
Hot Duda Bagian 32
Oleh Sept
Sore itu harusnya Lisa dan ayahnya bertemu dengan Anggara, tapi fakta bicara lain. Bukan Anggara yang datang, melainkan sosok yang berbeda.
"Lis, pantes kamu mau segera menikah. Rupanya orangnya begini? Semoga juga baik ya, Lis. Tidak hanya bagus rupanya, tapi juga bagus budinya," bisik ayah Lisa. Ia sedikit terharu, karena putrinya disukai pria kaya, mapan, ganteng juga. Sepertinya tidak apa-apa jika status pria itu adalah seorang duda. Lama-lama, tidak ada bedanya antara bu Siti dan suaminya.
"Bukan, Pak. Bukan ... dia sekretaris pak Anggara," jawab Lisa juga bisik-bisik seperti ayahnya. Membuat Rio yang berjalan mendekat merasa aneh saat menyaksikan gelagat aneh anak dan ayah tersebut.
"Loh, bukan dia?"
"Bukan," jawab Lisa lirih.
Ayah Lisa langsung duduk, ia yang semula tampak antusias mendadak jadi tidak semangat.
'Apa karena kami beda kelas? Sehingga dia mengurus bawahannya? Belum apa-apa saja dia sudah tidak menganggap ayah dari wanita yang akan dinikahi. Bagaimana nanti?' batin ayah Lisa yang terlihat mulai gelisah. Sepertinya ia juga mulai sadar, siapa dia sebenarnya, siapa sebenarnya Lisa.
"Selamat sore," sapa Rio ramah.
"Sore Pak Rio," Lisa pun menyapa balik pria yang merupakan sekretaris Anggara tersebut.
"Selamat sore Bapak," sapa Rio sambil mengulurkan tangan pada ayah Lisa.
Pak Harun, ayah Lisa pun menyambut uluran tangan pria berbadan tegap dengan rahang tegas tersebut. Keduanya kemudian langsung duduk, diikuti oleh Lisa yang sebelumnya melihat ke belakang tubuh Rio, mungkin berharap Anggara akan muncul. Meksipun sandiwara, tetap saja Lisa tidak enak pada ayahnya.
"Sudah pesan makanan?" tanya Rio.
"Belum, baru minum," sela Lisa.
"Bagu, mari ikut ke mobil. Pak Anggara sudah menunggu."
Lisa otomatis terhenyak, ia kaget. Sudah di sana kenapa tidak turun?
Melihat Lisa dan ayahnya terkejut, Rio langsung menjelaskan.
"Di sini banyak CCTV, pak Rio tidak mau nantinya ada berita-berita aneh di luar sana," ucap Rio sambil menjelaskan kenapa Anggara tidak mau turun dari mobil.
Lisa langsung paham, ia pun mengeluarkan uang dan memanggil pelayan cafe. Kemudian mengajak ayahnya ikut dengan Rio.
"Ayo, Yah."
Pak Harun pun ikut saja, meskipun dia tidak mengerti dengan semua ini. Apa calon mantunya orang hebat, sampai tidak mau ketemu di tempat umum yang ada CCTV-nya.
'Dasar orang kaya, mengapa hidupnya dibuat rumit?' batin pak Harun kemudian berjalan bersama Lisa mengikuti Rio yang berada di depan mereka.
"Silahkan masuk!" Rio membuka pintu tengah.
Lisa melirik Rio dulu sebelum masuk. Kemudian di susul ayah Lisa, pak Harun.
"Maaf membuat Bapak tidak nyaman, kita pindah tempatnya," ucap Anggara yang mambuat Lisa dan pak Harun sama-sama menatap sosok pria dingin itu.
Mobil pun perlahan melaju meninggalkan cafe, dan sepanjang jalan mereka semua tidak banyak kata. Lisa masih tegang, begitu juga ayahnya.
CHITTTT ...
Rio keluar, membuka pintu untuk Anggara lalu untuk Lisa yang sudah membuka pintunya sendiri.
Lisa kaget, karena dia dan ayahnya diajak ke sebuah restaurant mahal.
"Mari," seru Rio. Sedangkan bosnya, masih saja konsisten dengan ekspresi dingin seperti sebelumnya.
Saat masuk, mereka disambut dengan ramah. Ternyata Anggara sudah reservasi sebelumnya.
"Lis, calon suamimu sepertinya banyak uangnya. Ini kan tempatnya pasti mahal," bisik pak Harun. Dan Lisa hanya tersenyum tipis.
Pak Harun tambah bengong saat melihat banyak menu makanan yang selama ini hanya ia lihat di TV. Porsinya sedikit, mungkin lebih mantap nasi padang. Lebih puas, libih pas di lambung pak Harun.
"Silahkan," seru Anggara yang melihat Lisa diam saja. Lisa pun mengangguk. Kemudian mulai makan secara perlahan.
"Udah, Yah ... Ayo dimakan," bisik Lisa.
Pak Harun tidak pernah makan dengan pisau sebagai alat bantu untuk memotong daging. Ia lebih suka pakai sendok atau langsung pakai tangan. Lebih wangi, lebih nikmatt. Apalagi kalau pakai sambal, nambah-nambah.
Lisa melihat sang Ayah kesusahan untuk makan daging sapi pilihan tersebut. Sepertinya paham, Rio yang duduk di sebelah pak Harun, langsung meraih piring tersebut. Dengan singkat, Rio berhasil memotong menjadi bagian kecil-kecil.
Pria itu kemudian tersenyum ramah pada pak Harun.
"Silahkan, Pak."
Lisa pun melempar senyum pada Rio. Sebagai ucapan terima kasih, sepertinya Rio mengerti kesulitan ayah Lisa. Dan Rio sendiri melanjutkan makannya, dia tidak sadar, sepasang mata menatapnya tajam padanya.
BERSAMBUNG
Fb Sept September
IG Sept_September2020