Hot Duda

Hot Duda
Nambah



Hot Duda Bagian 60


Oleh Sept


Harus skip. Kalau memiliki suami atau istri wajib lanjut hehehe.


***


Saat Rio harus balik kanan dan putar arah, ada sepasang mahluk yang sedang menikmati malam yang tidak akan terlupakan, dan mungkin tidak akan terjadi di tempat yang sama. Hanya karena situasi yang sangat genting, akhirnya Anggara membantu Lisa keluar dari siksaan tersebut di tempat yang mungkin tidak nyaman.


Mereka tidak bisa memainkan banyak gaya karena ruang yang terbatas, tapi tetap bisa menikmati permainan yang extra panas akibat Lisa yang tidak berhenti membara.


Dari luar mobil terus saja bergoyang, sampai Rio malu sendiri. Namun, orang yang di dalam sama sekali tidak peduli. Apalagi yang namanya Lisa. Tubuhnya masih saja mengeliat, masih seperti belut yang mencari air.


'Kenapa belum reda?' batin Anggara yang heran, sebab Lisa masih belum juga puas. Padahal mereka cukup bermain lama. Misilllnya bahkan sudah terasa panas karena terjepit dan terasa sempit tersebut.


"Lisa ... siapa yang memberikan obat padamu?"


Sudah ganti posisi, tapi masih sambil maju mundur, Anggara mencoba mengorek informasi, mungkin Lisa kenal dengan pria yang Anggara maksud. Namanya juga Lisa, yang otaknya masih konslet untuk saat ini, ia tidak fokus pada pertanyaan suaminya itu. Lisa mengigit bibirnya karena masih menahan sesuatu.


"Bisa lebih cepat?" desis Lisa.


Anggara terkekeh, ia menahan senyum. Baiklah, meski panas sedikit tidak masalah. Kapan lagi dia bisa menikmati moment seperti ini sampai luber-luber.


Lisa mencengkram punggung suaminya, ketika Anggara mempercepat gerakan. Wanita itu sampai tidak tahan, hingga sesuatu terasa keluar di bawah sana.


Anggara jelas tertegun, ada yang hangat, tapi jelas bukan punyanya. Dia belum keluar lagi. Semakin terpacu, Anggara lantas memacu Lisa kembali. Keduanya seperti diburu, memgebu dan terbawa arus asamara yang deras.


"Lisa ... Honey!" tanpa sadar bibirnya memanggil Lisa. Sambil terpejam, ia menahan sesuatu yang akan keluar.


Jantungnya semakin berdegup sangat kencang, Anggara tiba-tiba menegang. Hingga akhirnya ia memekik dan menahan napas panjang.


"Ish ...!"


Anggara pun melepaskan apa yang seharusnya dilepas. Ia hujam ribuan sumber kehidupan dalam wadah yang semestinya. Berkali-kali ia hujam Lisa sampai wanita itu akhirnya lemas seperti dirinya. Akhirnya Lisa lepas juga dari perasaan yang begitu menyiksa tersebut.


Malam ini mereka melewati malam yang mungkin tidak terlupakan, dan mungkin akan membuat Lisa malu, saat wanita itu sadar bahwa malam itu ia sangat aggressiveee pada suaminya. Dan besok, mobilnya harus dicuci kembang tujuh rupa, atau diganti kulit joknya. Malam ini Anggara dan Lisa membuat mobil itu penuh dengan noda.


***


Lisa duduk dengan lemas, sementara itu Anggara sibuk memakai celana kembali. Setelah itu memakai kemejanya. Sudah memakai baju sempurna, ia pun ganti mengurus Lisa.


Dengan perhatian, pria balok yang sebelumnya seperti kulkas dua pintu itu, meraih gaun Lisa. Membantu Lisa memakai bajunya, kemudian memakaikan jas miliknya pada Lisa.


"Minum?"


Lisa mengangguk.


Anggara memperhatikan Lisa yang minum sedikit demi sedikit karena masih lemas.


"Sudah?" tanya Anggara lagi.


Lisa kembali mengangguk, kemudian bersandar di kursi. Tangan Anggara kembali reflek, menarik Lisa agar bersandar padanya. Pria itu juga mencari ponselnya, kemudian menghubungi Rio. Anggara meminta sekretarisnya itu masuk ke dalam mobil dan membawa mereka pulang.


"Baik, Pak."


Rio menghela napas dalam-dalam, kemudian menatap mobil bosnya dari jauh. Mobil yang tadi cukup mengerikan. Hingga ia tidak berani mendekat.


Beberapa saat kemudian, Rio sudah muncul di depan Anggara. Kini mereka bertiga dalam mobil yang sama. Lisa sih sudah tertidur, sudah puas, kini tertidur pulas. Sedangkan Rio, ia harus menahan rasa canggung, tapi tidak berani melirik sama sekali.


"Pulang ke rumah, Pak?"


"Kamu pikir kita mau pulang ke mana?"


Rio garuk-garuk, barangkali bosnya mau nambah di hotel.


"Ehm ... iya, Pak."


Wushhh....


Rio langsung tancap gas, hingga tidak terasa mereka akhirnya tiba di hunian megah milik Anggara. Begitu sampai, Anggara langsung membopong tubuh Lisa. Ia membawa Lisa ke kamarnya sendiri.


Lisa yang sangat kelelahan, dibiarkan tidur tanpa ganti baju. Anggara hanya melepaskan jas yang tadi ia pakaikan pada Lisa. Setelah itu, Anggara memeriksa Tiara. Kata babysitter anaknya gak rewel. Itu sangat bagus, akhirnya Anggara kembali ke kamarnya, kamar yang sekarang akan dihuni oleh Lisa.


KLEK


Ia kunci pintunya dari dalam. Kemudinya ke kamar mandi. Rasanya gerah sekali. Namun, saat air membasahi seluruh tubuhnya, Anggara mengerutkan dahi, terasa perih di balik punggungnya. Ia pun berbalik, melihat ke arah cermin. Ternyata banyak jejak cakaran kuku yang ditinggalkan oleh Lisa. Bukannya marah, bibirnya malah mengukir senyum.


Anggara kembali mengingat kejadian yang terjadi di dalam mobil. Ia kemudian menepuk pipinya berkali-kali. Wajahnya masih terasa hangat, gara-gara Lisa, otaknya kini tidak bisa terkontrol. Tidak mau terbayang-bayang terus, ia akhirnya keluar dari sana. Lebih baik menatap secara langsung dari pada hanya membayangkan.


Bukkkk ....


Anggara berbaring di sebelah istrinya, ia tatap wajah Lisa yang terlelap. Anggara masih tidak menyangka, Lisa bisa membuatnya merasa lebih baik dari sebelumnya. Ia seperti mendapat kehidupan lagi, setelah hari-harinya yang sangat hambar. Lisa memberikan warna yang berbeda, membuat Anggara bersemangat. Ya, bersemangat untuk menyentuh wanita muda itu bila sudah dekat seperti ini.


CUP


Sebuah kecupann lembur mendarat di dahi Lisa, hal itu membuat Lisa membuka mata perlahan. Ia mengerjap, menatap suaminya yang mempesona. Bau harum parhum dan aroma sabun yang segar, membuat Lisa tersadar, ia tertegun, apalagi mata keduanya lamat saling menatap.


Anggara terlena, hingga ia kembali menempelkan bibirnya. Kali ini tidak di kening, melainkan di kelopak mata Lisa, turun ke hidung, kemudian perlahan pindah ke bibir.


Mulanya Lisa hanya diam tidak merespon, tetapi saat Anggara mencoba masuk ke dalam sana, apalagi memasukkan lidah dan mulai berkelana mencari sesuatu. Menyesapp, mengigit kecil, membuat Lisa yang semula dikuasai rasa kantuk perlahan mendapat kembali kesadarannya.


"P-aak ..."


Lisa mengerjap saat Anggara melepaskan bibirnya. Lisa mencoba menyingkirkan tangan Anggara, karena merasa geli. Anggara seperti punya mainan baru, ia senang sekali memainkan bola-bola salju yang seperti jelly tersebut.


Rupanya Anggara kembali tergoda, gara-gara pakaian yang Lisa kenakan sedikit tersingkap. Memperlihatkan bentuk mulus yang cukup membuatnya bereaksi.


"Capek tidak? Kita lakukan lagi."


Lisa menelan ludah, saat Anggara kembali mengajak menyelami lautan asmara. Yang diberi obat siapa, yang mengebu siapa. Tanpa disuruh, Anggara merayap bagai cicak.


"Ehmmm."


BERSAMBUNG