
Hot Duda Bagian 21
Oleh Sept
Lisa panik karena mendapati Anggara yang tidur di sebelah baby Tiara. Meskipun pria itu tidak melakukan apa-apa, tetap saja hal ini membuatnya takut. Tidur satu ruangan dengan pria duda, satu ranjang pula. Gadis itu akhirnya bergegas untuk bangun, ia mundur beberapa langkah. Dilihatnya kedua orang itu masih lelap. Ayah dan anak itu masih terlelap. Tidur dengan nyenyak, sembari tangan Anggara di samping putri kecilnya. Sebenarnya pemandangan yang manis, tapi buru-buru Lisa menggeleng keras.
'Bagaimana dia bisa masuk? Apa semalam aku lupa mengunci pintunya?' batin Lisa. Ia kemudian tersadar, sepertinya ia ketiduran sampai lupa mengunci pintunya. Sesaat kemudian, selimut yang menutupi tubuh kecil Tiara bergerak-gerak. Bayi munggil itu rupanya sudah terbangun. Baru juga bangun, Tiara langsung menangis kencang, membuat Anggara tersentak kemudian ikut bangun.
Anggara sedikit terkejut karena bangun di sebelah Tiara. Dan ia langsung turun setelah menatap Lisa yang juga memandangnya dengan tatapan canggung. Tanpa banyak kata, Anggara langsung beranjak. Pria itu pergi ke luar kamar bayi tanpa bicara, melewati Lisa yang masih mematung.
KLEK
Akhirnya Lisa bisa bernapas lega setelah memastikan Anggara pergi. Ia kemudian memeriksa Tiara yang ternyata popoknya sudah tembus.
"Jangan nangis ya ... cup cup cup!" ucap Tiara sambil melepaskan pamperss yang dipakai Tiara.
Lisa mulai terbiasa, dengan lembut ia memperlakukan bayi itu seperti adiknya sendiri. Sesekali dia mengajak bicara bayi yang belum mengerti apa-apa tersebut. Beberapa saat kemudian, Tiara sudah wangi. Ketik Lisa ingin membersihkan diri juga, ia letakkan bayi itu dalam box. Sebenarnya ia menunggu Anggara atau siapa untuk dimintai tolong menjaga bayi tersebut. Namun, ia malah mendengar deru mesin mobil yang menjauh.
Anggara pergi pagi-pagi, bahkan tanpa melihat Tiara terlebih dahulu. Lisa sampai heran, Tiara ini anak Anggara apa bukan? Mengapa ia merasa Anggara menjaga jarak dengan bayi kecilnya? Sepertinya ada yang salah. Sejauh ini, Lisa hanya bertanya-tanya dalam hati, tidak berani bertanya langsung. Tahu sendiri, Anggara itu orangnya emosional. Belum apa-apa saja sudah marah. Lisa diam pun, pasti terlihat salah di mata duda tampan, mapan, dan kaya raya tersebut.
***
Di dalam mobil. Anggara duduk di kursi belakang, pria itu diantar sopir pribadinya. Sepanjang jalan Anggara melamun. Ia memikirkan sesuatu, kenapa bisa tidur nyenyak semalam di samping Tiara? Padahal sebelumnya ia insomnia. Tidak bisa tidur sama sekali.
"Pak, sudah sampai."
Sopir Anggara menoleh ke belakang, dilihatnya Anggara hanya diam saja. Membuatnya menegur sekali lagi. Karena tidak mendapat respons.
"Maaf, Pak Angga. Kita sudah sampai di kantor."
Barulah pria tersebut mengangguk dan paham. Pria yang memakai setelan jas hitam itu turun dari mobil dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Anggara keluar dan langsung disambut Rio.
"Hari ini ada pertemuan dengan perwakilan dari Global X-sel. Satu jam lagi dari sekarang, Pak."
Ucapan Rio sama sekali tidak diperhatikan oleh Anggara, meskipun ia mendengar. Karena pikiran Anggara masih ada di rumahnya. Ia heran, mengapa semalam kok bisa tertidur di kamar itu.
"Pak ... Pak Angga!" panggil Rio yang perkataannya tidak mendapat tanggapan dari pria yang kini berdiri di sebelahnya.
"Bisa dicancel?"
Dahi Rio mengkerut. Ia menggeleng pelan. "Maaf, Pak. Untuk yang kali ini sepertinya tidak bisa."
"Baiklah!" ucap Anggara kemudian masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.
Anggara yang semula sangat professional dalam pekerjaan, kini menjadi sosok pimpinan yang meragukan. Semenjak istrinya sakit, sampai meninggal, kinerja Anggara dilihat menurun drastis. Jadi tidak heran, banyak para petinggi perusahaan yang ingin Anggara turun dari jabatannya.
Hanya saja, berkata ibunya, Anggara masih bisa bertahan sampai sekarang. Nyonya Claudia punya pengaruh besar, siapa yang ingin main-main dengan Anggara, nyonya Claudia langsung mengeluarkan jurus melumpuhkan lawan secara diam-diam.
***
Di kediaman Anggara. Di sebuah rumah yang besar, luas dan megah, tapi terlihat begitu sepi dan sunyi di dalamnnya. Di depan rumah, terdapat pot dengan bunga mahal yang berjajar rapi. Belum lagi tanaman yang menggantung indah, terlihat rapi, nyaman untuk ditunggali.
Di salah satu kamar di rumah itu, seorang bayi kecil sedang terbaring dengan tenang. Tiara sepertinya tahu, siapa yang tulus merawatnya. Karena Lisa juga tidak mengharap apa-apa. Dia hanya ingin bekerja, tidak punya niat macan-macam, apalagi menggoda duda baru tersebut. Alhasil, ia sama sekali tidak merasakan kesulitan merawat bayi cantik tersebut. Meskipun pada awalnya Lisa dibuat bingung campur cemas karena tidak tahu bagaimana merawat bayi kecil.
Ya, walaupun dia punya beberapa adik, tapi ini lebih sulit. Karena Lisa harus 24 jam non stop menjaga dan selalu di samping bayi kecil itu. Tiara kecil yang kini mulai jarang menangis, hanya menangis bila lapar atau popoknya basah.
Sampai sore hari, Lisa sangat santai. Menjaga bayi rupanya tidak serepot yang ia duga. Apalagi menjaga Tiara, bayi itu kebayankan tidur. Jadi Lisa lebih banyak waktu luang, sampai ia bisa harus apa.
"Lama-lama bosen juga, mau merapikan rumah, sudah ada bibik? Tiara masih tidur? Mau ngapain ya?" gumam Lisa yang bingung harus melakukan apa.
"Boleh nonton TV gak ya?"
Lisa kemudian keluar, ia melihat bibi yang sedang mengepel.
"Saya bantu, Bi."
Bibi langsung menggeleng keras.
"Gak apa-apa, Bik. Lisa gak ada kerjaan, Tiara juga masih bobo. Lagian pak Angga gak akan tahu kan?"
Bibi langsung melirik ke atas. Matanya tertuju pada CCTV yang terpasang di pojok ruangan.
"Ada CCTV, Lis," bisik bibi.
Lisa langsung menelan ludah.
"Sudah, kamu jaga Tiara saja. Bibi sudah biasa."
Tap tap tap
"Eh ... You! Malah ngobrol! Kerja!"
Baru datang, sambil menenteng keranjang buah, Jessica nyelonong sembari ngomel-ngomel. Ia seperti nyonya rumah yang sedang memarahi anak buahnya yang teledor.
Bibi sendiri langsung melanjutkan ngepelnya, sedangkan Lisa, buru-buru ia berbalik ke kamar bayi.
"You! Enak saja mau pergi, sana! Bikin jus yang fresh buat I!"
Lisa mengangguk, tapi bibi langsung meletakkan alat pelnya.
"Biar saya saja, Non."
"Eh! I tidak suruh you. So Bibi gak usah ikut-ikut. Lanjutkan pekerjaan Bibi!" cetus Jessica, benar-benar seperti nyonya rumah.
Lisa mengedipkan sebelah matanya pada bibi, dan ia langsung ke dapur. Menyiapkan jus segar sesuai request nona cantik yang sombong tersebut. Sesaat kemudian, Lisa datang dengan membawa jus segar.
Dengan angkuh, Jessica meraih gelas tersebut. Kemudian langsung meminumnya.
"Buehhhh! Apa ini? Asem! You mau perut I sakit? You mau I masuk rumah sakit?" Jessica marah-marah pada Lisa.
Dimaki, dimarahi, sepertinya sudah biasa bagi Lisa. Ia sama sekali tidak tersinggung, karena memang tadi dengan sengaja ia masukkan sedikit perasan lemon ke dalam jus tersebut. Habisnya, ia kesel dengan sikap arrogant wanita tersebut. Sambil menundukkan wajah, Lisa menyimpan senyum jahilnya.
"You sengaja, kan?" tuduh Jessica.
Ketika ada keributan di rumah itu, si pemilik rumah datang. Dengan wajah lesu, Anggara masuk ke dalam rumahnya. Ia semakin lesu karena melihat mobil Jessica ada di depan. Wanita itu tidak pernah menyerah.
"Mas Angga!" panggil Jessica, ia yang semula murka langsung memasang muka manis.
"Untuk apa kamu ke sini?" sindir Anggara dingin.
"Itu ... ini, cuma mau balikin baju kemarin, sama buah segar. Dan ... sorry untuk yang kemarin."
Anggara hanya melirik sinis. Tapi dasar, Jessica tidak punya malu, ia terus maju meski ditolak berkali-kali. Tanpa rasa takut, sangat PD, ia meraih tas dan jas, siap membawakan barang-barang milik Anggara. Jelas pria itu mendesis kesal kemudian menepis tangan Jessica.
"Lisaaa! Letakkan ini di kamarku!"
Anggara malah memberikan jas dan tasnya pada Lisa. Kemudian pergi ke kamarnya. Lisa yang pergi duluan, merasa heran kenapa Anggara menyusul di belakangnya. Sempat menoleh, tapi tatapan Anggara membuatnya bergidik.
KLIK
Lisa kaget, kamarnya malah dikunci.
"Sudah! Diam! Jangan bicara apapun!" ujar Anggara kemudian.
Sedangkan di luar sana, Jessica langsung kebakaran jenggot.
Bersambung
Fb Sept September
IG Sept_September2020