Hot Duda

Hot Duda
Sekip Aja



Hot Duda Bagian 50


Oleh Sept


Siapkan KTP-nya masing-masing. Mundur yang rapi bagi yang tidak lulus kualifikasi. Jangan nekat, peringatan dini sudah dikatakan di awal. Main terobos, resiko tanggung penumpang. Semoga bijak, dan sangat cocok untuk mereka yang sudah memiliki pasangan. Semoga makin mesra, lengket kaya lem kanji. Jangan lupa senyum!


***


'Astaga,' gumam Lisa dalam hati.


Tubuh Lisa yang semula lemas makin gemetar tatkala pria yang berbadan tegap dan atletis itu mulai uji nyali. Bagaimana tidak, tanpa malu seperti sebelumnya, Anggara langsung saja melempar kain handuk yang semula menutupi tubuh pria tersebut.


Sementara itu, bagi Anggara nasi sudah jadi bubur. Kepalang tanggung, sejak kemarin ia menghindar dari Lisa. Tapi pagi ini gadis itu malah sudah melihat senjataa miliknya. Sudah basah, nyemplung sekalian. Malu pun dipikir belakangan. Dari pada kepalanya nyut-nyutan dan emosi terus, Anggara pun memilih menyalurkan has ratnya.


Tanpa permisi, ia kunci saja tubuh si gadis yang berstatus istrinya itu. Meski ia bolak-balik berkali-kali toh tidak masalah. Mereka menikah resmi secara hukum dan agama pun diakui, jadi sepertinya tidak masalah kalau Anggara melepaskan apa yang ia tahan-tahan, dari pada uring-uringan tidak jelas.


CUP


"Buka mata!" bisik Anggara yang kini ada di atas Lisa.


Kelopak mata gadis itu bergerak-gerak, tapi belum mau membuka. Lisa gelisah, takut melihat yang tidak-tidak.


"Pak ... ini tidak benar," ucap Lisa lirih, masih dengan mata terpejam.


CUP


Anggara kembali menempelkan bibirnya di cerung leher Elisa, membuat gadis itu mengeliat seperti cacing kena air cuka.


Sementara itu, di bawah sana Lisa semakin gelisah. Jantungnya berdegup dengan kencang, dijamahh, dibuah, dikecupp berkali-kali cukup membuatnya terbuai. Jika Anggara suka marah-marah, kali ini pria itu menyentuhnya lembut. Bahkan tidak punya malu, karena tidak pakai apapun di depannya. Sehingga ia harus menutup mata.


"Buka matamu ... sampai kapan kamu seperti ini?"


"Aduh," pekik Lisa kaget karena Anggara langsung mengigit telinga gadis tersebut.


"Kamu tidak mau uang, kan? Lalu ... apa kamu mau ini?" bisik Anggara.


Lisa semakin menutup mata rapat-rapat, Anggara Keterlaluan. Pria itu menarik tangannya kemudian membuat Lisa memegang sesuatu yang tidak pernah ia pegang sebelumnya. Terlihat sekali kegugupan Lisa, hingga membuat Anggara mulai menikmati permainan ini.


"P-ak."


'Kenapa dia begitu takut ... sepertinya dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya, apa jangan-jangan dia baru pegang?' batin Anggara.


Penasaran, Anggara kembali meraih tangan Lisa. Lisa semula menarik tangannya keras, seolah menolakknya, tapi sedikit gerakan saja, ia kembali menggeliat. Apalagi ketika Anggara menempel bibirnya tepat di sesuatu yang paling sensitive dan menonjol tersebut. Bergantian, antara kanan dan kiri, Anggara sengaja melakukan itu agar si gadis merasa terang sang.


"P-ak," desis Lisa disertai jantung yang bergemuru.


Semakin Lisa menggeliat, semakin sinyal Anggara mengguat. Ditambah suara-suara desisan dari bibir Lisa yang lirih tersebut, sudah pasti jakun pria tersebut naik turun dibuatnya. Lama puasa, sepertinya Anggara ingin berbuka sekarang juga. Tidak peduli masih pagi, karena ia ingin saat itu juga.


'Apa ini?' batin Lisa ketika tangannya dipaksa menyentuh benda yang tidak biasa tersebut. Sangat malu, sampai ia tidak berani membuka matanya.


Sedangkan Anggara, kembali ia berbisik. Seolah memandu Lisa, ia mengatakan apa yang harus dilakukan gadis yang sepertinya sangat polos tersebut.


"Pegang, Lisa ..."


"P-ak ... saya ... sa-ya nggak bisa."


CUP


Anggara kembali melakukan serangan, agar gadis itu mau melakukan apa yang ia perintahkan. Tidak dengan bentakan, tapi dengan cara halus. Sebab ia tidak mau merusak suasana ini.


'Bibirnya manis ... di cantik kalau dilihat dari dekat,' batin Anggara yang kembali mengecupp bibir ranum Lisa.


"Buka matamu," ucap Anggara kemudian meniup lembut wajah Lisa. Membuat si gadis perlahan mengerjap dan berani melihat.


Anggara bisa merasakan degup jantung Lisa yang berdegup sangat kencang, karena ia juga merasakan hal yang sama. Tapi ia masih bisa menguasainya, sebab dia bukan pria amatiran. Anggara memiliki pengalaman yang cukup membuat seluruh tubuh Lisa seketika cenat-cenutt dibuatnya, seperti sekarang ini.


Keduanya saling menatap, masih posisi dalam kungkungan, tatapan intens dan dalam. Lisa kini sudah berani melihat. Bahkan tangan Anggara juga kembali membimbing agar Lisa menyentuh miliknya.


'Lisa ... apa yang kamu lakukan?' Lisa mengeluh karena apa yang ia lakukan saat ini. Jantungnya memburu, ia hanya mengikuti arahan dan komando dari sang suami. Suruh pegang ya pegang!


Sambil menelan ludah dengan susah, Lisa bisa merasakan sesuatu yang terasa hangat dalam genggaman tangannya itu.


Napasnya masih memburu, atas arahan Anggara, ia ikuti saja. Toh tubuhnya juga sekarang sedang tidak baik-baik saja. Ada yang basah di bawah sana. Gara-gara Anggara tentunya.


"Gerakkan tanganmu, Lisa." Anggara kembali berbisik, sembari wajahnya mendesak ke cerung leher Lisa. Meninggalkan jejak-jejak di atas permukaan kulit gadis tersebut.


Dengan bimbingan tangan Anggara, Lisa mulai mengerakkan tangannya. Gerakan naik turun yang cukup membuat Anggara mendesis.


"Lebih cepat," gumam Anggara.


Lisa semakin deg-degan, apalagi benda yang ada di tangannya semakin kencang, terlihat sekali ototnya dengan jelas. Rasanya Lisa mau pingsan. Ia juga heran, kenapa bisa seberani ini menyentuh dan memainkan barang milik suaminya.


...


...


"Cukup," sela Anggara kemudian langsung menyibak rok yang masih di kenakan Lisa. Dengan lihai Anggara melepaskan segitiga yang dipakai Lisa.


Mata Lisa jelas terbelalak, lututnya langsung menyatu karena reflek dan malu.


"Kamu sudah melihat, dan menyentuh milik saya ... sepertinya tidak adil jika saya tidak melakukan hal yang sama," ucap Anggara untuk menutupi degup jantungnya yang memburu saat melihat sesuatu yang lama tidak ia rasakan.


"Li-sa malu," Lisa masih mengunci rapat kakinya.


Sekali sentuhan di sisi paling sensitive, tubuh itu kembali menggeliat. Ketika kaki mulai lemas, Anggara kembali membukanya. Pria itu merambat bagai cicak.


"Pakk!" pekik Lisa yang kaget karena ulah jari Anggara.


Menyadari Lisa juga sedang di atas awang-awang, Anggara yang sudah bergejolak sejak tadi, semakin ingin membuat gadis itu hingga minta ampun.


"Emm ... Pak ...!"


Lisa menggeliat keras, hampir saja ia menendang Anggara kalau tidak dipegang oleh tangan pria tersebut. Lisa pun menyerah dan akhirnya pasrah, apalagi saat merasakan sensasi yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ada yang sangat gatal, berdenyutt, entahlah. Rasanya Lisa tidak bisa berpikir lagi.


"Pak ... cukup, Pak ... Lisa gak tahan. Lisa mau pipisss!" desis Lisa mencengkram rambut Anggara.


Anggara yang sudah blingsatann, seperti dikuasahi roh mesyumm, terus saja melakukan aksinya. Ia bahkan tidak masalah ketika Lisa menyentuh rambutnya. Ini karena ulahnya sendiri.


Napas Lisa semakin memburu, ia ingin bergerak tapi tidak bisa. Anggara sudah mengunci tubuhnya. Apalagi saat lidah Anggara bermain-main di bawah sana. Rasanya tulang-tulang Lisa seketika seperti dipresto. Lemas mendadak.


Anggara yang lama tidak melakukan hubungan, sepertinya semakin terbawa arus. Hingga asik dengan permainan yang ia lakukan. Membuai gadis itu sampai lemas dan tidak berdaya, baru pemanasan, tapi Anggara sudah berhasil membuat Lisa basah tidak karuan.


"Punyamu sudah sangat basah ... apa yang kamu pikirkan? Hem?" bisik Anggara yang sudah beranjak dari tempatnya.


Lisa menggeleng, wajahnya sudah pucat, panas dingin.


"Aku masukkan sekarang pun, sepertinya tidak masalah. Kamu istriku, bukan?"


Lisa mengangguk pelan. Seolah paham, bahwa Anggara sedang minta ijin untuk melakukan tahap selanjutnya. Dan benar saja, Anggara langsung mengarahkan talas Bogor tersebut padanya.


'Itu pasti sakit, kenapa bisa sebesar itu?' batin Lisa kemudian memalingkan muka.


Melihat Lisa yang ketakutan, Anggara menebak. Ini pasti yang pertama bagi gadis tersebut. Sebenarnya tidak heran, karena Lisa memang gadis yang polos dan masih bocah bagi Anggara.


"Lisa ... apa kamu takut?"


Lisa menggeleng, meskipun memang takut. Tapi ia tidak dapat berdusta, ada di bawah sana yang sudah sangat basah.


"Apa ini yang pertama?"


Kembali lagi gadis itu mengangguk.


"Bagus ... Kita main pelan-pelan," bisik Anggara setengah puas. Belum merasakan tapi ia sudah bangga.


"Tahan ... mungkin akan sedikit sakit." Anggara langsung menempelkan benda tersebut. Kemudian mendorongnya pelan-pelan. Awalnya sangat susah, seperti jalan buntu.


'Dia masih perawan,' batin Anggara yang semakin semangat ketika melihat Lisa merintih dan mencengkram kain seprai. Kaki Lisa mencengkram, menegang menahan sakit, setelah percobaan tusukann beberapa kali.


"Rileks."


CUP


Ingin membuat Lisa tidak tegang, Anggara menyesapp bibir itu kembali, kemudian memainkan bukit yang sejak tadi sudah menyembul dan membuatnya tidak tahan. Setelah menyesap bagian atas, ia langsung ganti ke bawah.


"P-ak ..."


Yakin sudah bisa dilakukan lagi, Anggara langsung mengarahkan talas Bogor kembali. Siap untuk ditanam dilahan yang lembab dan basah.


"Ehm."


...


...


...


Jrush


Mata Lisa terbelalak ketika merasakan sakit yang luar biasa. Anggara yang tahu, pasti Lisa kesakitan, ia terus saja melakukan gerakan.


"Tahan Lisa ... ini awalnya saja yang sakit."


Lisa sampai mengigit bibirnya, menahan perih yang menyakitkan.


"Sakit, Pa-k ..."


Tidak mungkin berhenti di tengah jalan hanya karena darah perawann yang berhasil ia sobek. Anggara justru semakin gentol melakukan gerakan naik turun.


"Tahan ... sebentar lagi."


Jrush


Lisa yang merasakan sakit bukannya enak, reflek mencakar punggung suaminya. Meninggalkan bekas cakaran yang cukup panjang. Dan detik berikutnya, tubuh yang sejak tadi di atasnya itu mulai menegang. Sepertinya Anggara hampir mencapai puncak.


"Lisaaa ...."


Anggara mencengkram kedua bahu Elisa, matanya memejam menahan sesuatu. Hingga akhirnya gadis itu merasakan sesuatu yang hangat mengalir di bawah sana. Ya, Anggara mengeluarkan tepat di luar. Dia mencabut sebelum cairan itu keluar semuanya.


Bukkk ...


Anggara langsung merebahkan tubuhnya di sebelah Lisa. Ia mengatur napas sejenak, kemudian menoleh ke samping. Ditatapnya wajah Lisa lekat-lekat, susut mata Lisa ternyata basah. Entah karena menahan sakit, atau karena sudah kehilangan kegadisannyaaa.


"Jangan menangis, saya mengeluarkannya di luar," ucap Anggara, yang ia pikir Lisa takut nanti bakal hamil karena masih muda.


Lisa memalingkan muka, kemudian menangis semakin dalam.


"Lisa!"


Anggara yang masih lemas, jelas panik. Ia tidak tahu penyebab istrinya menangis.


BERSAMBUNG


Hai bestie, kenapa Lisa nangis? Hehehehe