Hot Duda

Hot Duda
Dobel



Hot Duda Bagian 72


Oleh Sept


Mungkin malu, juga gengsi. Nyonya Claudia yang terhormat itu mencari alasan untuk buru-buru pulang.


"Kok buru-buru, Ma? Biasanya lama," tanya Anggara.


Nyonya Claudia langsung keki, apalagi saat ia melirik tangan Anggara yang sejak tadi memegangi tangan menantu yang tidak diharapkan itu.


"Mama ada urusan!" jawabnya jutek. Kemudian berbalik, ia menguap rambut Tiara dulu sebelum benar-benar pergi dari kediaman sang putra.


"Oma pulang dulu ya, Ara ... besok Oma ke sini lagi bawa mainan."


Tiara mengangguk tersenyum manis, nyonya Claudia yang tadinya masam, lalu tersenyum melihat paras cantik Tiara, lucu menggemaskan, apalagi wajahnya sama persis seperti Anggara. Nyonya Claudia seakan kembali ke masa lalu, di mana dia melihat Anggara kecilnya dengan versi yang berbeda.


"Sini, peluk Oma!"


Di belakang mereka, Anggara hanya tersenyum tipis. Mamanya memang begitu, meski kadang lidahnya tajamm, tapi ia masih punya sisi yang baik. Mungkin bersama dengan berjalannya waktu, mamanya akan memperlakukan Lisa dengan baik pula. Sekeras kerasnya batu, kalau selalu ditetesi oleh air, lama-lama hancur juga.


"Hati-hati, Ma."


Nyonya Claudia hanya melirik sinis, kemudian pergi ke mobilnya. Sopir juga sudah siap, akhirnya ia meninggalkan kediaman Anggara, sembari membuka jendela, ia melambai pada Tiara.


***


Selepas ibunya pergi, Anggara langsung mendudukkan Lisa. Mereka kembali ke ruang tamu sambil berbicara serius.


"Kamu beneran telat?"


Lisa mengangguk.


"Sudah tes?"


Lisa menggeleng.


"Cepet dites!" seru Anggara yang tidak sabar.


"Bentar, Mas. Nanti sorean sekalian keluar."


"Mas belikan ya alatnya? Eh ... kamu ganti baju aja. Kita langsung ke dokter kandungan."


Anggara begitu bersemangat, padahal biasanya cuek. Mungkin tidak ingin membebani pikiran Lisa, jadi tidak pernah membahas tentang anak lagi. Namun, sekarang sedikit berbeda, karena Lisa bilang sudah telat. Ia pun jadi tidak sabar ke rumah sakit.


"Cepet ganti baju, aku jagain Tiara!"


Lisa hanya geleng-geleng, kemudian ke kamarnya untuk ganti pakaian. Sesaat kemudian, ia sudah muncul dengan dress.


"Sudah?"


"Iya."


"Ya sudah, ayo. Oh ya ... Jaketnya Tiara."


Lisa kemudian ke kamar anak, ada babysitter yang sedang melipat pakaian. Babysitter baru, karena yang lama ijin keluar mau nikah beberapa bulan lalu.


"Jaketnya Tiara, Mbak!" kata Lisa pada babysitter baru Tiara.


"Ini, Non."


"Terima kasih."


Lisa kemudian memakaikan jaket ke tubuh kecil Tiara, kemudian menggendong gadis kecil itu.


Mereka pergi bertiga, tanpa sopir seperti biasanya. Sepanjang jalan, Tiara terus saja berceloteh. Anak itu menyanyi, bertanya ini itu pada kedua orang tuanya, sepanjang perjalanan benar-benar tidak bisa diam, heboh sendiri.


"Ini anak aktif banget ya, Sayang."


"Alhamdulillah, Mas."


Sambil fokus mengemudi, tangan Anggara mengusap kepala Tiara yang duduk dipangku ibunya. Potret keluarga bahagia, seperti yang Anggara harapkan.


***


Rumah Sakit Ibu Dan Anak Ibnu Sina. Ruang dokter specialist kandungan. Lisa langsung diminta berbaring, kemudian dokter mengoles jell ke bagian perutt Lisa. Setelah merata, dokter kemudian mengerakkan sebuah alat di atas perutnya Lisa.


Sementara itu, mata Anggara fokus pada layar di depannya. Tentunya sambil memangku buah hatinya yang tidak bisa diam. Tiara sampai diberikan kertas dan bolpen oleh bu dokter agar tidak rewel.


"Nah, selamat ya Bu ... Pak ... Bu Elisa hamil. Dan menurut hitungan hari pertama haiddd terakhir, kandungan Bu Elisa sudah masuk minggu ke 5 sampai 6 ya."


Anggara masih tertegun, ia sampai kurang jelas mendengar ucapkan dokter.


"Ada yang ditanyakan Pak Angga?" tanya dokter yang melihat Anggara fokus pada layar yang memperlihatkan hasil USG anak keduanya.


"Maaf, Dok ... apa ada kelaian? Atau sesuatu yang salah ... Dulu, putri saya hanya satu titik kecil, mengapa itu ada dua?"


"Apa kembar, Dok? Karena dulu saya juga kembar. Tapi meninggal setelah beberapa jam lahir."


Anggara baru tahu, sebab Lisa tidak cerita.


"Iya, selamat ya ... kalain langsung dapat dobel."


Lisa menatap suaminya dengan tatapan penuh haru, sedangkan Anggara, pria itu langsung mendekat ke ranjang. Mendudukkan Tiara di tepi ranjang, sedangkan ia sendiri memeluk Lisa.


Lisa heran, tubuh suaminya bergetar.


"Mas ... mas nangis?"


Anggara menarik diri, ia menggeleng meskipun matanya basah karena rasa haru.


"Malu Mas sama Tiara, masak nangis?" ledek Lisa.


"Hussstt!" desis Anggara kemudian mengabsen seluruh wajah Lisa.


CUP CUP CUP


"Mas, dilihat dokter!" sela Lisa.


Anggara kemudian menoleh ke belakang, menatap dokter.


"Gak apa-apa kan, Dok?" tanya Anggara membuat Lisa langsung malu.


"Tidak apa-apa lanjutkan," jawab dokter sambil tersenyum.


Anggara baru berhenti saat lengannya ditarik Tiara.


"Yaaaaa!"


Semuanya di dalam ruangan langsung terkekeh. Terlihat sekali keluarga kecil itu sangat bahagia. Apalagi Anggara, dia merasa menjadi laki-laki paling beruntung di dunia.


***


Beberapa bulan kemudian.


"Sayang!!!!"


Anggara baru pulang kerja langsung mencari istrinya.


"Lagi apa?" tanya Anggara yang melihat Lisa berdiri di depan tembok. Pria itu kemudian meletakkan tas dan melepaskan jaket.


"Bagus kan? Kamu suka?" tanya Anggara kemudian memeluk Lisa dari belakang.


"Hemm ... makasi ya, Mas."


Masih memeluk dari belakang, pria itu mengangguk.


"Kita bisa bikin yang banyak lagi, setelah anak kita lahir."


Keduanya menatap foto keluarga yang baru saja diganti. Photo yang biasanya berisi potret Adinda yang memakai gaun pengantin dengan Anggara, kini diganti dengan foto lain. Foto saat Lisa hamil berdiri bersama Anggara dan Tiara yang berdiri di tengah-tengah mereka.


Foto Adinda tidak dibuang, atau disimpan dalam gudang, akan tetapi diletakan di kamar Tiara. Bagaimana pun juga, Adinda adalah ibu kandung Tiara. Rasanya terlalu menyedihkan, jika menghilangkan sosok Adinda, meskipun hanya sebuah gambar.


Sedangkan Lisa, bagaimana pun juga, ada perasaan lega. Setidaknya, bangun tidur di dalam kamarnya, ia tidak menatap foto mending istri pertama suaminya itu.


Kini, wajahnya yang terpampang. Dengan balutan gaun sutra yang memperlihatkan perutnya yang membesar, karena kembar, meskipun baru 5 bulan, tapi sudah sangat besar.


Lalu bagaimana tangapan nyonya Claudia, sang mertua. Meskipun masih kurang hangat, tapi setidaknya mertuanya itu sering membawa makanan. Katanya untuk Tiara, tapi makanan yang dibawa sangat banyak, dan bagus untuk ibu hamil.


Mungkin masih gengsi, jadi nyonya Claudia masih jual mahal. Pura-pura tidak peduli, tapi sering perhatian. Itulah manusia, kalau sudah keras hati, susah sekali mengalah dan mengakui kalau ia sudah kalah.


***


Kandungan Lisa semakin besar, meskipun begitu ia tetap ke kampus. Ya, hari ini ia akan wisudah. Ditemani suami, anak, orang tuanya, serta adik.


Mereka begitu bangga pada Lisa yang akhirnya menyelesaikan S1nya. Bahkan jika mau, Lisa bisa lanjut S2. Buru-buru Anggara melarangnya. Ia mau Lisa fokus pada calon bayi kembar mereka, yang hitungan bulan akan lahir ke dunia.


Pak Harun sangat senang, begitu juga bu Siti. Lisa menjadi kebangaan mereka. Mengangkat derajat keluarganya. Dan adiknya juga bisa lanjut ke perguruan tinggi sama sepertinya kakaknya.


Mereka kini berkumpul di rumah Anggara, sekalian mau syukuran. Katanya nyonya Claudia tidak bisa datang, sibuk. Eh, tidak tahunya wanita itu hadir juga. Membawa banyak barang untuk bayi.


"Kamu jangan senang dulu, ini untuk cucu saya!" celetuk nyonya Claudia yang masih sedikit ketus.


Lisa hanya tersenyum kemudian menerima banyak hadiah dari mertuanya. Ada pakaian bayi, perlengkapan bayi, banyak sekali, entah kapan mertuanya itu belanja, yang jelas, meski kelihatan ketus, Lisa dapat merasakan kalau pemberian ibu mertuanya itu tulus.


"Makasih, Ma."


"Hemmm!" balas nyonya Claudia dingin.


Lisa kemudian memegang tangan nyonya Claudia, mengecupp punggung tangan wanita tersebut. Ingin marah, tapi tidak jadi, apalagi setelah melihat perut Lisa yang sangat besar tersebut, nyonya Claudia dilema. BERSAMBUNG