuka paksa pintu kamar Anggara. Kamar terlihat kosong, Lisa pun masuk semakin dalam. Kamar Anggara sangat luas, banyak ruang di dalam sana, membuat Lisa memindai semua sudut. Lisa melihat kamar mandi juga kosong, Anggara tidak ada di mana-mana.


"Kau sedang apa di kamar ini?"


Lisa jelas kaget, tiba-tiba Anggara muncul dari walk in closet. Pria itu mengosok rambutnya dengan handuk. Dan tunggu, Lisa sepertinya salah masuk. Ia pun buru-buru pergi, tapi Anggara malah memegang lengannya.


"Kenapa kamu masuk tanpa ijin ke kamar saya?"


Lisa menggeleng keras, ia hanya khawatir, tidak bermaksud berani. Tapi lidahnya keluh, apalagi pemandangan di depannya cukup membuat jantungnya meletup-letup.


"Em ... itu, itu ..."


"Jawab dengan benar!"


Lisa menelan ludah, kemudian menjawab dengan gugup.


"Itu ... saya hanya khawatir, Bapak dipanggil tidak menyahut dari tadi."


"Khawatir? Siapa kamu? Siapa yang mengijinkanmu khawatir, hem?"


"Em, semalam Bapak terlihat tidak baik-baik saja. Saya hanya cemas."


"Khawatir ... Cemas ...? Lisa, ingat. Ini hanya pernikahan di atas kertas. Jadi tolong ... tidak usah terlalu terbawa peran. Kamu bukan siapa-siapa, jadi jangan terlalu ikut campur, apalagi khawatir atau omong kosong lainnya. Kamu hanya istri di kertas. Hanya di kertas!" terang Anggara.


"Maaf, Bapak. Saya tidak bermaksud apa-apa. Karena Bapak baik sama saya, maka saya sedikit peduli. Jika rasa peduli saya disalah artikan, saya minta maaf."


Anggara kemudian melempar handuk yang dia pegang tadi.


"Kamu pikir semua masalah akan selesai dengan kata maaf? Lain kali jangan berani masuk tanpa ijin! Kamu tidak tahu, bahaya apa yang akan kamu hadapi!"


'Kan Lisa hanya khawatir, bahaya apa maksud pak Anggara, lama-lama pak Anggara semakin aneh,' batin Lisa.


"Baik, Pak. Lain kali Lisa tidak akan masuk kamar tanpa ijin. Sekali lagi Lisa mohon maaf."


Anggara melirik dengan tatapan sinis, masih kesal pada Lisa yang asal masuk ke kamarnya. Awalnya ia akan melepaskan Lisa, tapi karena ingin memberikan peringatan pada Lisa agar gadis itu tidak sembarangan lagi, Anggara pun sedikit mengertak.


"Tidak ada lain kali, kalau sampai terjadi lagi ... kamu akan tanggung akibatnya." Anggara mencengkram kedua pundak Lisa, mematap galak seperti biasanya. Hingga membuat Lisa takut.


"I-ya, Pak." Lisa jadi gugup. Kemudian tangannya reflek menyingkirkan lengan Anggara yang kekar itu dengan cepat, lebih baik ia keluar sekarang karena mata Anggara sekarang kembali seram.


Gerakan Lisa yang spontan dan cepat itu membuat wajah Anggara seperti cumi rebus, bagaimana tidak, tangan Lisa tanpa sengaja menyenggol handuk pria tersebut. Hingga lilitan kain putih tebal itu lepas dari pinggang Anggara.


BERSAMBUNG