
Hot Duda Bagian 33
Oleh Sept
Semua makan dengan tenang, kecuali pak Harun. Pria paruh baya yang hidup dalam kesederhanaan sepanjang hidupnya, merasa jamuan makan itu tidak nyaman. Bukan karena masakan ... bukan, karena jelas rasanya pasti enak. Pak Harun hanya merasa tidak nyaman. Ia merasa aura Anggara beda jauh dengan pria satunya. Kalau boleh memilih, pak Harun lebis respect dengan Rio.
Sejak tadi ia melirik pria tersebut, jauh lebih humble, murah senyum, dan tidak memiliki wajah arrogant seperti calon mantunya. Kok sepertinya cerita Lisa mengada-ada. Jelas sekali sikap Anggara itu sangat dingin pada mereka. Tapi kalau keduanya sudah memutuskan, pak Harun pun tidak bisa berbuat apa-apa. Mau bagaimana lagi, kalau sudah sepakat menikah, ia pun hanya bisa memberikan restunya. Meskipun masih kurang srek.
Ketika mereka selesai makan, Anggara terus-terusan melihat jam. Seakan sedang diburu waktu. Hingga ia langsung to the point pada ayah Lisa.
"Ehem!" Pria itu berdehem sebelum memulai pembicaraan. Dan semua kini menatap Anggara.
"Bapak pasti tahu, kenapa saya menemui Bapak?" ucap Anggara tanpa basa-basi, tanpa gerogi, ia lepas bicara apa saja yang ingin dia katakan.
"Saya akan menikahi putri Bapak ... Lisa, dan saya harap Bapak setuju," tambah Anggara dengan wajah yang sama. Ekspresi pria itu bahkan tidak berubah. Dari pada meminta, ia malah seperti memerintah agar pak Harun setuju saja.
Rio hanya melirik, sedangkan Lisa gelisah. Ia takut ayahnya mundur ketika melihat sikap pak Anggara yang tidak ada manis-manisnya tersebut.
Pak Harun sendiri menghela napas panjang, kemudian menatap penuh tanya.
"Mengapa harus Lisa?"
Ada secarik senyum yang mencuat, membuat sudut bibir Anggara sedikit terangkat. Pria berhati kulkas itu tersenyum remeh dalam hati.
'Pria ini, apa dia pikir putrinya sangat istimewa? Ish!' batin Anggara merutuk.
Anggara kemudian duduk lebih tegap, dengan mimikk wajah yang terlihat begitu sempurna, ia mengatakan sesuatu yang membuat semua tertegun.
"Saya butuh Lisa."
Jawaban Anggara, cukup membuat Lisa deg-degan, sempat GR, meskipun itu palsu, tapi tetap saja jawaban Anggara akan berpengaruh besar bagi pandangan sang ayah.
Sedangkan pak Harun, ia juga tertegun dengan jawaban yang keluar dari sosok yang terkesan dingin, sombong dan angkuh tersebut. Sosok calon menantu yang sangat pelit untuk sebuah senyuman.
"Baiklah ... Lisa ... semua keputusan ada padamu. Ayah terserah pada Lisa saja."
Anggara tersenyum penuh kemenangan dalam hati. Ia tidak menyangka, akan semudah ini.
'Keluar matre!' umpatnya kemudian dalam hati.
Sementara itu, Lisa kini menatap ayahnya.
"Jadi Ayah setuju?"
"Asal Lisa bahagia," ucap pak Harun penuh harap.
'Bagaimana akan bahagia? Jika pak Angga memperlakukan putri bapak dengan sinis dan selalu dingin?' batin Rio yang merasa miris. Melihat kondisi Lisa, ia mulai simpatik.
'Bahagia? Bahagia Lisa itu tidak penting. Yang penting adalah kalian. Keluarga Lisa yang Lisa miliki,' gumam Lisa dalam hati.
Saat dua orang sibuk dengan pikiran mereka yang berkecamuk, ada Anggara yang masih menatap remeh pada orang-orang di depannya.
'Saya jamin putri bapak bahagia, dalam setahun, dia akan mendapatkan banyak uang dari saya!' suara hati Anggara yang super arrogant. Bahwa segalanya diukur oleh materi. Dia sudah tidak percaya cinta lagi setelah belahan jiwanya pergi untuk selama-lamanya. Hati Anggara seakan ikut terkubur bersama Adinda. Meninggalkan luka hati yang tidak akan pernah sembuh karena sudah terlanjur ada lubang besar di dalamnnya yang mengangga.
***
Ijin sudah didapat, tinggal menunggu hari H, maka Lisa, sang mantan office girls di kantornya itu akan jadi ibu sekaligus istri pajangan Anggara.
Rio mengantar keduanya terlebih dahulu, sedangkan Anggara, ia masih ingin bertemu seseorang lagi, di restaurant yang sama.
Di dalam mobil.
Pak Harun baru bisa santai saat di dalam mobil. Jujur, meskipun ia lebih tua, tapi karena status yang berbeda, pak Harun sebenarnya beban mental harus berhadapan dengan pria kaya raya tersebut. Barulah saat pulang, ia mulai bicara dengan Lisa dengan jujur.
"Lis ... kamu yakin mau menikah?"
"Kenapa, Yah?"
Pak Harun ragu, mau bicara ia melirik sekretaris Anggara dulu. Sadar dilirik lewat spion, Rio pun berdehem.
"Kok sebenarnya Ayah kurang srek."
Lisa panik, kemudian melirik Rio yang duduk di depan mobil.
"Yah, Kita bicara di rumah sakit!" bisik Lisa yang takut obrolan mereka dicuri.
Pak Harun langsung mengangguk cepat.
"Bapak tenang saja, pak Anggara orang baik. Ya meskipun terlihat dingin dan kaku, tapi dia pribadi yang hangat sebelumnya," sela Rio tiba-tiba.
"Benarkah?" tanya pak Harun.
"Benar, Bapak. Dia pria yang bertanggung jawab, dan setia," ucap Rio sendu. Mungkin teringat akan perjuangan selama setahun, melihat bosnya setia penuh harap menunggu istrinya yang koma.
Pak Harun manggut-manggut.
"Kalau Nak Rio yang bilang, Bapak akan percaya," ucap pak Harun.
Memang sudah jadi tugas Rio untuk jadi kompor, agar pernikahan ini berhasil. Jika tidak, yang kena getahnya lagi pasti dia.
Lisa sendiri mulai murung, kebohongan demi kebohongan membuatnya tertekan juga pada akhirnya.
***
Restaurant
Anggara sedang duduk bersama seorang pria, keduanya memiliki selera fashion yang bagus, rapi, elegant, mewah, dan cocok di tubuh tegap keduanya.
"Lama tidak berjumpa," sapa Anggara basa-basi, meskipun ia ingin menghajar pria tersebut, mantan kekasih Adinda.
Pria itu baru mucul setelah balik dari LA. Dan sekarang meminta bertemu dengan Anggara secara empat mata.
"Mari tidak usah basa-basi," ucap pria yang memiliki tatoo kecil di lehernya.
Anggara geram, bahkan tangannya sudah mengepal.
"Katakan, apa maumu!" cetus Anggara mulai bernada tinggi.
"Tes DNA!"
BUGH!!!!
BERSAMBUNG
Nah, di Bab ini Sept kasih visual ya. Maaf jika tidak cocok, secara nama pemain tidak kebule-bulean. Jadi mungkin kres! Hehheh ... bebas halu aja deh. Pokoknya terserah pembaca semuanya. Hihihih
***
Anggara 30 Tahun
Kulkas dua pintu ini berhasil membuat orang-orang di sekitarnya merasakan hawa dingin dan hampir membeku karena sikapnya. Anggara yang dulu sangat sweet, tapi setelah istrinya meninggal, ia jadi sosok yang berbeda. Suka marah, emosional, kasar dan arrogant.
Elisa 19 Tahun
Seorang office girls yang harus ganti profesi menjadi babysitter kemudian menjadi istri pajangan. Polos, tulus, apa adanya. Keluarga adalah yang utama, Lisa berani menukar apapun demi keluarga, termasuk hidupnya. Demi keluar dari masalah, ia menandatangani persetujuan untuk kontak pernikahan dengan CEO Montana Group, duda kesepian yang bermuka dingin, jutek dan ngeselin.
Adinda
Kisah cintanya begitu singkat dengan Anggara. Sebuah cinta yang terputus karena maut.
Jerio 28 Tahun
11 12 seperti bosnya, sekretaris Anggara ini sama seperti Anggara. Seperti duplicate sang atasan, hanya saja Rio memiliki sifat manusiawi yang lebih sedikit dibandingkan dengan pentolan Montana Group tersebut. Dingin di luar, aslinya pria yang hangat. Memilih jomblo karena tidak punya waktu untuk kencan.
Jessica 27 Tahun
Merasa paling sempurna dan Anggara sangat cocok dengannya. Meskipun banyak ikan di laut, dia belum puas sebelum membuat gunung es itu mencair. Dari pada cinta, ini seperti sebuah obsesi gilaa.
"You ... minggir!"
Semoga suka, kalau gak cocok. Kalian bebas bayangin mas duda dan asprinya sendiri .... bebassss.
Terima kasih
Fb Sept September
IG Sept_September2020