Hot Duda

Hot Duda
DUO BUCIN



Hot Duda Bagian 64


Oleh Sept


Setelah diperiksa Lisa meminta pulang, ia hanya flu. Bukan menderita penyakit parah yang harus dirawat di rumah sakit.


"Semalam demammu tidak turun, kita lihat besok. Kalau sudah mendingan, boleh pulang," ucap Anggara ketika Lisa mendekat minta pulang.


"Tapi Lisa nggak apa-apa."


Anggara menggeleng, tetap melarang istrinya itu untuk minta pulang.


"Lalu ngapain Lisa di sini? Hanya berbaring seharian ... malah sakit semua."


Pria itu langsung menarik kaki Lisa, "Aku pijit."


Reflek Lisa menarik kakinya, ia geser menjauh.


"Jangan, Pak."


Lisa jelas canggung karena kakinya disentuh dan akan dipijit suaminya. Lisa bahkan masih ingat betul, siapa pria yang duduk di depannya itu. Dia adalah pimpinan Montana Group, mantan bos Lisa di perusahaan. Masa mau memijit kakinya, Lisa jelas tidak nyaman akan hal itu.


"Tidak apa-apa, kenapa kamu ini kaku sekali."


"Em ... apa Bapak gak kerja?"


Anggara melirik sedikit ke arah Lisa, dan tangannya mulai memijit kaki Lisa pelan-pelan. 'Susah sekali memintanya tidak memanggil bapak. Apa aku terlalu tua? Atau Mungkin dia sengaja?' batin Anggara sembari mengulas senyum tanpa ia sadari.


"Hari ini aku akan di rumah sakit menanimu, mungkin nanti pulang sebentar lihat Tiara. Dan satu lagi, kamu memang sedang meledek ya? Kenapa suka sekali memanggilku dengan formal seperti itu?"


Wajah Lisa jadi tidak enak.


"Hanya aneh saja, Pak."


"Aneh apanya, jangan panggil Bapak lagi ya? Aku tidak suka mendengarnya," ucap Anggara jujur, tapi dengan wajah ramah.


Rona dingin yang selalu terpancar di wajahnya, perlahan pudar, seiring berjalannya waktu. Semakin lama ia bersama Lisa, auranya semakin hangat. Mungkin karena selalu dipanasi, balok es dalam hati mantan duda tersebut kini perlahan mencair.


"Em ... itu, jangan Honey, Pak. Saya malu."


Anggara yang masih sambil memijit kaki Lisa, ia pun tidak bisa menahan tawa karena perkataan Lisa barusan.


'Dia benar-benar pemalu rupanya,' batin Anggara kemudian menarik napas lega.


"Ya sudah, panggil saja mas Angga," kata Anggara sambil melempar senyum.


'Kenapa dia sekarang jadi sering tersenyum padaku?' Lisa menundukkan wajah. Cara Anggara menatapnya membuat hatinya berdebar.


"Iya."


"Iya apa?" Tangan Anggara menyentuh dagu lancip Lisa, mengangkat sedikit agar mengarah padanya.


"Iya, Mas."


Seketika Lisa mlengos, malu rasanya, ia lantas buru-buru mengalihkan pandangan. Sedangkan pria tersebut, dia malah berdiri. Kemudian semakin merapat pada ranjang rumah sakit. Diraihnya Lisa, ia peluk dan usap lembut.


"Cepet sembuh ya, biar cepat pula kita pulang," bisik Anggara halus. Membuat jantung Lisa mulai kendor, seperti kehilangan murnya. Sikap hangat Anggara mampu membuat Lisa hanyut dan merasa semua ini bagai mimpi. Meksipun belum ada kata cinta yang terucap dari bibir suaminya, melalui sikap pria tersebut, Lisa merasa sudah mampu mengartikannya. Meskipun masih baper, berharap Anggara mengatakan bahwa ia mencintai dirinya.


Bagai pungguk yang merindukan rembulan, Lisa pun tersadar. Cukuplah Anggara berbuat baik padanya, ia tidak akan meminta lebih. Lisa juga yakin, cinta suaminya masih untuk istri pertamanya. Karena foto pernikahan mereka masih tergantung indah. Sedangkan ia sendiri, tidak memiliki poto pernikahan.


Diam-diam dalam pelukan suaminya pikirannya berkecamuk. Bagaimana pun juga ia adalah wanita. Butuh pernyataan verbal, tidak hanya sekedar sebuah tindakan.


Saat mereka masih berpelukan, ada perawat yang masuk. Niatnya mau melihat pasien. Tapi ia malah seperti penganggu.


"Maaf," ucap suster yang membawa berkas dalam pelukannya.


Anggara melepaskan Lisa. Ia duduk dengan santai, sedangkan Lisa yang merasa malu, pipinya merona.


Ketika suster sudah selesai memberikan obat, dan mengecek selang infus, suster pun pergi. Di dalam hati ia tersenyum tipis.


'Apa mereka pasangan baru? Masih terlihat romatis ... coba kalau sudah 5 tahun ... atau 10 tahun ...' batin suster yang sepertinya iri atau malah baper.


Sikap Anggara memang membuat orang yang melihat jadi iri. Seperti saat ini. Setelah suster pergi, pria tersebut memaksa Lisa makan.


"Sudah kenyang, nanti saja."


Lisa menolak saat Anggara menata makanan untuknya.


Anggara tetap memaksa, ia kemudian membuka tutup tuper wereee warna ungu, kemudian mengambil sendok.


"Hak! Ayo buka mulutnya." Anggara sudah mengangkat sendok yang sudah ada makanannya.


Sementara itu, mata Lisa malah melirik sosok pria pembawa makanan yang kini duduk di sofa. Rio kemudian pura-pura main ponsel.


"Lisa ..." panggil Anggara.


Lisa kemudian membuka mulut, suapan pertama yang diberikan Anggara cukup membuat Lisa merasa aneh. Rasanya nano-nano. Apalagi di sana ada Rio. Lisa pasti malu. Sudah besar tapi disuapin.


"Aku makan sendiri saja, Mas," kata Lisa kemudian.


Bibir Anggara sedikit terangkat, mengulas senyum. Membuatnya jadi tambah tampan. Cuma dipanggil mas, hidungnya sudah mulai kembang kempis.


"Gak apa-apa, aku suapi."


Di belakang mereka, Rio ingin menghilang saja.


"Pak, saya permisi."


"Hemm," jawab Anggara acuh. Setelah tidak butuh, ia seakan tidak peduli pada sekretarisnya itu. Padahal tadi yang suruh cepat bawa makanan, suruh ini itu. Sekarang saat berduaan saja dengan Lisa, Rio langsung ditendang.


Rio pun pergi, lebih baik di kantor menyelesaikan pekerjaan, dari pada melihat bos bucin.


"Saya permisi dulu Non Lisa!" goda Rio sambil mengedipkan sebelah matanya. Rio mungkin ikut bahagia, bagaimana pun juga, ia ikut jadi saksi, di mana Anggara sangat terpuruk saat kehilangan istri. Melihat Anggara sekarang happy, setidaknya itu juga membuatnya senang.


Dikedipin mata seperti itu, Lisa tambah malu. Ia tahu, Rio sedang meledek.


"Ayo Lisa ... dikunyah ya," ucap Anggara yang melihat Lisa menatap kepergian Rio. Anggara seperti ibu-ibu komplek yang sedang menyuapi putri kecilnya.


Karena perutnya masih tidak enak, mulut pun masih terasa pahit. Lisa hanya makan sedikit.


"Udah, Mas. Sudah kenyang."


"Ya sudah, tidak apa-apa. Ini ... minum yang banyak."


Anggara mengulurkan minum pada istrinya. Ia seperti dokter, yang begitu telaten merawat pasien VIP yang sedang sakit.


"Mau anggurrr? Jeruk? Apel?"


Lisa menggeleng, "Masih kenyang."


"Makan beberapa sendok, kenyang apanya. Aku kupasin apel."


"Nggak usah. Nggak usah Mass."


Entah mengapa, mendengar Lisa memanggil namanya dengan sebutan mas, kok merdu sekali. Anggara menyukai panggilan itu.


"Iya ... iya ... nonton TV ya. Mau?"


Kali ini Lisa mengangguk. Mereka pun melihat acara TV. Tapi kok membosankan, hanya acara gosip.


"Coba aku sambung internet. Kita nonton film saja."


Anggara kemudian mencari film yang pas.


"Kita lihat ini, biar kamu gak bosen," kata Anggara saat memilih salah satu judul film yang cukup pupuler. Salah satu pemainnya bibirnya sangat seksi, suaminya juga seorang aktor, sayang mereka harus berpisah. Harta berlimpah, ketenaran, ternyata tidak menjamin bahagia.


Saat film sudah mulai, Anggara kemudian membetulkan bantal Lisa, pria itu dengan santai naik dan berbaring sambil memeluk Lisa.


"Mas, nanti ada dokter dan perawat masuk," ucap Lisa kaget karena Anggara malah berbaring di ranjang rumah sakit bersamanya.


"Gak apa-apa, kamu kan istriku."


Seketika Lisa salah tingkah, mau bernapas saja dia canggung.


BERSAMBUNG


Wkwkwk duo bucin gaesss.


Fb Sept September


IG Sept_September2020