Hot Duda

Hot Duda
Kebuka



Hot Duda Bagian 38


Oleh Sept


Rio memutar otak, jika ia berterus terang saat ini, sepertinya ia dan Lisa yang akan kena masalah. Pria itu pun akhirnya mengangguk saja, cari jalan aman.


'Baguslah!' batin Anggara yang sudah tidak kepikiran lagi. Ia pun memilih sarapan saat artnya sudah menyiapkan makanan di meja makan.


"Sudah sarapan?"


Rio langsung kembali mengangguk. Alhasil Anggara pun makan pagi seorang diri. Sedangkan Rio masuk ke dalam ruang kerja yang tidak jauh dari ruang tengah. Pria itu sudah biasa membereskan berkas-berkas milik Anggara baik di kantor maupun di rumah. Rio sudah menjadi orang kepercayaan Anggara selama ini.


Ketika Anggara sedang makan, Lisa akan keluar kamar bersana Tiara, tapi babysitter langsung mencegah.


"Lisa ... biar Tiara sama aku!" seru sang babysitter.


"Biar sama Lisa saja, Mbk. Aku nggak ngapain," ucap Lisa.


'Carmuk banget ini orang,' batin babysitter.


"Kamu bisa bantu bibi di dapur, atau pel ruangan ini. Biar aku yang ajak Tiara."


Babysitter itu langsung menepis tangan Lisa yang semula akan mengambil stroller untuk membawa Tiara jalan-jalan di luar sana.


'Mbk ini kenapa ya? Kok aku ngeraja di jutek banget sama aku?' batin Lisa yang mendapat perlakuan dingin dari babysitter suaminya.


'Sudahah ... mungkin perasaanku saja,' ucap Lisa dalam hati, kemudian keluar kamar mengambil alat pel-pelan.


Lisa keluar kamar tersebut kemudian ke belakang, ia mengambil alat kebersihan untuk mengepel kamar bayi tersebut. Tanpa sengaja, ia berpapasan dengan Rio yang menenteng tas kerja milik Anggara, dilihat dari cara Rio membawanya, sepertinya berat, mungkin isinya laptop.


"Kamu sedang apa?" tanya Rio menatapnya aneh. Mata Rio tertuju pada alat pel yang dipegang Lisa.


"Em ... ini, mau ngepel kamar Tiara."


Rio langsung menoleh ke belakang, seolah mengamati keadaan. Pria tersebut memindai sekeliling, kemudian mentaik lengan Lisa.


"Lisa, dengarkan baik-baik. Kamu bukan pembantu, pak Anggara membayar mahal bukan untuk menjadikanmu sebagai pembantu. Meskipun sementara, kamu tetap nyonya rumah di sini. Jangan membuat pak Anggara marah karena ini, dia bisa kesal padamu," ucap Rio dengan nada memperingati.


"Tapi ...!"


"Lisa! Dengarkan saja apa kata saya jika kamu mau selamat di rumah ini," kata Rio.


Keduanya dalam mode serius, hingga tidak sadar ada yang melihat mereka berdua.


Anggara mencebik, ia tersenyum sinis.


"Rupanya seleramu rendahan juga, Rio?" gumam Anggara kemudian berbalik. Ia yang akan mengambil sesuatu dari ruang kerjanya, seketika berbalik karena melihat Rio yang tampak sangat akrab dengan istrinya. Istri di atas kontrak lebih tepatnya. Apa Anggara cemburu? Tidak. Dia malah menyindir selera wanita Rio yang menurutnya cukup rendah.


Belum ada getar rasa, sehingga pria itu tidak merasa cemburu sama sekali. Hanya heran, banyak gadis di sana yang jauh lebih menarik, mengapa sekretarisnya itu malah tertarik dengan Lisa? Seorang mantan office girls. Dan masih menjadi istri sahnya. Anggara hanya heran, Rio sepertinya rabunn.


***


Beberapa saat berlalu, Anggara kini sudah berada di dalam mobil dan Rio yang duduk di balik kemudi. Mereka sedang perjalanan menuju kantor Montana Group. Jalannya cukup macet, sehingga Anggara yang selama ini pendiam, mulai berbicara untuk mengusir rasa bosan.


"Kamu tidak ingin menikah, Rio?" tanya Anggara tiba-tiba.


Rio lantas tertegun dengan pertanyaan yang dilontarkan bosnya itu, sejak kapan sang atas peduli dengan masalah pribadinya?


"Belum ada yang cocok," jawab Rio asal.


Anggara kembali mencebik, ia membuang muka. Menatap jendela, kemudian tersenyum remeh.


'Apa kau menunggu Lisa aku ceraikan?' batin Anggara.


"Aku lihat banyak pegawai di perusahaan yang menaruh perhatian padamu," ucap Anggara basa-basi.


'Ini pak Anggara kenapa? Habis mabukk semalam, kok sekarang jadi ngelantur,' batin Rio yang memang jarang membahas masalah pribadi.


Rio pun hanya membalas dengan senyum tipis, kemudian fokus lagi pada jalanan di depannya.


"Mungkin sudah ada gadis yang sudah kamu sukai?" pancing Anggara. Pria yang tidak pernah mau ikut campur ini, tiba-tiba tanpa sadar mulai kepo, sampai membuat dahi Rio mengkerut.


'Brengsekkk!' umpat Anggara dalam hati secara spontan.


Anggara melonggarkan dasi sedikit, ia merasa gerah. Pria itu merasa dugaannya benar. Rio pasti menunggu dia menceraikan Lisa tahun depan. Meskipun tidak mencintai Lisa, Anggara tanpa sadar merasa sedikit terusik.


"Apa keahlianmu mulai berkurang, mengapa lamban sekali?" celetuk Anggara dengan wajah yang tiba-tiba kesal. Rio pikir, bosnya bete karena terjebak macet.


***


Kediaman Anggara.


Siang hari, Lisa sudah ada di dapur. Membantu bibi, karena babysitter melarangnya bermain atau menjaga Tiara. Ia mengusir Lisa, menyuruh Lisa melakukan ini dan itu. Entah mencuci botol, ini, itu dan lain sebagiannya.


"Bik ... Bibik!" suara nyaring terdengar dari ruang tamu.


"Sepertinya ada tamu," ucap bibi pada Lisa yang ada di sebelahnya.


"Biar Lisa saja, Bik."


Lisa berjalan keluar, dia memejamkan mata sekilas saat melihat siapa yang datang.


Nyonya Claudia datang membawa banyak bingkisan yang dibawakan oleh sopir pribadinya.


"Taruh situ, Pak."


"Baik, Nyonya."


Setelah semua barang sudah diturunkan, kini fokus nyonya Claudia beralih. Ia cukup kaget saat melihat Lisa di rumah itu.


Nyonya Claudia langsung menatap sinis, kemudian ke kamar bayi, sejak awal sudah tidak suka dengan keberadaan Lisa tersebut.


"Sus! Ganti pakaian Tiara. Ikut saya!"


"Baik, Nyonya."


Sesaat kemudian, Lisa yang dianggap manusia tidak terlihat sejak tadi, ia pun mulai bertanya, mau dibawa ke mana Tiara. Nanti pak Anggara marah, kalau ia hanya diam saja, dan tidak tahu Tiara akan dibawa ke mana, ya ... meskipun dibawa oleh neneknya sendiri.


"Mbk, kalian mau ke mana?" tanya Lisa berbisik pada babysitter.


"Jangan suka ikut campur urusan majikan, Lis! Sadar diri!" celetuk babysitter Tiara yang merasa di atas angin, karena ia diajak, bukan malah Lisa.


Lisa pun hanya bisa menghela napas panjang, kemudian menyaksikan Tiara dibawa ke dalam mobil mewah.


***


Beberapa jam berlalu, Lisa keluar masuk kamar, bingung mau apa. Rumah terlihat sepi. Mau ke rumah sakit, tapi harus ijin suaminya. Tapi ia juga takut kalau mau menelpon. Akhirnya, ia hanya berbaring sambil vcall sama ayahnya. Menanyakan kabar, dan kembali berbohong, bahwa ia merasa sangat bahagia sekarang, karena Anggara suami yang penuh kasih, tapi bohong.


Sedangkan yang dibicarakan, kini sedang duduk di meja kerjanya sambil menatap kosong lurus ke pintu di depannya. Hingga ia iseng mengeluarkan tablett dari dalam laci.


Anggara kok masih penasaran dengan kejadian semalam. Pria itu lantas ingin melihat sendiri rekaman CCTV di rumahnya lewat tablett yang tersambung dengan CCTV yang ada di rumah.


Mulanya ia tenang karena pertama yang tertangkap kamera adalah Rio yang membawanya ke dalam kamar, tapi tidak dengan video berikutnya. Matanya melotot saat melihat sosok gadis yang tidak asing mulai masuk ke dalam kamarnya.


'RIO!'


Anggara memejamkan mata rapat-rapat, menahan kesal. Ingin marah, tapi ia akan melihat rekaman selengkapnya. Anggara semakin gusar saat melihat Lisa keluar kamar membawa baju kotor miliknya.


'LISAAA!'


BERSAMBUNG


Selamat Hari Kemerdekaan Untuk Indonesia


Semoga penduduknya merdeka dari segala bentuk penjajahan, penjajahan ekonomi, sosial, budaya. Hehehe ... Merdeka dari para penjajah yang berdasi, berpangkat, berbintang. MERDEKA!


Fb Sept September


IG Sept_September2020