
Hot Duda Bagian 31
Oleh Sept
Suasana kediaman Anggara tampak sepi dari depan, tapi ketiga mobil Anggara ada di rumah tersebut, artinya si pemilik rumah sedang berada di rumah.
Ruang tamu
Anggara sedang menatap Rio yang tengah membereskan semua berkasnya dan Lisa. Hitungan hari keduanya akan meresmikan pernikahan. Anggara nekat melakukan hal itu karena sudah risih, sang mama terus saja mendesak menikahi Jessica.
Jessica yang tidak pernah menyerah, sering datang ke rumah dengan alasan menjengguk putrinya. Padahal Anggara tahu, itu hanya cara nyonya Claudia dan Jessica untuk mendapat simpatinya.
Karena Lisa datang sendiri tanpa paksaan, akhirnya Anggara pun merencanakan ide gilanya kembali. Mencari wanita untuk jadi istri sementara, hanya sebagai tameng agar sang mama tidak memaksa lagi untuk ia menikah.
"Bagaimana? Apa semuanya sudah beres?" tanya Anggara.
"Sudah, Pak."
"Baiklah, siapakan semuanya. Pastikan hari itu tidak ada yang menganggu, kosongkan semua agenda. Dan jangan biarkan Jessica mengacau, begitu juga dengan mama saya."
Rio mengerutkan dahi.
"Nyonya Claudia tidak diberi tahu, Pak?"
Anggara tersenyum miris.
"Kamu ingin acara ini gagal?" sindir Anggara. Ia yakin, jika sang mama tahu ia akan menikahi Lisa, pasti sang mama akan membuat perhitungan dan dengan gencar mengagalkan acara ini. Oleh sebab itu, Anggara memilih menikah diam-diam. Kalau sudah beristri, lalu mamanya bisa apa? Itulah yang ada dalam benak pria beranak satu tersebut.
Sedangkan Rio, ia hanya garuk-garuk kepala. Baru kali ini ia menghadapi kasus yang seperti ini, tapi ini kan pernikahan kontrak, jadi tidak aneh jika bosnya itu ingin semua dilakukan secara diam-diam. Diam-diam menikah, kemudian diam-diam pisah, mungkin itu yang dipikirkan Anggara, pikir Rio.
Jika Anggara sudah matang dengan persiapan pernikahan, lalu bagaimana dengan calon mempelai wanita?
***
Rumah sakit Ibu Sina. Di sebuah ruang ICU, Lisa sedang duduk menunggu ibunya. Bu Siti sudah bisa diajak komunikasi, meskipun hanya mendengar, tidak bisa membalas. Wajah, dan sebagian tubuh bu Siti masih diperban.
Lisa duduk sambil bercerita, karena saat berbicara pada sang ayah, ayahnya itu malah mengira ia mengibul. Akhirnya ia berbicara pada ibunya.
"Bu ... Ibu bisa dengerin Lisa, kan?"
Bu Siti mengangguk pelan. Kemudian tangannya mencoba menyentuh tangan Lisa. Lisa pun langsung memegangnya lembut, takut menyakiti kulit ibunya yang memiliki luka bakar parah. Bu Siti menatapnya dalam, seakan menunggu apa yang ingin Lisa katakan.
"Ibu ingat bos Lisa, kan?"
Bu Siti kembali mengangguk.
"Ibu benar ... dia suka sama Lisa," ucap Lisa bohong agar diijinkan menikah.
"Namanya pak Anggara, dia sangat baik. Ibu ingat kan, gaji Lisa banyak di sana? Ternyata karena dia suka sama Lisa," ucap Lisa yang mulai menghalu beneran seperti apa kata ayahnya. Ia seolah dicintai majikannya itu, agar mendapat ijin dengan mudah. Jika jujur, jelas semuanya akan melarangnya.
Lisa terus saja membual, menceritakan semua kebaikan Anggara yang hanya semu semata. Padahal, pria itu begitu kasar, dingin dan sinis padanya.
"Saat Lisa cuti, dia mengatakan sesuatu. Sebenarnya pak Anggara ingin Lisa jadi ibu dari putrinya. Bagaimana, Bu? Apa Lisa boleh menikah dengan pak Angga? Ibu tidak perlu cemas, dia tulus sekali pada Lisa. Tidak peduli meskipun Lisa tidak sepadan. Boleh kan, Bu ... Lisa menikah dengan pak Anggara?" tanya Lisa dengan ekspresi penuh keyakinan, dan kebahagiaan, seolah dia gadis yang sangat bahagia karena habis dilamar.
Bu Siti sendiri sampai tidak bisa berkata-kata, ia tidak menyangka bahwa dugaanya dulu benar. Bahwa bos Lisa yang duda itu aslinya memang menaruh hati pada putrinya. Seperti ketiban durian runtuh, bu Siti langsung mengangguk saja. Apalagi setelah musibah yang terjadi, bu Siti tidak mau Lisa menderita karena harus menahan beban semua keluarga.
Bu Siti berharap Lisa menikah dengan orang kaya agar Lisa bisa bahagia. Sudah itu saja, setidaknya Lisa tidak akan merasakan hal yang sama dengannya. Banting tukang, kerja keras, tapi hasilnya belum seberapa. Biarlah dikatakan matre, yang jelas nanti Lisa akan hidup cukup tanpa kurang satu apapun.
"Jadi Ibu setuju?" tanya Lisa meyakinkan diri.
Tangan bu Siti mencoba meraih pipi Lisa, Lisa yang memang duduk di dekat bu Siti, ia semakin mendekatkan wajahnya. Lisa yang sebenarnya hatinya carut marut, mencoba tersenyum bahagia di depan bu Siti, padahal aslinya miris. Demi uang ia akhirnya menikah palsu. Demi uang ia mendatangi kontak pernikahan.
***
KRING ...
Butuh panggilan 3 kali baru dijawab oleh Anggara.
"Ada apa?" tanya Anggara saat mengangkat telpon.
"Halo, Pak Angga. Ini saya, Lisa."
"Saya tahu!" jawab Anggara ketus.
"Em ... itu. Mengenai pernikahan. Bisa tidak Bapak bertemu dengan ayah saya terlebih dahulu?"
Berikutnya tidak terdengar suara Anggara, hingga beberapa menit kemudian Anggara kembali berbicara.
"Di mana?" tanya Anggara dingin dengan nada enggan. Ia malas harus menemui keluarga Lisa.
"Nanti saya kirimkan tempatnya di mana."
"Hem. Sudah? Jika tidak ada yang penting, aku tutup."
"Ya."
Tut Tut Tut
Begitu telpon terputus, Lisa menggenggam ponsel miliknya. Ia kemudian mengirim pesan singkat, di mana mereka akan bertemu. Lisa memutuskan akan mengajak Anggara bertemu di sebuah cafe di dekat rumah sakit.
***
Sore hari, di sebuah cafe yang cukup sepi. Lisa memesan meja khusus untuk ayah dan Anggara. Ia sudah datang terlebih dahulu, sambil menjelaskan banyak hal pada ayahnya.
"Yah, nanti pria yang Lisa maksud akan datang. Ayah ijinkan saja, ya? Jangan dipersulit. Sebab ibu sudah tahu ... Lisa sudah cerita banyak sama ibu, sebelum sama ayah."
Ayah Lisa mulai percaya, karena Lisa memang lebih dekat dengan ibunya.
"Tapi dia duda sudah punya anak? Dia pasti sudah tua? Kenapa kamu mau menikah? Usiamu masih muda, Lis? Apa karena kamu membutuhkan uang?"
Lisa menggeleng cepat.
"Bukan, Yah. Pak Angga atasan Lisa di perusahaan yang lama. Istrinya meninggal karena sebuah kecelakaan. Dan sepertinya dia suka sama Lisa. Karena saat di kantor, malah meminta Lisa menjaga putrinya."
Ayah Lisa manggut-manggut, masuk akal sih. Karena putrinya cantik, good looking, jadi pasti banyak yang suka, apalagi duda, pasti tergoda dengan pesona Lisa yang cantik natural, pikir ayah Lisa yang mulai membanggakan sang putri.
"Coba Ayah nanti bicara dengannya dulu. Ayah tidak mau dia main-main sama kamu, Lis?"
Lisa langsung menelan ludah.
Tap tap tap
"Lisa!" panggil seorang pria yang berjalan ke arah mereka.
'Oh ini dudanya, pantes Lisa ngeyel. Lah orangnya ganteng!' batin ayah Lisa yang menatap sosok Rio yang berjalan ke arah mereka.
Bersambung
Fb Sept September
IG sept_September2020
Yuk, followw kenalan sama otor. Hehehe 😉