Hot Duda

Hot Duda
Bohong



Hot Duda Bagian 41


Oleh Sept


Jantung nyonya Claudia hampir copot, pernyataan dari Anggara membuat wanita conglomerate itu merasa harga dirinya terlukai. Tidak mungkin keluarga mereka memiliki hubungan dengan kaum yang ia pandang begitu rendah tersebut.


"Apa yang kamu katakan Anggara! Mama minta kamu tidak bercanda! Jangan bicara omong kosong. Dan ... kamu, jangan beraninya kamu menyentuh cucu saya. Dasar ... wanita kurang ajarrr! Berani sekali kamu menggoda anak saya!" maki nyonya Claudia kemudian mengambil Tiara dan diberikan pada babysitter.


"Mama!"


"Diam kamu Angga! Mama tidak suka lelucon rendahan seperti ini."


Anggara menghela napas panjang, kemudian memilih duduk.


"Kami sudah menikah!" ucapnya yang menjadi badai kedua di ruangan itu. Baik nyonya Claudia dan juga Jessica ditambah sang babysitter, semua seperti tersambar petir. Tidak percaya apa yang mereka dengar.


"Angga! Stop ... cukup! Jika kamu hanya ingin membuat Mama mundur dalam perjodohan ini. Kamu salah, ini tidak akan berhasil."


Anggara kemudian tersenyum tipis, kemudian berjalan. Ya, dia kembali berdiri kemudian merangkul pundak istrinya. Anggara yakin, musuh yang paling tepat untuk dua wanita yang begitu gigih itu adalah si Lisa. Lisa adalah tameng yang pas, yang akan membuat kedua wanita itu menyerah.


'it's crazy!' batin Jessica yang melihat lengan Anggara merangkul tubuh babuu tersebut. Harga dirinya seperti diinjak-injak. Bagaimana bisa, gadis lulusan Amerika kalah dengan seorang pembantu? Astaga, jika bisa terlihat, mungkin ada asap yang mengepul keluar dari kepala Jessica.


"Tante!" renggek Jessica yang mendekati nyonya Claudia. Ia meminta bala bantuan sekaligus dukungan.


Tidak usah diminta, nyonya Claudia jelas ada di pihak Jessica. Mana mau dia punya menantu seperti Lisa, bisa jatuh harga dirinya saat public tau. Ini sangat tidak manusiawi! Pokoknya tidak bisa. Mereka tidak boleh bersama.


"Mama tidak percaya! Pasti kamu bohong, tidak mungkin kamu menikahi gadis ini. Mama tahu, selama ini kamu sangat dan masih mencintai Adinda, Mama yakin ... kamu hanya ingin mengelabui Mama!" tutur nyonya Claudia sambil berkacak pinggang, matanya menyalak merah, ia sangat marah pada putranya itu.


"Hati manusia bisa berubah, mengapa Mama tidak percaya? Lisa gadis yang cantik, lembut, penurut dan dia sederhana, sama seperti Adinda. Mama masa lupa selera Angga," sindir Anggara yang memulai merangkai kebohongan demi kebohongan.


Sedangkan wanita yang masih berdiri di depannya, ikut tegang. Karena suasana di sana benar-benar menegangkan saat ini.


Sementara itu, Jessica menggeleng pelan. Ia menatap sendu palsu pada calon mertuanya.


"Mama tetap tidak percaya! Apalagi dia hanya pembantu! Jangan menurunkan derajat keluarga ini, Anggara!" sentak nyonya Claudia menolak semua kebohongan sang putra.


Anggara menatap lurus pada mamanya, keduanya saling menatap tajam. Perlahan bibir Anggara menggembang, sang mama pasti tidak akan percaya begitu saja. Akhirnya, entah ide dari mana. Anggara berbalik ke samping.


"Anggara harap Mama menerima Lisa dalam keluarga ini, tapi kalau tidak menerima juga tidak apa-apa. Anggara tidak rugi, dan mulai sekarang, Mama tidak usah menyuruh Jessi ke rumah Angga. Bagaimana pun juga, Angga tidak mau istri Angga tidak nyaman karena ada wanita yang keluar masuk ke dalam rumahnya. Iya, kan Sayang?"


Lisa langsung kaget, panggilan sayang datang bersama tatapan penuh cinta yang sangat palsu tersebut tetap membuatnya berdegup.


Anggara semakin melotot penuh kode, dan Lisa langsung mengangguk gugup.


"Karena tidak ada hal yang perlu Angga sampaikan lagi, Angga akan pulang membawa anak dan istri Angga."


Kini Anggara yang langsung mengambil buah hatinya dari gendongan babysitter yang masih tertegun karena pertunjukan bosnya barusan.


'Apa? Jadi Lisa istrinya pak Anggara?' batin babysitter yang mulai pucat.


Sedangkan nyonya Claudia, ia merasa semua benda di sekitarnya berputar. Hingga detik berikutnya ia ambruk.


"Nyonya!"


"Tante!"


Saat semua panik, Anggara malah menghela napas dalam-dalam. Kemudian berjalan dengan lesu, lalu mengangkat tubuh nyonya Claudia lalu meletakkan di atas sofa.


"Bik, telpon dokter Mama sekarang!" ucapnya pada bibi yang baru keluar dari dalam.


"Dan kamu, Jes ... mau sampai kapan kamu di sini?" sindir Anggara yang melihat Jessica yang sepertinya tidak beranjak.


'Sialannnnn! Brengsekkk!' umpat Jessica kasar dalam hati.


BERSAMBUNG


Fb Sept September


IG Sept_September2020