Hot Duda

Hot Duda
Musibah



Hot Duda Bagian 26


Oleh Sept


"Pak Angga, maaf sebelumnya. Tapi saya tidak mau. Saya tidak mau mempermain sebuah pernikahan."


Anggara mendesis, ia manatap remeh pada Lisa. Kata-kata yang Lisa ucapkan cukup membuatnya tergelitik. Pria itu kemudian menatap Lisa dalam-dalam.


"Baiklah. Saya tidak memaksa. Malam ini, kemasi barang-barangmu yang masih tertinggal. Kontrak kerja kita selesai."


Perjanjian kerja berubah menjadi perjanjian pernikahan, siapa yang tidak terkejut. Lisa malam itu dibuat shock dengan lembar kertas perjanjian baru. Dan dia semakin shock saat Anggara memecatnya.


"Bapak memecat saya?" Lisa bertanya penuh kehati-hatian.


"Ya."


"Tapi ...!"


"Tidak ada tapi, tanda tangan atau semuanya selasai," potong Anggara. Pria arrogant itu bahkan tidak mau mendengar kata-kata Lisa. Jika Lisa tidak mau, ia bisa mencari Lisa-Lisa yang lain di luar sana.


Ini karena nyonya Claudia. Wanita itu sudah menekan Anggara. Hingga membuat CEO Montana Group itu putus asa, lebih baik menjalani kontrak pernikahan, dari pada harus berakhir menikah dengan Jessica.


Ketika Lisa masih bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Anggara meraih gagang telpon di atas meja.


"Antar kembali Lisa ke rumahnya!" seru Anggara dengan wajah serius.


'Bagaimana ini? Sudah lah mungkin ini bukan pekerjaan yang cocok untukku,' batin Lisa yang malah memainkan jari-jarinya karena dilanda gelisah.


Beberapa saat kemudian, Rio masuk. Pria itu heran mengapa baru dijemput lalu disuruh pulang.


"Sekarang, Pak?"


"Hem!" jawab Anggara dengan wajah masam.


Sementara itu, Lisa hanya menundukkan wajahnya. Dia lalu keluar karena malam ini sudah dipecat. Lisa menolak perjanjian pernikahan yang diberikan Anggara. Alhasil, gadis itu harus meninggalkan rumah ini. Kehilangan pekerjaan sebagai babysitter dan juga pekerjaan sebagai office girls di perusahaan Montana Group.


"Maaf, apa boleh saya melihat Tiara sebentar saja?"


"Tentu tidak!"


Jleb


Lisa menelan ludah, sepertinya Anggara sangat dendam padanya. Malam itu juga, Lisa pergi meninggalkan kediaman Anggara dengan diantar Rio.


Di dalam mobil. Rio penasaran, ia pun bertanya. Apa yang terjadi hingga Lisa dipecat.


"Apa kau menggoda pak Anggara?" tuduh Rio yang sedang fokus menyetir.


Lisa yang duduk di belakang, jelas langsung menggeleng keras.


"Mana mungkin saya berani menggoda pa Angga?"


"Lalu? Aku lihat dia sepertinya sangat marah malam ini."


Lisa memalingkan wajah, menatap jalanan malam yang lengah.


"Pak Angga sangat aneh. Dia mau bermain-main dengan pernikahan."


Uhuk uhuk uhuk ...


Rio malah terbatuk-batuk.


"Pak Rio kenapa?"


Rio menggeleng keras.


"Kontrak pernikahan?" tanya Rio kemudian.


"Ya."


"Lalu kamu menolakknya?"


"Ya."


"Pantas dia marah."


Lisa langsung memajukan badan, ia penasaran mengapa Anggara marah.


"Maksudnya?"


"Aku katakan padamu, tapi lain kali mungkin tidak akan seperti ini. Berbagi rahasia atasan itu bukan gayaku," ucap Rio diplomatis.


"Maaf sebelumnya jika membuatmu tersinggung, tapi ini menurut pandanganku saja. Lisa ... kamu masuk dalam kriteria di mana pak Anggara tidak mungkin memiliki rasa denganmu. Jadi, sekali dayung, dua pulau terlampaui. Menghindar dari nona Jessica yang aggressive, dan memiliki babysitter yang bisa menjaga putri almarhumah nyonya Adinda," terang Rio lagi.


"Memangnya saya kenapa pak Rio? Apa saya begitu jelek? Sampai pak Anggara pasti tidak jatuh hati?" tanya Lisa dengan nada miris. Dia tidak tersinggung, sebab sadar. Dia pun tidak pernah berpikir akan mendapat laki-laki seperti Anggara. Itu bagai pungguk yang merindukan rembulan. Bermimpi saja ia tidak akan pernah. Jadi kata-kata Rio sangat tidak berpengaruh bagi gadis seperti Lisa.


"Bukan begitu, hanya saja kamu bukan seleranya!"


Lisa malah terkekeh. Membuat Rio tertegun, apa dia salah ucap?


"Pak Rio pak Rio ... Pak Anggara juga bukan selera saya. Mana ada wanita yang mau, 24 hidup dengan pria seperti es. Lama-lama saya membeku."


Ganti Rio yang tersenyum tipis.


'Lah? Malah bilang munafikk?' batin Lisa kesal.


"Hanya karena kita bicara jujur, mengapa malah mendapat cap negative? Saya heran dengah isi kepala laki-laki!" celetuk Lisa mulai kesal.


"Itu karena kamu membohongi dirimu sendiri. Kalau saya jadi kamu, saya terima. Toh pasti bayarannya banyak."


Lisa kembali terdiam.


"Apa harus saya terima?" tanya Lisa ragu. Tapi lalu menggeleng keras. Ia tidak mau orang tuanya marah karena ia berani mempermainkan sebuah lembaga suci pernikahan.


"Ya, saya jadi kamu akan saya terima."


"Tapi." Lisa masih ragu-ragu.


"Berapa kontraknya?" tanya Rio yang memang mendapat tugas untuk membujuk Lisa secara diam-diam.


"Satu tahun."


"Apalagi cuma setahun." Rio mulai kompor.


"Bagaimana kalau pak Anggara aneh-aneh?"


Rio terkekeh, ia tertawa lepas. Baru kali ini Lisa melihat pria itu tertawa lepas.


"Tidak mungkin, saya berani taruhan."


"Apa saya sejelek itu?" sela Lisa yang tersindir.


Ehem ehem ...


"Bukan masalah jelek atau cantik. Tapi kamu bukan tipe pak Anggara."


Lisa menghela napas panjang.


Rio pun melirik lewat kaca, dilihatnya Lisa yang masam.


"Kamu cantik, tapi kamu bukan tipe pak Anggara."


"Ya, saya tahu, Pak. Tidak usah dikatakan berkali-kali. Lagian siapa juga yang suka pak Anggara. Dia cocok jadi om saya."


Rio kembali menahan tawa.


Keduanya asik bertukar pendapat, sampai tidak terasa sudah sampai di area rumah Lisa.


"Terima kasih," ucap Lisa.


"Hubungi saya, kalau kamu berubah pikiran."


"Tidak, terima kasih."


Lisa buru-buru turun mobil dan menunggu di teras rumah. Karena pintunya sudah dikunci.


Mbremmm


Mobil hitam yang dikendarai Rio perlahan pergi dan menghilang dari pandangan. Meninggalkan Lisa yang duduk di teras karena pintu rumahnya telah dikunci.


"Bapak sama ibu ke mana, ya?"


Beberapa saat kemudian, Lisa heran mengapa rumahnya kosong. Apalagi dilihatnya keluar asap dari jendela. Ke mana orang tuanya? Ditelpon juga tidak diangkat. Lisa yang panik, berteriak minta tolong pada semua orang.


"Tolong! Tolong!"


Wush ...


Duar ...


Tubuh Lisa terlempar, saat sebuah ledakann besar berhasil membakar rumahnya. Sepertinya ada kebocoran gas, membuat rumah itu tiba-tiba terbakar.


"Ibu ... ibu ...!" gumam Lisa tanpa suara. Tubuhnya terlempar di rerumputan. Dilihatnya rumah mereka mulai dikelilingi api yang semakin lama semakin membesar.


"Lis ... Lisa ... apa yang terjadi ... mana ibumu ... mana Marwah ... mana adikmu ... Lis ... Lisa." Ayah Lisa menepuk pipi Lisa, agar anak gadisnya itu tersadar. Ayah habis pulang dari pasar, begitu pulang ia tercenggang, rumahnya dikelilingi api yang besar.


Sedangkan Lisa, dalam benaknya, Lisa ingin bicara, memanggil ibu, dan adik-adiknya. Di jam-jam seperti ini, biasanya ibunya tengah memasak, menyiapkan masakan untuk dijual besok. Marwah pasti sudah tidur, begitu juga dengan adik laki-lakinya.


Lisa tidak bisa bicara, hanya bulir bening yang keluar semakin lama semakin deras.


"I-bu ..."


Lisa memejamkan matanya.


Di dalam kobaran api di dalam sana, ibu Siti, Marwah, dan adik Lisa yang laki-laki, saling berpelukan di dalam kamar mandi. Mereka bertiga terjebak, tidak bisa keluar karena api semakin membesar. Hingga mereka bertiga kehabisan oksigen, lemas di dalam kamar mandi yang dikelilingi oleh api yang menyala, semakin lama semakin besar.


Bersambung


Fb Sept September


IG Sept_September2020


Yang mau jadi bestinya sept, cuss ke FB sama IG. Terima kasih yaaa. Lope lope hehehe.