Hot Duda

Hot Duda
Perjanjian Baru



Hot Duda Bagian 25


Oleh Sept


"Ya," ucap Lisa di telephone. Gadis itu memijit pelipisnya sambil menunggu suara di telpon.


Tidak lama kemudian, terdengar suara khas, suara yang berat dan dingin seperti biasanya.


"Hari ini ... Tiara sudah bisa pulang. Datang ke rumah!" ucap Anggara di telpon.


Lisa mengangguk, meskipun mereka sedang bertelpon, bukannya bertatap muka.


"Baik, Pak."


"Rio akan menjemput."


"Iya, Pak."


Tut Tut Tut ...


Telpon langsung diputus, tidak ada basa-basi. Anggara langsung saja mematikan ponselnya. Sedangkan Lisa, ia tidak ambil pusing dengan sikap dingin bosnya itu. Entah mengapa ia menjadi bersemangat. Bukan karena akan ketemu bos dudanya tersebut. Tapi beberapa hari ini ia memang memikirkan Tiara yang masih bayi itu. Rasa empathy pada bayi malang itu, mungkin membuat hati Lisa terpaut sedikit demi sedikit tanpa ia sadari.


Satu jam kemudian.


"Loh ... kamu mau ke mana?" tanya ayah Lisa yang melihat putrinya menenteng tas besar.


"Kerja lagi, Yah."


"Sudah masuk lagi?"


Lisa mengangguk.


"Sudah Lisa buatkan kopi, Lisa taruh di atas meja. Dan sepertinya itu jemputan Lisa sudah datang. Lisa berangkat dulu, Yah."


Ayah Lisa menatap putrinya yang pergi, kebetulan di rumah tidak ada orang lain.


"Hati-hati, Lis."


"Hem! Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Lisa pergi meninggalkan rumah, ia melihat mobil hitam sudah parkir di depan rumahnya. Gadis itu kemudian membuka pintu samping dan masuk ke dalam.


"Sudah Pak Rio!" seru Lisa sambil memajukan tubuhnya.


Sementara itu, Rio hanya mengangguk. Pria yang juga sama dinginnya seperti sang atasan tersebut, mulai menjalankan mobil yang mereka tumpangi.


Setelah hampir berkendara setengah jam, Rio malah masuk sebuah pusat perbelanjaan.


"Mau cari apa Pak Rio?" tanya Lisa dari pada penasaran.


"Pak Anggara minta kamu belikan barang-barang ini!"


Rio mengeluarkan beberapa catatan yang perlu dibeli oleh Lisa. Hampir semuanya keperluan bayi. Tidak banyak tanya lagi, keduanya pun masuk bersama. Keduanya terlihat serasi, ganteng dan cantik, mungkin banyak yang mengira keduanya adalah sepasang kekasih.


"Mari, Kak ... peralatan makannya. Ada cangkir pasangan ... begitu juga yang lain. Bisa request foto juga."


Lisa menatap SPG yang sedang menawarkan beberapa barang. Gadis itu hanya menggeleng, kemudian mengucapkan terima kasih.


"Tidak terima kasih."


Sedangkan Rio, dia sekarang berjalan di belakang Lisa bagai seorang penjaga saja. Tubuhnya yang tegap, sudah mirip seperti bodyguard.


Lisa sendiri kini sedang memasukkan satu persatu barang-barang belanjaan yang harus mereka beli. Sampai keranjang belanjaan mereka hampir penuh. Dan ketika Lisa sedang mengambil sesuatu, ia akan bertanya pada Rio. Akan tetapi pria itu malah tidak ada lagi di belakangnya.


Sekretaris Anggara tersebut malah sedang berbicara dengan dua ABG.


"Kak, minta WAnya," pinta ABG yang masih bau kencur tersebut. Sepertinya masih anak SMA.


"Kalau gak boleh, bisa minta foto nggak?" sela ABG yang satunya dengan mata berninar. Bertemu cowok ganteng yang seperti artis, membuat mereka mengira bahwa Rio ini model atau selebgramm. Mungkin karena tampan, apalagi ditambah wajah dingin yang khas. Membuat pesona Rio terpancar.


Sementara itu, Lisa hanya bisa geleng-geleng kepala. Dan tidak sengaja, Rio menatapnya. Dengan cepat Rio berbalik menyusul Lisa. Dasar ABG, mereka juga mengikuti Rio.


"Sorry, saya hanya ingin menghargai perasaan pacar saya," ucap Rio sembari merangkul pundak Lisa.


Jelas saja mata Lisa melotot tajam. Apa-apaan si Rio. Nggak Pak duda, nggak sekretarisnya, sama-sama suka menjadikan Lisa tameng. Ish.


Kedua ABG itu kemudian mundur teratur, tidak lupa melempar senyum manis pada Rio. Dan saat mereka, para ABG tersebut menjauh, buru-buru Rio kembali jaim.


"Maaf!" ucapnya kemudian menjaga jarak. Lisa sendiri tidak bisa menahan senyumnya. Banginya Ini sangat konyol.


"Sepertinya Pak Rio harus segera menikah," ucap Lisa yang ingin bercanda. Tapi senyumnya langsung hilang, ketika Rio menatapnya dingin. Dua pria yang jika lama-lama di dekat mereka, Lisa yakin akan sering mengalami flu. Karena keduanya memiliki aura dingin yang kekal.


"Sudah selesai?" tanya Rio tegas.


"Sudah."


Mereka pun berjalan ke meja kasir. Rio membayar semua tagihan yang tertera. Pria itu juga yang membawa beberapa kantong belanjaan dari pusat perbelanjaan itu. Setelah memasukkan belanjaan ke bagai, mereka lantas melanjutkan perjalanan kembali. Malam ini macet parah. Mereka sedikit terlambat pulang.


Saat tiba, Lisa buru-buru masuk. Melupakan barang belanjaannya. Membuat Rio yang harus mengeluarkan semuanya seorang diri.


"Bik ... di mana Tiara?" tanya Lisa antusias saat melihat bibi.


"Ada, Lis. Di kamar sama Tuan."


Lisa mengangguk kemudian bergegas ke kamar bayi.


Tok tok tok


"Boleh saya masuk?" tanya Lisa di depan pintu.


"Masuk!"


Begitu mendengar suara Anggara, Lisa pun menyentuh knop pintu, kemudian memutar perlahan. Saat masuk, mata Lisa langsung mencari sosok Tiara. Bayi kecil yang beberapa hari tidak ia jumpai. Bukan siapa-siapa, tapi sepertinya Lisa mulai kangen. Kangen pada bayinya, atau malah kangen sama juteknya ayah si bayi? Entahlah.


"Apa sudah tidur?"


"Hemm, sudah tidur."


Lisa diam saja, tidak tahu harus bicara apalagi lagi.


"Tolong periksa dia setiap jam. Jika sesuatu terlihat aneh, langsung katakan pada saya."


"Baik, Pak."


Setelah melihat putrinya sebentar, Anggara kemudian berbalik ia hendak kembali ke kamarnya sendiri. Tapi saat akan akan keluar, ia berhenti sejenak kemudian berbicara.


"Lisa."


"Ya, Pak."


"Ada yang ingin saya bicarakan dengamu."


"Sekarang?"


Lisa langsung menundukkan wajah ketika wajah Anggara berubah seram.


***


Ruang kerja Anggara


Lisa duduk gelisah, ia menunggu Anggara yang sedang mengambil sesuatu sebentar.


"Tanda tangan di sini?"


Anggara duduk lalu meletakkan selembar kertas di atas meja Lisa.


'Tanda tangan apa lagi ini?' batin Lisa.


"Bapak nggak salah?"


Mata Lisa melotot saat membaca kata demi kata di atas kertas putih tersebut.


BERSAMBUNG


Fb Sept September


IG Sept_September2020


Yuk, kenalan sama Sept. Hehehe


Terima kasih.