Hot Duda

Hot Duda
Alasan



Hot Duda Bagian 54


Oleh Sept


Malam yang panjang bagi Elisa dan Anggara, malam ini terjadi penyatuan yang kedua kali. Bukan karena mereka saling mengasihi, bukan. Ini semata-mata karena naluri Anggara yang menginginkan kehangatan dari istrinya itu. Hanya sekedar memenuhi kebutuhan pria tersebut.


Puas mengeluarkan benihnya di dalam rahim Lisa, kini Anggara duduk di sofa sambil bersandar. Napasnya masih memburu, jantungnya juga masih berdegup kencang, akan tetapi tubuhnya sudah terasa lemas.


Kini mata Anggara tertuju pada Lisa yang terbaring di sofa, tanpa apapun. Karena ia yang sudah melepaskan semuanya. Niatnya ingin ke kamar mandi, untuk membersihkan diri sendiri. Namun, saat ia beranjak, Anggara kemudian berbalik dan membopong tubuh Lisa.


Lisa yang tidak mau jatuh, melingkarkan lengannya di leher suaminya. Ia yang merasa perih semuanya, kini memilih diam. Mengikuti skenario yang Anggara lakukan. Ia lelah, capek, capek badan capek hati.


Kamar mandi.


Sampai di kamar mandi, Anggara menurunkan Lisa. Wanita itu hanya diam saja sejak tadi, membuat Anggara tidak enak sendiri.


"Jangan diam saja," bisik Anggara. Mungkin sudah mulai merasa bersalah, karena Lisa tidak berbicara sama sekali padanya.


"Katakan sesuatu," seru Anggara kemudian mengusap pipi Lisa.


Lisa hanya membuang muka, ia lelah untuk berdebat dengan pria yang pasti selalu ingin menang tersebut. Pria egois yang tidak mau kalah dengan lawan bicaranya.


'Kenapa dia jadi diam begini?' batin Anggara yang terusik karena sikap Lisa yang sangat dingin. Sending air yang kini mulai membasahi tubuh keduanya. Ya, anggap menyalakan shower, membuat air tiba-tiba turun dari atas dan membasahi tubuh keduanya.


Lisa seperti patung, seolah mati rasa. Ia membersihkan tubuhnya dengan tatapan kosong. Hingga sampai selesai pun, ia tidak menjawab kata-kata Anggara. Sampai laki-laki itu mengambil bathrobe untuknya pun, Lisa tidak mengucap terima kasih atau kata yang lain.


***


Lelah setelah apa yang terjadi, Lisa dan Anggara kemudian tidur. Keduanya tidur di ranjang yang sama, hanya saja terpisah oleh Tiara yang ada di tengah-tengah mereka.


Pukul 6


Matahari pagi terasa begitu hangat menyentuh kulit pipi Anggara. Pria itu mengerjap karena merasakan silau. Pintu jendelanya sudah terbuka lebar, sedangkan di sebelahnya sudah tidak ada siapa-siapa.


"Lisa ....!"


Masih mengerjap, nama pertama yang dicari adalah sosok yang semalam mandi keringat bersamanya. Anggara kemudian turun dari ranjangnya yang empuk tersebut. Ia ke kamar mandi, membasuh wajah. Kemudian mengusap dengan handuk kering.


Sedikit segar, Anggara kemudian mencari Lisa di luar kamar. Ternyata Lisa sedang memandikan Tiara di kamar sebelah.


"Tuan," sapa babysitter yang menyadari kedatangan Anggara.


Sedangkan Lisa, ia masih fokus dengan bayi kecilnya itu. Tidak menyapa suaminya yang bangun tidur dan langsung mencari dirinya.


Sesaat kemudian


Anggara sudah pergi ke kamarnya sendiri setelah melihat Tiara yang sudah cantik, bersih, wangi, bersama babysitternya. Ia sendiri akan bersiap-siap. Pagi ini dia akan mengajak Lisa ke kampus. Rio juga sudah datang untuk menjemput keduanya.


Di dalam mobil.


Rio merasakan sesuatu yang aneh. Mendadak suhu dalam mobil menjadi beku, ini karena dua penumpang yang terlihat dingin yang sedang ia bawa. Anggara sejak tadi diam, begitu juga dengan Lisa.


Hingga mereka tiba di kampus baru Lisa. Sangat mudah bagi orang kaya malakukan apa yang mereka inginkan. Hari ini daftar, besoknya tinggal pilih mau masuk kapan. Uang bisa membeli apapun, dan itu hanya bagi mereka yang kaya raya.


Mereka bertiga baru keluar ruangan. Setelah berbicara singkat, Lisa bisa masuk kapan saja. Mungkin sengaja ingin menghindar dari suaminya. Lisa ingin segera masuk besok, dan ternyata bisa. Sebenarnya Lisa cukup heran, kenapa mudah sekali. Apa suaminya itu sangat kaya? Apa suaminya sangat berpengaruh? Ia hanya bertanya-tanya dalam hati.


Pulang dari kampus, mereka tidak langsung pulang. Anggara mengajak Lisa pergi mencari sesuatu. Ya, Lisa dibawa ke pusat perbelanjaan. Anggara menjadi salah satu member VIP, membuatnya langsung dilayani beberapa pelayan toko.


"Pilih apa yang kamu mau," ucap Anggara. Ia kemudian menelpon seseorang, sambil menemani Lisa memilih barang yang ia inginkan untuk persiapan masuk universitas.


Lisa tersenyum kecut, mengapa ia merasa seperti menjadi sugar babynya Anggara. Apalagi dia bisa merasakan tatapan aneh dari para pelayan. Entah mengapa ia merasa rendah, setelah memberikan miliknya, ia mendapat kemewahan ini. Lalu apa bedanya dengan mereka yang menjual diriii?


Anggara yang selesai menelpon merasa aneh, karena Lisa tidak memilih apapun.


"Lisa, apa kamu tidak suka toko ini?"


Lisa langsung mendongak, dan mengambil dengan asal. Tangannya dengan asal mengambil barang yang digantung di sebelahnya.


"Kamu yakin mau itu?"


Lisa kemudian melihat yang ia ambil, buru-buru ia kembalikan. Mungkin malu, Lisa langsung jalan duluan, diikuti oleh para pelayan yang sudah mirip dayang-dayang.


Tanpa sadar, sudut bibir pria beku tersebut terangkat. Ia tersenyum kecil melihat aksi Lisa yang menahan malu karena salah mengambil gaung yang sangat seksiii dan pendek sekali.


"Saya ambil ini!" ucap Anggara pada pelayan. Ia menunjuk pada gaun yang minim bahan tersebut. Gaun hitam dengan leher rendah. Pasti fantastic saat dikenakan Lisa. Mendadak otak mantan duda kembali oleng.


Satu jam kemudian.


Lisa masuk mobil dengan membawa 4 kantong belanjaan. Bukan dia yang milih, semuanya pilihan Anggara. Karena Lisa tidak mau, Anggara pun yang jadinya asal tunjuk. Dan yang dibeli bukan pakaian untuk pergi ke kampus. Kebanyakan malah pakaian yang dikenakan pada acara khusus, terutama malam hari.


"Sudah, Pak?"


"Hemm!"


Mobil pun kembali jalan, dan dua orang itu masih sama-sama diam. Anggara yang merasa kantuk, beberapa kali ia menguap. Apalagi macet, ia pun bosan, dan akhirnya malah tertidur. Tanpa malu, saat kepalanya sudah terasa sangat berat, Anggara merebahkan kepalanya di pundak Lisa.


'Pria ini!' Lisa membatin. Tidak mungkin ia mendorong kepala suaminya itu.


Sementara itu, Rio tersenyum kecut. Melihat aksi bosnya yang biasanya dingin pada semua orang, mendadak kok manja. Hingga dengan sengaja, saat ada polisi tidur di depan sana, Rio sengaja membuat mobilnya terguncang, hingga Anggara tersentak dan bangun.


Anggara kaget, karena tangan Lisa memegangi tubuhnya agar tidak jatuh ke depan. Canggung, Lisa langsung menarik diri. Ia membuang muka, melihat ke jendela. Anggara tersenyum memang, kemudian tanpa malu merebahkan kepalanya di pangkuan Lisa.


"Pak!" Lisa kaget.


"Sebentar, saya masih ngantuk! Semalam cuma tidur sebentar!" ucap Anggara. Membuat Lisa malu karena Rio menoleh ke belakang.


BERSAMBUNG


Fb Sept September


IG Sept_September2020