
Hot Duda Bagian 35
Oleh Sept
Sempat tidak yakin, meskipun dia sendiri yang menjadi wali nikah untuk putri pertamanya, pak Harun mengusap wajahnya dengan kedua tangan, ketika kata sah terdengar. Pernikahan yang sederhana, hanya dihadiri beberapa orang, membuat pak Harun merasa aneh dan ragu.
Akan tetapi saat melihat wajah Lisa yang tersenyum dan memeluknya, pak Harun melepaskan segala keraguan itu. Membuang prasangka buruk, menggantinya dengan banyak doa dalam hati, agar hidup rumah tangga putrinya kelak bahagia selamanya. Meskipun akan banyak kerikil tajam, ombak kehidupan, semoga Lisa putrinya yang masih muda itu bisa melewati semuanya.
Jika setelah ijab qobul kebanyakan sang mempelai wanita akan mengecupp punggung tangan suaminya, lain halnya dengan Anggara serta Lisa. Ini lebih mirip upacara bendera di istana negara, tegang, tenang, disiplin, tidak ada senyum. Dan orang-orang yang tadi datang, perlahan pergi satu persatu.
"Lis, Ayah harus kembali ke rumah sakit," bisik pak Harun. Sikap dingin Anggara sudah terasa oleh pak Harun. Ia merasa menantunya itu kurang ramah dan irit bicara. Jadi lebih baik ia kembali ke rumah sakit. Lagian ibu serta adik Lisa jauh lebih membutuhkan pak Harun saat ini.
"Nanti, Yah. Kenapa buru-buru?"
"Ayah khawatir sama ibumu," jawab pak Harun mencari alasan.
"Ada apa, Pak?" tanya Rio yang melihat keduanya bisik-bisik.
Sedangkan Anggara malah sibuk telpon.
"Ini, Pak Rio. Ayah katanya mau balik ke rumah sakit."
"Oh ... baik, saya antar," ucap Rio.
'Kalau pak Rio nganter ayah, terus aku di sini cuma sama pak Anggara? Aduh,' batin Lisa sambil melirik suaminya yang sedang telpon. Lebih tepatnya, suami di atas kertas. Karena pernikahan mereka terjadi karena sebuah perjanjian. Bukan pernikahan atas dasar suka sama suka, tapi kata sepakat dan ada uang di tengah-tengahnya.
"Nak Angga. Bapak permisi dulu," pamit pak Harun.
Anggara menjauhkan ponselnya dari telinga, kemudian mengangguk menatap pak Harun, mertuanya. Anggara hanya mengangguk, tidak ada basa-basi sama sekali. Sementara itu Rio langsung melirik Lisa. Rio bisa melihat ada rasa kecewa tergambar jelas di wajah Lisa, biarpun pura-pura, harusnya Anggara juga bersandiwara sedikit saja.
"Lisa, Ayah pulang dulu."
Lisa kemudian memeluk ayahnya, sebenarnya ia mau ikut. Karena perjanjian, ia sekarang tidak bisa bebas. Semua harus sesuai apa kata Anggara. Sesuai dengan pasal pernikahan yang mereka tanda tangani bersama.
"Pak Rio, nitip ayah," ucap Lisa yang berat melepaskan ayahnya.
Rio pun mengangguk kemudian pergi mengantar ayah Lisa tersebut. Kini dalam ruang tamu yang luas itu, tinggal menyisahkan Anggara yang melanjutkan telponnya, dan Lisa yang canggung.
Setelah kepergian Rio, sesaat kemudian Anggara selesai bicara di telpon. Ia kemudian menatap sekeliling, dilihatnya Lisa masih duduk menggunakan kebaya.
"Kamu masih mau pakai baju itu?" tanya Anggara dengan tatapan acuh.
Lisa langsung berdiri, "Apa boleh saya ganti sekarang?"
"Siapa yang melarangmu ganti?" cetus Anggara.
Sambil menelan ludah, Lisa pun beranjak. Ia berjalan ke ruangan di mana ia ganti tadi. Kembali memakai baju biasa, dan duduk di depan meja rias di dalam kamar itu. Matanya menatap alat make up yang ada di depannya, Lisa kemudian mengambil pembersih wajah. Make up yang cantik itu tidak bisa membuat Anggara menatapnya, tidak sama sekali.
Pelan tapi pasti, Lisa mengusap wajahnya dengan kapas, sorot matanya sendu. Ketika tidak ada orang, Lisa kembali menjadi dirinya sendiri. Tidak ada senyum palsu, tidak ada ketegaran, tidak ada sandiwara lagi, yang ada hanya matanya yang lama-lama terasa perih, kemudian bulir bening menetes dari sudut mata yang sendu tersebut. Lisa merasa sudah bersalah, mempermainkan sebuah pernikahan.
Beberapa saat kemudian.
Tok tok tok
"Lisa! Kenapa lama sekali?"
Lisa menoleh, kemudian bangkit dari kursinya. Lisa kemudian buru-buru membuka pintu.
"Sopir sudah datang, sudah menunggu," ucap Anggara.
"Baik, Pak."
Lisa kemudian akan membereskan barang-barangnya, akan tetapi Anggara langsung mencegah.
"Sudah! Tinggalkan itu, biar nanti ada yang membereskan. Kamu cepat sedikit, saya tidak punya banyak waktu!" ucap Anggara ketus.
Lisa hanya menyambar tas miliknya, kemudian berjalan di belakang Anggara keluar dari villa menuju mobil jemputan. Keduanya sama-sama masuk, dan duduk di bangku tengah.
Lisa awalnya tegang, karena duduk di sebelah Anggara saat di dalam mobil. Suasana seakan ikut menjadi dingin seketika, sedikit cara menatap Anggara padanya.
"Baik, Pak."
"Begitu juga dengan keluargamu. Ini rahasia."
"Baik."
Anggara lalu diam, ia memilih melipat tangan dan menatap ke depan kembali, sedangkan Lisa, duduk di dekat Anggara cukup membuatnya tidak nyaman.
***
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah dengan pagar yang menjulang tinggi, kediaman Anggara.
Begitu turun dari mobil, Lisa langsung merasa udara menjadi segar kembali, ia juga berbinar saat melihat stroller milik Tiara.
"Boleh saya menggendongnya?" tanya Lisa ke pria yang berdiri di belakangnya.
Anggara mengangguk, kemudian berjalan melewati Tiara dan Lisa. Acuh pada keduanya.
"Tiaraaa ....!"
Lisa langsung mengulurkan tangannya, mengambil Tiara dalam stroller warna hitam tersebut.
Ketika Lisa sedang bersama Tiara dan babysitter yang baru, Anggara kembali keluar. Kali ini ganti baju dan membawa tas.
Anggara berjalan kembali melewati Lisa dan bayinya, ia sempat melirik Tiara sekilas, kemudian melanjutkan langkahnya.
'Pak Angga mau ke mana lagi?' batin Lisa tidak berani bertanya. Karena wajah sending es itu membuatnya bergidik.
Anggara pergi begitu saja, tanpa menganggap Lisa yang ada di rumah itu. Lisa yang baru ia nikahi, sudah seperti pajangan saja. Pergi tanpa pamit, langsung tanpa kata.
***
Malam harinya.
Sudah pukul 10 malam, Anggara belum juga pulang. Untuk sementara Lisa tidur bersama Tiara dan babysitter. Sebab, di rumah itu belum ada yang tahu bahwa Lisa kini adalah istri sah Anggara. Mereka masih mengira Lisa pengasuh Tiara. Lisa juga sebenarnya bingung mau tidur di mana, sebab Anggara tadi pergi tanpa mengatakan apapun.
Tok tok tok
Lisa yang tengah malam tidur, jelas kaget dan terbangun karena ada yang mengetuk pintu.
"Lisa ... Lisa!" panggil suara yang familiar. Rio sedang mengetuk pintu kamar bayi.
'Kenapa pak Rio ada di sini?' batin Lisa sambil mengosok kedua mata.
Ia melirik ke babysitter yang masih terlelap, begitu juga dengan Tiara, bayi itu masih tidur dengan nyenyak.
Tok tok tok
"Lisa!"
KLEK
Tidak ingin membangunkan banyak orang, Lisa akhirnya keluar kamar.
"Pak Rio?"
"Bisa bantu saya? Saya akan membersihkan mobil terlebih dahulu, karena baunya sangat menyengat. Pak Anggara muntah parah setelah mabuk. Kamu bantu pak Anggara di kamarnya, bersihkan dan ganti pakaiannya. Saya akan bersihkan mobil."
"Saya?" tanya Lisa memastikan.
Rio langsung mengangguk kemudian berbalik, ia tidak mendengarkan keluhan yang akan Lisa sampaikan.
'Kok aku ... aduh!'
BERSAMBUNG